Sebuah kecelakaan yang hampir menewaskan Aditya dan Lastri membuat keduanya semakin dekat dan terikat satu sama lain. Pernikahan pun terjadi antara keduanya akibat desakan kedua orang tua Aditya.
Kecelakaan yang membuat Aditya kehilangan ingatannya mampu mencintai Lastri yang selalu ada untuknya. Namun, kebahagiaan itu sirna ketika Aditya mengingat semuanya dan sebuah peristiwa dimasa lalu yang disembunyikan kedua orang tuanya membuat Lastri kecewa dengan keluarga yang menyayanginya karena sebuah alasan dimasa lalu, peristiwa dimana kedua orang tuanya tewas secara mengenaskan di depan matanya hingga meninggal trauma yang amat dalam untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 (Semakin Heran)
...🍁 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Malam pun tiba Lastri sudah mempersiapkan makan malam untuk Aditya, ia berusaha menjadi yang terlihat untuk Aditya agar Aditya bisa melupakan obsesinya terhadap Aileen. Jujur saja Lastri cemburu tetapi ia juga takut sahabatnya terluka karena Aditya. Jadi, ia berusaha lebih keras agar Aditya bisa melupakan Aileen secara perlahan dan melupakan dendam yang rasanya tidak pantas untuk dibalaskan untuk alasan yang sama sekali tidak masuk akal bagi Lastri. Bahkan Lastri tidak tahu bagaimana kehidupan Aditya selama ini, ia hanya melihat kearoganan Aditya kepadanya setelah Aditya mabuk waktu itu.
Lastri tampak ragu untuk mengetuk pintu kamar Aditya, tetapi ia juga khawatir jika Aditya tidak keluar dari kamar sejak tadi. Wajah pria itu begitu sendu yang membuat Lastri heran sekaligus khawatir. Akhirnya dengan keberanian yang ia kumpulkan Lastri mengetuk pintu Aditya juga.
Tok..tok...tok...
Tak ada sautan dari dalam yang membuat Lastri semakin gelisah hingga ia memberanikan diri untuk membuka pintu Aditya yang ternyata sama sekali tidak dikunci. Dengan menghela napasnya perlahan Lastri mulai melangkah kearah kasur Aditya dimana pria itu sedang berbaring disana. Lastri sudah siap jika nanti ia akan terkena amarah Aditya karena masuk ke kamar pria itu tanpa izin.
"Tuan, makan malam sudah siap. Ayo makan dulu, Tuan!" ujar Lastri dengan pelan.
"Hmmm..."
Hanya deheman yang Lastri dengar membuat Lastri akhirnya semakin mendekat kearah Aditya. "Tuan sakit?" tanya Lastri memberanikan diri untuk bertanya.
Lastri duduk di pinggir ranjang walaupun jantungnya berdetak sangat kuat karena ia takut tiba-tiba Aditya memarahi dirinya karena ia sudah sangat lancang duduk di kasur pria itu. Tetapi Lastri sudah bertekad untuk membuat Aditya mencintainya, apapun resikonya akan Lastri tanggung asal Aditya melupakan Aileen dan segala dendam yang pria itu rasakan pada Arsenio.
Lastri mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Aditya dengan lembut. "Tuan, ayo makan malam dulu. Saya tidak mau melihat Tuan sakit," ujar Lastri dengan lembut.
"Saya tidak lapar!" sentak Aditya dengan dingin.
"Kalau begitu makan malamnya saya bawa ke kamar Tuan ya. Sebentar saya ambilkan," ujar Lastri menghiraukan ucapan Aditya yang mengatakan dirinya tidak lapar padahal Aditya hanya malas untuk keluar kamar. Entahlah ia tidak bertenaga sama sekali untuk melakukan apapun akibat hatinya yang gelisah sejak tadi membuat moodnya begitu buruk hari ini.
Lastri kembali ke dapur untuk mengambil makan malam untuk Aditya. Bagaimanapun ia cemas melihat Aditya seperti ini, ia semakin heran dengan sikap Aditya karena tak biasanya Aditya akan diam di kasur tak melakukan apapun. Biasanya Aditya akan menghabiskan waktu di kantor.
Dengan senang hati Lastri mengambil makanan untuk Aditya, dirasa cukup barulah Lastri kembali ke kamar Aditya dengan nampan yang berisi makanan untuk Aditya.
"Tuan bangun dulu. Makan malam dulu ya!" bujuk Lastri dengan lembut.
"Ck... Saya bilang saya tidak lapar kamu dengar tidak sih?" ujar Aditya dengan kesal dan akhirnya bangun dari tidurnya menatap Lastri dengan sangat tajam.
