NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Sepemikiran

Siang itu, Thalia berdiri cukup lama di depan lemari pakaian.

Bukan karena ia tidak tahu harus memakai apa. Justru karena ia terlalu tahu bahwa apa pun yang ia pilih akan tetap dinilai oleh Rendra.

Terlalu tertutup, Rendra akan berkata ia tidak mendukung.

Terlalu terbuka, Rendra menuduh ia menikmati perhatian pria lain.

Terlalu sederhana, ia dianggap tidak menghargai acara penting.

Terlalu mencolok, ia menjadi bahan kecurigaan.

Pada akhirnya, Thalia memilih gaun midi berwarna krem lembut dengan potongan anggun. Tidak terlalu ketat, tidak terlalu terbuka. Rambutnya ia biarkan terurai rapi melewati bahu. Riasannya tipis, hanya sedikit warna di bibir agar wajahnya tidak terlihat sepucat perasaannya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin, menatap dirinya sendiri yang perlahan mulai tidak lagi ia kenali. Perhatiannya teralihkan saat ponselnya yang tergeletak di atas meja rias bergetar. Ia meraih ponsel, menemukan satu pesan masuk dari suaminya.

Rendra: "Aku sudah di depan. Jangan lama."

Tidak ada pertanyaan apakah ia siap atau belum. Tidak ada ucapan hati-hati atau kalimat lain yang membuatnya merasa sedang dijemput suami. Yang ada hanyalah perintah singkat.

Jangan lama.

Thalia mengambil tas kecilnya, lalu turun ke lantai bawah. Bu Ratmi sedang merapikan vas bunga di ruang tengah ketika melihatnya.

“Nyonya mau pergi lagi?” tanya wanita itu.

“Iya, Bu. Ada urusan sebentar.”

Bu Ratmi menatapnya dengan sorot mata khawatir yang berusaha disembunyikan.

“Tumitnya sudah lebih baik?”

Thalia tersenyum kecil. “Sudah.”

Padahal belum sepenuhnya.

Tapi luka kecil seperti itu tidak perlu dijelaskan. Apalagi di rumah ini, tempat luka yang lebih besar pun sering dipaksa tidak terlihat.

Saat Thalia keluar, mobil Rendra sudah menunggu di depan. Pria itu duduk di balik kemudi, mengenakan kemeja putih dengan jas navy yang terlipat rapi di kursi belakang. Kacamatanya bertengger di hidung, satu tangan memegang ponsel, wajahnya serius seperti biasa.

Thalia membuka pintu dan masuk. “Siang,” nya pelan.

Rendra melirik sebentar. “Kamu pakai itu?”

Thalia menahan napas. “Apa ada yang salah?”

Rendra menatap gaun istrinya sekilas, lalu kembali melihat ponsel. “Tidak. Hanya terlihat terlalu aman.”

“Terlalu aman?” ulang Thalia dengan alis bertaut.

“Kita akan bertemu Pak Arkana, Lia. Bukan makan siang keluarga," ucap Rendra mengingatkan.

Thalia menatap ke depan. “Semalam kamu marah karena mengira aku terlalu menarik perhatian. Sekarang kamu keberatan karena aku terlihat terlalu aman.”

Rendra meletakkan ponsel di dashbord. “Jangan mulai lagi.”

“Aku belum mulai. Aku hanya mencoba memahami aturanmu yang berubah-ubah," tukas Thalia.

Rendra menoleh, matanya menyipit. “Yang penting kamu terlihat pantas. Bukan seperti perempuan yang tidak paham kelas acara.”

Thalia tertawa sangat pelan.

Dulu, komentar seperti itu akan langsung membuatnya merasa kurang. Ia akan kembali ke kamar, mengganti pakaian, memoles ulang wajah, memperbaiki rambut, lalu memastikan dirinya sesuai dengan standar Rendra.

Namun sekarang ia sudah lelah. “Aku tidak akan ganti baju."

Meski hanya sepersekian detik, Rendra gagal menutupi keterkejutan di wajahnya. Ia tidak menyangka istrinya akan menjawab setenang itu.

