"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan
Dua minggu setelah kehadirannya di turnamen karate hari itu, Gilang memutuskan menjaga jarak dengan Jeny. Indra berusaha keras meyakinkannya untuk tidak buru-buru menyerah menaklukan hati Jeny, tapi Gilang bersikukuh dengan pendapatnya.
Bagi Gilang, menghormati permintaan Jeny adalah bentuk kepedulian dan ekspresi cintanya pada gadis itu. Meski memang tak terlihat seperti pada umumnya seorang yang mewujudkan cintanya, tapi menurut Gilang itulah yang terbaik.
Gilang kembali menyibukkan diri dalam club Karya Ilmiah, mendampingi rekan-rekan mengikuti lomba, menjadi tutor di club bagi anggota yang sebagian besar adalah mahasiswa baru dan mengikuti event-event lain yang mendukung perkuliahannya.
Namun, semesta berencana lain. Hari itu mereka akhirnya bertemu kembali dalam momen DIES NATALIS Universitas Gama. Mereka berdua mendapat penghargaan dari kampus karena berhasil menjuarai lomba-lomba yang mereka ikuti beberapa waktu lalu.
"Saya mengucapkan Terima kasih atas semua pendampingan pak Herman dan juga senpai Jery sudah all out membimbing kedua mahasiswa ini hingga mampu mengharumkan nama Universitas kita."
"Ini menjadi prestasi luar biasa dalam dua tahun berturut-turut. Dan menjadi kebanggaan civitas dan bukti bahwa kampus kita memberikan perhatian yang sama dalam setiap bentuk prestasi Akademik maupun non akademik. Prestasi mereka adalah cermin dari usaha semua pihak yang berada dalam naungan Universitas Gama."
Potongan sambutan yang di sampaikan oleh Rektor menjadi awal momen mereka berdiri bersama dalam satu panggung. Meski canggung, keduanya berusaha menghadirkan senyum terbaik di kesempatan itu.
Foto keduanya ramai bersliweran di lini masa.
Apalagi di momen dies natalis universitas yang pasti diliput oleh media massa online.
"Selamat ya jen, " ujar Gilang mengulurkan tangannya di hadapan Jeny.
"Selamat juga buatmu, " sahut Jeny ramah menyabut tangan itu dan bersalaman
Senyum Jeny menyabit, membawa kehangatan dalam hati Gilang. Senyum yang lama tak Gilang lihat setelah kejadian di depan kantor Herman waktu itu.
Mereka berjalan bersama menembus keramaian karena momen mereka saat itu sudah selesai.
"Kamu mau ke mana? Biar ku antar, " tawar Gilang.
"Tidak perlu, aku bisa naik angkutan umum. Cuma mau pulang ke rumah, " tolak Jeny sambil memasukkan baju karate dan piagamnya ke dalam tas.
"Tak apa, biar aku antar. Kebetulan aku kosong setelah ini. Ada helm juga. "
Gilang menyerahkan helm ke hadapan Jeny. Jeny akhirnya menerima helm itu.
Di kejauhan dua pasang mata memandang mereka dengan perasaan iri, cemburu, kesal dan pasrah. Satu di salah satu kursi penonton, yang satu di sekitar panggung.
Keduanya merasa hubungan yang berusaha mereka pisah kan dengan berbagai cara, akhirnya akrab kembali seperti tak ada masalah sebelumnya di antara keduanya.
Gadis berambut lurus yang menoleh ke belakang menatap Gilang dan jeny yang menjauh hanya bisa melengos kasar, lalu berpaling. Rencananya memang belum berjalan, dia menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Laki-laki muda yang berdiri di sekitar panggung akhirnya berbalik, membuang harapannya yang telah lama ia pendam sejak menjadi teman kecil Jeny. Meski dia juga mendapat juara di turnamen kemarin, tapi prestasinya memang masih jauh dari prestasi Jeny hingga akhirnya ia tak mendapat kesempatan berdiri di panggung yang sama dengan cinta pertamanya itu.
Peluangnya makin kecil saat melihat Jeny menyambut uluran tangan Gilang dengan senyuman yang sangat jarang ia ukir di bibirnya saat bersamanya. Pikirnya, ini mungkin sudah akhirnya.
***
Gilang menghentikan motornya di depan sebuah minimarket. Jeny tertegun menatap Gilang yang turun begitu saja tanpa informasi.
Tak lama ia keluar dari dalam minimarket sambil membawa bungkusan besar.
"Bagaimana kalau kita rayakan bersama momen hari ini di tempat yang tenang? " ajak Gilang.
Jeny tersenyum kecil, lalu mengangguk.
Gilang menyalakan kembali motornya dan membawa kuda besi itu lebih cepat ke tempat biasa ia memenangkan diri dari kesibukan kuliah dan clubnya.
Gilang membelokkan stir motor memasuki sebuah area yang sepi, di ujung jalan terlihat air pantai yang beriak kecil. Gilang berhenti di samping pondokan kecil yang terbuat dari bambu beratap daun kelapa yang disusun rapi.
"Ayo turun!! Tenang saja, cuma sebentar."
Jeny melepas helm, turun dan menggantungnya di spion.
Gilang duduk santai meletakkan tas ranselnya di dalam pondokan. Kemudian mengeluarkan satu-satu isi di dalam plastik besar itu.
Dua kaleng minuman soda, dua bungkus roti dan beberapa makanan kecil termasuk es krim cone coklat berukuran besar.
"Silahkan, jangan sungkan-sungkan. Bebas, yang mana dulu."
Senyuman Gilang membuat Jeny tak ragu mengambil es krim cone coklat itu. Makanan yang hanya ia bisa tatap saat mengisi ulang Box Coolers berukuran besar di tempat ia biasa bekerja. Bagi Gilang harganya mungkin tak seberapa, tapi bagi Jeny. Itu makanan mahal.
"Terima kasih, ini memang layak di sebut perayaaan kecil, tapi semua tetap berkesan bagiku."
Gilang yang tengah meneguk soda ke tenggorokannya sedikit mendongak seketika berhenti. Ada yang menarik dari perkataan Jeny barusan.
"Apa kamu tak pernah melakukan perayaan meski sederhana seperti ini setiap mendapat juara?"
Jeny menggeleng.
"Bagiku, semua hasil lomba itu ada lah berkah untuk hidupku dan nenekku. Kamu pasti sudah dengar ibuku menjadi TKW dan aku tinggal dengan nenekku kan?"
Gilang mengangguk ragu.. bukan hanya karena malu karena sikapnya menyelidiki kehidupan Jeny dengan bertanya pada Rika dan Erwin, tapi juga khawatir Jeny marah.
"Ibuku rutin mengirim uang bulanan untuk kami, tapi sebenarnya tak pernah cukup. Terutama sejak nenekku sakit dan harus rutin ke rumah sakit setiap bulan. Jadi setiap hadiah lomba aku kumpulkan untuk biaya pengobatan nenekku. Setiap melihat es krim ini, aku selalu ingin memakannya tapi selalu ku tahan. Otakku pasti bilang, "lebih baik ini untuk pengobatan nenek" akhirnya aku hanya bisa menelan saliva."
"Ini keinginan besarku sejak lama, akhirnya aku bisa merasakannya. Terima kasih sekali, Terima kasih sudah membuatku akhirnya bisa menikmatinya tanpa beban. "
Gilang terpaku melihat senyuman Jeny yang kontras dengan air mata di pelupuknya.
Gilang mengangguk. Ia bersyukur bisa melakukan itu untuk Jeny. Hal yang baginya sangat kecil, ternyata begitu berharga bagi Jeny yang hidup dalam keterbatasan.
"Katakan saja kalau kamu punya sesuatu yang lain, nanti kita mampir sebelum mengantarmu pulang, " tawarnya.
Jeny hanya menggeleng, ia sungkan. Mungkin lebih tepatnya tak mau punya hutang budi pada siapapun.
"Ini semua sudah cukup, " kata Jeny lagi sambil menyeka air mata yang akhirnya luruh di pipinya yang terlihat lembut.
"Tak apa Jen, anggap saja ini bentuk penebusanku atas kesalahanku di masa lalu."
Jeny menoleh menatap Gilang. Mencoba menerka ke arah mana pembicaraan ini.
"Kesalahan yang selama ini ku sesali. Kesalahan yang mengendap di memori dan lubuk hatiku yang terdalam selama 5 tahun terakhir."
Gilang menoleh menatap Jeny, ia tersenyum geli melihat krim coklat yang sudah berantakan di mulut Jeny bahkan hingga ke ujung pipinya.
"Kesalahan apa? " tanya Jeny dengan mulut masih penuh dengan es krim.
Ia mencoba memancing Gilang untuk bicara lebih banyak menyamakan persepsi mereka.
Tangan panjang Gilang reflek menyeka krim di pipi Jeny dengan jempol lalu menjilatnya. Jeny tertegun melihat gerakan yang tak tampak jijik itu.
"Kesalahan karena sudah menuduhmu mencuri sepatuku, " jawab Gilang akhirnya.
Tatapan mereka bertemu. Hening.. hanya terdengar suara desir air pantai dan debur gulungan ombak halus. Sepoi angin menyadarkan keduanya.
"Ku pikir, kamu tak ingat kalau gadis itu aku, " ujar Jeny kemudian.
"Aku ingat setelah mendengar cerita tentang masa sekolahmu dulu. Sebenarnya aku berniat mengakui semua dan meminta maaf padamu. Tapi...peringatan mu waktu itu membuatku khawatir berbuat kesalahan yang lain. Jadi.. berikan aku kesempatan menebus kesalahan itu."
"Caranya? " tanya Jeny.
"Ijinkan aku menjadi orang yang menjagamu, dan...mencintaimu."
Jantung Jeny terasa mencelos. Ia terpaku menelan cream coklat di mulutnya dengan kasar.
"Bagaimana? Apakah boleh?" tanya Gilang menyentak lamunan Jeny.
"Aku... tak tahu. Bukan, aku tak yakin."
" Kenapa?" Kening Gilang mengernyit dalam.
"Dunia kita berbeda lang.. dan itu.. terlalu rumit."