NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusasaan di Bawah Pilar Merah

Suasana hening yang tersisa setelah jejak kaki Ryan di lorong gelap itu langsung berubah menjadi bisikan panik. Sekelompok siswa yang baru keluar dari kelas atas saling memandang dengan wajah yang memucat.

Rahman melangkah berniat mengikuti Ryan, namun seketika terhenti oleh seseorang yang tiba-tiba berteriak.

"Hei! Kamu berniat mengikutinya?! Apa kamu gila?!" teriak seorang siswa berambut ikal, menatap lorong kosong tempat Ryan menghilang. "Kamu tidak tahu gosipnya? Pada 'malam kehancuran' 2012, hanya keluarganya yang selamat tanpa luka sedikitpun. Dia jelas penyembah iblis! Kalau kita ikut, kita hanya akan dijadikan korban."

Rahman menggigit bibirnya, bimbang. Logikanya membenarkan ketakutan itu, tapi indranya mengatakan hal lain; ia tahu betul para hantu tadi lari bukan karena perintah Ryan, melainkan karena mereka ketakutan setengah mati.

"Persetan dengan rumor!" Seorang siswa dari kelompok Agil sontak berseru, memecah perdebatan. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata. "Kalian mau mati konyol di sini dimakan hantu? Pemuja iblis atau bukan, para hantu itu lari darinya! Aku membuang egoku, aku mau hidup!" Tanpa ragu, siswa itu berlari menyusul ke arah kegelapan koridor namun segera dihentikan oleh Rahman.

“Tunggu dulu, aku ikut denganmu,” ucap Rahman sambil tersenyum, ia memutuskan untuk mempercayai Ryan, yang menurut pengamatannya dia hanyalah anak biasa dengan kemampuan misterius namun bodoh dalam navigasi.

Rahman segera melangkah, memimpin jalan. Di sudut lain, Agil masih terdiam sambil memegangi pipi kanannya yang terasa panas. Rasa perih akibat tamparan murni Ryan tadi bukan hanya menghancurkan harga dirinya sebagai petarung jalanan, tapi juga meruntuhkan kesombongannya. Agil menatap sisa-sisa darah di lapangan pembantaian, lalu menelan ludah. Insting bertahannya menjerit keras.

"Sialan..." umpat Agil pelan. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang masih mematung ketakutan. "Tunggu apa lagi, bodoh? Harga diri nggak akan bikin kita selamat dari neraka ini. Kita ikuti anak aneh itu!"

Dipimpin oleh Agil yang akhirnya sadar bahwa nyawanya jauh lebih penting, seluruh kelompok itu segera berlari menyusuri koridor, berusaha mengejar jejak Ryan.

Langkah kaki cepat Rahman dan rombongannya menggema di lorong yang disinari cahaya merah pekat. Ketika mereka berbelok tajam di persimpangan dekat ruang guru, mereka nyaris menabrak dua siswi yang berlari panik dari arah berlawanan.

"Ahhh!" seru Isabella dan Rena sekaligus. Mereka berdua melompat terkejut dan secara otomatis mundur sampai punggung mereka menempel di dinding koridor.

Rahman yang tak kalah terkejut langsung melontarkan pertanyaan, "Kalian? Sedang apa kalian berlari ke arah sini?"

"K-Kami disuruh pergi ke lobi oleh seorang murid baru berwajah datar!" sahut Isabella dengan napas tersengal, dadanya kembang-kempis. "Tapi semua jalan terasa berputar-putar!"

Mendengar ciri-ciri tersebut, mata Agil sedikit melebar. "Siswa berwajah datar? Itu pasti Ryan! Ayo, ikut kami! Kita cari pusat pilar energi itu bersama karena dia pergi ke sana! Sesampainya kita disana keadaan pasti telah selesai dan kita bisa keluar dari sini"

Mendengar nama 'Ryan' disebut dengan begitu antusias, tubuh Rena sontak bergetar hebat. Wajahnya yang sudah pucat semakin kehilangan warna. Namun, karena tenggorokannya tercekat oleh kelelahan dan teror dimensi gaib ini, ia tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun untuk memprotes.

