NovelToon NovelToon
The Death Mirror

The Death Mirror

Status: tamat
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Model / Obsesi / Tamat
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Richest

Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.

Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.

Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.

Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.

Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?

Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Dan, arghh!! Kepalanya dia tidak lagi ditarik. Makhluk itu pergi secara tiba-tiba. Kesadarannya sudah mulai kembali.

Kepalanya terasa sangat pusing. Bahkan napasnya masih terengah-engah. Dia mengambil air di gelas yang berada di atas nakas.

"Syukurlah aku tidak kenapa-napa. Makhluk itu tadi menyeramkan sekali. Mana dia blank face lagi. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi."

Beberapa jam telah berlalu, Sisca sudah siap dengan barang-barang yang akan dibawanya ke rumah Michelle saat ini. Begitu juga dengan mobilnya.

Dia menempuh perjalanan sekitar satu jam tiga puluh menit untuk sampai di lokasi tujuan dengan kecepatan sedang.

Setibanya di rumah sahabatnya, dia langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang cukup mewah itu.

Satpam di sana memang sudah diberitahu oleh Michelle untuk langsung membukakan pintu gerbang jika ada Sisca datang ke sana. Sehingga mereka tidak perlu menghubungi Michelle lagi.

"Michelle, sayang!"

"My bestie!" Sisca menghamburkan pelukannya ke gadis itu.

Setelah itu, Michelle mengajak Sisca untuk masuk ke dalam rumah. Sahabatnya itu akan tidur sekamar dengannya.

Michelle membantu Sisca membawa barang-barangnya ke kamar. Setelah semuanya sudah tertata dengan rapi mereka langsung pergi mengobrol di atas ranjang.

"Gimana kabar kamu, Chelle?"

"Aku baik, kamu?"

"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja. Kalau Edward gimana? Kamu beneran dekatin dia semenjak Kim meninggal?"

"Iyalah, Sis. Ternyata mendapatkan dia itu enggak sesulit yang aku pikirkan. Mudah bagiku untuk mendapatkannya. Apalagi Kim sudah meninggal."

"Aku ikutan bahagia kalau nanti kamu bahagia sama Edward."

"Sudah, ayo kita tidur. Setelah lama di perjalanan pasti kamu lelah sekali, kan?"

"Iya, kamu benar sekali. Badanku terasa pegal semua." ucapnya sambil memijat tengkuknya.

Malam telah berganti menjadi siang. Michelle dan Sisca telah bangun dari tidurnya. Kini mereka sedang sarapan bersama di meja makan.

"Biasanya aku sarapan sendiri. Tapi sekarang aku lebih senang soalnya enggak tinggal sendirian di rumah ini."

"Haha, sama. Aku biasanya juga begini. Kita memang pantas untuk dipertemukan sebagai sahabat oleh tuhan."

...****************...

James sedang berada di cafe miliknya. Dia sedang mengawasi pekerjaan para karyawannya.

Di saat cafe sedang ramai, tiba-tiba mantan lelaki itu datang ke sana. James melihat kehadiran Aryan di cafe miliknya itu.

Dia mempunyai firasat buruk di balik kehadiran lelaki itu. Sepertinya kali ini dia akan membuat ulah lagi. Tapi entahlah dalam bentuk apa.

"Saya pesan kopi yang ini sama dua croissant nya." ucapnya sambil menunjuk pada buku menu yang diberikan oleh pelayan di sana.

"Oh iya, satu lagi. Saya mau menikmatinya sambil ditemani oleh pemilik cafe ini, James. Bilang itu ke dia ya. Jika tidak, saya akan merusakkan apapun yang ada di ruangan ini." ancamnya.

Pelayan wanita itu merasa takut dengan ancaman lelaki itu. Namun dia bisa apa. Dia hanya bisa menuruti keinginannya Aryan.

"Pak, maaf. Tadi ada customer yang mau makan ditemani dengan bapak. Dia mengancam akan merusak apapun yang ada di kafe ini kalau saja bapak tidak menemaninya." tutur pelayan itu.

"Baiklah, saya akan menemaninya. Kamu lanjut saja bekerja seperti biasa."

James menghampiri meja dimana Aryan sedang menunggu pesanannya. Senyuman di bibirnya merekah melihat James benar-benar datang menghampirinya.

Lelaki itu duduk berhadapan dengan mantan pacarnya dulu. Dia tidak menatap ke arah wajah Aryan sedikitpun.

"Akhirnya kamu beneran ingin menemuiku. Aku tau kamu sebenarnya pasti juga rindu denganku, kan?"

James hanya diam saja. Dia tak menanggapi perkataan demi perkataan dari lelaki di hadapannya itu.

"Jujur, aku masih sangat mencintaimu. Aku ingin kita kembali menjalin hubungan hangat seperti dulu lagi. Kau masih ingat kan momen-momen bahagia kita waktu bersama?"

