NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Keesokan harinya, Daxon masuk ke kamar Azalea tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ia melihat gadis itu masih terlelap nyenyak di atas tempat tidur. Dengan langkah tenang, ia berjalan mendekati jendela dan menarik gorden lebar-lebar. Sinar matahari pagi yang baru terbit langsung masuk menerangi seluruh ruangan.

Azalea terkejut dan terbangun seketika. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya, lalu mendapati Daxon sudah duduk santai di atas sofa sambil menatapnya dengan tatapan datar.

"Kau pergilah. Setelah itu turun untuk sarapan. Sesudah makan, temui aku di ruang kerjaku — nanti Lisa akan mengantarmu ke sana," perintah Daxon singkat, lalu langsung berdiri dan melangkah keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, Azalea mencoba duduk dan turun dari tempat tidur. Namun begitu kakinya menginjak lantai, rasa nyeri yang tajam menjalar dari bagian dalam tubuhnya.

"AKKHH!" rintihnya tertahan, wajahnya memucat menahan sakit.

Ia tetap memaksakan diri berdiri, lalu melangkah perlahan menuju kamar mandi, tangan kanannya terus menekan bagian selangkangan sambil menggigit bibir agar tidak mengerang lagi. Setiap langkah terasa seperti ada yang merobek kembali luka di tubuhnya, mengingatkannya pada apa yang terjadi semalam.

Setelah selesai membersihkan diri dengan susah payah, Azalea mengenakan pakaian yang disediakan Lisa. Ia berjalan menuruni tangga dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati, setiap gerakan tetap terasa menyakitkan. Di ruang makan, ia hanya bisa makan sedikit saja — perutnya terasa mual memikirkan nasibnya, apalagi rasa sakit di tubuhnya tak kunjung hilang.

Tak lama setelah ia selesai makan, Lisa datang menghampiri dengan sikap sopan.

"Nona, Tuan Daxon sudah menunggu di ruang kerja. Silakan ikut saya," ucapnya lembut.

Azalea mengangguk pelan, lalu berjalan mengikuti Lisa melewati koridor yang panjang. Sesampainya di depan pintu ruang kerja yang besar dan megah, Lisa mengetuk sebentar sebelum membukakan pintu.

"Masuklah," suara Daxon terdengar dari dalam.

Azalea melangkah masuk perlahan. Ruangan itu luas, dipenuhi tumpukan dokumen dan perabotan mewah. Daxon duduk tegap di balik meja besar, tampak gagah dalam jas rapinya — selain dikenal sebagai pemimpin organisasi bayangan, ia juga menjabat sebagai CEO utama Grup Ravenzo, perusahaan konglomerat yang namanya sangat disegani di dunia bisnis.

Daxon menatapnya sekilas, memperhatikan cara berjalannya yang terlihat berat dan lambat. Sedikit senyum miring terukir di bibirnya, tapi ia segera menyembunyikannya.

"Duduk," perintahnya sambil menunjuk kursi di hadapannya.

Azalea duduk dengan hati-hati, wajahnya masih terlihat pucat menahan sisa rasa sakit.

"Wanita yang ingin dijodohkan denganku, sudah tiba di Jakarta sore hari ini. Ibuku pasti segera menjemputnya, dan malam nanti mereka akan sudah berada di kediaman Ibuku." ucap Daxon tanpa basa-basi.

Ia menatap tajam ke arah Azalea. "Karena aku sudah bilang pada Ibuku bahwa aku sudah punya istri, maka malam ini kita akan berangkat ke mansion Ibuku. Di sana, kau harus berpura-pura menjadi istriku yang sah. Jangan sampai ada sikap atau ucapan yang membuat mereka curiga." ucap Daxon tegas.

Azalea tertegun, lalu menatapnya dengan pandangan tidak percaya. "Apa? Kau mau aku berpura-pura menjadi istri sahmu di depan ibumu dan wanita itu? Kenapa harus aku?" tanya Azalea.

"Karena kau satu-satunya yang bisa kupergunakan saat ini," jawab Daxon dingin.

"Dan ingat — keselamatan Bi Inah tetap menjadi jaminan. Jika kau menjalankan peran ini dengan baik, aku akan menjamin hidupnya sejahtera. Jika kau gagal atau membuat masalah, kau tahu apa akibatnya." lanjut Daxon dan menatap tajam ke arah Azalea seperti menahan amarah.