“Siapa yang menyuruhmu ganti?”

“Tatapanmu," jawab Thalia.

Rendra diam beberapa detik, lalu menyalakan mesin mobil. “Kamu semakin pandai menjawab.”

Thalia menoleh ke jendela. “Atau mungkin aku hanya semakin lelah untuk terus diam.”

Mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Tidak ada percakapan setelah itu.

Namun sunyi di antara mereka bukan sunyi biasa. Sunyi itu seperti tali yang ditarik terlalu kuat. Satu gerakan salah, dan semuanya bisa putus.

.

.

Gedung Dirgantara Group berdiri menjulang di pusat kota. Berkilau di bawah cahaya siang.

Thalia mendongak sebentar ketika mobil memasuki area parkir khusus tamu. Bangunan itu tampak seperti cerminan pemiliknya: megah, dingin, sulit dijangkau.

Rendra turun lebih dulu. Kali ini ia membukakan pintu untuk Thalia dengan gerakan sopan.

Namun Thalia tahu, sikap seperti ini hanya muncul jika ada kemungkinan orang lain melihat.

“Jangan terlalu kaku,” bisik Rendra saat mereka berjalan menuju lobi.

Thalia tidak menjawab.

Lobi gedung itu luas, berlantai marmer abu-abu muda dengan langit-langit tinggi. Aroma bunga segar dan pendingin ruangan bercampur samar. Para pegawai berjalan cepat dengan tablet, dokumen di tangan mereka dengan ekspresi profesional.

“Pak Arkana sudah menunggu di lantai empat puluh dua,” kata resepsionis dengan senyum ramah pada Rendra. “Pak Saka akan menjemput Bapak dan Ibu di atas.”

Thalia merasakan sesuatu bergerak di dadanya.

Sudah menunggu.

Ia membenci cara dua kata sederhana itu membuat pikirannya kembali tidak tenang.

Rendra justru tampak puas. “Baik.”

Mereka masuk ke lift khusus eksekutif. Pintu tertutup perlahan, menyisakan pantulan mereka berdua di dinding stainless yang mengilap.

Rendra memperbaiki dasinya. Sementara Thalia berdiri di sampingnya, sedikit menjaga jarak.

“Jangan banyak bicara nanti,” kata Rendra tiba-tiba.

Thalia memandang angka lantai yang bergerak naik. “Aku kira kamu ingin aku memberi kesan baik.”

“Memberi kesan baik bukan berarti bicara semaumu," ucap Rendra.

“Aku bahkan belum bicara apa pun," jawab Thalia.

“Aku hanya mengingatkan,” sanggah Rendra.

Thalia menoleh pelan ke arah suaminya. “Tidak. Kamu sedang mengatur.”

Rendra balas menatap istrinya. “Karena kamu mulai sulit diarahkan.”

Kalimat itu membuat Thalia terdiam. Seolah ia hanya seorang bawahan yang hidupnya hanya sesuatu yang harus mengikuti instruksi.

Pintu lift terbuka sebelum Thalia sempat menjawab.

Seorang pria muda berdiri di depan mereka. Tubuhnya tegap dengan wajah hangat, dan tersenyum sopan.

“Selamat siang, Pak Rendra. Nyonya Thalia. Saya Saka.”

Rendra tersenyum ramah. “Selamat siang.”

Thalia ikut mengangguk. “Terima kasih sudah mengamankan tas saya.”

“Tentu, Nyonya.” Saka tersenyum sopan. “Silakan. Pak Arkana menunggu di ruangannya.”

Mereka mengikuti Saka melewati lorong lebar berdinding kaca. Dari sisi kanan, kota terlihat terbentang jauh di bawah sana. Gedung-gedung tinggi, jalanan padat, kendaraan bergerak seperti titik-titik kecil.

Thalia melihat pantulannya di kaca.

Untuk sesaat, ia merasa dirinya juga seperti salah satu titik kecil itu. Bergerak sesuai arah yang ditentukan orang lain.

