Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.
Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.
Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?
Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Hukuman
Mutia melonjak kaget saat melihat jam di dinding. Lagi-lagi ia kesiangan. Lagipula di mana sang mama? Bukankah ia yang biasanya teriak-teriak saat Mutia telat bangun.
Mutia segera menyambar handuk dan melesat keluar. Rumah masih sangat sepi. Bahkan pintu kamar mamanya pun masih tertutup rapat, tumben.
Selesai Mandi, Mutia menyempatkan melihat sang mama. Benar, wanita itu masih tertidur pulas.
"Mamaa ... bangun. Mama ...," ucap Mutia sembari menggoyang-goyangkan badan sang mama.
"Astagfirullah Mutia, ini jam berapa? Kok kamu sudah mandi?" jawab sang mama yang gelapan sendiri.
"Sudah jam tujuh kurang. Mama kok bisa kesiangan sih? Kan semalam tidur sore, aku jadi ikutan kesiangan, kan."
"Iya, gegara mama tidur sore, malam jadi kebangun. Eeh habis itu mau tidur lagi susah. Mama lihat kamu sudah tidur di kamar. Ya, sudah daripada gak bisa tidur mama lihat drama korea, sampe subuh deh," jelas Mama sembari nyengir.
Astaga! Mutia menepok jidatnya sendiri. Tanpa menunggu lama ia pun meninggalkan sang mama dan bergegas ganti baju.
Sepanjang jalan, Mutia tak berhenti membaca shalawat dan istighfar. Ia berharap tak bertemu dengan atasan yang menghantuinya itu.
Selesai parkir, Mutia menyempatkan melihat pintu karyawan. Apa yang ditakutkannya terjadi, si bos sudah menunggunya dengan bersendekap dada.
Mati aku!
Mati aku!
Mati aku!
Mutia terus saja merutuki kesialannya pagi ini. Bangun kesiangan, tak sempat sarapan dan sekarang berhadapan dengan atasan yang menyebalkan.
"Selamat siang, Mbak Mut. Hari ini anda terlambat dua puluh menit," Ucap Denis seraya melihat jam tangannya.
"Maaf, Pak. Saya siap dihukum."
"Bagus, kalau begitu ikut saya sekarang!" ucap Denis seraya melangkah pergi.
Meskipun aneh, Mutia pun menurut. Denis mangajaknya keluar, bukan masuk ke dalam toko. Bahkan sekarang Denis menuju mobilnya.
"Bapak, kita mau kemana? Bapak gak mau hukum saya macam-macam, kan?" tanya Mutia setangah gugup.
"Iish ... mikirnya jelek mulu." Denis menjentikkan jemarinya di kening Mutia. Gadis itupun manyun mendapatkan perlakuan seperti itu.
Mutia masih bengong di luar mobil sebelum akhirnya Denis menekan klakson yang mengagetkannya.
"Buru masuk! Ngapain di luar terus? Mau berjemur?" perintah Denis yang lagi-lagi membuat Mutia mencabik.
"Kita mau kemana sih, Pak?"
"Kerumah saya," jawab Denis santai.
"Ngapain ke rumah bapak? Jangan macem-macem deh, Pak. Lagian bapak harus profesional kan, saya terlambat datang untuk kerja, berarti hukumannya harus seputar kerjaan, terus ngpain ke rumah bapak?" omel Mutia yang membuat Denis mengorek-ngorek kupingnya dengan jari.
"Berisik banget, sih. Tadi sarapan apaan? Pagi-pagi tenaganya banyak banget,"
"Boro-boro sarapan. Gak sarapan aja telat dua puluh menit. Sarapan lagi, bisa-bisa namaku disana tinggal kenangan," omel Mutia lagi. Denis pun terbahak mendengar celoteh Mutia.
"Lucu banget, sih, kalau ngomel. Jadi makin naksir," ucap Denis sembari mengedipkan mata.
"Issh ... dasar aneh! Bapak gak lagi nyatain cinta, kan?"
"Hiii ... GR. Emang aku bilang cinta? Kan baru naksir, pingin banget, ya, dicinta sama aku?" ucap Denis lagi-lagi dengan menaik turunkan alisnya.
"Bapak noh yang ke PDan, bapak itu cocoknya jadi om saya, jadi jangan ngimpi kalau saya naksir bapak."
"Yakin kamu gak bakalan naksir sama saya? Lagian saya belum setua itu, kalaupun saya tua, saya masih kelihatan muda kan? Masih cakep, kan?"
"Sok cakep!"
Lagi-lagi Denis tergalak. Mutia tak memperdulikan lagi atasannya itu. Hingga Denis membelokkan mobilnya ke sebuah restoran siap saji.
"Bapak, ngapain ke sini? Katanya mau ke rumah?"
"Mau beli pulsa! Ya, mau makanlah, emangnya mau ngapain lagi? Aku laper belum sarapan. Buru keluar, atau mau aku buakin pintu?"
Mutia pun segera membuka pintu mobilnya dan keluar. Ia tahu Denis tidak pernah main-main dengan ucapannya. Sebelum ia benar-benar di bukakan pintu, ia memilih keluar sendiri. Denis hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mutia.
"Mau makan apa?" tanya Denis saat di depan kasir.
"Terserah bapak aja."
"Minumnya? Di sini gak ada thai tea."
"Sudah tau! Samain aja." ucap Mutia sembari meninggalkan Denis dan mencari tempat duduk.
Mutia sebal. Bisa-bisanya Denis bilang seperti itu di depan kasir, meskipun jarang ia juga pernah makan di sini, ia juga tahu tak ada thai tea di sini, dasar menyebalkan.
Denis datang dengan nampan penuh makanan. Mutia hanya bengong melihat begitu banyak makanan yang Denis bawah.
"Bapak, ini banyak banget. Siapa yang mau makan?"
"Kamulah!"
"Tapi ini banyak banget."
"Makan yang banyak, biar cepet gede. Aku gak mau dibilang jalan sama anak dibawah umur. Lagian lihat dada kamu, terlalu rata," ucap Denis sembari menggigit ayamnya.
Mutia seketika menutupi kedua dadanya.
"Bapak! Dasar om-om mesum!"
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa