NovelToon NovelToon
Cinta Dan Gairah

Cinta Dan Gairah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Model / Obsesi / CEO / Romantis
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Li Qiqiu

Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

"Jadi, apa yang diberitakan akun-akun gosip itu benar?" tanya Avy penasaran.

Avy sahabatnya datang setelah ia menyelesaikan makan malamnya bersama dengan sekantong cemilan yang Avy beli di minimarket. Sahabatnya itu akan menemaninya malam ini, mengobrol dan menonton film. Tapi sepertinya yang menjadi pusat perhatiannya adalah mengkonfirmasi mengenai hubungan Angel dengan William Wijaya.

"Tidak seratus persen benar," jawabnya membuat Avy bertambah penasaran. "Malam itu memang Pak William datang dan membawakanku makanan. Setelah makan kami mengobrol sebentar lalu dia menyuruhku tidur."

"Dan kau langsung saja tidur tanpa menaruh curiga apapun?"

"Awalnya aku tidak langsung tidur, namun dia mencoba meyakinkanku bahwa dia tidak akan melakukan apapun padaku."

"Kau percaya perkataannya?"

Avy mengangguk pelan. "Perkataannya memang cukup meyakinkan dan sepertinya saat itu aku benar-benar terhipnotis. Makanya, aku menuruti perkataannya. Aku tidur tak lama kemudian."

Avy mendengus, ia merutuki kebodohan Angel yang percaya perkataan laki-laki.

"Aku tahu William Wijaya, dibandingkan dengan saudaranya yang lain dia memang yang paling tampan. Sangat tampan. Sebenarnya aku tidak terlalu kaget jika kau jatuh dalam pesonanya."

"Aku tidak terpesona olehnya," bantah Angel, ia merebut ciki yang Avy pegang. "Coba saja kau yang berada di posisiku, aku yakin kau akan melakukan hal yang sama."

"Tidak mungkin. Aku tidak secantik dirimu Angel dan aku bukan model. Lagipula aku tak mau berada di posisimu," sahut Avy sembari membuka sebungkus keripik kentang.

"Lalu apa yang terjadi selama kalian tidur? Aku tidak yakin jika kalian murni tidur."

Jeda cukup lama, Angel ragu-ragu apakah akan menceritakannya atau tidak. Karena ia sendiri juga tak yakin.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tidurku nyenyak sekali dan ketika bangun aku sudah tidak melihatnya. Saat itu kupikir dia langsung pergi setelah melihatku tertidur."

Pikiran Angel melayang pada malam itu. Saat ia tidur dan samar-samar ia merasakan seseorang naik ke ranjangnya lalu mendekatinya. Ia tak berani untuk membuka mata karena masih merasa takut akan kehadiran William. Namun, karena terlalu lelah ia tertidur kembali setelah memastikan William tak melakukan apapun padanya.

***

Langit tampak bersih tanpa awan membuat bintang-bintang bersinar lebih tajam. Angin berhembus pelan menggoyangkan dedaunan dan menjatuhkan kelopak-kelopak bunga yang mekar. William duduk di taman samping rumah sembari menyesap anggurnya. Ia masih menunggu Darren untuk membahas mengenai Angel.

William tahu, bahwa Angel adalah teman Darren. Namun perlakuannya terhadap Angel sungguh membuat dirinya tak nyaman. Apalagi Angel ternyata menyukai bocah itu. Mengingat hal itu membuat perasaannya kacau.

"Kau seharusnya mencari korban lain, bukan Angel. Dia tak layak mendapatkan perlakuan seperti itu." Darren datang sesuai dengan dugaan William. Meskipun jarang berinteraksi ia sangat memahami sepupunya satu ini.

William menggoyangkan gelas berisi anggur yang ada di tangannya seolah tak peduli pada apa yang dikatakan Darren.

"Dia sudah tak memiliki siapa-siapa. Aku tak ingin..."

"Dia memiliku," sahut William cepat. Ia sebenarnya malas mendengar omong kosong Darren yang seolah-olah akan melindungi Angel tapi tak melakukan apapun.

Darren yang mendengar itu spontan menengok William, menelisik ekspresinya namun tak ia menemukan apapun hanya ada keyakinan. "Kau tidak memiliki hubungan apapun dengan Angel. Sebagai temannya, aku berhak melindunginya."

"Kami akan segera meresmikan hubungan kami." Darren tercengang mendengar William berkata demikian. Ia masih tak percaya bahwa William menyukai Angel.

Malam semakin larut, suara-suara jangkrik dan hewan malam mulai terdengar. William yang sedari tadi menyesap anggur membuat Darren mengira ia tengah mabuk. "Kau mabuk, Will."

"Saat ini aku dalam kondisi sangat sadar, Darren." William bangkit dari duduknya membawa sebotol anggur dan gelasnya. "Aku tahu kau tidak memiliki perasaan terhadap Angel. Kau hanya menganggapnya sebagai teman. Lalu mengapa aku tak kau izinkan untuk mendekatinya?"

"Jarak umur kalian sangat jauh dan perjalanan Angel masih sangat panjang."

"Tidak ada masalah dengan umur, Darren. Asal dia mencintaiku dan aku mencintainya itu sudah cukup. Aku akan mendukung apapun impiannya," pungkasnya lalu meninggalkan Darren yang tengah sibuk dengan pikirannya.

***

Angel menutup laptopnya setelah menyelesaikan satu film yang ia tonton bersama Avy. Ia melihat handphone-nya, terdapat satu pesan dari nomor tak dikenal.

+628xxx: Kau sudah tidur?

*William*

Setelah mengetahui pengirim pesan adalah William, ia bingung apakah ia harus membalasnya atau tidak. Entahlah, kehadiran William sangat mengacaukan ritme hidupnya. Bahkan sejak William menatapnya tiga bulan yang lalu. Terdapat perasaan asing yang Angel tak ketahui maknanya. Bukan rasa benci atau suka, namun yang lainnya, sesuatu yang sulit dimengerti. Mungkin karena itu, ia tak bisa tegas saat berada di Bali kemarin. Ia tak menolak juga tak menerima. Angel mematikan ponselnya, menyimpannya di atas nakas lalu berbaring di samping Avy.

"Avy," panggilnya lirih, matanya memandang langit-langit kamar yang berwarna putih.

"Hemmm,"

"Apa kau sudah pernah berciuman?"

Pertanyaan aneh yang Angel lontarkan sontak membuat Avy melepas penutup matanya. "Apa maksudmu?"

"Apa kau pernah berciuman dengan laki-laki? Ciuman yang sebenarnya," jelasnya, ingatannya kembali pada kejadian siang tadi saat William mencium bibirnya dalam.

"Sebenarnya ini rahasia terbesarku. Kau tahu ibuku sangat membatasiku untuk bergaul dengan lawan jenis." Angel mulai memusatkan perhatiannya pada Avy, ia mengangguk membenarkan. "Kau ingat, semester lalu kita ada tugas membuat Business Plan dan aku mengerjakannya bersama Jack?" Angel mengernyit mencoba mengingat-ingat, saat itu dia mengerjakannya bersama Darren dan mendapatkan nilai tertinggi. "Kami mengerjakannya di rumah Jack dan kami berciuman di kamarnya."

Untuk beberapa saat, Angel tak dapat berkata-kata. Bagaimana bisa Avy dan Jack berciuman sedangkan mereka di kelas layaknya anjing dan kucing. "Ciuman yang seperti apa?"

"Hemmm, kita semua tahu bagaimana Jack. Sebagai salah satu laki-laki paling tampan di sekolah, tak bisa dipungkiri dia pasti memiliki banyak pengalaman."

"Lalu?"

"He's good kisser. And that was my first kiss." Avy bercerita dengan rona merah di wajahnya. "Aku tak bisa menceritakan lebih dari itu, karena perasaan itu tak bisa dijabarkan Angel. Setiap ciuman yang dia berikan terselip emosi dan hanya aku yang memahaminya. Setelah itu, tanpa sepengetahuan orang lain kami sering melakukan di mobilnya," pungkas Avy, senyum lebar terlukis di wajahnya tanpa perlu disembunyikan. Kini Angel telah mengetahui rahasianya, jadi kelak ia bisa bercerita apapun kepada Angel tentang hubungannya dengan Jack.

Angel mengerti apa yang dirasakan Avy, karena ia pun demikian. Meskipun William menciumnya saat ia tertidur dan itu bisa dikatakan sebagai pelecehan, namun ia menyambut ciuman itu. Berbagai emosi yang dirasakan William seolah dikatakan lewat ciuman itu. Perasaan suka, rasa bersalah, gairah, dan yang lainnya seolah ia sampaikan melalui ciuman itu. Awalnya Angel tak mengerti, namun anehnya ia tak bisa marah kepada William. Ia seolah memahami apa keinginan William.

Angel mengambil ponselnya, menghidupkannya lalu membuka aplikasi pesan singkat. Ia langsung menyimpan kontak William dan membalas pesannya.

Angel: Baru saja mau tidur.

Ia lalu mematikan kembali ponselnya agar tidurnya tak terganggu. Lagipula, sekarang ia sudah tak memimpikan mimpi erotis itu lagi.

"Avy, selamat malam," ucapnya lalu menutup matanya menggunakan penutup mata. Begitupun dengan Avy yang ia balas dengan anggukan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!