Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Hari ini, Dania di ajak Rysh untuk bertemu Sebastian.
Begitu melihat Dania, Sebastian langsung berteriak dan memerintahkan Dania untuk melepaskannya. Bahkan, dia mengancam, akan membunuh Dania, jika gak mau menurutinya.
"Bunuh aja, aku mau lihat bagaimana kamu bisa membunuhku, bahkan melepaskan dirimu aja, kamu gak becus," cibir Dania.
"Dasar brengsek ... Istri durhaka. Dan aku haramkan, kamu mendapatkan surga," kutuk Bastian dengan napas memburu.
"Jangan memikirkan nasib ku. Pikirkan dirimu sendrii dulu," balas Dania.
Adu mulut pun berlanjut. Rysh membiarkan hal itu. Karena ia ingin mertuanya mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada padanya.
Lagipula, Bastian masih dalam keadaan terikat, jadi aman untuk mertuanya membalas sakit hati, pada suaminya.
"Pakaikan pakaiannya, karena hari ini hari terakhir dia menghirup udara segar," perintah Rysh pada anak buahnya.
"Apa maksudmu? Kamu ingin membunuhku?"
"Anda akan segera tahu," balas Rysh.
Rysh pun pergi dengan mertuanya, meninggalkan Bastian, bersama anak buahnya.
Rysh tiba di kantor, setelah sebelumnya mengantar Dania untuk pulang ke rumah.
Sebelum masuk ruangan, dia melihat Violet sedang serius dalam bekerja. Dan entah kenapa, Voolet terlihat cantik, dalam keadaan seperti itu.
"Vio ..." sapa Rysh.
"Iya pak Rysh, ada yang bisa saya bantu?"
"Pinjamkan ponselmu," Rysh menadah tangannya.
"Untuk apa?"
"Ponselku kehabisan daya. Dan aku ada hal penting yang ingin kusampaikan sama mama,"
Tanpa curiga, Violet memberikan ponselnya.
Sejak semalam, Rysh memang ingin memeriksa sendiri tentang siapa nama yang di simpan oleh Vio untuk nomornya. Namun, dia takut di kira tak sopan oleh Violet.
Maka dari itu, untuk menuntaskan rasa penasarannya, dia memberanikan diri, walaupun alasan yang dikatakan terlihat begitu konyol.
"Belahan jiwaku," Rysh membatin.
"Sudah?" tanya Violet, ketika Rysh menyerahkan lagi, ponselnya. "Kok cepat amat,"
"Gak jadi, makasih ya— belahan jiwaku," ujar Rysh, menekan kata belahan jiwaku.
"Eh ..."
Violet hendak menjelaskan, namun Rysh sudah lebih dulu menghilang di balik pintu ruangannya.
"Dih ..." cibir Violet.
Setelah memeriksa email dan jadwal untuk Rysh. Violet pun mengetuk pintu ruangan Rysh.
"Ada apa belahan jiwaku?" Rysh menaik-turunkan alisnya.
Violet memutar mata malas. "Itu ibu yang menyimpannya," terang Violet.
"Gak peduli, buktinya kamu tidak mengubahnya kan?"
"Hari ini, bapak rapat dengan beberapa direksi jam 11, setelahnya bapak juga makan siang dengan pak Mansur di saung anaknya. Dan ada ini, ada beberapa laporan tentang perumahan di komplek tanjung," Violet menyerahkan berkas yang telah di susun rapi.
Kini, tubuh Violet sangat dekatnya. Dan samar-samar Rysh bisa mencium aroma dari tubuh istrinya. Aroma yang sama dari waktu ke waktu.
"Kemari lah," Rysh menepuk-nepuk pahanya.
Violet mengangkat sebelah alisnya, menatap sekilas ke arah paha Rysh.
"Kamu gak ingin merasakannya? Banyak loh, perempuan yang mengidolakannya,"
"Maaf pak, ini kantor!" seru Violet, jelas menolak.
"Berarti nanti malam ya? Kita gol,"
"Eh ..."
"Gak ada penolakan. Karena sejatinya aku berhak atasmu," ujar Rysh, seraya mengeluarkan buku nikah dari lacinya.
"Ini?"
"Aku telah mengurusnya ... Pernikahan kita, sah di mata agama dan negara," terang Rysh.
"Terima kasih," lirih Violet.
"Jadi, boleh ya nanti malam? Udah lama nih, gak di servis,"
"Bukannya kita menikah hanya untuk kontrak saja?" Violet mencoba mengingatkan.
