NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Hari Ini Hari Kita

^^^Jumat, 17 Agustus^^^

Langit pagi itu cerah tanpa awan. Bendera merah putih berkibar di sepanjang jalan menuju SMAN Cempaka 1, berderet rapi seperti barisan semut raksasa. Umbul-umbul warna-warni menari-nari ditiup angin Agustus yang hangat. Di gerbang sekolah, spanduk besar bertuliskan "DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-85" membentang lebar, diapit foto Presiden dan Wakil Presiden yang tersenyum dari balik kaca.

Azril tiba lebih pagi dari biasanya. Sepeda tuanya ia parkir di rak yang hari ini penuh lebih awal—semua siswa tampaknya punya semangat yang sama. Ia berjalan melewati gerbang, matanya tak henti-hentinya mengamati dekorasi yang dipasang semalaman. Lampu-lampu kecil melingkar di batang pohon. Panggung besar berdiri di ujung lapangan, dengan backdrop merah putih dan tulisan "PESTA RAKYAT SMAN CEMPAKA 1". Di sudut lapangan, panitia OSIS masih sibuk menyiapkan peralatan lomba—karung goni, tali tambang, kerupuk yang digantung di tali, dan berbagai properti lainnya.

"ZRIL!"

Suara itu. Azril tersenyum sebelum menoleh. Bima berlari kecil ke arahnya, di belakangnya Faris berjalan dengan notebook di tangan dan Elang mengikuti dengan langkah tenang.

"Lo pagi banget!" Bima menepuk bahunya. "Gue aja yang biasanya paling pagi kalah sama lo hari ini."

"Gue gak bisa tidur," Azril mengaku.

"Grogi?"

Azril mengangguk. "Catur mulai jam sembilan, habis upacara."

"Tenang aja." Bima merangkul bahunya. "Lo kan jago. Dulu sering main sama almarhum ayah lo kan? Pasti menang."

Azril tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ia berharap Bima benar.

Faris menulis sesuatu di notebook-nya, lalu menunjukkannya pada Azril:

[Balap karungku jam setengah sepuluh. Doakan ya.]

Azril membaca, lalu tersenyum. "Lo juga, Ris. Semangat."

Elang yang berdiri di samping Faris menambahkan, "Futsal mulai jam sebelas. Lo berdua nonton?"

"Pasti!" Bima menjawab cepat. "Lo harus liat gue bikin gol. Harus!"

"Sombong," Elang berkomentar datar.

"Itu bukan sombong, tapi percaya diri!"

Faris menulis lagi:

[Bima memang sombong. Tapi dia jago kok.]

Bima membaca, lalu tertawa keras. "Nah, ada yang dukung gue! Makasih, Ris!"

...~•~•~•~...

Upacara berlangsung khidmat. Seluruh siswa berbaris rapi di lapangan, seragam putih abu-abu berpadu dengan langit biru. Kepala Sekolah—ayah Marcel—berdiri di podium, membacakan pidato tentang semangat kemerdekaan, perjuangan pahlawan, dan pentingnya mengisi kemerdekaan dengan prestasi.

Azril berdiri di barisan kelas XII IPS 2. Di sampingnya, Bima sesekali menguap tapi berusaha menahan diri. Faris di depan mereka, tubuhnya sedikit kaku—upacara dengan banyak orang selalu menjadi tantangan tersendiri baginya. Elang di paling pinggir, tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya entah ke mana.

"…dan semoga di hari yang bersejarah ini, kita semua bisa memaknai kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka!"

"MERDEKA!" Serempak seluruh siswa menjawab.

Upacara selesai. Siswa-siswi mulai membubarkan diri, tapi tidak untuk pulang—hari ini baru saja dimulai.

...~•~•~•~...

Ruang OSIS disulap menjadi arena pertandingan catur. Tiga meja panjang berjajar, masing-masing dengan papan catur dan dua kursi berhadapan. Di sudut ruangan, papan skor besar menunjukkan bagan pertandingan sistem gugur. Enam belas peserta dari berbagai kelas sudah terdaftar, nama-nama mereka tertulis rapi di karton putih.

Azril duduk di kursi tunggu bersama peserta lain. Namanya ada di bagan: "AZRIL ERLANGGA (XII IPS 2)" terpampang di kotak keempat dari atas. Ia akan bertanding di putaran pertama melawan peserta dari kelas XI IPA 3.

Tangannya sedikit dingin. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, berusaha menghangatkan sekaligus menenangkan diri. Matanya mengamati meja-meja pertandingan yang sudah dimulai.

Di meja satu, seorang peserta dari XII IPA 1 sedang bertanding melawan peserta X BAHASA. Yang lebih tua mendominasi—setiap langkah dipikirkan matang, sementara yang muda terlihat gugup dan beberapa kali melakukan kesalahan. Azril memperhatikan baik-baik. Pembukaan Ruy Lopez. Klasik tapi efektif. Hitam bertahan dengan baik di awal, tapi mulai kehilangan fokus di langkah ke-15. Putih memanfaatkan kelemahan di sayap menteri. Skak mat di langkah ke-24.

Azril mencatat dalam kepalanya: Jangan buru-buru. Jangan panik. Lawan yang lebih tua biasanya lebih sabar.

Di meja dua, pertandingan berlangsung lebih sengit. Dua peserta dari kelas XI saling berhadapan, keduanya tampak serius. Yang satu memakai pembukaan Queen's Gambit, tapi lawannya menolak dan bermain aman. Posisi hampir seimbang, tapi Azril melihat satu celah—jika yang bermain hitam berani mengorbankan gajahnya, ia bisa mendapatkan posisi menyerang yang menguntungkan. Tapi peserta itu tidak melihatnya. Ia memilih langkah aman. Pertandingan berakhir remis setelah 40 langkah.

Kadang agresif itu perlu, Azril merenung. Tapi harus di saat yang tepat.

Di meja tiga, terjadi sesuatu yang menarik. Seorang peserta dari X IPS 1—anak baru seperti dirinya dulu—bermain dengan gaya yang tidak biasa. Ia tidak mengikuti pembukaan standar. Ia mendorong pion-pionnya dengan agresif sejak awal, mengorbankan satu kuda untuk membuka pertahanan lawan. Peserta lawannya—dari XII IPA 2—terlihat bingung. Ia terbiasa dengan pola-pola baku, dan gaya kacau ini membuatnya tidak nyaman.

Azril memperhatikan dengan saksama. Menarik. Dia main chaos. Bikin lawan gak nyaman. Tapi... Ia melihat kelemahannya. Pertahanannya rapuh. Kalo lawannya bisa bertahan dan balik menyerang, dia bisa kalah.

Benar saja. Di langkah ke-18, peserta XII IPA 2 mulai menemukan ritmenya. Ia mengabaikan gangguan-gangguan kecil dan fokus pada serangan balik. Dua langkah kemudian, raja si anak baru terpojok. Skak mat.

Chaos bisa jadi senjata. Tapi gak bisa diandalkan sepanjang pertandingan.

"Azril Erlangga! Meja satu!"

Azril tersentak. Gilirannya.

Ia berjalan ke meja satu, jantungnya berdebar lebih kencang. Lawannya sudah duduk—seorang cowok berkacamata dari XI IPA 3. Wajahnya tenang, posturnya tegak, dan caranya menyusun ulang bidak-bidak catur menunjukkan bahwa ia bukan pemain amatir.

"Rudi," katanya singkat, memperkenalkan diri.

"Azril."

Mereka bersalaman singkat. Wasit—seorang guru matematika yang juga pembina ekskul catur—duduk di samping meja dengan stopwatch dan lembar catatan.

"Putih jalan duluan. Waktu masing-masing 25 menit. Silakan."

Azril memegang bidak putih. Pion di depan raja ia dorong dua langkah. E4. Pembukaan klasik.

Rudi merespons cepat. E5.

Dia tipikal pemain standar. Ikutin pola baku.

Azril melanjutkan dengan Kuda ke F3. Rudi membalas dengan Kuda ke C6. Gajah ke B5. Ruy Lopez.

Beberapa langkah pertama berjalan cepat, hampir tanpa berpikir. Keduanya hafal pembukaan ini seperti hafal jalan pulang. Tapi setelah langkah ke-10, ritme mulai melambat. Rudi mulai berpikir lebih lama. Azril juga.

Di langkah ke-15, Azril menyadari sesuatu. Dia lebih kuat dari yang gue kira. Rudi tidak membuat kesalahan. Setiap langkahnya presisi, pertahanannya rapat, dan ia perlahan mulai mengambil alih inisiatif.

Langkah ke-18. Rudi mendorong pion ke D4, mengancam pusat. Azril mundurkan kudanya.

Langkah ke-21. Rudi memindahkan menterinya ke sayap raja. Ancaman mulai terasa.

Langkah ke-24. Azril terpojok. Gajahnya terperangkap. Kudanya tidak bisa bergerak bebas. Bentengnya masih di sudut, belum sempat ia kembangkan. Sementara Rudi sudah menguasai pusat papan dan mulai melancarkan serangan ke sayap raja.

Gue kalah, pikir Azril. Tangannya mulai gemetar.

Sementara itu, di lapangan depan, lomba balap karung baru saja dimulai.

Faris berdiri di garis start, kakinya sudah masuk ke dalam karung goni berwarna cokelat. Di kanan dan kirinya, peserta lain juga sudah siap. Penonton berjajar di sepanjang lintasan, berteriak-teriak memberi semangat.

Jantung Faris berdebar keras. Sangat keras. Tangannya yang memegang ujung karung gemetar. Keringat mulai mengucur dari dahinya, meskipun matahari belum terlalu tinggi.

Gue bisa. Gue bisa. Gue cuma perlu lompat. Lompat aja.

Di antara kerumunan penonton, ia melihat Aini berdiri di pinggir lintasan. Ketua OSIS itu tersenyum dan mengacungkan jempol ke arahnya. Faris menunduk cepat, tapi di dalam hatinya, ia merasa sedikit lebih tenang.

"BERSEDIA!"

Faris menegakkan tubuhnya. Matanya fokus ke depan, ke garis finish yang terasa sangat jauh.

"YA!"

Dorongan adrenalin membuat Faris melompat. Satu. Dua. Tiga. Karung itu membatasi langkahnya, tapi ia terus maju. Salah satu peserta sudah memimpin jauh di depan. Sedangkan dua peserta lain hampir sejajar dengannya.

Lompat. Lompat. Lompat.

Penonton bersorak. Suara-suara itu bercampur jadi satu, tapi Faris berusaha tidak mendengarkan. Ia hanya fokus pada Sinta yang menunggu di depannya. Dia harus menepuk tangan Sinta untuk melanjutkan perlombaan.

Lima meter lagi.

Empat.

Tiga.

Dua—

Kaki kanannya tersangkut lipatan karung. Keseimbangannya hilang. Faris terjatuh ke depan, tubuhnya membentur tanah dengan keras. Debu beterbangan. Lututnya terasa perih.

"FARIS!"

Santi yang ada di dekatnya berteriak. Tapi ia tidak bisa berhenti—peraturan lomba mengharuskannya tetap diam sampai tangannya ditepuk Faris. Dia melihat peserta lain sudah bergerak maju, tapi dia tidak bisa memaksa Faris untuk cepat bergerak.

Faris mendorong tubuhnya bangkit. Tangannya gemetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca—bukan karena sakit, tapi karena malu. Gue gagal. Gue jatuh di depan semua orang. Gue mempermalukan diri sendiri.

Ia mencoba melanjutkan. Lompatan berikutnya goyah. Lompatan berikutnya hampir jatuh lagi. Akhirnya ia menepuk tangan Santi untuk melanjutkan perlombaan.

Penonton bersorak, tapi bukan untuknya. Sorakan itu untuk peserta lain yang finish pertama. Faris berdiri di ujung lintasan, napasnya tersengal, lututnya berdarah sedikit, dan air matanya akhirnya jatuh.

"Ris!"

Santi, Andi, dan Lia menghampirinya. Wajah mereka tidak menunjukkan kekecewaan. Justru sebaliknya.

"Lo gapapa, Ris? Jatuhnya keras banget tadi." Santi memeriksa lutut Faris.

"Lo udah keren banget bisa sampe sejauh itu," Andi menambahkan. "Gue aja hampir jatuh tadi."

Lia mengangguk setuju. "Iya, Ris. Jangan dibawa perasaan. Yang penting lo udah berani ikut. Itu aja udah hebat banget."

Faris menatap mereka. Timnya. Orang-orang yang baru beberapa jam lalu ia kenal sebagai teman satu lomba, tapi sekarang menyemangatinya seperti sahabat lama.

Ia membuka notebook-nya dengan tangan gemetar. Menulis, lalu menunjukkan:

[Maaf. Gue gagal.]

Santi membaca, lalu mendengus. "Gagal apanya? Lo gak gagal. Lo berhasil finish. Itu udah menang."

Andi menimpali, "Balap karung tuh emang soal keseimbangan. Semua orang bisa jatuh. Tahun lalu gue juga jatuh pas lomba. Malu? Iya. Tapi ya udah, bangkit lagi."

Faris menatap mereka bergantian. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini bukan hanya karena malu. Ada sesuatu yang hangat di dadanya.

Ia menulis lagi:

[Makasih.]

Lia tersenyum. "Sama-sama, Ris. Yuk, kita ke UKS dulu. Lutut lo harus diobati."

Mereka berempat berjalan meninggalkan lapangan. Faris masih sedikit pincang, lututnya perih, dan rasa malunya belum sepenuhnya hilang. Tapi ia tidak lagi merasa ingin menghilang.

Gue jatuh, pikirnya. Tapi gue bangkit lagi. Dan mereka... mereka gak ninggalin gue.

Di lapangan futsal, pertandingan pertama XII IPS 2 baru saja dimulai.

Lawan mereka adalah XII IPA 1—tim yang dikenal solid dengan pertahanan rapat dan serangan balik cepat. Tapi XII IPS 2 punya sesuatu yang tidak dimiliki tim lain: Bima, Elang, dan Marcel dalam satu tim.

Atau mungkin itu justru masalahnya.

Babak pertama berjalan tujuh menit. Skor masih 0-0. Bima sebagai striker sudah dua kali dapat peluang, tapi tendangannya melebar. Elang sebagai bek tengah bermain tenang, memotong beberapa serangan lawan dengan tackling bersih. Marcel... Marcel bermain sebagai gelandang, posisi yang memberinya banyak kesempatan untuk menguasai bola.

"Oper, Cel!" Bima berteriak, berdiri bebas di depan gawang.

Marcel melihat Bima. Ia juga melihat Elang yang maju membantu serangan. Bola di kakinya. Ia bisa mengoper ke Bima. Atau ke Elang. Atau—

Ia malah menggiring bola sendiri, melewati satu pemain lawan, lalu tendangannya membentur tiang gawang.

"OPER BOLA, CEL!" Bima berteriak lagi, kali ini dengan nada lebih tinggi.

Marcel menoleh, senyum sinisnya terpasang. "Gue bisa sendiri."

"Tapi gue lebih bebas! Lo cuma egois!"

Marcel berjalan mendekat, wajahnya mengeras. "Lo bilang gue egois? Lo yang dari tadi cuma lari-lari kayak ayam kehilangan induk!"

"MARCEL!"

Elang tiba-tiba sudah berdiri di antara mereka. Tangannya terentang, menahan dada Bima yang sudah maju selangkah.

"Cukup," katanya datar. "Kita satu tim. Jangan bikin keributan."

"Tapi dia—"

"Cukup, Bim." Elang menatap Bima, lalu menoleh ke Marcel. "Lo juga. Oper bola kalo ada yang lebih bebas. Kita mau menang atau mau pamer skill sendiri-sendiri?"

Marcel mendengus. "Bacot lo, Lang. Lo kira lo siapa? Kapten?"

"Bukan. Tapi gue gak mau kelas kita kalah cuma gara-gara kita gak bisa kerja sama."

Galih, Akbar, dan pemain lain mulai mendekat, melerai. Wasit meniup peluit, memberi peringatan karena keributan ini memperlambat pertandingan.

"Udah, udah. Kita lanjut. Fokus." Galih menepuk pundak Bima dan Marcel bergantian.

Pertandingan dilanjutkan. Suasana masih tegang, tapi perlahan membaik. Marcel mulai mengoper bola—meskipun dengan enggan. Bima mendapat satu peluang lagi, kali ini dari umpan Elang, tapi kiper lawan berhasil menepis.

Babak pertama berakhir 0-0.

Di pinggir lapangan, saat istirahat, Bima duduk di bangku dengan wajah kesal. Elang duduk di sampingnya, membuka botol minum.

"Lo tenang aja," Elang berkata tanpa menoleh. "Marcel emang begitu. Tapi dia bisa main. Lo liat sendiri tadi."

"Gue tau dia bisa. Tapi dia gak mau kerja sama."

"Dia belum terbiasa. Lo lupa? Dia biasa main sendiri. Gengnya cuma jadi penonton."

Bima terdiam. Ia ingat bagaimana Marcel selalu dikelilingi anak buahnya, tapi tidak pernah benar-benar bekerja sama dengan siapa pun. Mungkin Elang benar. Mungkin Marcel tidak tahu caranya menjadi bagian dari tim.

"Babak kedua," Elang melanjutkan, "lo tetap buka ruang. Gue yang kasih umpan ke lo. Kalo Marcel pegang bola, lo jangan cuma teriak minta oper. Lo deketin dia."

Bima menatap Elang. "Lo serius?"

"Serius. Dia butuh ngerasa dihargai. Kalo lo teriak-teriak, dia makin gak mau oper."

Bima menghela napas panjang. "Oke. Gue coba."

Babak kedua dimulai.

Di ruang OSIS, Azril masih terpojok.

Langkah ke-26. Rudi baru saja memindahkan menterinya ke H4, mengancam skak mat dalam dua langkah. Azril menatap papan dengan frustrasi. Posisinya buruk. Sangat buruk. Gajahnya mati. Kudanya terkunci. Bentengnya belum bergerak dari sudut.

Gue kalah.

Tapi kemudian ia ingat pertandingan di meja tiga tadi. Anak baru yang main chaos. Ia kalah, ya. Tapi sebelum kalah, ia sempat membuat lawannya yang lebih senior kebingungan.

Chaos.

Azril menatap papan lagi. Kali ini ia tidak mencari langkah aman. Ia mencari sesuatu yang tidak terduga.

Langkah 27. Ia memindahkan kudanya ke F7. Langkah yang aneh. Kudanya sekarang menggantung, tidak mengancam apa pun. Rudi mengernyit, lalu melanjutkan serangannya.

Langkah 28. Azril mendorong pion di sayap menteri. Dua langkah. Sepertinya tidak berbahaya.

Rudi masih fokus pada serangannya ke raja Azril. Ia memajukan menterinya.

Langkah 29. Azril memindahkan bentengnya—yang sejak awal tidak bergerak—ke D1.

Rudi berhenti. Ia menatap papan lebih lama kali ini.

Azril melihatnya. Dia mulai ragu.

Langkah 30. Rudi memilih melanjutkan serangan. Ia pikir ia masih unggul.

Langkah 31. Azril mengorbankan gajahnya yang tersisa. Gajah dimakan pion.

Rudi mengambilnya tanpa berpikir panjang.

Dan saat itulah celah itu terbuka.

Azril melihatnya. Sebuah jalan sempit di antara bidak-bidak hitam. Kudanya yang tadi diletakkan di F7—langkah aneh yang tidak dimengerti siapa pun—sekarang berada di posisi sempurna. Bentengnya di D1 mengancam menteri Rudi. Pionnya yang maju dua langkah siap menjadi menteri baru.

Langkah 32. Azril memindahkan kudanya ke G5. Skak.

Rudi terkejut. Ia tidak melihat ini datang. Ia memindahkan rajanya ke H8—satu-satunya langkah aman.

Langkah 33. Azril memajukan pionnya. Satu langkah lagi jadi menteri.

Rudi menatap papan. Wajahnya berubah. Ia melihatnya sekarang. Ia bisa mencegah pion itu, tapi ia harus mengorbankan bentengnya. Jika ia tidak mencegah, Azril akan punya menteri baru dan posisinya berbalik unggul.

Rudi berpikir lama. Sangat lama. Wasit memperingatkan waktunya tinggal tiga menit.

Akhirnya, Rudi menghela napas. Ia menjatuhkan rajanya ke samping—tanda menyerah.

"Gue kalah," katanya pelan.

Azril terdiam. Ia menatap papan, tidak percaya. Gue menang?

Wasit mencatat hasil pertandingan. "Azril Erlangga menang. Melaju ke putaran kedua."

Azril masih duduk di kursinya. Tangannya yang tadi gemetar sekarang terasa ringan. Jantungnya masih berdebar, tapi kali ini karena sesuatu yang berbeda.

Gue menang.

Ia teringat ayahnya. Dulu, di ruang tamu rumah mereka yang sempit, ayahnya mengajarinya bermain catur. "Catur itu bukan cuma soal nyerang, Zril. Kadang lo harus mundur, kadang lo harus sabar, kadang lo harus ngelakuin langkah yang gak dimengerti orang lain. Tapi kalo lo yakin, terus maju."

Azril menggenggam pion putih di tangannya. Pion yang hampir menjadi menteri.

Gue maju, Yah. Pelan-pelan. Tapi gue maju.

Di lapangan futsal, babak kedua menyisakan tiga menit terakhir. Skor masih 0-0.

Bima berlari di sayap kiri. Elang menguasai bola di tengah, matanya mencari celah. Marcel berdiri di depan kotak penalti, dikawal dua pemain lawan.

Elang ingat kata-katanya sendiri. Kalo Marcel pegang bola, lo jangan cuma teriak minta oper. Lo deketin dia.

Tapi kali ini, Elang tidak mengoper ke Marcel. Ia melihat Bima yang berlari bebas di kiri. Dengan satu tendangan melambung, ia mengirim bola ke arah Bima.

Bima menerima bola dengan dada. Satu pemain lawan mendekat. Bima mengecohnya dengan gerakan tipu, lalu menggiring bola mendekati kotak penalti.

"MARCEL!"

Bima berteriak. Marcel menoleh. Untuk pertama kalinya dalam pertandingan ini, Bima tidak berteriak dengan nada kesal. Ia berteriak seperti rekan satu tim.

Dan Marcel, entah kenapa, bergerak.

Bima mengoper bola ke Marcel. Marcel menerimanya, dikepung dua pemain. Ia bisa menendang sendiri—sudut tembaknya sempit, tapi mungkin bisa. Tapi ia melihat sesuatu. Bima sudah berlari masuk ke kotak penalti, melewati bek lawan yang lengah.

Marcel ragu sepersekian detik. Lalu ia mengoper.

Bola meluncur ke arah Bima. Bima menyambutnya dengan kaki kanan. Kiper lawan bergerak, tapi terlambat. Bola bersarang di sudut kiri gawang.

GOL.

Sorakan penonton meledak. Bima berlari ke arah Marcel, wajahnya penuh keringat dan senyum lebar.

"OPERAN LO GILA, CEL!"

Marcel terdiam. Ia tidak terbiasa dipuji. Apalagi oleh Bima.

"Gue cuma ngoper," katanya datar, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

Elang mendekat, menepuk pundak mereka berdua. "Kerja sama yang bagus."

Pertandingan berakhir 1-0 untuk XII IPS 2.

Di bangku penonton, Faris yang sudah kembali dari UKS—dengan plester di lututnya—menulis sesuatu di notebook:

[Mereka bertiga keren.]

Ia menunjukkan tulisannya pada Aini yang duduk di sampingnya. Aini membaca, lalu tersenyum.

"Iya. Mereka bertiga... mungkin bisa jadi tim yang bagus."

Faris menambahkan:

[Kakak lo juga keren.]

Aini menatap Elang yang sedang berjalan keluar lapangan. Kakaknya itu tidak tersenyum lebar seperti Bima, tapi ada sesuatu di wajahnya yang berbeda. Lebih ringan. Lebih hidup.

"Iya," Aini berkata pelan. "Kakakku... udah berubah."

Sore harinya, keempat sahabat itu berkumpul di bangku kantin yang sama. Bima masih bersemangat menceritakan golnya untuk kelima kalinya. Elang mendengarkan dengan ekspresi datar, tapi tidak menyuruhnya diam. Faris sesekali menulis komentar lucu di notebook-nya. Dan Azril... Azril duduk di antara mereka, pion catur putih masih digenggam di tangannya.

"Lo menang, Zril?" Bima akhirnya bertanya.

Azril mengangguk. "Putaran pertama."

"YES! GUE BILANG JUGA APA! LO MEMANG JAGO!"

"Suara lo, Bim..." Elang mengingatkan.

"Eh iya, sorry."

Faris menulis:

[Selamat, Zril. Gue tadi jatuh pas balap karung. Tapi timku baik. Mereka gak marah.]

Azril membaca, lalu tersenyum. "Lo jatuh? Gapapa, Ris. Yang penting lo udah berani ikut. Itu aja udah hebat."

Faris menunduk, tapi kali ini ia tidak menyembunyikan senyumnya.

Bima menyandarkan punggungnya ke dinding. "Hari ini... lumayan lah. Gue bikin gol. Azril menang catur. Faris berani ikut lomba. Elang jadi pahlawan di lapangan."

"Gue bukan pahlawan," Elang memotong.

"Terserah lo. Yang penting kita semua... seneng."

Mereka berempat terdiam. Di luar, suara persiapan panggung untuk pertunjukan seni malam mulai terdengar. Soundcheck, musik, dan tawa panitia.

Azril menatap telapak tangannya. Hari ini hari kita, pikirnya. Bukan hari yang sempurna. Tapi hari yang... bahagia.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mempertanyakan apa itu bahagia. Ia hanya merasakannya.

...~•~•~•~...

Malam tiba. Panggung pertunjukan seni bersinar terang dengan lampu warna-warni. Siswa-siswi berkumpul di lapangan, duduk di atas rumput, menunggu pertunjukan dimulai.

Azril, Bima, Faris, dan Elang duduk berdekatan di bagian belakang. Aini bergabung dengan mereka setelah selesai mengurus urusan OSIS.

"Kak, tadi mainnya bagus," Aini berbisik pada Elang.

Elang hanya mengangguk.

Di atas panggung, band sekolah mulai membawakan lagu pertama. Suara gitar mengalun, dan vokalis mulai bernyanyi.

Azril menatap panggung. Besok, pikirnya. Besok gue mulai latihan pidato. Hari ini gue menang catur. Besok gue harus menang lagi.

Tapi untuk malam ini, ia membiarkan dirinya hanya duduk di sana. Dikelilingi teman-temannya. Mendengarkan musik. Merasakan angin malam.

Bima menyenggol lengannya. "Zril, lo liat bintang gak? Terang banget malam ini."

Azril mendongak. Di atas mereka, langit bertabur bintang. Jauh dari polusi kota, bintang-bintang itu bersinar lebih terang dari biasanya.

"Iya," katanya pelan. "Terang banget."

Dan di bawah bintang-bintang itu, di malam Hari Kemerdekaan, mereka berempat duduk bersama. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi untuk malam ini, mereka hanya perlu menjadi diri mereka sendiri.

Merdeka.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!