"Jika uang bisa membeli segalanya maka aku akan membeli cinta. Agar aku bisa merasakan apa namanya cinta." Rayasi Stevaya.
Rich women yang selalu saja gagal dan hal percintaan.
Raya bahkan sudah gagal menjalani percintaan dengan beberapa pria, hingga membuat dirinya trauma menjalani sebuah hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RW 9
Perlahan mata Raya terbuka. Ia langsung membulatkan matanya karena meyadari jika saat ini dirinya sedang nyaman memeluk tubuh Derald yang juga tertidur di sampingnya. Perlahan, Raya melepaskan pelukannya lalu turun dari tempat tidur.
Huuffff.. Raya menghembuskan napas sambil mengibas wajahnya dengan tangan. "Ada apa ini? Kenapa malam ini terasa panas." Gumamnya.
Raya lalu membuka jendela, dan duduk tepat di depan jendela menghirup udara malam yang terasa sejuk, sekaligus meredahkan detakan jantungnya yang entah kenapa selalu saja berdetak tidak karuan saat berada di dekat dengan Derald.
"Tidak mungkin! Mana mungkin seorang Raya jatuh cinta pada pria mis*kin." Gumamnya, lalu Raya kembali menghembuskan nafas secara kasar.
Sulit untuk di pungkiri, Raya adalah wanita dewasa yang sudah pasti tahu rasanya jatuh cinta itu seperti apa. Dan Raya pun tahu, jika yang ia rasakan ini sebenarnya apa. Namun, Raya masih menepis semua rasa itu. Masih meragukan walau sebenarnya ia paham dengan semua rasa yang perlahan mulai tumbuh.
Raya meniup poninya sehingga membuat Rambutnya sedikit bergerak.
"Kenapa belum tidur? Panas?" Tanya Derald yang membuat Raya langsunh berdiri dan membuat kepalanya terhantam daun jendela.
"Auh." Ringis Raya.
Namun dengan cepat Derald menghampiri dan mengusap kepala Raya dengan lembut agar rasa sakit sedikit menghilang. Hingga tatapan keduanya bertemu. Lagi, jantung itu berdetak setiap mereka saling bertatapan.
GUBRAK.....
Tubuh Derald jatuh, saat Raya mendorong dengan sangat keras. "Sudah aku bilang, jangan menyentuhku!" Kata Raya dengan menatap tajam.
Derald mengusap bo*kongnya yang terasa perih akibat terjatuh. Sehingga membuat Raya sedikit kegalapan.
"Apa sakit? Apa aku mendorongmu terlalu kuat?" Kini Raya duduk berjongkok di hadapan Derald.
"Mana yang sakit?" Spontan Raya memegang tangan tangan Derald.
"Ini." Jawab Derald sambil memegang da*danya.
"Mana? Mana?" Dengan paniknya dan polosnya Raya semakin mendekat lalu mengusap da*da Derald sehingga membuat Derald tersenyum bahagia. Namun beberapa saat Raya tersadar saat melihat Derald tersenyum. Sehingga membuat Raya memukul da*da Derald. "Bre*ngsek!" Ungkapnya dengan kesal. Raya memutuskan berdiri dan berjalan namun dengan cepat Derald menarik lengan Raya sehingga membuat Raya kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas tubuh Derald. Keduanya kembali saling pandang, bahkan kini Derald memeluk tubuh Raya.
"Sial, kenapa harus berdetak sih? Semoga saja dia tidak mendengar." Batin Raya dan berusaha untuk berdiri. Namun, Derald memeluknya.
"Lima menit. Biarkan seperti ini." Kata Derald sambil terus menatap wajah Raya. Raya yang di tatap justru salah tingkah dan memalingkan wajah ke samping. "Cantik" ungkap Derald. "Terima kasih sudah mau di sini bersamaku."
Derald lalu melepaskan pelukannya dan membantu Raya agar berdiri. Dengan tatapan yang sangat tajam Raya melihat Derald.
"Kau sudah berani menyentuhku, dan aku tidak terima itu. Jadi, kau berutang padaku."
"Maaf."
"Buatkan aku mie seperti kemarin. Maka aku menerima maafmu." Ucapnya dan berjalan menuju dapur lalu duduk di kursi dengan kedua tangan yang di lipat di depan da*da. Raya terus mencuri padang pada Derald yang saat ini sedang sibuk menyiapkan makanan yang Raya inginkan.
"Ini hanya perasaan kagum. Hanya itu!" Raya memastikan pada dirinya bahwa itu bukan perasaan cinta, walau dia sendiri sudah tahu perasaan itu. Semua ia tepis, karena baginya laki-laki sama saja. Mereka hanya mau menikmati harta yang Raya miliki. Mata Raya berbinar-binar menatap Derald yang kini berjalan menghampirinya dengan semangkuk mie di tangannya.
"Wah.." Ucap Raya, lalu menyantap makanan yang sudah di letakkan Derald di atas meja.
Derald langsung sigap memberikan Raya air minum dan juga mengusap sudut bibir Raya. Saat Raya mengeluarkan mie yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Pelan-pelan. Masih panas." Kata Derald
padahal ku masih ingin trz ikutin raya n derald
terimakasih Thor🙏
semoga bersatu lagi..kalo saling cinta ya pertahankan dan lupakan masa lalu
semangatt up nya💪🥰🥰