Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu
Saraswati terus saja menatap benda tersebut. Di telapak tangannya, trisula kuningan itu semakin terasa hangat, dan seolah hidup.
Sssshhhh...!
Suara desahan itu kembali lagi hadir. Kali ini terdengar lebih jelas. Bukan berasal dari luar, tetapi dari di kepalanya,
"Akhirnya... Aku menemukan kamu... Keturunan Rangda Wayan."
"Hah!" Putu Saraswati tersentak kaget. Trisula itu bergetar dengan pelan. Garis-garis ukiran Bali kuno di badannya menyala dengan cahaya yang redup, membentuk pola yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Siapa, Kau?" bisiknya dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Tubuhnya bergetar ketakutan, dan wajahnya memucat.
Tak ada jawaban. Hanya rasa dingin yang merambat dari jemari tangannya ke tulang punggungnya.
Tiba-tiba saja, pandangannya berkunang-kunang. Aroma anyir darah, kemenyan dan juga dupa memenuhi indera penciumannya, sedangkan ia menggunakan pewangi ruangan dengan aroma orange yang menyegarkan.
Mendadak di sekelilingnya berubah dengan cepat. Putu Saraswati terperangah. Ia seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Dimana ia bukan lagi berdiri di dalam kamarnya, melainkan sudah berpindah tempat ke halaman Pura Desa yang suasananya sangat gelao gulita.
Bulan yang tadinya menyembul terang, kini bersembunyi di balik awan hitam. Di bagian tengah halaman Pura, terlihat Mangku Gede sedang bertarung dengan sosok yang sangat mengerikan.
Rambut panjang gimbal berurai menyapu hingga ke tanah. Tubuhnya membungkuk, dengan lidah panjang menjulur hingga ke perut, kedua mata membola keluar bercahaya merah, dan sepasang gigi taring yang mencuat keluar dari sudut bibirnya. Wajahnya cukup hancur, dan ia tidak menginjak paving blok.
Keris di tangannya bergetar hebat, karena sedang menahan serangan sosok wanita dengan rupa mengerikan tersebut.
"Leak!" gumam Saraswati dengan nada yang sangat pelan.
Akan tetapi, sosok itu mendengarnya, dan melihatnya dengan pandangan yang terkunci pada dirinya.
"Kau.... Dan sekarang kau datang?!" suaranya cukup dingin, dan membuat bulu kuduk Saraswati meremang.
Ia ingin berlari, dan berteriak sekencangnya.
Akan tetapi, kakinya mendadak seperti terpaku, tak dapat di gerakkan sedikitpun.
Tiba-tiba saja, trisula di tangannya melayang dan melesat ke udaran dengan gerakan yang cukup cepat, dan langsung menghujam tanah di antara dirinya dan juga Leak yang sedang menatapnya.
Duaaar!!
Cahaya biru berpendar akibat ledakan dari trisula tersebut.
Tanah bergetar cukup hebat. Leak menjerit dengan suara lengkingan yang membuat gendang telinga terasa pekak.
Wuuussh!
Sosok Leak itu melesat menghilang dengan membawa rasa sakit yang cukup parah.
Mendadak semuanya hening, dan jangkrik berhenti menyanyi.
Putu Saraswati merasakan nafasnya tersengal. Ia masih dalam kebingungan, dan tiba-tiba saja ia kembali tersadar, dan sudah berada di dalam kamarnya.
Sedangkan trisula di tangannya kembali terbaring tenang, dan cahaya biru yang tadi berpendar sudah menghilang, dan diikuti oleh aroma anyir serta dupa dsn kemenyan yang perlahan juga lenyap. Dan yang tersisa, hanya detak jantungnya yang berdegub lebih kencang.
Sementara itu, Mangku Gede sedang membaca mantra di dalam sebuah ruangan yang yang hanya di terangi oleh cahaya lilin saja.
Akan tetapi, Saraswati mengerti, sesuatu baru saja selesai, namun sesuatu yang lain, baru saja di mulai.
Ia menatap trisula di tangannya. Tangannya masih tremor. Ia merasa peristiwa barusan bagaikan sebuah ilusi tetapi terasa nyata.
"Mengapa... Trisula ini memilih aku?" gumamnya dengan segala rasa penasaran.
