Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 09. Wakil Direktur
"Mau ada meeting lagi?"
Toni yang baru saja membuka grup chat di ponsel miliknya sedikit mengerutkan dahi. Sebuah notifikasi di dalam group jika akan ada meeting setelah jam pulang kantor. Lelaki itu sedikit keheranan karena baru kemarin ada meeting penyambutan Mega sebagai direktur baru dan hari ini akan ada meeting lagi yang entah akan membahas apa.
"Meeting apa Ton?" tanya Awan yang kebetulan mendengar pekikan suara Toni. Awan yang sebelumnya fokus pada layar laptop di hadapannya, kini beralih ke Toni.
"Aku juga kurang tahu Wan, tapi baru saja di grup bu Mega mengirimkan pesan jika nanti selepas jam kerja akan ada meeting. Memang kamu belum baca grup, Wan?"
Awan hanya terkekeh. "Entah mengapa, aku itu malas sekali buka grup kantor. Seperti tidak menarik sama sekali."
"Ckkckkckk... Kamu ini," decak Toni. "Oh iya, tadi Risma pamit mau menjenguk Wulan dan anakmu. Apa kamu tadi pagi sempat bertemu dengan Risma?"
"Tentu tidak Ton. Aku berangkat pagi sekali. Jadi tidak bertemu dengan istrimu."
"Tumben kamu pagi-pagi sekali sudah berangkat? Biasanya sebagai seorang laki-laki yang memiliki gelar sebagai ayah baru itu selalu ingin berlama-lama di rumah. Jadi terkadang dia malah jauh lebih siang ketika berangkat ke kantor."
"Hmmmm di rumah aku pusing sekali Ton, tidak bisa beristirahat," ucap Awan mengeluhkan semua yang ia rasakan saat berada di rumah.
Toni mengernyitkan dahi. Sedikit terhenyak dengan apa yang dikatakan oleh Awan. "Pusing? Memang pusing karena apa?"
Awan menghentikan sejenak aktivitasnya. Jemari yang sebelumnya menari-nari di atas keyboard, kini berhenti. Awan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Tuh bayi nangis terus, sampai pusing aku mendengar tangisannya. Lalu Wulan juga penampilannya berantakan sekali sehingga membuat tak sedap di pandang. Badannya itu layu tidak segar gitu loh dan tidak berisi. Lalu ibuku yang sakit stroke juga sering mengeluarkan aroma-aroma yang bikin aku mual karena kotorannya."
Kedua bola mata Toni terbelalak sempurna. Mendengar semua yang keluar dari bibir Awan seakan membuatnya kesal setengah mati.
"Kamu serius mengatakan hal itu Wan?"
"Serius Ton. Aku benar-benar pusing di rumah. Maka dari itu aku selalu ingin cepat-cepat berada di luar rumah."
"Astaga, padahal itu anakmu, istrimu dan ibumu, kok bisa kamu menganggap mereka sumber dari kepenatanmu di rumah?"
"Ya karena memang kenyataannya begitu Ton." Awan membuang napas kasar. Jika mengingat suasana di rumah membuatnya seperti kesal sendiri. "Aku benar-benar tidak betah di rumah. Harusnya Wulan bisa menghandle anak itu agar tidak terus menerus menangis, eh malah tidak bisa."
Kata 'anak itu' yang diucapkan oleh Awan sungguh membuat Toni semakin geleng-geleng kepala. Satu kata yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang ayah kandung kepada anaknya. Sungguh sangat tidak pantas sekali.
"Anakmu masih bayi, jadi wajar kalau dia hanya bisa menangis karena baru dengan menangislah cara bayimu berkomunikasi. Istrimu berpenampilan berantakan karena seharian mengurus semua pekerjaan rumah dan mengurus semua yang menjadi kebutuhanmu, kebutuhan ibumu, bahkan bisa jadi ia mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri."
"Tapi seharusnya dia bisa menjaga penampilannya Ton. Lihatlah para istri di luar sana. Mereka bisa kok memperhatikan penampilannya sembari mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak."
"Ckkckkckk, kamu ini benar-benar tega Wan. Harusnya kamu bisa sedikit membantu istrimu di rumah, eh malah kamu jelek-jelekkan seperti itu. Sungguh tidak bersyukur kamu!"
"Itu hanya teori Ton, kamu belum merasakannya sendiri. Kalau kamu berada di posisiku pasti kamu setuju dengan apa yang aku rasakan ini."
"Tapi sungguh uca...."
"Paman!"
Ucapan Toni terpangkas ketika tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang menggema di telinga. Toni dan Awan sama-sama menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Tasya berlari kecil menghampiri Awan.
"Tasya!" seru Awan dengan wajah yang berbinar terang.
Awan sedikit kaget ketika melihat Tasya merentangkan tangan. Dari bahasa tubuh gadis kecil itu seakan meminta untuk digendong. Tanpa banyak berpikir, Awan meraih tubuh kecil Tasya dan ia gendong.
"Paman, apakah Paman sedang sibuk?"
"Emmm, tidak terlalu sibuk, Sayang. Kenapa memang?"
"Antar Tasya beli es krim yuk Paman. Tasya ingin es krim strawberry."
