Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8:Membantu Nona Wei
Malam itu, Kota Qīngchú diselimuti kabut yang lebih dingin dari biasanya. Di lantai atas Penginapan Teratai Sunyi, Chen Lin duduk bersila, membiarkan energi Blood Purification Tingkat 8 miliknya mengalir seperti air yang tenang.
Namun, ketenangan itu terusik ketika aroma harum bunga plum putih aroma yang sama dengan tandu tadi sore mulai merayap masuk melalui celah pintu kayu yang sudah lapuk.
"Dia datang lebih cepat dari yang kuduga," bisik Lin XingYu di dalam kesadaran Chen Lin. Suaranya mengandung nada kepuasan yang samar.
"Dia tidak hanya putus asa, dia juga cukup cerdas untuk menyadari bahwa kau adalah satu-satunya pelita di tengah kegelapan takdirnya."
Ketukan pelan terdengar di pintu. Tidak ada paksaan, hanya keraguan yang mendalam. Chen Lin membuka matanya, kilatan perak meredup seiring ia menarik kembali auranya.
"Masuklah, Nona Wei. Pintu ini tidak terkunci untuk seseorang yang sedang mencari waktu," ucap Chen Lin datar.
Pintu terbuka, menampakkan sosok Wei Lan yang kini mengenakan jubah perjalanan sederhana namun tetap gagal menyembunyikan keanggunannya.
Ia datang sendirian, tanpa pengawal, menunjukkan betapa mendesaknya rahasia yang ia bawa. Ia menatap pemuda di depannya seorang pemuda yang tampak biasa saja, namun memiliki mata yang seolah-olah telah melihat ribuan tahun sejarah.
Wei Lan tidak langsung bicara. Ia mengamati ruangan kecil yang berantakan itu, lalu matanya terpaku pada Chen Lin.
"Bagaimana kau bisa tahu?" suaranya bergetar, "Bagaimana kau bisa tahu tentang hambatan di meridianku yang bahkan alkemis tingkat tinggi klan kami anggap sebagai kelelahan spiritual biasa?"
Chen Lin menuangkan sisa teh dingin ke dalam cangkir, gerakannya sangat santai.
"Dunia ini luas, Nona Wei. Apa yang kau sebut penyakit, bagi orang yang memiliki mata yang tepat, adalah sebuah 'Rantai Langit'. Bakatmu adalah api, namun tubuhmu adalah penjara es. Semakin tinggi kau berlatih, semakin kuat rantai itu menjerat jantungmu."
Wei Lan jatuh berlutut, bukan karena dipaksa, melainkan karena beratnya beban harapan yang tiba-tiba runtuh. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari ia akan meledak dari dalam karena energinya sendiri.
"Dapatkah kau... menyembuhkannya?" tanyanya dengan suara lirih. "Jika kau bisa melihat akarnya, apakah kau bisa mencabutnya?"
Chen Lin menatapnya dalam diam selama beberapa saat. Tekanan di ruangan itu meningkat, membuat uap air di udara membeku menjadi butiran halus.
"Aku bisa," jawab Chen Lin singkat. "Tapi kesembuhanmu bukan sesuatu yang bisa kau beli dengan koin emas. Aku punya syarat, dan syaratku akan mengubah hidupmu selamanya."
Wei Lan mendongak, matanya yang indah kini dipenuhi tekad yang membara.
"Sebutkan. Selama itu tidak menghancurkan klan Wei, aku akan memenuhinya."
Chen Lin berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah distrik yang dikuasai Klan Feng.
"Pertama, aku butuh tempat tinggal yang aman. Klan Feng sedang memburuku, dan meskipun aku tidak takut pada mereka, gangguan mereka hanya akan memperlambat proses pengobatanmu. Aku ingin sebuah kediaman rahasia di dalam wilayah klan Wei yang tidak bisa ditembus oleh indra spiritual luar."
Wei Lan mengangguk cepat. "Itu mudah. Aku memiliki vila pribadi di kaki Gunung Giok Hijau. Bahkan tetua klan kami tidak bisa masuk tanpa izin dariku."
"Kedua," lanjut Chen Lin, suaranya memberat.
