NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Tepat pukul tujuh malam, Rani tiba di rumah besar itu. Ia turun dari mobil sambil menenteng beberapa kantong belanja di kedua tangannya. Langkahnya tenang dan mantap, jauh berbeda dari wanita yang beberapa hari lalu masih berjalan dengan kepala tertunduk dan tatapan kehilangan arah.

Dari balik jendela ruang tamu, ia sudah melihat Roy, ketiga anak tirinya, dan Sintia berkumpul di dalam. Pemandangan itu sama sekali tidak mengejutkannya. Bahkan tanpa perlu menebak pun, ia tahu alasan mereka menunggu.

Sepanjang sore tadi ia menggunakan kartu hitam milik Roy tanpa ragu sedikit pun. Dengan limit sebesar itu, setiap transaksi pasti langsung masuk ke ponsel pemiliknya. Jika dijumlahkan, nominal yang ia habiskan memang fantastis.

Pintu rumah terbuka.

Percakapan di ruang tamu langsung terputus. Semua pasang mata beralih kepadanya. Tatapan mereka menyapu penampilan Rani dari ujung kepala hingga kaki.

Dress hitam selutut membingkai tubuhnya dengan elegan. Rambut panjang yang selama ini hanya diikat seadanya kini dipotong sebahu dan diwarnai burgundy gelap, membuat wajahnya terlihat lebih tegas dan hidup. Riasan tipis di wajahnya tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menghapus kesan kusam yang selama bertahun-tahun melekat padanya.

Bahkan Roy sampai terpaku beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Rani tetap melangkah masuk seolah tidak menyadari reaksi mereka. Ia meletakkan kantong-kantong belanja di atas meja, lalu melepas cardigan tipis yang tersampir di lengannya. Logo beberapa butik ternama langsung terlihat jelas.

Mata Arjun langsung membesar. Arlan yang biasanya paling tidak peduli bahkan tanpa sadar meluruskan punggungnya, menatap Rani lebih lama dari biasanya.

Di sisi lain, jemari Sintia perlahan mencengkeram sandaran sofa. Senyum di wajahnya masih terpasang, tetapi sorot matanya jelas menunjukkan ketidaknyamanan.

"Ma?" Aksan akhirnya angkat bicara. Nada terkejutnya terdengar begitu jelas. "Ternyata bebek bisa berubah jadi angsa juga."

Rani menoleh. Alih-alih tersinggung, ia justru tersenyum manis. "Terima kasih, Sayang."

"Aku nggak sedang memuji Mama."

"Kalau begitu anggap saja aku memilih mendengarnya sebagai pujian."

Aksan mendecak pelan. Entah kenapa, sikap santai Rani justru jauh lebih menyebalkan daripada jika wanita itu marah atau menangis seperti biasanya.

Roy akhirnya berdiri dari sofa. Pandangannya bergantian berpindah dari tumpukan kantong belanja ke wajah Rani.

"Kita perlu bicara."

Biasanya Rani akan langsung menurut. Duduk dengan tenang dan menerima apa pun yang ingin dikatakan Roy. Namun kali ini ia justru mengambil segelas air dari meja, meneguknya perlahan, lalu menatap suaminya dengan ekspresi santai.

"Soal apa?"

"Soal kartu kreditku."

"Oh." Rani mengangguk kecil seolah baru mengingatnya. "Bukannya tadi kamu bilang aku bebas melakukan apa saja?"

Rahang Roy mengeras. "Kamu menghabiskan ratusan juta dalam sehari."

Nada suaranya terdengar datar, tetapi semua orang tahu pria itu sedang menahan emosi.

Anehnya, Rani sama sekali tidak terlihat gentar. Ia hanya meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.

"Lalu?"

Kening Roy langsung berkerut.

"Lalu?"

"Iya." Rani mengangkat bahu ringan. "Masalahnya di mana?"

"Jumlahnya tidak sedikit, Rani."

"Memang."

Rani mengangguk setuju. "Lalu?"

Roy menatapnya tidak percaya.

Sementara Rani balas menatap dengan tenang. "Setahuku aku masih istrimu."

Kalimat itu langsung membuat ruangan terdiam. Ekspresi Sintia membeku sepersekian detik. Sedangkan Roy terlihat sama terkejutnya. Mungkin karena selama ini Rani tidak pernah sekalipun menggunakan statusnya sebagai istri untuk menuntut apa pun.

Rani kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sintia. Tatapannya tenang, tetapi cukup tajam hingga membuat wanita itu refleks menegakkan duduknya.

"Sebenarnya aku justru penasaran."

"Penasaran apa?" tanya Roy.

Rani menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Aku penasaran kenapa semua orang terlihat begitu keberatan saat aku menggunakan kartu milik suamiku sendiri."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung.

