Alexander Werison, seorang pria dingin dan kejam yang tidak pernah percaya pada cinta!
Namun suatu hari dia harus di hadapkan dengan pilihan sulit antara mempertahan kan keperjakaan nya atau menikah dan menuruti keinginan kedua orang tua nya yang menginginkan seorang cucu.
Alana Alexis, gadis yang akan di jodohkan dengan nya. Dia juga bekerja di sebuah club malam terkenal di kota.
Akankah Alana bisa menerima Alex sebagai suami nya dan bertahan dengan sikap pria itu?
Ataukah akan tumbuh benih cinta di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
''Kumohon menjauh lah Alex.''
''Tidak mau!'' jawab Alex mencekal semakin kuat pergelangan tangan Alana, membuat wanita nya meringis menahan sakit. Air mata Alana mulai menetes membasahi pipi nya.
''Kau cengeng sekali.'' Alex menyingkir dan sedikit menjauhi Alana yang mendorong dada nya dan berlalu dari sana. Alex berdecak kesal, entah kenapa hati nya seakan ingin tau tentang siapa pria yang sedang dekat dengan istri nya.
''Berikan aku informasi tentang Orion,'' perintah Alex pada seseorang yang berada di seberang sana. Yang tak lain adalah Maxim, keponakan nya.
"Orion? Apa maksud mu Orion Aldrick?" jawab Maxim. Ucapan nya membuat Alex menautkan kedua alis nya dan mencoba mengingat nama yang di sebutkan pria itu.
"Dia adalah putra Boy Aldrick. Dan ku dengar dia pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita dan wanita itu adalah--."
Belum selsai Maxim melanjutkan kalimat nya, Alex sudah memutuskan panggilan dan kemudian berjalan dan berdiri di balkon melihat istri nya yang sedang duduk di taman belakang.
Mata nya tidak berhenti mengawasi tubuh mungil berkulit putih itu. ''Kenapa aku jadi kepo tentang kehidupan nya. Menyebalkan!'' Meski terus menggerutu tapi manik mata Alex masih setia mengamati Alana.
''Ada apa lagi, bukankah sudah kukatakan untuk tidak menghubungiku,'' ketus Alana yang kesal karena Orion tiba-tiba menghubungi nya, padahal tidak ada yang tau nomor baru nya.
Setelah menikah Alana mengganti nomor ponsel dan berniat untuk mengubur jauh-jauh tentang semua yang berhubungan dengan masa lalu nya tanpa ingin mengingat nya kembali, termasuk hubungan nya dengan Orion.
"Besok malam datanglah ke pesta pernikahan Jessi. Aku menunggumu disana atau aku akan memberitahu suami mu hubungan kita yang sebenarnya" ancam Orion sesaat sebelum memutuskan sambungan nya.
Jessi? Oh sial bagaimana bisa Alana lupa kalau sahabat nya itu akan segera menikah. Padahal satu bulan yang lalu Jessi sudah memberinya kabar kalau dia akan melepas masa lajang nya. Alana terus bergelut dengan pikiran nya. Antara menerima tawaran Orion atau menolak nya.
Seharusnya Alana tidak perlu takut, karena dia dan Orion sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Hanya saja, ancaman Orion ini seperti bukan ancaman biasa. Pria itu seakan terobsesi sekali pada diri nya. Padahal jika mau di luar sana banyak wanita yang lebih segala nya dari nya.
Masalah seakan-akan terus datang menghampiri. Dari ibu yang tidak pernah menganggap nya ada, di jodohkan dengan pria yang tidak pernah ia cintai dan sekarang mantan kekasih nya tiba-tiba datang. Rasa nya Alana ingin sekali menghilang dari dunia ini.
Tanpa sadar malam menjelang, udara dingin menusuk kulit Alana hingga sampai terasa sampai ke tulang. Sama seperti hati nya yang butuh kehangatan dan tempat untuk bersandar. Hingga suara seseorang membuyarkan lamunan nya.
''Nona, apa yang anda lakukan! Ini sudah malam sebaiknya anda kembali ke kamar,'' ucap Sky duduk di samping Alana. Tanpa sengaja, dia melihat mata wanita yang ada di depan nya memerah karena terlalu banyak menangis.
''Kenapa anda menangis nona, jika anda butuh bahu untuk bersandar maka saya bersedia meminjamkan nya,'' Alex menepuk bahu kanan nya dan tersenyum kecil, bermaksud untuk menghibur nona muda nya.
