NovelToon NovelToon
TEMAN TAPI MENIKAH

TEMAN TAPI MENIKAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:234.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhessy

Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.

Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.

Tidakk!!

Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?

Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!

Katakan padaku ini tidak nyata!

- Carissa Amalina -


Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.

Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.

Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?

- Raka Putra Wibawa -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TTM 9

Meski Raka dan Rissa menikah tidak berdasar pada rasa cinta, nyatanya momen ijab qobul adalah momen yang sangat mendebarkan bagi keduanya. Mereka sadar bahwa itu adalah momen yang sangat sakral, bahkan, keduanya pun berharap hanya akan mengalami fase ini sekali saja dalam hidup mereka.

Tangan Raka berkeringat menantikan momen dimana ia akan menjabat tangan Rahardi untuk mengambil alih tanggungjawab Rahardi atas putri pertamanya untuk dirinya seorang yang akan dilaksanakan lima menit lagi.

Mereka hanya tinggal menunggu beberapa petugas menata meja dan kursi selesai untuk memulai ijab qobul. Para tamu undangan khusus juga telah hadir untuk menyaksikan dua anak manusia itu akan bersatu dalam ikatan yang sah. Satu saksi dari mempelai pria dan satu saksi dari mempelai wanita juga sudah siap duduk di samping kanan kiri meja.

"Raka Putra Wibawa, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya yang bernama Carissa Amalina binti Rahardi dengan mas kawin logam mulia seberat sepuluh gram dibayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya Carissa Amalina binti Rahardi dengan mas kawin tersebut tunai."

Sah?

"Sah.."

"Alhamdulillah.."

Ucapan syukur terdengar serempak memenuhi ruang tamu rumah Rissa yang sudah di dekorasi sedemikian rupa. Kedua orangtua Rissa maupun Raka tak dapat menyembunyikan wajah bahagia mereka. Rasa bahagia bercampur haru mengiringi langkah mereka mengantarkan anak-anak mereka ke gerbang pernikahan.

Rissa yang menyaksikan pemandangan mengharukan dari LED TV di dalam kamarnya ikut meneteskan air mata. Rissa tahu bahwa pernikahan mereka bukan karena cinta yang mendasari. Namun melihat kebahagian kedua orangtuanya membuatnya tak bisa untuk tidak meneteskan air mata.

Pada akhirnya, inilah yang orangtuanya harapkan. Mereka akan merasa tenang ketika anak perempuan mereka sudah menikah. Pada dasarnya, kewajiban orangtua pada anak-anaknya adalah mengasuhnya, mendidiknya, dan menikahkan mereka jika sudah tiba waktunya.

Kini, surga Rissa ada pada Raka. Kenyang laparnya sudah menjadi urusan Raka. Layak atau tidak pakaian yang Rissa pakai, ada dibawah tanggungjawab Raka. Seluruh tentang hidup Rissa kini berpindah pada Raka.

Rissa masih ingat beberapa hari yang lalu ketika ia duduk bertiga dengan orangtuanya. Saat itu Kurnia tak henti-hentinya memeluk dan mengelus puncak kepala Rissa.

Meskipun sedih anak gadisnya akan segera menikah, yang artinya Rissa akan meninggalkan rumah untuk mengikuti suaminya, namun Kurnia juga merasa bahagia karena Rissa sudah menemukan imamnya. Kurnia berharap Raka mampu membawa Rissa ke jalan yang lebih baik.

"Mama sama Papa itu aslinya sedih, Mbak Rissa mau nikah." Kurnia memang terbiasa memanggil Rissa dengan sebutan "Mbak" kalau moodnya sedang bagus.

Saat ibunya berkata seperti itu, dengan kurang ajarnya Rissa berpikiran untuk membatalkan acara pernikahannya dengan Raka. Namun sebelum pikiran itu sepenuhnya mampir ke dalam otaknya, Rahardi sudah menyambung ucapan istrinya.

"Tapi kami juga senang, akhirnya anak gadis Papa sama Mama yang udah dua puluh tujuh tahun ini akan cepat-cepat ngasih kami cucu," ucap Rahardi di iringi tawa Kurnia.

"Papa, ih, ngomongnya udah soal cucu." Rissa tak suka.

"Siapa tahu sekali jebol langsung hamil. Ya, kan, Pa?'

"Emangnya Rissa kucing!" Baik Kurnia maupun Rahardi tak dapat menahan tawanya.

Mereka tertawa dibalik kesedihan mereka. Mereka tahu bahwa mereka tak akan kehilangan Rissa. Namun setelah Rissa menikah, maka mereka tak ada hak lagi atas diri Rissa.

"Keluar, Mbak."

Nurina yang duduk mendampinginya didalam kamar membuyarkan lamunan Rissa. Ada Gendis juga yang sejak datang tak henti-hentinya menggoda Rissa.

Raka sempat tak berkedip melihat Rissa yang kini berstatus istrinya sedang berjalan menuruni anak tangga diapit oleh Nurina dan Gendis. Tubuh rampingnya di balut kain jarik bermotif Sidomukti dan kebaya berwarna putih sepanjang lututnya. Jilbabnya yang berwarna senada menjuntai menutupi bagian dada. Kepalanya di hias mahkota dan juga ronce bunga melati.

Make up-nya tidak terlalu menor alias terlihat natural. Meskipun begitu, entah Rissa yang memang sudah cantik dari sananya atau tangan MUA yang begitu lihainya membuat Rissa terlihat manglingi.

Raka mengakui. Bahwa Rissa cantik.

***

Sore hari setelah acara resepsi yang diadakan disalah satu hotel di solo telah selesai, keluarga Raka dan Rissa kembali ke rumah masing-masing. Tentu saja kecuali pasangan pengantin tersebut. Orangtua Rissa telah memesankan satu kamar hotel untuk keduanya melakukan malam pertama.

Rissa sempat mencibir dalam hati. "Malam pertama kita ya tidur. Enggak ada acara lain."

Rissa segera membersihkan diri dikamar mandi. Sedangkan Raka berpamitan untuk berjamaah sholat maghrib di musholla hotel.

Jujur, jantung Rissa berdebar mengingat ini adalah pertama kalinya ia didalam kamar bersama seorang laki-laki selain papanya. Rissa berpikir haruskah mereka nanti tidur diatas ranjang yang sama?

Rissa belum ingin memikirkan hal itu terlebih dahulu. Yang terpenting adalah dirinya segera menyelesaikan ritual mandinya dan segera melaksanakan sholat maghrib.

"Mau makan apa?" Tanya Raka setelah Raka pulang dari musholla.

"Kayak nggak lapar aku, Ka," jawab Rissa yang sedang menyisir rambutnya didepan cermin.

Rissa tak merasa canggung membuka jilbabnya di depan Raka. Lagipula sebelum Rissa memutuskan untuk berjilbab beberapa minggu yang lalu Raka sudah melihatnya tanpa jilbab.

"Walaupun begitu tetap harus makan," tukas Raka.

"Tumben situ perhatian."

"Bukan perhatian. Aku cuma nggak mau dibilang nggak bisa ngurus istri."

Ingin rasanya Rissa melempar Raka dengan botol Lotion yang berada diatas meja rias. Namun terlambat. Sebelum Rissa berhasil melemparnya, Raka sudah berlari memasuki kamar mandi.

***

"Kayaknya aku mau diantara kita ada perjanjian."

Raka yang berbaring di atas sofa dan sedang melihat tayangan televisi pun menoleh ke arah Rissa yang duduk bersandar di atas ranjang.

Dengan segala perdebatan yang tentu saja dimenangkan oleh Rissa, Raka setuju kalau dirinya yang harus tidur diatas sofa karena Rissa tak ingin berada diatas ranjang yang sama dengan Raka.

"Perjanjian apa?" Tanya Raka datar.

"Aku udah tulis, nih." Rissa memberikan ponselnya yang menampakan tulisan panjang pada aplikasi note.

Raka menerimanya dengan tampang bingung. Matanya terbelalak ketika membaca isi perjanjian yang telah Rissa tulis.

1. No skinship

2. Pisah kamar

3. Dilarang ikut campur urusan masing-masing.

4. Rissa tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah tapi Raka wajib memberi nafkah lahir alias duit.

"Perjanjian apaan ini?" Raka melempar asal ponsel Rissa hingga jatuh ke lantai. Untung ponsel milik Rissa terbilang ponsel mahal dan cukup tahan banting.

"Ponsel aku, Raka. Pecah ganti, ya!"

"Jangan main-main sama pernikahan, Rissa. Dosa!" Raka memperingatkan dengan nada kesal.

Rissa mendesah pelan. "Aku nggak main-main, Ka. Aku cuma butuh waktu untuk bisa menerima ini sepenuhnya. Kita mulai pelan-pelan. Anggap aja kita sedang dalam masa perkenalan. Akan ada masa dimana kita jadi lebih dekat. Tapi please.. beri aku waktu."

Raka menggeleng tak percaya. Rissa memang benar-benar belum bisa menerima dirinya dan juga pernikahan mereka meskipun didepan keluarga Rissa bisa bermain apik untuk menutupi apa yang ia rasakan.

"Terserah kamu aja."

Tak ada yang dapat Raka lakukan kecuali menuruti keinginan Rissa. Ia sudah merasa cukup lelah hari ini. Rangkaian acara akad dan juga resepsi sudah membuatnya lelah. Ditambah lagi dengan perjanjian tidak jelas yang Rissa buat.

Raka tak ingin lagi mendebat Rissa. Ia lebih memilih memejamkan mata tak peduli lagi dengan apa yang Rissa lakukan malam ini.

1
Raudatul zahra
Yaa Allah nangis pas part ini🥺😢
Raudatul zahra
fyuuuuhhh... untung cuma mimpi nya Rissa.. 2 bab ikutan nangis.. bab ini baca nya sambil tersenyum manis donggg☺️☺️
Raudatul zahra
author kok🥺🥺 jahaaaattt 😭😭😭😭
Raudatul zahra
kesel pake banget thooorrrr
Raudatul zahra
Rissa yg terluka, aku yg nangis 😭😭
Raudatul zahra
aku kecewa sama kamu Raka !!!!!!!😭😭
Raudatul zahra
Raka, aku padamu😍😍😍
Raudatul zahra
🥺🥺🤗🤗
Raudatul zahra
😍😍😍
Raudatul zahra
kanebo kering 😭😭🤣🤣
Sri Wahyuni
p0lmopnmmmmlkklkj
Sri Wahyuni
bagus bgt novel ini, kok aq baru nemu ya
KHORI PRASTYA
halo salam kenal
Hykmah Hykmah
kak bagus ceritanya, part nya tambahin sampai 200 kk, ditunggu
aisya_
lakiknya gak tegas bgt sama mantannya, gak tampar ke apa ke, susah kali ya kalo masih cinta
Mel Melda
Aku yg melelehh🤗🤗🤗🤗
Mariana Frutty
✅✔️
Effi Hartati
ini adalah definisi sat set sat set yg gue suka 😭😭
Yatimela Afirah
bagus
TongTji Tea
wait apa aku yang galfok ya thor?
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.
TongTji Tea: semangat Thor ..its Ok .sekarang kan pasti lebih jago💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!