Kekerasan yang dialami mawar dimasa kecil
membuat nya terperangkap dimasa lalu nya.
sehingga menjadikan diri nya seperti setangkai mawar yang tak bisa disentuh
penghinaan yang diterima Putra telah mengikis semua harga dirinya. Bahkan perceraian nya pun menyandarkan nya pada kenyataan pahit.
bisakah sebentuk ketulusan membalikan hidup mereka?
hanya cinta sejati yang bisa menyembuhkan luka. bersediakah mereka berjuang bersama untuk melepaskan diri dari kelam nya masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kevin N Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar 08
Dengan suara pelan Putra mencoba menetralkan suasana.
"Mawar, kau mau mengobrol denganku? jika kau belum mengantuk." Ajak Putra
°°°°
Mawar masih diam menatap Putra, dia masih merasa canggung dengan situasi saat ini. Berada satu kamar dengan seorang pria tidak pernah terfikir olehnya, di sisi lain dia juga penasaran akan kisah Putra.
"Apa kau sudah mengantuk?" Putra mengulang pertanyaannya.
"Aku belum mengantuk, aku dengan senang hati mendengar kan curhatan mu." goda Mawar.
Kini Mawar memutuskan menemani Putra ngobrol, sambil memposisikan dirinya agar lebih nyaman.
"Aku takut kau akan bosan dengan cerita ku." kekeh Putra
"Tidak akan."
"Aku lahir di Jakarta, bersekolah disana. Tidak ada yang istimewa dengan kehidupan ku, karena kehidupan kami dilalui dengan kekurangan, hidup ini ku lalui dengan bekerja keras. Dulu kakek ku menjadi pedagang asongan dengan penghasilan yang sangat kecil, sedangkan aku setiap pulang sekolah, aku bekerja sebagai juru parkir di supermarket maupun pasar-pasar. Semua jenis pekerjaan sudah ku lakukan. Dari situ kami bisa makan, kamu tau Mawar makanan mewah kami? Sebuah telor, bagi kami itu sudah sangat mewah." Putra bercerita sambil menerawang kisah masa kecilnya.
"Benarkah itu Putra? Aku tidak menyangka ada kehidupan yang sesusah itu." ujar Mawar tulus.
Sebelumnya Mawar berfikir bahwa orang-orang hidup serba cukup saja. Ya tidak kaya namun tidak sulit makan juga. Karena seumur hidup nya tidak pernah mendengar kehidupan yang sangat kekurangan seperti yang Putra jalani.
"Tapi kehidupan selalu berputar, setelah aku kuliah kakek mendapatkan tawaran pekerjaan di sini, diperkebunan ini melalui seorang teman yang lebih dulu bekerja di sini. Sejak saat itulah kehidupan kami sedikit lebih baik. Aku sendiri bekerja sambil kuliah, karena beasiswa ku hanya untuk SPP sedang kan bukunya harus aku beli sendiri. Dan kamu tau Mawar, aku hanya makan makanan super mewah di sini saja." dengan suara pelan putra bercerita agar tidak tampak emosional, sedangkan Mawar? Mata nya sudah berkaca-kaca.
"Super mewah?"
"Ya, seperti daging sapi, ayam, kambing, bahkan ikan sekali pun. Kakek dan aku tidak pernah makan makanan jenis itu." Putra menutup wajahnya dengan lengan besar nya, dengan menceritakan masa lalunya itu artinya dia harus siap kembali dihina.
"Putra, saya Mawar mulai sekarang akan menyajikan makanan super mewah setiap harinya." Putra tersenyum mendengar tingkah polos istri nya.
"Istri?" batin nya
Putra menatap Mawar, betapa mudahnya membangkitkan rasa iba gadis kecil ini. Dia bener-bener berhati lembut dan polos.
Sebenarnya Putra juga ingin mendengar kisah masa lalu Mawar. Tapi dia takut Mawar kembali histeris. Lagi pula Mawar belum tentu sudah mempercayai nya, jadi dia putus kan untuk kembali diam.
Putra juga kini merasa aneh, mengapa dia sangat perduli dengan perasaan gadis kecil nya. Seperti ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menjaga perasaan Mawar dan ingin selalu melihat gadis ini tersenyum.
Memang Putra akui senyuman Mawar sebersih malaikat, siapapun yang melihatnya akan merasa tenang, tidak perduli semarah apapun orang itu.
Putra tidak pernah merasa kasian terhadap Mawar, baginya Mawar terlihat begitu tegar dengan semua penderitaan yang telah dialaminya.