Panik dan putus asa memang membuat akal sehat mereka tumpul. Agil dan kelompoknya berasumsi bahwa Ryan memiliki rencana pelarian yang brilian, sementara Isabella dan Rena—yang tidak sepenuhnya mengerti situasi—hanya bisa pasrah mengikuti, mengira kelompok besar ini tahu jalan yang benar.

Rombongan yang kini semakin besar itu bergerak dalam formasi rapat, menembus distorsi koridor menuju asal pilar cahaya yang menjulang merobek awan merah di area belakang sekolah.

Namun, saat mereka tiba di titik pusat pilar tersebut, napas mereka serentak tercekat. Di salah satu sudut sekolah, bangunan gedung olahraga tampak memancarkan aura energi yang menyesakkan. Ekspektasi mereka hancur berkeping-keping. Tidak ada sosok sang jenius pelarian di sana.

"Mana anak itu?!" teriak Agil frustrasi, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Jangan bilang dia tersesat?!"

Di sebelahnya, Rahman hanya bisa tersenyum getir sambil menepuk dahinya sendiri. Ia baru teringat satu fakta krusial: jika dibiarkan berjalan sendirian, bocah dengan anomali mengerikan itu bisa tersesat dengan sangat mudah, bahkan di rute yang lurus sekalipun.

Belum sempat kepanikan mereka mereda karena absennya Ryan, keheningan di bawah pilar energi itu tiba-tiba dipecahkan oleh sebuah suara.

“Hihihihi... Hihihihi...”

Tawa melengking yang menggema itu membuat darah mereka seakan membeku. Bersamaan dengan suara itu, angin sedingin es berembus kencang, membawa bau anyir darah yang sangat pekat bercampur aroma melati yang busuk.

Di area dasar pilar cahaya merah yang menjulang, dari balik pintu utama gedung olahraga, sosok itu melayang menembus pintu perlahan. Seorang wanita dengan gaun putih kusam yang menjuntai robek, rambut hitam panjang yang acak-acakan menutupi sebagian wajah pucatnya, dan—yang paling mengerikan—sebuah lubang besar yang menganga di bagian punggung tembus ke perutnya, dipenuhi belatung dan darah hitam yang menetes ke tanah.

Itu adalah Sundel Bolong, sosok hantu perempuan dalam mitos Nusantara.

Berdasarkan wujud dan auranya, makhluk ini termasuk dalam kategori hantu tipe Phantom yang agresif dan sangat merepotkan karena pergerakannya yang luar biasa cepat. Namun, insting liarnya juga menunjukkan bahwa ia adalah tipe Hunter yang gemar memangsa apapun, termasuk manusia, secara buas.

Rahman yang memiliki indra paling peka dari lainnya menerima dampak yang paling brutal. Udara di sekitarnya seketika terasa setajam silet, menggores kulit dan menembus langsung ke paru-parunya. Kakinya kehilangan tenaga hingga ia langsung jatuh berlutut di atas aspal.

"T-Tidak mungkin..." bibir Rahman bergetar, merapalkan keputusasaan saat matanya melotot ngeri menatap fluktuasi energi hitam kemerahan yang meluap-luap di atas kepala makhluk itu. "Aura ini... pergerakannya... ini tipe Phantom sekaligus Hunter... Hantu Tier A!"

Agil memundurkan langkahnya, keberaniannya terkikis habis. Mengingat klasifikasi dari Asosiasi, hantu Tier A adalah ancaman yang mampu mengacaukan seluruh kota. Secara aturan mutlak dunia Esper, entitas seperti ini memerlukan intervensi dan koordinasi dari sebuah tim Esper menengah untuk mengalahkannya.

Menghadapi makhluk ini hanya dengan dua orang Esper level terbawah dan puluhan siswa biasa tanpa kemampuan, sama saja dengan bunuh diri massal.

Makhluk itu mendongak, menatap kelompok siswa yang gemetar di depannya dengan sepasang mata putih tanpa pupil, lalu menyeringai lebar hingga merobek sudut bibirnya.