"Padahal selama ini ada orang lain yang menggunakannya dengan jauh lebih leluasa dan tidak ada satu pun yang mempermasalahkannya."

Senyum Sintia langsung memudar.

Arjun yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak tahan lagi. "Mama jangan samakan diri Mama dengan Tante Sintia."

Rani menoleh pelan. "Kenapa?"

"Soalnya Tante Sintia memang berhak!"

Senyum tipis muncul di sudut bibir Rani. "Berhak?"

"Iya."

"Menarik."

Arjun mengernyit kesal. "Apanya yang menarik?"

Rani menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, "Karena sampai detik ini yang tercatat sebagai istri sah ayahmu masih aku."

Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Tatapan Rani beralih dari Arjun kepada Sintia.

"Jadi sekarang aku benar-benar penasaran. Di antara kami berdua, sebenarnya siapa yang paling berhak?"

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Wajah Arjun memerah. Sementara Aksan dan Arlan saling berpandangan. Untuk pertama kalinya, mereka tidak langsung menemukan jawaban yang ingin mereka lontarkan. Karena bagaimanapun juga, apa yang dikatakan Rani adalah fakta.

Roy menghela napas panjang. "Rani, jangan memperbesar masalah."

"Aku?" Rani terkekeh kecil. "Sejak kapan menanyakan fakta dianggap memperbesar masalah?"

Sebelum Roy sempat menjawab, Sintia tiba-tiba berdiri.

"Maaf."

Suaranya lembut, nyaris membuat semua orang lupa bahwa ia adalah sasaran sindiran barusan. "Aku rasa semua ini salahku."

Rani menoleh.

Sintia tersenyum tipis, tetapi matanya tampak berkaca-kaca. "Aku tidak pernah berniat mengambil hak siapa pun."

"Sin..." Roy langsung bersuara.

Namun Sintia menggeleng pelan. "Mas, biarkan aku bicara."

Wanita itu lalu menatap Rani. "Kak Rani benar. Aku memang bukan istri Mas Roy."

Tidak ada nada menantang dalam suaranya. Tidak ada pula kemarahan. Justru sikap tenangnya membuat suasana berubah.

"Selama ini aku hanya berusaha membantu keluarga ini semampuku." Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Kalau keberadaanku membuat Kak Rani tidak nyaman, aku bisa pergi."

"Tan—" Arjun langsung berdiri.

"Tidak, Arjun." Sintia tersenyum sedih. "Mungkin memang sudah waktunya aku menjaga jarak."

Raut wajah ketiga anak itu langsung berubah panik. Karena selama bertahun-tahun, Sintia selalu memainkan peran yang sama dengan sangat baik. Ia tidak pernah menyerang secara terang-terangan. Ia membuat orang lain merasa bersalah lebih dulu.

"Tante nggak boleh pergi," ucap Arjun cepat.

"Iya, Tante nggak salah apa-apa," sambung Aksan.

Arlan yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Kami yang meminta Tante tetap di sini."

Rani memperhatikan semuanya tanpa berkedip, lagi dan lagi situasi yang sama bahkan alurnya bisa ditebak. Tatapannya menyapu wajah Roy, ketiga anak tirinya, lalu berhenti sejenak pada Sintia yang masih berdiri dengan mata berkaca-kaca.

Ia menarik napas dalam-dalam. "Sudahlah, memang mata buta tidak bisa melihat kebenaran."

Wajah Roy langsung mengeras. "Rani, ingat janjimu tadi pagi. Jangan membuat keributan!"

Rani menoleh kepadanya. "Mas sejak tadi aku mana ada membuat keributan, aku hanya berbicara fakta. Dan semua ini bukankah kamu dan anak kamu yang memulai?"

Roy seketika kehilangan jawaban. Karena jika dipikir-pikir, memang merekalah yang lebih dulu mempermasalahkan kartu kredit dan belanjaan yang dibawa Rani.

"Mama..." Arlan yang angkat bicara. Tatapannya tak pernah lepas dari Rani. "Aku rasa sejak kemarin Mama berubah nggak jelas. Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu dengan Mama?"

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

Rani mengangkat sebelah alis. "Sesuatu apa? Memangnya apa yang bisa terjadi padaku?"

Arlan terdiam sesaat. Ada keraguan di wajahnya. Seolah ia sendiri tidak yakin dengan apa yang sedang dipikirkannya. Namun semakin ia memperhatikan Rani, semakin kuat perasaan itu muncul.

"Jangan-jangan..." Arlan menggantung kalimatnya.

Tatapan semua orang kini tertuju padanya. Bahkan Sintia tanpa sadar ikut menahan napas.

Arlan menelan ludah sebelum akhirnya mengucapkan apa yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.

"Mama amnesia?"

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!