"Dan, apakah kamu lupa apa yang ada di tulisan paling bawah, di kontrak? Atau kamu mau, aku tempelin di komputer mu?"
"Sialan ..." ucap Violet, namun Rysh hanya mengangkat bahunya.
"A-aku lagi haid," Violet mencari alasan yang paling masuk akal.
"Kamu lupa? Minggu lalu, aku yang menutupi bokongmu, dengan jasku, ketika usai rapat?" peringat Rysh, tersenyum jahil.
"A-aku gak mau hamil," akhirnya Violet menyerah.
"Tenang, itu keahlian ku," ujar Rysh, seraya menarik tangan Violet.
Karena gak siap, otomatis Violet jatuh. Dan sialnya, Violet jatuh di pangkuan Rysh.
Bukan sial, tapi itu memang Rysh yang sengaja menariknya.
Dan Rysh, langsung memeluk pinggang Violet, menguncinya, disana.
"Lepaskan pak, ini di kantor. Lagipula, pintu ruangan gak dikunci," ujar Violet mencoba melepaskan tangan Rysh dari pinggangnya.
"Tenang, gak akan ada yang berani masuk ke sini, sebelum aku suruh," ujar Rysh malah mendekatkan wajahnya ke leher Violet.
Baru saja, dia berhasil mencium aroma memabukkan itu dari tempat yang selalu membuatnya hilang fokus, pintu ruangan terbuka.
"Rysh ..." teriak Kevin, sahabat Rysh yang sebelumnya pernah di kirim foto Violet untuk mencari tahu tentangnya.
Violet dan Rysh sama-sama terkejut. Dan Violet langsung menggunakan kesempatan itu, untuk kabur.
Rysh mendengus, merasa geram akan sahabatnya.
"Vio," sapa Kevin, kala Violet berlalu didepannya.
Namun, Violet hanya mengangguk dengan seutas senyum.
"Apa yang kamu lakukan? Aku dengar dari anak buah ku, malam itu kalian menikah?" beruntun Kevin, mendekati sahabatnya.
Malam itu, walaupun dia berada di luar negeri. Kevin langsung menyebari anak buahnya untuk mencari tahu tentang Violet. Dan dari dia pula, Rysh tahu, jika malam itu, ibu Violet mendapatkan kdrt dari suaminya.
Dan yang membuat Kevin hampir mati di luar negeri ialah— dia mendapatkan laporan dari anak buahnya, kalau Rysh menikah siri dengan Violet, malam itu juga.
"Jelaskan!" pinta Kevin, melihat Rysh diam saja.
"Apa salahnya kami menikah?" Rysh menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Gak salah sih, tapi ini kamu Rysh, kamu!"
"Apa yang salah dengan ku? Aku lelaki, aku normal. Bahkan saking normalnya, aku bisa menghukumnya sampai kelelahan," ujar Rysh jumawa.
Kevin memutar mata malas.
"Kenapa kalian bisa menikah?" tanya Kevin penasaran.
"Karena aku menyukainya,"
Kevin memincing, dan Kevin tahu apa arti suka dalam kamus sahabatnya.
"Pantas, makanya dia terlihat terpaksa sekali,"
"Hey, apa maksudmu? Aku bukan menyukai itu, tapi aku suka beneran, bukan hanya suka itu," ralat Rysh, membenarkan kecurigaan sahabatnya.
"Iya kah? Memang kamu normal? Bahkan sampai sekarang, tak ada satu orang gadis pun, yang benar-benar menarik perhatianmu Rysh," cibir Kevin, seraya mengambil minuman soda yang berada di kulkas mini, dalam ruangan Rysh.
"Jangan-jangan, kamu hanya penasaran sama Vio," tuduh Kevin, memicingkan matanya.
"Jangan ngomong sembarangan Kev, aku gak sejahat itu," sanggah Rysh, terlihat acuh.
Tak lama dari itu, Kevin terlihat keluar dari ruangan Rysh.
Dia menatap Violet, yang bahkan tak pernah benar-benar meliriknya.
"Vio ..."
"Iya pak,"
"Kamu di paksa Rysh kah?" tanya hampir berbisik.
"Ini kantor pak," sahut Violet, tajam.
Namun bukan Kevin namanya, jika menyerah begitu saja.
"Ini kartu namaku, kalo kamu butuh bantuan hubungi saja aku," Kevin mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.
"Gak usah pak, aku bisa membantu diriku sendiri," tolak Violet.
Kevin mengerjap.
"Gak salah kalo Rysh penasaran," batinnya.