Cairan hitam pekat menetes di antara giginya yang tajam, mengeluarkan aroma melati busuk yang semakin menyempitkan napas. Pada saat ancaman Tier A bersiap melaju untuk memulai pembantaian, tiba‑tiba ledakan energi spiritual kuat meletus dari tubuh Rahman.

Dari dalam dada Rahman, melesat seberkas kilatan cahaya putih keperakan yang memotong keheningan dimensi gaib. Sekejap kemudian, seekor harimau putih sebesar pria dewasa muncul dengan gagah di depan Rahman. Bulu makhluk itu memancarkan sinar putih bersih, menciptakan kontras tajam di bawah langit merah pekat. Roh penjaga tersebut mengeluarkan geraman dalam yang mengguncang tanah menuju Sundel Bolong.

Si Sundel Bolong hanya diam, tidak bergeming sedikit pun menghadapi gertakan sang roh suci. Namun, keheningan makhluk itu justru menjadi pertanda buruk. Tiba-tiba, atmosfer di sekitar mereka bergolak hebat. Dari balik bayang-bayang kabut di dasar pilar merah, muncul belasan hantu Tier C (Lesser Entity) berwujud gumpalan daging abstrak yang sesekali mengeluarkan tangan aneh sambil melayang-layang.

Tak berhenti di situ, beberapa siluet kecil berkulit pucat keabu-abuan dengan kepala plontos ikut merangkak keluar dari kegelapan. Mereka adalah tuyul Tier B. Karena ukurannya yang kerdil dan pergerakannya yang sangat lincah di antara rimbunnya kabut, keberadaan para tuyul ini menjadi cukup sulit dilihat oleh mata telanjang para siswa biasa yang berada di sana.

Menyadari kepungan makhluk halus tersebut, sang khodam harimau putih tidak tinggal diam. Dengan raungan buas, roh suci itu langsung menerjang maju menyambut musuh-musuhnya. Sabetan cakar keperakannya yang cepat berkelebat di udara, langsung menghancurkan dua hantu Tier C menjadi asap hitam dalam sekali pukul.

Ketika beberapa tuyul Tier B mencoba memanfaatkan tubuh kecil mereka untuk menyelinap dan menyerang dari sudut buta, sang harimau dengan jeli mengibaskan ekornya yang sekeras cambuk besi, lalu menggigit dan menghajar mereka tanpa ampun hingga memicu pekikan melengking yang memekakkan telinga.

Melihat khodamnya bertarung habis-habisan melindungi dirinya, kesadaran Rahman yang sempat lumpuh oleh intimidasi murni hantu Tier A akhirnya pulih sepenuhnya.

Benar juga, dengan keributan seperti ini Ryan pasti akan segera datang. Lagipula, makhluk Tier A itu hanya diam di tempatnya seperti seorang penjaga yang tidak peduli dengan sekitarnya, batin Rahman.

Rasa syoknya menguap, berganti dengan pasokan adrenalin yang membakar tekad bertarungnya. Rahman menarik napas dalam-dalam, menstabilkan pijakan kakinya, lalu bangkit berdiri tegak dengan tatapan mata yang menajam. Sembari mengalirkan aura energi spiritual dasar miliknya ke kepalan tangan, Rahman bersiap menyerang semua hantu di sekitarnya yang mencoba menerobos pertahanan sang khodam.

Seketika itu juga, semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut terkejut setengah mati. Isabella, Rena, dan para siswa lainnya menatap tidak percaya pada Rahman—siswa pendiam yang tadinya berlutut tak berdaya, kini menjelma menjadi sosok Esper yang memiliki daya tempur mengerikan.

Di antara mereka semua, Agil adalah sosok yang paling terguncang. Menatap bagaimana harimau putih itu mencabik-cabik kawanan hantu dan melihat kesiapan tempur Rahman, tubuh Agil mendadak dingin seketika. Mengingat kembali keangkuhannya saat menantang Ryan dan juga Rahman di kantin siang tadi, ia hanya bisa menelan ludah sambil membatin dalam hati:

Untung aku tidak melawannya waktu itu, siapa sangka dia punya penjaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!