Bukannya takut Lastri malah tersenyum hangat. "Saya dengar Tuan. Tapi perut anda perlu diisi juga walaupun anda mengatakan tidak lapar. Ayo makan atau saya suapi?" tawar Lastri dengan terkekeh pelan yang membuat Aditya semakin kesal.
"Bawa makanan itu kembali atau saya akan membuat kamu menyesal setelah ini!" ancam Aditya dengan dingin.
"Saya tidak akan keluar dari kamar Tuan sebelum Tuan makan. Sedikit saja Tuan!" bujuk Lastri dengan lembut seperti seorang ibu yang sedang membujuk anaknya yang susah makan.
Aditya menatap Lastri, melihat senyuman Lastri entah mengapa kekesalannya dan kegundahan hatinya sejak tadi perlahan menghilang digantikan rasa lapar karena makanan yang Lastri bawa benar-benar menggoda perutnya sekarang.
Ditatap seperti itu membuat Lastri gugup bukan main tetapi ia harus mengontrol dirinya agar Aditya tidak melihat kegugupan yang ia rasakan saat ini.
Lastri menyendokkan nasi dan lauk ke dalam sendok dan menyodorkannya kearah Aditya. "Ayo makan Tuan!"
Suara lembut Lastri menghipnotis Aditya. Ia semakin teringat dengan teman kecilnya yang lembut seperti Lastri tetapi ia kehilangan teman kecilnya saat papanya pundah tugas dan sampai saat ini Aditya tidak tahu temannya itu berada di mana. Padahal hanya temannya itulah yang membuat Aditya tidak merasakan kesepian.
Akhirnya Aditya membuka mulutnya tanpa sadar yang membuat Lastri tersenyum karena akhirnya Aditya mau makan dan disuapi oleh dirinya tanpa ada amukan dari pria itu. Lastri sama sekali tak bersuara hingga tanpa sadar nasi yang berada di piring sudah habis.
"Minum dulu, Tuan!" ujar Lastri yang membuat Aditya menatap kearah piring dan betapa terkejutnya Aditya saat nasi yang berada di piring sudah habis bersih.
"Sudah habis. Mau tambah?" tanya Lastri dengan terkekeh.
"Enggak!" ujar Aditya dengan datar.
Lastri terkekeh melihat wajah Aditya yang tampak terkejut.
"Tidak usah tertawa!" ujar Aditya dengan ketus yang membuat Lastri terdiam seketika.
"Tuan, besok saya sudah bisa bekerja, kan?" tanya Lastri memastikan karena sebenarnya ia juga bosan berada di apartemen ini.
"Iya!" jawab Aditya dengan singkat yang membuat Lastri memeluk Aditya dengan refleks karena sangking bahagianya.
"Makasih, Tuan!" ujar Lastri dengan bahagia.
Tiba-tiba Lastri tersadar dengan apa yang ia lakukan. "M-maaf, Tuan!" ucap Lastri dengan terbata dan tak enak hati karena ia langsung memeluk Aditya sangking senangnya.
"Sekali lagi kamu melakukan itu. Saya tidak segan-segan mematahkan tangan kamu!" ujar Aditya dengan tajam.
"I-iya, Tuan!" sahut Lastri dengan gugup. "S-saya permisi, Tuan!" pamit Lastri dengan gugup yang belum juga hilang.
Dengan cepat Lastri melangkah keluar dari kamar Aditya. Ia tidak tahu mengapa dirinya bisa memeluk Aditya, ia sangat bahagia karena akhirnya ia tidak hanya mendekam di apartemen Aditya. Ia sudah bisa bekerja untuk memenuhi kehidupannya walaupun setelah bertemu dengan Aditya, Lastri tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Tetapi semakin kesini Lastri merasa segan jika biaya kehidupannya Aditya yang menanggungnya, sebisa mungkin ia harus mengumpulkan uang untuk kebutuhan dirinya sendiri.
Lastri masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di pinggir kasur lalu ia mengambil foto dirinya dengan kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu. Kalian sudah bahagia kan disana? Lastri kangen ayah dan ibu. Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi pasti kita masih berkumpul, kan? Lastri masih bisa merasakan kasih sayang kalian berdua. Tapi sekarang kalian benar-benar pergi dan Lastri harus menghadapi dunia yang keras ini sendirian. Ayah, ibu do'akan Lastri bisa meluluhkan hati mas Aditya ya. Karena sekarang Lastri cuma punya mas Aditya," gumam Lastri menatap foto kedua orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lastri rindu, ayah, ibu!" gumam Lastri sekali lagi meletakkan foto kedua orang tuanya didadanya karena dengan seperti itu ia merasa dipeluk kedua orang tuanya.
lanjut lg dunk up nya