“Silakan.” Saka membuka pintu kayu besar di ujung lorong.

Ruang kerja Arkana Dirgantara jauh lebih luas daripada yang Thalia bayangkan.

Tidak berlebihan, tapi setiap sudutnya memancarkan kekuasaan. Meja besar berwarna gelap berdiri menghadap jendela tinggi. Rak buku tertata rapi di satu sisi. Sofa kulit hitam berada di area tamu. Di belakang meja, pemandangan kota siang hari terbentang luas.

Dan di tengah semua itu, Arkana berdiri.

Pria itu sedang menatap layar tablet di tangannya ketika mereka masuk. Dia mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku, tanpa jas, tanpa dasi. Penampilannya lebih santai dari semalam, tapi entah kenapa dalam kesederhanaan itu, wibawanya tidak berkurang sedikit pun.

Arkana mengangkat wajah.

Tatapannya pertama jatuh kepada Rendra, kemudian kepada Thalia, dan kembali pada Rendra.

“Pak Rendra,” sapa Arkana.

“Pak Arkana.” Rendra melangkah maju dengan senyum penuh hormat. “Terima kasih sudah meluangkan waktu.”

Arkana mengangguk singkat, kemudian beralih pada Thalia. “Nyonya Thalia.”

“Selamat siang, Pak," sambut Thalia dengan suara senormal mungkin.

Arkana tidak segera menjawab. Netranya justru turun sekilas ke kaki Thalia.

“Duduklah,” kata Arkana.

Rendra bergerak lebih dulu ke sofa. Thalia mengikuti, duduk di sisi yang cukup jauh agar tidak terlihat terlalu dekat dengan Arkana, namun tetap sopan.

Saka masuk membawa clutch hitam milik Thalia di atas nampan kecil. “Ini tas Nyonya.”

Thalia menerimanya. “Terima kasih.”

Saka mengangguk, lalu keluar setelah Arkana memberi isyarat.

Kini hanya ada mereka bertiga di ruangan itu. Dan anehnya, Thalia merasa udara di ruangan itu jauh lebih tipis daripada ballroom semalam.

Rendra membuka percakapan tentang proposal. Suaranya berubah lancar, percaya diri, penuh semangat. Ia menjelaskan proyeksi angka, peluang pasar, kerja sama dengan investor, dan bagaimana divisinya bisa memberi keuntungan besar bagi Dirgantara Group.

Thalia duduk diam. Ia mendengarkan.

Tidak sepenuhnya karena tertarik, tapi karena secara alami otaknya menangkap banyak hal. Dulu, saat masih bekerja, ia terbiasa menganalisis presentasi seperti ini. Ada beberapa bagian dari penjelasan Rendra yang terdengar bagus di permukaan, tapi meninggalkan celah logika.

Arkana tampaknya menyadari hal yang sama. Pria itu tidak banyak menyela. Hanya sesekali mengajukan pertanyaan singkat yang langsung menusuk ke titik lemah.

“Angka pertumbuhan itu berdasarkan data kuartal terakhir?”

Rendra terdiam sebentar. “Gabungan dari data internal dan proyeksi pasar, Pak.”

“Proyeksi siapa?” tanya Arkana.

“Tim saya," jawab Rendra.

“Berarti belum divalidasi pihak independen.”

Rendra tersenyum kaku. “Belum, tapi—”

“Kalau belum, jangan gunakan angka itu sebagai dasar keputusan final," jawab Arkana.

Thalia menunduk, menyembunyikan senyum puas di wajahnya. "Tepat. Itu juga yang aku pikirkan," batin Thalia.

Arkana tiba-tiba melirik Thalia. “Sepertinya Nyonya Thalia punya pendapat.”

Thalia membeku.

. . ..

. . . .

To be continued...

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
〈⎳ FT. Zira: 🙈🙈 kebanyakan karya hiatus yak🤭
total 1 replies
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
〈⎳ FT. Zira: hayoo siapa🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
〈⎳ FT. Zira: terima kasih banyak kaka🥰
total 1 replies
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!