"Tidak, aku sudah lama melupakannya. Kau datang kesini hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting seperti ini saja kah? Kau bahkan sudah mengancam karyawanku jika aku tidak menemui mu disini."

"Aku benar-benar sudah enggak respect lagi sama kamu, Yan. Aku sarankan ke kamu untuk berobat, Yan. Berubahlah jadi pria normal. Gay itu benar-benar menyesatkan. Masa depanmu masih panjang. Jangan sampai kamu hancurkan begitu saja."

"Itu tentu saja sangat sulit bagiku, James. Aku hanya mencintaimu. Saat berada di dalam penjara, aku selalu terbayang-bayang akan wajahmu yang tak pernah mengunjungiku di sana."

"Dan ketika kita bertemu kembali kau justru berpura-pura tidak mengingatku lagi. Bukankah itu sangat menyakitkan?"

"Kau sudah tau berhubungan dengan sesama lelaki seperti diriku itu menyakitkan. Lalu kenapa kau masih saja datang kesini dan menggangguku?"

"Aku sudah normal, Yan. Aku sudah normal!" sentaknya.

Lelaki itu menepuk meja makan dengan cukup kuat. Kemudian ia meletakkan beberapa lembar uang seratus ribuan di atasnya. Dia meninggalkan ruangan itu begitu saja.

Di sisi lain, Sisca sedang sibuk dengan komputer di hadapannya. Sesekali juga tampak dia membuka lembaran demi lembaran berkas di atas meja kerjanya.

Tok tok tok

Ada seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. "Masuk saja" sahutnya dari dalam.

Orang itu segera masuk ke dalam. Dia duduk di kursi di hadapannya Sisca.

"Ada apa?" tanya Sisca pada wanita itu.

"Saya ingin memberikan berkas ini kepada Anda." ucapnya sambil menyerahkan sebuah map berwarna merah kepada Sisca.

Gadis itu menerimanya dengan baik. Dia memeriksa pekerjaan karyawannya itu dengan teliti sebelum akhirnya ia terima.

Setelah beberapa menit dia mengeceknya, dia mendongakkan kepalanya. Namun anehnya, wanita itu sudah tak berada di hadapannya lagi.

"Lah, bukannya tadi dia ada di hadapanku? Perasaan tadi dia duduk diam disini dan enggak pergi kemana-mana. Kok sekarang bisa tiba-tiba hilang gitu ya?" herannya.

Karena penasaran dengan tingkah wanita itu tadi, Sisca mencoba untuk membuka kembali map berwarna merah tadi.

Saat ia buka, semua darah yang ada di buku itu bercucuran ke pakaiannya. Tangannya juga sudah berlumuran darah.

"Astaga, Ya Tuhan. Apa lagi ini? Kenapa aku selalu mengalami hal-hal aneh dan sulit dipikirkan dengan logika seperti ini, sih?" gumamnya kesal.

"Duh, apa aku pulang aja ya?" gumamnya seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Mungkin dia memang benar sering berhalusinasi dikarenakan dia kurang istirahat.

Saat akan memasuki kamar Michelle, dia justru seperti merasakan hawa yang berbeda di rumah yang cukup mewah ini.

Angin-angin berhembus sangat kencang. Menyebabkan gorden di rumah itu melayang-layang.

Sisca ingin menutup gorden tersebut. Tanpa sengaja ia melirik ke bagian bawah. Dia melihat ada seorang perempuan sedang duduk di sana.

"Kok aku seperti enggak asing lagi sama perempuan itu? Seperti pernah melihatnya tapi tidak tau dia siapa."

Setelah ia ingat-ingat, ternyata dia masih ingat akan siapa perempuan di bawah sana. Dia adalah Kimberly. Ya, dia Kimberly.

"Ya ampun, Kim?!!" mulut gadis itu menganga dan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

"Bukannya itu orang udah mati ya? Kenapa dia tiba-tiba bisa berada disini?" tanyanya kebingungan.

Saat dia sedang sibuk memikirkan Kim, orang tadi justru menghilang. Sisca menampar jidatnya sendiri dengan cukup kuat.

"Akh! Sepertinya tadi itu aku hanya berhalusinasi saja. Entahlah mengapa akhir-akhir ini aku sering sekali berhalusinasi?"

1
Crazy Girl
Apa yang terjadi dengan Michelle selanjutnya? Semuanya ayo semangat lagi bacanya ☺️✌️
Isabel Hernandez
Sudut pandang baru
Crazy Girl: lanjut baca terus yaa 👍🙏
total 1 replies
Abdul Rahman
Nah, ini baru kualitas cerita yang oke!
Crazy Girl: Terimakasih, baca terus ya:)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!