Tangannya kembali terasa panas, saat trisula di tangannya kembali bercahaya.
Garis ukiran seolah hidup, dan perlahan merambat naik ke pergelangan tangannya, lalu seperti sebuah tato, dan meninggalkan pola berwana biru, lalu menghilang di bawah kulitnya.
Mendadak Saraswati merasakan sesuatu yang sangat aneh sejak malam ini. Dimana ia mulai menangkap sebuah bisikan, dan bisikan itu bukan dari manusia, tetapi sesuatu yang berasal dari dunia lain.
Dan paling parahnya, ia bisa mendengar suara tangisan yang berasal dari pohon beringin tua di belakang Pura Dalem.
Saraswati mulai kebingungan, dan ia menutup telinganya, tetapi suara itu tak hendak berhenti, seolah sengaja sedang mempermainkannya.
Saat bersamaan, ia mendengar suara langkah menuju ke arah kamarnya.
"Saras, ayo makan," suara panggilan Komang Shinta membuyarkan segala kebingungannya. Dengan cepat ia menyimpan trisula tersebut di dalam laci nakas miliknya.
"Iya, Bu." sahutnya, lalu merapikan rambutnya yang terurai.
Ia beranjak dari kamarnya, lalu berjalan keluar.
Setibanya di ruang makan, ia di kejutkan dengan suara lengkingan seseorang yang meminta tolong, dan sepertinya ia mengenal suara tersebut.
"Hah!" ia tersentak kaget. Lalu menatap pada Kadek Arya-Bapanya. Ia seperti melihat sesuatu melintas, tapi entah apa, masih samar.
"Dharma di mana, Pak?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Tadi ke Pura, antar sesaji," jawab sang bapak dengan santai.
Akan tetapi, perasaan Saras tidak nyaman. Ia yang hendak duduk di kursi makan, membatalkan niatnya. Lalu keluar rumah, dan menuju Pura pribadi yang ada di depan halaman rumah.
Ia melihat Kadek Dharma baru saja meletakkan sesaji untuk para Dewa di atas altar Pura.
Saras berdiri terpaku menatapnya, dan saat sang adik lelakinya berjalan menuju rumah. Ia melihat bayangan tipis yang mengikuti Kadek Dharma, dan wujudnya tidak begitu jelas.
"Hah?!" Saras tersurut mundur, dan asap tipis itu menghilang saat Kadek Dharma hampir tiba di dekatnya.
"Apa itu?!" gumamnya dengan suara yang lirih.
"Putu, kenapa bengong malam-malam? Awas di datangi Leak," bisik Kadek Dharma, dengan nada bercanda.
Akan tetapi, bagi Saraswati, itu bukanlah sebuah candaan, ia merasa jika sesuatu sedang menerornya.
Dan ia juga tahu, jika Leak yang tadi... Belum mati. Ia hanya terluka, dan pastinya akan datang menuntut balas padanya, meski ia sendiri tidak tahu apa salahnya.
Saraswati mengamati sekitar halaman, dan juga Pura yang biasa dijadikan tempat ibadah mereka setiap harinya.
Setelah tak melihat apapun, ia kembali masuk ke dalam rumah, dan makan malam bersama dengan keluarganya.
Sementara itu, di ujung desa dan dekat dengan sebuah pantai, seorang wanita tua membuka matanya.
Rambutnya yang panjang dan memutih tampak kusam dan jarang sekali di sisir.
Rumahnya sangat begitu memprihatinkan dan layak di sebut dengan gubuk. Dimana dindingnya sudah sangat reot, dan melapuk.
Tampak satu matanya buta, sedangkan mata sebelah kirinya merah menyala.
"Dia sudah bangun," gumamnya dengan suara yang lirih dan juga serak. "Trisula itu sudah menemukan siapa tuannya,"
Sosok itu menyapu bibirnya yang terlihat kering dan pecah-pecah menggunakan lidahnya.
Sosok itu beranjak dari ranjang reotnya. Tubuhnya membungkuk, sang wanita berjalan dengan membungkuk, lalu keluar dari rumah, menatap langit yang menggelap.
Ia tersenyum menyeringai, dan tatapannya cukup begitu dalam. "Yang sudah tergadai, tidak akan dapat di tebus," gumamnya dengan sorot mata yang tajam.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh