Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.
Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.
Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.
Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?
Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.
"Dia milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Fabrizio Lutero
Aku di ruanganku ketika ponselku berdering.
"Selamat sore, Fabrizio, apa kabar, Bro?"
"Baik, Pepi. Ada kabar soal pembukaan klub?"
"Ada, semuanya beres untuk pembukaan tanggal 19."
"Kabar bagus, Bro. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."
"Selalu, Bro. Sampai nanti."
"Ya."
Aku puas dengan telepon dari Pepi. Kulihat jam, pukul 15.30. Aku keluar dari ruanganku dan pergi ke Caffe, yang jaraknya dua blok dari perusahaanku. Espresso di sana enak sekali, aku mampir setiap hari.
Sampai di kafe, aku duduk di meja yang menghadap jendela besar. Aku suka meja itu, dari sana seluruh jalan terlihat. Aku sedang membalas beberapa e-mail di ponsel ketika terdengar suara lembut.
"Selamat sore, Tuan, mau pesan apa?"
Kuangkat kepala untuk melihat siapa pemilik suara semanis itu. Matahari yang terpantul dari jendela menerangi wajah cantiknya, dia tampak seperti malaikat. Ekspresinya lembut, matanya biru indah, rambut pirangnya disanggul.
"Espresso, tolong."
"Ada lagi?"
Kalau aku minta, kamu mau memberikannya?!
"Itu saja."
"Baik, Tuan, kopinya segera saya antar."
Dia pergi, dan aku mengagumi punggungnya. Bokongnya bulat dan menantang, kakinya padat. Aku membayangkan dia di ranjangku dan semua yang bisa kulakukan pada tubuh mungil itu. Dia mengantar kopiku lalu langsung pergi tanpa menoleh sedikit pun padaku. Harus kuakui, sikapnya mengusikku, aku terbiasa melihat perempuan menawarkan diri padaku. Sikapnya justru memperkuat hasratku padanya.
Dia akan jadi milikku!
Pepi meneleponku, pengiriman senjataku dicuri. Dia sudah menahan para pelakunya di ruang khusus kecil di belakang rumahku, dan pengirimanku berhasil direbut kembali. Aku keluar dengan mata berapi-api, pertama karena mereka mengganggu saat aku ingin menikmati pemandangan perempuan cantik itu lebih lama, kedua karena berani-beraninya mereka mencuri dariku. Malam ini kepala akan menggelinding.
Sampai di rumah aku langsung menuju bagian belakang. Kubuka pintu dan kulihat tiga pria tergantung pada lengan mereka dalam keadaan pingsan. Pepi duduk di kursi sambil mengisap cerutunya. Ketika dia menatap mataku, dia sadar aku sedang kerasukan dan malam ini akan menyenangkan. Pepi penyiksa terbaik kedua yang kukenal, karena yang pertama adalah aku. Saat menyiksa seseorang, kami berubah, sisi gelap kami mengambil alih dan kami tidak punya belas kasihan. Kulirik salah satu anak buahku yang mengambil seember air dari sumur dan menyiramkannya pada para tikus itu. Mereka terbangun ketakutan, anak buah lain mengambil taser dan menyetrum mereka hingga pingsan lagi. Seember air sumur disiramkan lagi, dan mereka terbangun lagi.
"Aku penasaran, bagaimana tiga cecunguk tak bernama seperti kalian berani mencoba mencuri dariku?"
Para pria itu diam.
"Kulihat kalian butuh dorongan untuk bicara."
Aku berjalan ke meja, mengambil pisau berburu, dan membuat sayatan dalam di sisi tubuh pria pertama, yang menjerit kesakitan. Kuperhatikan pria ketiga terguncang. Aku sudah tahu dialah yang akan buka mulut. Kupakai sarung tangan dan kudatangi ember penuh belatung, kuambil segenggam dan kuhampiri pria pertama, yang begitu melihat belatung itu langsung berteriak,
"Jangan dekati aku."
Kutaruh belatung-belatung itu di atas luka di dadanya. Pria kedua nyaris bicara, tapi segera menahan diri. Lalu kuambil lanset logam (alat yang dipakai untuk mencungkil mata), kutaruh di api, dan ketika sudah sangat panas, kucungkil mata kiri pria pertama. Dia meraung kesakitan lalu pingsan. Kusiramkan seember air cuka dan garam, dan pria itu terbangun sambil menjerit. Kuputuskan mencabut lidahnya, karena jeritannya mulai membuatku jengkel.
"Sudah ada yang mau buka mulut? Jangan tegang, Kawan-kawan, kita punya semalaman untuk bermain, atau lebih tepatnya beberapa hari untuk bermain." Aku tersenyum menyeramkan. Kulihat pria ketiga hampir menyerah. Kuambil lanset logam, kutaruh di api, dan ketika sudah sangat panas, aku menghampiri pria ketiga.
"Hentikan, kumohon, aku punya istri dan anak!"
"Bagus kalau begitu, akan kusuruh jemput mereka supaya bergabung dengan kita."
Pria itu langsung panik.
"Baik, aku ceritakan semua yang kutahu, tapi janji kamu akan cepat dan tidak melibatkan keluargaku!"
"Pengkhianat, tutup mulutmu!"
Kuambil golok dan kupenggal kepala pria kedua. Pria ketiga sudah siap bicara, jadi dia tidak diperlukan lagi.
"Kamu tidak dalam posisi menuntut apa pun, tapi aku berjanji."
Aku mungkin bajingan kejam tanpa hati, tapi aku tidak akan pernah tega menyakiti perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah.
"Seorang pria bertanya apakah kami mau dapat uang banyak. Katanya ada kiriman senjata datang lewat kapal dan sudah ada pembelinya, tapi dia butuh tiga orang lagi untuk melengkapi timnya."
Hanya aku yang berdagang senjata di kota ini, dan semua orang tahu itu. Ini pasti serangan pribadi.
"Siapa nama pembelinya?"
"Aku tidak tahu!"
"Siapa nama pria yang merekrut kalian?"
"Aku tidak tahu!"
"Kalau begitu kamu tidak berguna, kamu tidak tahu apa-apa." Kutaruh lanset itu ke api lagi.
"Tidak, kumohon!"
Pria ketiga tampak memutar otak mencari detail yang bisa menyelamatkannya dari kesulitan ini.
"Orang yang menyewa kami punya tato di tangan, tengkorak seekor burung."
Kutatap Pepi, yang mengangguk lalu keluar.
Nah, ini sudah permulaan.
Kutembak kepala si malang itu, lalu kutembak pria pertama juga.
"Bersihkan kekacauan ini."
Aku keluar dan masuk ke rumah utama. Solange, kepala rumah tanggaku, menghampiriku.
"Selamat malam, Tuan, Anda mau makan malam?"
Pakaian berlumur darah sudah tidak membuat Solange kaget lagi.
"Tidak, Solange, aku mau mandi lalu tidur. Kalau lapar nanti aku buat camilan sendiri."
Solange sudah bersama keluarga kami sejak aku bisa mengingat. Dia kepala rumah tangga di rumah orangtuaku, dan ketika aku mengambil alih mafia, dia ikut bekerja untukku. Ayahku menganggap lebih baik aku punya orang kepercayaan untuk memasak dan mengurus barang-barangku. Meski sudah berumur, Solange tidak lugu dan tidak lemah, dia tahu cara membela diri dan bidikannya juga bagus. Ketika aku berumur 7 tahun, rumah kami diserbu mafia saingan. Ayahku selalu punya jalur pelarian, dia selalu menjaga nyawa para pekerjanya. Dia menitipkanku pada Solange, sementara dia bersama ibuku, yang juga selalu menjadi pejuang dan mendampinginya dalam suka duka, pergi menghabisi musuh. Solange sendiri menghabisi siapa pun yang dijumpainya di jalan sampai kami aman di tempat persembunyian. Dia melindungiku seperti melindungi anak sendiri, maka aku sangat menyayangi dan menghormati wanita itu.
"Tuanku, Anda harus makan yang benar."
"Jangan khawatir, Solange, aku baik-baik saja."
Kukecup keningnya dan naik untuk mandi.