Bercerita tentang seorang gadis cantik berusia 20 tahun yang bernama Kayla Syakira Narendra. Dia harus menerima perjodohan yang sudah disepakati oleh orang tuanya dengan pria yang bahkan tidak ia ketahui siapa.
Namun siapa sangka cinta datang begitu cepat kepada Kayla. Dan ternyata pria yang telah menjadi suaminya itu merupakan cinta pertamanya.
Bagaimanakah reaksi Kayla setelah mengetahui bahwa pria yang sudah menjadi suaminya adalah cinta pertamanya? Ikuti terus kisahnya ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulian Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nomor tidak dikenal
"Tutup mulutmu itu, Nak," ucap Pak Daniel sambil menepuk bahu Tama.
Spontan Tama langsung menutup mulutnya dan tersenyum kikuk karena ketahuan sedang bengong oleh semua orang.
"Kenapa kamu menunduk terus sayang?" tanya Bu Sukma.
"Ma ... maaf Tante," jawab Kayla sambil menegakkan kepalanya dan melihat satu persatu tamunya.
Pandangan Kayla beralih kepada lelaki yang duduk disamping Bu Sukma. Betapa kagetnya ia saat melihat wajah Tama.
"Kau ..." pekik Kayla sembari menunjuk ke arah Tama.
Tama yang ditunjuk oleh Kayla hanya tersenyum manis.
"Loh kalian sudah saling kenal?" tanya Pak Ruri.
"Baru ketemu beberapa kali kok, Pi," jawab Kayla menatap Tama yang masih setia dengan senyum manisnya.
"Tuhan ... kenapa hatiku selalu berdesir ketika melihatnya tersenyum. Ahh jantungku juga kenapa jadi berdegup kencang seperti ini? Dia tampan sekali saat tersenyum seperti itu," gumam Kayla dalam hati.
"Wahh, bagus kalau kalian sudah saling kenal," ucap Pak Ruri merasa senang.
"Kita mulai saja acara pertunangannya, Ri," usul pak Daniel yang kemudian diangguki oleh Pak Ruri.
"Tama ini cincinnya, Nak." Bu Sukma memberikan cincin pertunangannya kepada Tama. "pasangkan di jari manis Kayla!"
Tama menerimanya, ia kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke arah Kayla.
Jantung Kayla berpacu begitu cepat tatkala berdiri berhadapan dengan Tama.
Tidak berbeda jauh dengan Kayla, Tama pun merasa sangat gugup saat berhadapan dengan Kayla. Namun, ia dapat menutupi rasa gugupnya dengan tersenyum.
Tama meraih tangan Kayla dan memasangkan cincin dijari manis Kayla begitu pun sebaliknya.
"Tanganmu sangat dingin," bisik Tama lirih.
Mendengar bisikan Tama membuat wajah Kayla merona karena malu ketahuan gugup.
"Alhamdulillah, sekarang tinggal mencari tanggal untuk acara pernikahannya," ucap Bu Sukma antusias.
"Bagaimana kalau 5 hari lagi," usul Pak Ruri. "Kebetulan juga bertepatan dengan hari ulang tahun Kayla."
"Papi, apa tidak terlalu cepat? mengurus pernikahan bukankah membutuhkan waktu yang lama?" tanya bu Sonia.
"Tidak usah khawatir jeng, semua bisa diurus oleh WO," sahut Bu Sukma.
"Baiklah kalau begitu," ucap bu Sonia setuju.
"Jadi, sudah pasti ya pernikahan akan dilaksanakan 5 hari lagi," ujar Pak Ruri.
"Kalau aku sih setuju-setuju saja, lebih cepat lebih baik," ucap pak Daniel. "Tapi bagaimana dengan kedua calonnya, apa kalian setuju?" tanyanya kembali kepada Tama dan Kayla.
Tama dan Kayla mengangguk secara bersamaan sebagai jawabannya.
Semua keluarga mengucapkan syukur karena acara berjalan dengan lancar. Kini tinggallah satu langkah lagi menuju pernikahan.
Acara telah Selesai, keluarga Tama juga sudah pamit. Kini tinggallah Kayla yang berada di kamarnya dengan ditemani oleh Vina yang malam ini menginap di rumahnya.
"Ciee, ada yang mau nikah nih sebentar lagi," goda Vina kepada Kayla.
"Apaan sih lo nggak jelas."
"Ehh Kay, tapi calon lo itu sumpah ganteng banget," tutur Vina yang membuat Kayla mendengus kesal. Entah kenapa ia tidak suka ada orang lain yang memuji Tama.
"Kenapa aku merasa tidak suka kalau ada orang lain yang memuji dirinya?" tanya Kayla dalam hati.
"Woyy! Ngelamun aja lo," seru Vina membuyarkan lamunan Kayla. "Lo pasti ngelamunin babang ganteng, kan?"
"Hah, babang ganteng siapa maksud o?" tanya Kayla.
"Iya calon lo itu lah."
"Ohhh ..." jawab Kayla singkat. "Sudahlah lebih baik sekarang kita tidur," ajak Kayla.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Kediaman Keluarga Syahreza
Malam telah berlalu dan berganti dengan pagi yang cerah. Cerahnya mentari hari ini menggambarkan suasana hati Tama yang sedang bahagia.
Ia telah berpakaian rapi bersiap untuk pergi ke kantor. Sebelum dirinya pergi, ia tak lupa untuk sarapan terlebih dahulu.