Alana yang sejak tadi menunduk dan berusaha menyembunyikan air mata, kini tak kuasa untuk menahan nya lagi. Tangisan nya pecah, Alana menangis tersedu, menutup mulut nya dan bersandar pada bahu Sky.
Tangan Sky terangkat, ingin sekali mengusap pucuk kepala Alana. Tapi Sky sadar kalau dia bukan siapa-siapa. Lancang jika diri nya berani menyentuh istri tuan nya sendiri. ''Sudahlah, jangan menangis lagi. Saya jadi ikutan sedih kalau Nona seperti ini.''
Bukan nya berhenti, tangisan Alana semakin pecah dan membuat Sky bingung. ''Mampus! Kenapa malah semakin keras." batin nya.
Srooot!
Sky terkejut karena Alana tanpa rasa jijik melakukan itu dan yang paling parah adaah Alana menggunakan kemeja Sky untuk membersihkan ingus nya. "Astaga," pekik Sky. "Ini adalah baju ke sayang saya nona yang diberikan oleh tuan besar.'' ucap nya mencoba mendorong Alana menjauh dari nya.
''Bukankah tadi kau yang bilang sendiri kalau meminjamkan pundak mu Sky. Kenapa sekarang kau berkata lain hah!'' Alana membentak Sky dengan air mata yang masih mengalir lalu pergi berlalu dari sana.
''Nah kan salah lagi, memang jadi asisten pribadi itu selalu serba salah,'' Sky menyenderkan diri nya ke sofa dan memejamkan mata nya sesaat. Sebelum suara yang sangat dia kenali mendekat.
''Bagus sekali! Sejak tadi aku memanggil mu tapi kau malah enak-enakan bersantai ria disini,'' ucap Alex dengan nada menekan, terlihat sekali kalau pria yang ada di hadapan Sky ini sedang marah, dan entah apa penyebab nya.
''T,tuan sejak kapan anda--''
''Sejak kau menggoda istriku dan bermesraan disini,'' Alex menatap Sky dengan tatapan yang seakan ingin menelan pria itu hidup-hidup. Ditambah lagi dia sejak tadi melihat apa yang di lakukan mereka berdua dari tas balkon. Rasa nya emosi di dada nya sekarang tengah meluap.
''Tuan saya tidak merayu Nona, saya hanya bermaksud menghibur nya karena tadi Nona menangis,'' tegas Sky. ''Sebelum itu juga saya mendengar Nona bicara dengan seseorang via telfon.''
"Apa kau mendengar pembicaraan mereka?"
''Ya, Nona sempat bergumam dan menyebut kata pesta. Tapi setelah itu dia menangis lalu--" Sky tidak melanjutkan ucapan nya, karena Alex pasti tau apa yang dilihat nya tadi.
Alex menautkan kedua alis nya, menerka apa maksud ucapan Sky baru saja. Kalau istri nya akan datang ke pesta tanpa memberitahu nya sama sekali. "Awas saja jika kau berani macam-macam di belakang ku, Alana!"
Malam semakin larut dan mata Alana belum terpejam sama sekali. Diri nya kesulitan untuk tidur di kamar baru, apalagi kali ini dia berada satu kamar dengan Alexander. Pria dengan banyak rahasia yang tidak dia ketahui sampai sekarang.
Sedangkan Alexander, masih berada di balkon dan memikirkan semua ucapan Sky. Dia meneguk wine, sesekali mata nya melihat ke arah Alana yang gelisah dan tampak tidak nyaman berada di ranjang empuk itu.
Alex meletakkan gelas nya dan berjalan mendekati Alana. Tanpa di duga pria yang polos dan hanya mengenakan celana itu merebahkan diri di samping istri nya. Meraih tangan kecil nya dan menarik ke dalam pelukan nya.
"Alex apa yang kau lakukan,'' pekik Alana terkejut dengan perlakuan pria nya yang tiba-tiba. Jantung nya berdetak sangat kencang, nafas nya naik turun. Apalagi kini kedua benda kenyal nya itu menempel di dada Alexander.
" Cepatlah tidur! Aku tidak suka melihat mu bergerak ke sana kemari seperti cacing kepanasan!"
"Apa? Cacing kepanasan!" teriak nya saat Alex menyamakan diri nya dengan cacing. Bahkan jika di pikir dia lebih cantik dari hewan tanpa tulang itu.