"Rahasiakan identitas dan keberadaanku. Di mata dunia, aku harus tetap menjadi pemuda desa bernama Chen Lin yang tidak signifikan. Jangan pernah memberitahukan siapa aku atau apa yang kulakukan padamu kepada siapa pun, termasuk ayahmu, tanpa izin langsung dariku. Jika rahasia ini bocor, pengobatanmu akan terhenti, dan saat itu terjadi, 'Rantai Langit' akan membunuhmu dalam tiga hari."
Wei Lan menelan ludah. Syarat ini berat, karena itu berarti ia harus membohongi klannya sendiri. Namun, ia melihat tidak ada pilihan lain. "Aku setuju."
"Dan ketiga..." Chen Lin berbalik, menatap langsung ke dalam mata Wei Lan dengan intensitas yang sanggup menggetarkan jiwa.
"Aku tidak hanya ingin menyembuhkanmu. Aku ingin kesetiaanmu. Setelah kau sembuh, kau bukan lagi sekadar Nona Pertama Klan Wei. Kau akan menjadi tangan kananku. Kau akan menjadi perpanjangan tanganku di dunia ini, melakukan apa yang kuperintahkan, pergi ke mana aku menyuruhmu. Kau akan menjadi bagian dari takdir yang jauh lebih besar dari sekadar Kota Qīngchú."
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Wei Lan terpaku. Syarat ketiga ini bukanlah transaksi, ini adalah penyerahan diri.
Menjadi tangan kanan berarti menyerahkan kebebasannya kepada seorang pemuda yang baru ia temui beberapa jam yang lalu. Pikirannya bergejolak, menimbang antara martabat sebagai jenius klan dan keinginannya untuk hidup dan mencapai puncak kultivasi.
Lin XingYu berbisik di telinga Chen Lin, "Biarkan dia berfikir. Wanita cerdas seperti dia tahu bahwa menjadi pelayan seorang Dewi adalah kehormatan yang tak terbayangkan bagi manusia fana."
Menit demi menit berlalu. Wei Lan menatap tangannya yang sedikit gemetar. Ia membayangkan masa depannya jika ia menolak kematian yang menyakitkan sebelum usia tiga puluh, atau hidup sebagai cacat yang tak berguna.
Lalu ia menatap Chen Lin, yang berdiri di sana dengan aura yang begitu stabil.
Akhirnya, Wei Lan menarik napas panjang. Ia bersujud rendah, dahi menyentuh lantai kayu yang dingin.
"Aku, Wei Lan, bersumpah atas nama jiwaku. Jika kau menyembuhkanku, hidupku adalah milikmu. Aku akan menjadi tangan kananmu, pedangmu, dan perisaimu. Selama kau tidak mengkhianati kepercayaanku, aku tidak akan pernah meninggalkan sisimu."
Chen Lin tersenyum tipis senyum pertama yang tulus sejak ia menginjakkan kaki di kota ini.
"Pilihan yang bijak, Wei Lan. Bangunlah. Mulai besok, kita pindah ke vilamu. Kita akan memulai persiapan untuk menghancurkan rantai itu."
Setelah Wei Lan pergi untuk menyiapkan kepindahan rahasia tersebut, Chen Lin kembali duduk di tepi tempat tidur. Perasaannya campur aduk. Ia baru saja mendapatkan pion terkuat di Kota Qīngchú, namun ia tahu perjalanan masih sangat panjang.
"Bagus sekali, Chen Lin," Lin XingYu muncul dalam bentuk proyeksi yang lebih jelas, duduk di sampingnya.
"Dengan akses ke sumber daya Klan Wei, kita bisa mendapatkan bahan-bahan untuk Marrow Purification tanpa harus memburu monster setiap hari. Tapi jangan terburu-buru. Ranahmu saat ini masih di tingkat 8. Kau harus memadatkan setiap tetes darahmu hingga menjadi perak murni sebelum menyentuh sumsum tulangmu."
Chen Lin mengangguk. Ia teringat akan peringatanmu tentang tempo kultivasi.
"Aku tidak akan terburu-buru, Senior. Daratan utama ini sangat luas. Jika aku naik terlalu cepat tanpa fondasi yang sempurna, aku hanya akan menjadi gedung tinggi yang pondasinya retak."
"Benar," sambung Lin XingYu. "Ranah Blood Purification ini adalah akar. Setelah ini ada Marrow Purification, lalu , baru kemudian Pure Essence, True Essence ,Birth of Soul. Dan setelah itu... masih ada puluhan ranah yang jauh lebih Tinggi dan kuat di Alam Atas. Kita akan melaluinya selangkah demi selangkah. Kota Qīngchú hanyalah awal langkah kecil di bawah kakimu."
Chen Lin menatap ke luar jendela, melihat bayang-bayang penjaga Klan Fang yang mulai berpatroli di kejauhan.
Mereka mencarinya, namun mereka tidak tahu bahwa target mereka kini telah berada di bawah perlindungan klan terkuat kedua di kota itu, dan sedang bersiap untuk melakukan transformasi yang akan mengguncang seluruh tatanan klan.
"Marrow Purification..." gumam Chen Lin. "Aku akan menikmatinya. Setiap inci rasa sakit, setiap tetes energi. Aku akan memastikan bahwa saat aku mencapai ranah selanjutnya, tidak ada seorang pun di kota ini yang sanggup berdiri tegak di hadapanku."
Malam semakin larut, dan di bawah rembulan yang mulai memucat, aliansi rahasia antara seorang Dewi yang menyamar dan seorang Nona yang terkutuk pun lahir.
Ini adalah akhir dari masa persembunyian, dan awal dari permainan kekuasaan yang sesungguhnya di Kota Qīngchú.
Fajar di Kota Qīngchú menyingsing dengan warna kemerahan yang seolah meramalkan pertumpahan darah, namun di lereng Gunung Giok Hijau, kabut tebal menyelimuti sebuah vila yang tersembunyi di balik barisan bambu hitam.
Vila Teratai Putih, kediaman rahasia Wei Lan, kini telah berubah menjadi sebuah benteng es yang tak kasat mata.
Di dalam ruang meditasi bawah tanah yang dialasi dengan batu giok pendingin, suasana terasa begitu menyesakkan hingga setiap helai napas yang keluar berubah menjadi butiran salju halus.
Chen Lin berdiri di tengah ruangan, jubah abu-abunya kini telah berganti dengan pakaian latihan hitam yang pas di tubuh, menonjolkan postur raga yang semakin tegap dan padat.
Di hadapannya, Wei Lan duduk bersila dengan tubuh yang bergetar hebat. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, namun sebelum menyentuh lantai, keringat itu telah membeku menjadi kristal-kristal bening.
"Waktunya telah tiba, Chen Lin," suara Lin XingYu bergema, lebih tajam dari biasanya.
"Rantai Langit di dalam dirinya telah mencapai titik didih. Jika kau tidak mematahkannya sekarang, jiwanya akan terkoyak. Gunakan energi tingkat 8 mu sebagai penuntun."
Chen Lin melangkah maju, tangannya perlahan terulur ke arah punggung Wei Lan.
Begitu telapak tangannya menyentuh kulit tipis di balik gaun sutra Nona Wei, sebuah gelombang panas yang dahsyat mencoba menolak energinya.
Itu adalah energi Yin yang terkontaminasi api yang terperangkap dalam es.
"Jangan menolak, Wei Lan," bisik Chen Lin, suaranya membawa otoritas yang menenangkan namun tak terbantahkan.
"Biarkan energi-ku masuk. Rasa sakit ini akan menjadi harga dari kebebasanmu."
Chen Lin memejamkan mata. Ia memicu Teknik Pembeku Spiritual pada tingkat yang belum pernah ia coba sebelumnya.
Darah peraknya di tingkat 8 bergejolak, memompa esensi dingin murni ke dalam meridian Wei Lan. Di mata batin Chen Lin, ia bisa melihat sembilan rantai berwarna hitam kemerahan yang melilit jantung spiritual Wei Lan.
Rantai-rantai itu berdenyut, mengisap vitalitas sang gadis setiap kali ia mencoba berlatih.
Dengan kendali energi yang sangat halus, Chen Lin mulai menyerang rantai pertama.
Krakk!
Wei Lan bersuara kecil, darah segar keluar dari sudut bibirnya yang lembut. Rasa sakitnya seperti disiram logam cair di dalam pembuluh darah.
Namun, Chen Lin tidak berhenti. Ia adalah seorang dokter bedah spiritual yang kejam, ia tahu bahwa belas kasihan saat ini hanya akan membunuh pasiennya.
Satu per satu, rantai itu retak. Ruangan tersebut berguncang hebat. Di luar vila, burung-burung terbang menjauh karena merasakan aura kematian yang meluap dari bawah tanah.
Namun, di tengah proses yang sangat kritis itu, Lian Yue yang berjaga di atap vila mengeluarkan pekikan rendah yang hanya bisa didengar oleh Chen Lin.
"Ada tiga lalat dari Klan Feng di luar," Lin XingYu memperingatkan.
"Mereka adalah pemburu bayaran tingkat tinggi. Niat membunuh mereka sangat tajam. Sepertinya mereka telah melacak aroma Energi Spiritual es-mu hingga ke sini."
Chen Lin tidak bisa bergerak. Jika ia melepaskan tangannya sekarang, Wei Lan akan hancur. Namun, jika ia membiarkan para pembunuh itu masuk, mereka berdua akan tamat.
"Lian Yue, hambat mereka. Jangan biarkan satu pun masuk ke dalam radius sepuluh meter dari ruangan ini," perintah Chen Lin dalam hati.
Di luar, tiga sosok berpakaian hitam mendarat di antara barisan bambu. Pemimpin mereka, seorang pria bermata satu di Blood Purification Tingkat 9, mencibir saat melihat uap dingin yang merembes dari tanah.
"Jadi di sini kau bersembunyi, Hantu Es. Matilah kau!"
Tepat saat mereka hendak menyerbu, seekor merak es raksasa memanifestasikan dirinya dari atas atap. Sayap Lian Yue terbentang luas, melepaskan badai jarum es yang sanggup menembus baja.
Pertempuran pecah di luar, suara denting logam dan ledakan energi memenuhi udara, namun di dalam ruang bawah tanah, Chen Lin tetap diam seperti patung, fokus total pada rantai terakhir di jantung Wei Lan.
"Rantai terakhir... hancur!"
Chen Lin memberikan sisa-disa energi terakhir yang paling masif. Suara ledakan tumpul terdengar dari dalam tubuh Wei Lan.
Seketika, penghambat yang selama belasan tahun mengurung bakatnya musnah. Energi Yin yang tadinya liar kini berbalik menjadi murni, mengalir deras ke seluruh meridiannya seperti bendungan yang jebol.
Wei Lan merasakan ledakan kekuatan yang tak terbayangkan. Tingkat 7 Blood Purification nya terlampaui dalam sekejap.
Tingkat 8... Tingkat 8 puncak...
Dan dengan bantuan sisa energi es Chen Lin yang masih tertinggal di tubuhnya, Wei Lan menerjang dinding pembatas terakhir.
Blood Purification Tingkat 9 Puncak.
Tubuhnya memancarkan cahaya perak yang menyilaukan. Kulitnya yang tadi pucat kini merona dengan vitalitas yang luar biasa.
Ia membuka matanya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan dunia dengan kejernihan yang sempurna. Segala rasa sakit, beban, dan ketakutan itu hilang, digantikan oleh kekuatan yang murni.
Di saat yang sama, Chen Lin menarik tangannya. Ia terhuyung sedikit, wajahnya tampak lelah karena telah menguras hampir seluruh Energi Spiritualnya untuk membersihkan tubuh Wei Lan. Ia duduk bersandar di dinding giok, napasnya berat namun tatapannya tetap tenang.
Wei Lan berdiri perlahan, merasakan kekuatan yang mengalir di ujung jarinya. Ia menatap tangannya, lalu menatap Chen Lin yang sedang terduduk lemah.
Di dalam hatinya, sebuah getaran yang jauh lebih kuat dari sekadar rasa syukur mulai tumbuh. Ia mendekati Chen Lin, berlutut di hadapannya.
"Kau... kau benar-benar melakukannya,"
bisiknya, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
"Kau memberikan hidupmu untuk menyembuhkanku."
"Aku hanya menepati janjiku, Wei Lan," jawab Chen Lin datar.
"Sekarang kau sudah sembuh. Kau adalah praktisi tingkat 9 puncak. Kau adalah senjata terkuat yang kumiliki saat ini."
Wei Lan menatap wajah Chen Lin yang setengah tertutup bayangan. Meskipun ia masih memanggilnya 'Chen Lin' dan menganggapnya sebagai pemuda desa berbakat, ada sesuatu dalam sosok ini yang membuatnya merasa kecil namun terlindungi.
Tindakan Chen Lin yang mempertaruhkan nyawa. Setidaknya dalam pandangan Wei Lan untuk membebaskannya dari kutukan, telah meruntuhkan pertahanan terakhir di hati sang Nona Wei.