Azalea mengepalkan tangannya di atas paha, hatinya bergejolak marah dan takut. Ia tahu ia tidak punya jalan keluar lain.

"Baiklah... aku akan melakukannya," jawabnya lirih.

"Tapi ingat janjimu — setelah ini selesai dan aku sudah mengandung begitupun aku sudah melahirkan anakmu, bebaskan aku dan Bi Inah untuk pergi selamanya." ucap Azalea.

Daxon mengangguk singkat. "Tentu. Sekarang istirahatlah siang ini agar kondisimu sedikit pulih. Nanti sore Lisa akan membawakan pakaian yang pantas untuk nanti malam." jawab Daxon.

Azalea pun bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan keluar dari ruang kerja, masih menahan rasa nyeri di tubuhnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa nasibnya akan membawanya pada situasi yang demikian — harus berpura-pura menjadi istri sah dari seorang bos mafia sekaligus pengusaha kaya raya.

Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia mendengus kesal sambil terus berjalan menyusuri koridor.

"Sungguh berengseknya dia! Kenapa dia tidak menikah saja dengan wanita yang ingin dijodohkan dengannya? Kalau dia mau menikah dengan Valeria, bukankah dia juga bisa mendapatkan pewaris yang dia inginkan? Kenapa harus melibatkan aku dalam semua ini? Dasar pria brengsek yang hanya mementingkan dirinya sendiri!" ucap Azalea dengan suara yang kecil.

Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu ruang kerja yang tertutup itu, Daxon sebenarnya masih bisa mendengar ucapannya, dan justru tersenyum miring mendengar makian itu. Baginya, kemarahan Azalea itu wajar — namun ia tetap yakin bahwa rencananya akan berjalan sesuai keinginannya.

...****************...

Malam harinya. Di dalam kamar, Azalea berdiri tegak di depan cermin besar, mengenakan gaun yang telah disiapkan secara khusus. Pakaian itu berwarna krem gading lembut, dengan model tanpa tali bahu yang memperlihatkan bahunya yang halus namun tetap terlihat sopan. Bagian atasnya dihiasi lapisan renda halus bertekstur lembut yang membentuk kerah lebar di bagian dada, sementara bagian pinggangnya diserut rapi, dipercantik dengan hiasan bunga kain berukuran sedang yang menyatu dengan lipatan kain yang mengalir turun.

Potongan gaunnya menjuntai hingga mata kaki, dengan sisi kanan yang sedikit terbelah hingga setinggi paha agar memudahkan langkah, namun tidak terkesan terbuka. Kainnya terasa halus dan jatuh rapi, menonjolkan lekuk tubuhnya secara alami tanpa berlebihan. Sebagai pelengkap, ia mengenakan sepatu hak tinggi berwarna senada yang membuat postur tubuhnya terlihat lebih tegap, serta anting-anting dan kalung sederhana yang tidak terlalu mencolok.

Belum sempat ia merapikan sedikit rambutnya, pintu kamar terbuka. Daxon masuk dan langsung berhenti, menatapnya dengan pandangan meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Azalea menegang, tangannya secara refleks menyentuh pinggiran gaunnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku kurang pas dengan gaun ini?" tanyanya.

Sudut bibir Daxon terangkat sedikit. Ia melangkah mendekat, lalu merapikan sedikit lipatan kain di pinggangnya agar terlihat lebih rapi.

"Tidak ada yang kurang. Justru sangat pas," ucapnya pelan.

"Warnanya lembut, potongannya anggun — tidak mencolok, tapi cukup menunjukkan kelas. Cocok untuk menyesatkan pandangan Ibuku dan Valeria malam ini." ucap Daxon.

Ia menatap matanya, nadanya berubah tegas. "Ingat, kau bukan lagi gadis biasa malam ini. Kau adalah Nyonya Azalea Ravenzo, istri sahku. Jangan tunjukkan keraguan, jawab dengan tenang, dan jangan sampai ada satu hal pun yang membuat mereka curiga."

Azalea mengangkat dagu, menatap balik tanpa gentar. "Aku ingat. Aku hanya menjalankan perjanjian kita, bukan karena rela menjadi istri sahmu." ucap Azalea.

Daxon hanya mendengus pelan, lalu mengulurkan lengannya. "Kalau begitu, mari kita berangkat. Jangan sampai mengecewakanku."

Azalea menggenggam lengannya dengan cengkeraman kaku, lalu melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!