Jika kebagian Mawar begitu penting untuk nya, apakah dia sudah jatuh Cinta? Dia jatuh cinta pada istri "bisnis"nya. Tiba-tiba Putra menginginkan pernikahan yang sesungguhnya.
Tapi semua itu sungguh mustahil, Putra sadar orang seperti dirinya tidak akan pantas untuk wanita manapun. Mengingat status sosial mereka yang jauh berbeda. Yang satu terlahir berlimpah kekayaan dan yang satu berada di pusaran kemiskinan, bagaimanapun tebing dan jurang tidak akan perna bersatu.
"Jatuh cinta di malam pengantinnya, sungguh ironis." batin Putra.
Samar-samar Putra mendengar suara nafas teratur, gadis itu sudah tertidur. Putra melihat wajah putih bersih gadis itu, Mawar tampak tenang dalam tidurnya.
"Lebih baik aku segera tidur." pikir Putra
°°°°
PAGI HARI
Putra tersentak saat menyadari matahari sudah meranjak naik, dia bangun dari tidur nya dan nyaris terjatuh tersandung selimut. Selimut? Dia tidak ingat memakai selimut.
"Pasti Mawar, tapi kapan? Sungguh perhatian sekali istriku," pikir nya sambil tersenyum.
Namun ada sedikit rasa kecewa, dia berharap melihat wajah cantik istrinya itu ketika bangun tidur.
"Tapi bukankah kami memiliki waktu seumur hidup untuk bersama?" seketika Putra tersenyum.
Walaupun hanya pernikahan bisnis, setidaknya Mawar akan selalu ada di sisi nya. Putra tidak ingin ada pria lain yang mndekati mawar, memikirkan nya saja sudah membuat nya marah.
Saat seorang pria mencintai wanitanya, dia akan berubah jadi manusia posesif. Sekarang putra mengerti arti kata itu.
Krek...
Pintu kamar terbuka.
"Sudah bangun?" tanya Mawar lembut.
Mawar berjalan masuk, menuju sofa yang ada dikamar itu, melewati Putra. Aroma parfum Mawar membuat Putra ingin sekali menarik gadis itu ke dalam pelukannya, Putra fikir hatinya sudah mati rasa, ternyata sosok Mawar membuat nya meluap kembali.
"Maaf aku kesiangan, kurasa aku harus mandi." Putra berharap dengan mandi bisa menghilangkan fikiran kotornya.
Dua puluh menit kemudian Putra keluar dari kamar mandi dan melihat Mawar sibuk menyusun beberapa tumpukkan kertas entah berkas apa itu.
"Kau mau pergi kemana?" kening Putra berkerut.
Putra merasa tidak ingin di tinggal oleh mawar, Putra memperhatikan penampilan istri kecil nya. Dress hitam selutut dengan aksen bunga di bawah nya, lengan Sabrina menampakkan bahu mulusnya. Apalagi rambut hitam indah itu di ikat tinggi, menambah kesan sexy pada gadis kecilnya.
"Aku hanya ingin ke bank." jawab Mawar.
"Aku ikut denganmu!"
Dengan penampilan secantik itu sungguh Putra tidak rela.
Dengan langkah panjang, putra berjalan kearah tas lusuh nya mengambil kemeja hitam dan langsung memakai nya.
"Aku tidak mau orang diluar sana mengatakan aku pria yang tidak bertanggung jawab, karna membiarkan istrinya pergi sendiri."
"Aku hanya ke bank, Putra." jawab Mawar lembut.
"Ya, aku tetap akan mengantarmu."
Putra tidak ingin dibantah, Mawar bisa tau hanya dengan mendengar nada suara Putra.
Padahal dalam hati Mawar pun bersyukur putra mau mengantarnya. Di bank ada pekerja teller yang selalu menggoda nya. Akhirnya dengan senyum lebar Mawar menjawab.
----Mohon dukungan nya ----
Halo teman-teman
jangan bosan memberikan like dan komentar nya yah. biar aku makin semangat up nya.
mawar dan putra cocok ga sih..
ada yang tau kira-kira yang bakal duluan bucin siapa? mawar atau putra nih?
kalian team siapa?
Putra atau mawar? hehe
doa kan usaha putra ya. semoga mawar melihat ketulusan hati seorang pria tampan itu.
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
°Terimakasih
semoga kalian bisa saling memberi kebahagia dan kenyamanan..