Selama ini, Wei Lan didekati oleh banyak pria dari klan-klan besar, namun semuanya hanya menginginkan kecantikannya atau pengaruh Klan Wei.
Hanya pemuda di depannya ini yang memperlakukannya sebagai 'alat' namun memberinya kebebasan yang paling murni.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Chen Lin dengan lembut. Tindakan yang sangat tabu bagi seorang Nona klan besar, namun Wei Lan tidak peduli.
"Siapa kau sebenarnya, Chen Lin? Mengapa kau membantuku sampai sejauh ini?"
Chen Lin merasakan kehangatan dari jari Wei Lan, sebuah sensasi yang terasa asing bagi raga esnya. Ia menepis tangan itu perlahan, bukan dengan kasar, tapi dengan ketegasan seorang tuan.
"Jangan bertanya apa yang tidak perlu kau ketahui. Ingat janjimu. Kau adalah milikku sekarang."
Wei Lan tidak merasa terhina. Sebaliknya, kata-kata "KAU ADALAH MILIKKU" justru menciptakan sensasi aneh di dadanya.
Sebuah perasaan protektif, kekaguman, dan benih-benih cinta yang mulai bertunas.
"Aku ingat, Tuanku," jawab Wei Lan dengan nada yang jauh lebih lembut, hampir seperti bisikan seorang kekasih.
"Apapun perintahmu, ke manapun kau melangkah, aku akan ada di belakangmu."
Di luar vila, Lian Yue telah berhasil mengusir para pembunuh Klan Fang, meskipun salah satu dari mereka berhasil melarikan diri dengan luka parah.
Chen Lin tahu, setelah ini Klan Feng akan mengirim pasukan yang lebih besar, dan Klan Wei mungkin akan mulai mencurigai hilangnya Nona Pertama mereka.
"Gadis ini benar-benar telah jatuh hati padamu," Lin XingYu tertawa kecil di dalam pikiran Chen Lin.
"Kau baru saja menyembuhkan tubuhnya, tapi kau secara tidak sengaja menyeret jiwanya. Apakah ini bagian dari rencanamu, atau kau memang memiliki pesona seorang Dewi yang tak tertahankan?"
Chen Lin berdiri, mengabaikan godaan Lin XingYu.
Ia berjalan menuju pintu keluar, diikuti oleh Wei Lan yang berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan sikap hormat yang penuh kasih.
"Perasaan adalah variabel yang tidak stabil," gumam Chen Lin pelan, hampir tak terdengar.
"Tapi jika itu membuatnya lebih setia, biarlah tetap seperti itu."
Lin XingYu yang mendengarnya hanya berkata satu kalimat pada Chen Lin.
"Jika Seandainya Kau benar-benar seorang pria dan bukan wanita, Apakah kau bisa mengelakkan perasaanmu dari gadis yang yang sangat cantik seperti nona wei ini?"
Chen Lin membalas. "Yaa.. kurasa itu hampir mustahil karena jika memang benar aku terlahir menjadi seorang pria, Aku mempunyai seleraku Tersendiri. "
"Lalu bagaimana dengan aku?! " Lin XingYu langsung berbicara dengan spontan melalui transmisi jiwa diantara keduanya.
Chen Lin hanya menjawab. "Jika memang benar begitu maka aku tidak akan sungkan. " Lin XingYu tersenyum tipis dan menutupi wajahnya sebelum akhirnya sifat tenangnya kembali.
Malam itu, di bawah naungan Gunung Giok Hijau, takdir Kota Qīngchú telah terkunci.
Seorang penguasa bayangan dan tangan kanannya yang cantik telah lahir. Wei Lan menatap punggung Chen Lin dengan mata yang kini tidak lagi hanya berisi pengabdian, tapi juga kerinduan untuk mengenal sosok di balik topeng misteri itu.
Ia tidak tahu bahwa "Chen Lin" adalah reinkarnasi dari seorang Dewi Primordial.
Ia tidak tahu bahwa pemuda ini tidak benar-benar memiliki perasaan manusia biasa. Yang ia tahu hanyalah satu hal, mulai malam ini, dunianya tidak lagi berputar di sekitar Klan Wei, melainkan di sekitar setiap langkah yang diambil oleh pria berjubah abu-abu di depannya.