"Apa ini? ternyata selama ini kamu selingkuh di belakangku? setelah apa yang aku berikan padamu?"
Fee melempar foto-foto mesra Ronald bersama dengan Dinda, sekretaris pribadinya.
"Aku minta maaf, aku khilaf. Tapi aku tidak bisa melepasnya begitu saja, karena dia sedang hamil anakku?"
Fee tersenyum sinis," apa kamu yakin jika ia hamil anakmu?"
PLAk!
Satu tamparan mendarat di pipi Fee.
"Baiklah, kalau begitu!"
Apakah yang akan di lakukan oleh, Fee pada Ronald dan Dinda?"
Mari kita simak kisah Fee, yang tegar menghadapi permasalahan hidupnya karena di hianati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkuaknya Rahasia Hati Boby
Fee terus saja membuka album tersebut," Ya Allah, apa maksud dari semua ini? bagaimana Boby bisa menyimpan semua foto-fotoku dari aku lajang hingga aku sudah menikah dan sedang hamil. Semua fotoku ada di album ini."
Fee duduk di meja belajar yang ada di kamar tersebut. Dan tiba-tiba ia penasaran dengan sebuah buku diary yang tergeletak di meja tersebut.
Perlahan ia membuka buku harian tersebut, helai demi helai dia baca isi buku diary tersebut.
"Astaghfirullah aladzim, jadi selama ini diam-diam Boby suka padaku? bahkan sebelum aku kenal dengan, Mas Ronald."
"Aku sama sekali tidak menyangka, jika Boby memendam rasa cintanya padaku begitu lamanya."
"Bahkan dia juga yang telah mengirimkan foto-foto perselingkuhan Mas Ronald dan Dinda. Pantas saja pada saat aku menyuruhnya untuk menyelidiki sesosok orang misterius itu, dia begitu terlihat panik dan kebingungan."
"Bobby juga yang telah membuat Mas Ronald tidak bisa bekerja di perusahaan manapun juga. Ya ampun ternyata selama ini....ahhh... aku tidak bisa membayangkannya."
Fee masih saja belum percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini dari album foto dan juga buku diary milik Boby.
Pemuda yang tampan dan tinggi atletis serta pendiam dan ahli bela diri tersebut ternyata menyimpan rasa cintanya pada Fee bertahun-tahun lamanya.
Fee meletakan kembali buku diary dan album foto di tempatnya semula, supaya tidak dicurigai oleh, Boby.
Ia pun merebahkan tubuhnya di pembaringan seraya mencoba untuk memejamkan matanya walaupun teramat susah.
Sementara di sofa, Boby sedang senyum-senyum sendiri sembari merebahkan tubuhnya menatap langit-langit ruangan tersebut.
Ia teringat pada saat memeluk Fee dengan erat dan membelai rambutnya.
"Baru pertama kalinya aku memeluk, Non Fee. Tetapi debaran jantung ini semakin kuat saja dan aku merasakan sangat bahagia. Apalagi jika keinginanku untuk menjadi pendamping hidupnya bisa terlaksana, aku akan lebih bertambah bahagia."
"Tetapi aku rasa itu tidaklah mungkin terjadi, karena selama ini, Non Fee. Aku lihat tidak ada rasa suka sedikitpun padaku."
"Mungkin selamanya, aku akan memendam rasa cinta ini untuknya. Mungkin selamanya cintaku akan selalu bertepuk sebelah tangan."
"Aku tulus mencintai dirinya, ya Allah. Aku tidak akan berharap apapun, walaupun sebenarnya di dalam hatiku tidak memungkiri ingin sekali membina rumah tangga bersama dirinya."
"Tetapi aku masih bisa bersyukur karena Engkau mengizinkanku untuk selalu ada di sisinya menjaga dirinya dan calon anaknya."
"Aku tidak akan menuntut banyak dariMu ya Allah. Hanya satu, supaya orang yang aku cintai bahagia dunia akhirat. Dan di jauhkan dari mara bahaya. Aku tidak ingin melihatnya menangis lagi, karena tangisnya membuatku juga sakit."
Terus saja Boby bergumam di dalam hatinya, hingga tak terasa perlahan tapi pasti matanya terkejam dan ia pun terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Hingga tak terasa esok pagi pun tiba. Boby bangun pagi-pagi sekali. Ia sudah memasak untuk Fee dan seluruh orang yang ada di dalam rumahnya.
Security, sopir dan beberapa asisten rumah tangga, serta Fee tercengang pada saat melihat Boby menyajikan makanan di meja.
"Kenapa malah kalian menatapku seperti itu? begitu juga dengan anda, Non Fee?"
Boby melihat ke arah Fee dan seluruh orang yang ada di ruang makan tersebut.
"Apa kalian semua ragu dengan hasil masakanku ini? pasti kalian mengira masakanku ini tidak lezat, iya kan?"
Boby meraih piring dan menyendokkan makanan untuk Fee," Non Fee, cobalah masakanku ini."
Sejenak Fee diam, dia masih saja tak percaya jika Boby yang dia kenal tegas kok bisa memasak," serius ini semua kamu yang masak? bukannya para bibi?"
"Bukan, Non. Kami malah baru bangun dan diminta sama Mas Bobby untuk ke ruang makan ini. Kami juga terkejut pada saat melihat di meja makan sudah tersaji begitu banyak menu masakan."
"Sejak kapan kamu bisa memasak, Mas Boby?" tanya security.
"Ya Mas Bobby. Karena selama ini kami tidak pernah melihat, Mas Boby memasak," ucap sang sopir.
Bobby pun tersenyum memperlihatkan giginya yang gingsul," aku sudah bisa memasak sejak dulu, pada saat aku masih hidup di panti asuhan. Di rumah ini, aku juga selalu memasak sendiri untuk di bagikan ke panti asuhan di mana dulu aku dibesarkan."
Kembali lagi semua yang ada di meja makan terperangah. Mereka sama sekali tidak percaya dengan pemandangan di depan mereka.
"Kapan kamu memasak, karena selama tinggal di tempatku bukannya waktumu itu tersita begitu banyak?" tanya Fee.
"Pada saat dini hari aku pulang untuk memasak, non Fee. Kadang kala aku dibantu oleh beberapa anak yang ada di panti asuhan, hingga tidak begitu memakan proses lama saat memasak," ucap Boby.
Kebetulan memang rumah Boby tidak jauh dari panti asuhan yang ternyata tempat dimana dulu dirinya di besarkan.
"Kenapa kalian diam saja? ayolah dimakan, aku jamin kalian pasti suka dengan masakanku."
Mereka pun sekarang makan bersama-sama dan semuanya memuji kelezatan masakan dari Boby termasuk, Fee.
"Boby, lain waktu aku ingin diajari memasak olehmu ya, mau kan?"
Sontak saja Boby sumringah mendengar permintaan dari Fee," dengan senang hati, Non Fee.
Boby sangat senang karena semua menyukai masakannya.
Sementara di dalam hati Fee, masih belum percaya juga. Hingga ia ingin menguji sendiri bagaimana Boby memasak. Dengan dia berpura-pura ingin meminta di ajari memasak.