Ia kemudian menuju meja makan, disana susah ada kedua orang tuanya dan juga Kin.
"Pagi semuanya," sapa Tama dengan senyuman yang mengembang.
"Ada yang lagi bahagia nih," celetuk Kin seraya menyendok makanan.
"Makanya cari pasangan," balas Tama.
"Iyelah ... tunggu aja waktunya."
Sarapan telah selesai, Tama dan Kin segera menuju ke kantornya. Diperjalanan mereka berbicara mengenai pekerjaan sesekali menyinggung juga soal pertunangan dan pernikahan Tama.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Kampus
Kayla dan Vina sudah sampai di kampus. Mereka sedang duduk dan mengobrol di dalam kelas sembari menanti dosen datang.
"Kay, lo kemarin bilang udah pernah ketemu sama babang ganteng itu. Kok bisa? Ketemu dimana?" tanya Vina penasaran.
"Lo kayak wartawan Vin banyak tanya," celetuk Kayla membuat Vina terkekeh.
"Iya gue kan penasaran, Kay."
"Tingkat kepo lo udah akut yak," ucap Kayla. "Tama itu adalah cowo yang gue omelin waktu itu."
"serius lo Kay? Wahh berarti kalian memang jodoh."
Tidak butuh waktu lama dosen pun masuk untuk memberika materi.
Saat dosen sedang menjelaskan, ada sepasang mata yang terus memperhatikan Kayla.
30 menit kemudian
Mata kuliah pertama susah selesai. Dosen berlalu meninggalkan kelas begitupun dengan mahasiswa yang lain. Di kelas hanya tersisa Kayla, Vina, dan beberapa mahasiswa yang masih di dalam kelas termasuk orang yang sejak tadi memperhatikan Kayla.
"Hay Kay," sapa orang yang memperhatikan Kayla sejak tadi.
Kayla menoleh mendengar sapaan dari seseorang yang tak lain adalah Leon.
"Iya ..." jawab Kayla singkat
Leon kesal karena Kayla selalu saja cuek terhadapnya. Dan sekarang ditambah juga dia melihat cincin melingkar di jari manisnya.
Dia kemudian pergi begitu saja dengan emosi yang sejak tadi dia tahan di depan Kayla.
"Dia kenapa Kay?" tanya Vina.
"Lo tanya gue? Lah terus gue harus tanya siapa?" balas Kayla santai.
"Sialan lo!" umpat Vina. "Kayanya sih dia marah sama lo Kay karena selalu ditolak dan dicuek sama lo," ujar Vina.
"Kalo o sendiri tau jawabannya kenapa tadi nanya sama gue dodol," ucap Kayla dengan muka kesalnya,
sedangkan Vina hanya tercengir melihat Kayla yang kesal.
Triiiiiing!
Bunyi ponsel Kayla yang menandakan ada pesan masuk. Ia segera membuka ponselnya dan melihatnya, ternyata pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.
Unknown
Nanti pulangnya aku jemput ya. Sekalian makan siang juga.
Kayla
Gue nggak mau! lagian gue nggak kenal lo.
Unknown
Sama calon suami sendiri tidak kenal?
Kayla
Salah sendiri tidak memperkenalkan diri.
Kayla mengernyitkan keningnya, ia heran darimana Tama mendapatkan nomor handphone nya.
"Lo kenapa Kay? Siapa tadi yang kirim pesan?" tanya Vina.
"Tama ...." Melihat jam tangan yang masih menunjukkan pukul setengah sebelas.
"Bilang apa dia?" tanya Vina lagi.
"Dia bilang mau jemput gue nanti," jawab Kayla.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Syahreza Grup
Di kantor, Tama masih berkutat dengan setumpuk dokumen yang menunggu tanda tangan darinya.
Ia melirik jam yang melingkar di tangannya, ternyata masih pukul setengah sebelas. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum menjemput Kayla.
Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya tanpa ketuk pintu terlebih dahulu.
"Ada apa Kin?" tanya Tama yang mengira bahwa Kin yang masuk.
"Ini aku Tam, buka Kin," ucapnya.
Tama yang mendengar suara itu pun mendongak melihat siapa yang datang.
Wajah Tama berubah datar saat melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
"Maaf Tuan, saya sudah melarangnya untuk masuk, tapi Nona ini kekeh ingin tetap masuk," tutur Dela sekretaris Tama.
"Ok ... kamu bisa keluar," ucap Tama.
Tama beranjak dari kursinya untuk duduk di sofa yang berada di ruangannya.
"Ada perlu apa Nona Lena datang kemari?" tanya Tama.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu Tam. Aku ingin berbincang tentang banyak hal denganmu," jawab Lena dengan suara manjanya.
"Maaf saya tidak punya banyak waktu. Saya harus segera pergi menjemput tunangan saya," balas Tama menekankan pada kata tunangan.
Tama berjalan keluar meninggalkan Lena di ruangannya. Ia masih nampak syok dengan perkataan Tama yang mengatakan tunangan.
"Apa! jadi Tama sudah mempunyai tunangan. Ini tidak bisa dibiarkan, Tama harus jadi milik gue," batin Lena.
Lena mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo ... gue punya tugas buat lo,"
"Ok apa tugasnya?"
•
•
•
•
•
•
•
•
**Jangan lupa buat like, Comment dan vote biar aku tambah semangat up** 😘
mampir ya