"Duh maaf ya pak Awan, Tasya sudah mengganggu waktu Bapak."
Suara Mega yang tiba-tiba terdengar juga membuat Toni dan Awan menoleh. Wanita dengan penampilan modis dan berparas cantik itu berjalan pelan mendekat ke arah Tasya yang tengah digendong oleh Awan.
"Sama sekali tidak kok Bu. Bahkan sebelum Tasya kemari saya berencana mau keluar cari cemilan. Kalau Tasya mau beli es krim biar bareng saja sama saya."
"Duh, malah bikin repot pak Awan."
"Tidak Bu." Awan menatap netra bening gadis kecil yang ada di gendongannya ini. Ia tersenyum manis sekali. "Tasya mau ikut Paman?"
"Iya Paman, Tasya mau ikut."
Tanpa berpikir panjang lagi, Awan berjalan keluar dari ruangan. Wajah lelaki itu terlihat begitu ceria ketika menggendong Tasya. Sangat jauh berbeda dari wajah yang sebelumnya bermuram durja karena mood nya berantakan. Mega pun ikut keluar ruangan. Berjalan di belakang punggung Awan dengan senyum yang tiada berhenti merekah di bibir. Entah apa yang membuat wanita dengan gelar janda itu tersenyum bahagia.
Sedangkan Toni yang melihat Awan nampak begitu sayang dan perhatian terhadap Tasya justru memunculkan sejuta tanya dalam dada. Jika dengan anak kandungnya sendiri Awan terlihat sangat kesal karena hanya bisa menangis, entah mengapa dengan anak dari bos nya ini nampak bertolak belakang. Awan seperti menjelma menjadi sosok yang berbeda.
"Kenapa Awan bisa seperti itu ya? Ah, semoga ini semua hanya prasangkaku saja."
***
Sepulang jam kerja, semua karyawan berkumpul di ruang meeting. Mereka duduk di kursi yang sudah disediakan dan juga menikmati snack yang sudah disediakan juga. Mereka saling mengobrol satu sama lain sembari menunggu kedatangan pimpinan perusahaan ini datang ke ruangan.
Tuk.. Tuk... Tuk..
Suara samar heels yang beradu dengan lantai terdengar semakin jelas di telinga para karyawan. Suara yang sebelumnya berada jauh kini semakin mendekat. Para karyawan yang tengah mengobrol dan menikmati snack, seketika mereka hentikan aktivitas mereka dan langsung menoleh ke arah pintu. Seorang wanita dengan sejuta pesona mulai memasuki ruang meeting.
"Selamat sore semuanya!" ucap Mega mengucap salam dengan menatap satu persatu karyawan yang berkumpul di ruangan ini dengan sorot mata yang begitu tegas.
"Sore Bu!"
"Terima kasih Anda semua sudah meluangkan waktu untuk memenuhi undangan dari saya. Sebetulnya ini bukan meeting tapi lebih tepatnya saya ingin memberikan satu pengumuman yang sangat penting. Dan ini semua ada kaitannya dengan struktur kepengurusan dealer ini."
Para karyawan saling berbisik satu sama lain. Mereka seperti begitu penasaran dengan pengumuman apa yang akan disampaikan oleh pimpinan perusahaan ini.
"Jadi seperti yang kita ketahui, bahwasannya perusahaan ini tidak memiliki wakil direktur selama dipegang oleh papa saya. Namun setelah memikirkan beberapa hal dan yang pasti untuk kemajuan perusahaan ini, saya memutuskan untuk mengangkat salah satu dari Anda semua untuk menjadi wakil direktur untuk membantu saya memikul tanggung jawab mengelola perusahaan ini."
Suasana semakin riuh. Mereka saling menebak satu sama lain akan siapa yang diangkat menjadi wakil direktur perusahaan ini. Satu posisi atau jabatan yang sangat mentereng karena tentunya akan bergaji besar.
Mega mencuri pandang ke arah Awan. Ia tersenyum kecil melihat Awan yang nampak begitu santai tidak begitu heboh seperti teman-temannya yang lain.
"Ehemmm..."
Mega yang berdehem, seketika membuat suasana tenang seperti sedia kala. Mereka kembali fokus untuk mendengarkan kabar yang akan disampaikan Mega dengan hati yang dipenuhi oleh rasa penasaran tentang siapa orang beruntung itu yang akan diangkat sebagai wakil direktur.
"Setelah melihat, memikirkan dan mempertimbangkan banyak hal terutama pencapaian-pencapaian selama bekerja di sini, saya memutuskan pak Awan Wiraguna yang akan menjadi wakil direktur di perusahaan ini!"
Plok... Plok... Plok....
"Woaaahhh... Awan, selamat!" teriak semua orang yang ada di sini.
Suara tepuk tangan riuh bergema memenuhi ruangan. Membuat Awan yang sedari tadi bersikap santai kini mendadak terperanjat karena tiba-tiba namanya disebut dan semua orang satu persatu menghampirinya untuk memberikan selamat.
"Pak Awan, mulai hari ini Anda resmi menjadi wakil direktur utama dan untuk gaji juga tunjangan akan segera kami sesuaikan dengan jabatan baru pak Awan," ucap Mega mengakhiri pidatonya.
.
.
.