menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Pak Mustafa kenapa ya? Kok muka e koyok wong nesu (marah)?" tanya Najwa pada Rita.
"Yo opo aku eruh. Kok takon aku," ucap Rita dengan sedikit sewot. (Ya mana aku tahu. Kok nanya aku)
"Weleh, ngunu ae sewot Rit Rit." (Walah, gitu aja sewot)
"Jangan gitu kalian para cewek! Kali aja semalam pak Mustafa gak dapat jatah dari bininya," celetuk Ridwan yang lagi menata sepatu ke rak.
"Oh gitu. Weruh ae kowe Mas haha." (Oh gitu, tahu aja kamu mas) Si Rita ketawa malu-malu. Dia gadis belum pernah pacaran. Katanya minder.
Sayup-sayup ku mendengar obrolan mereka. Tapi tak ku hiraukan. Biarin ajalah. Aku harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri.
Ku pejamkan mata ini sejenak. Setidaknya biar tenang dan tidak terbawa emosi terlalu jauh.
"Sabar Mustafa, kamu harus sabar. Astagfirullahal'adzim." Aku menguap dan ku letakkan kepalaku di meja.
Entah berapa lama aku tertidur. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ku lihat di layar, ternyata Azzahra yang telfon.
Hah! Ternyata udah 2 jam aku ketiduran. Buru-buru ku angkat telfonnya.
"Ya Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam. Kakak sibuk?" jawabnya dan membuatku melupakan amarahku tadi.
Ini efek ketiduran atau suara dia yang menghipnotisku?
"Kenapa Dik?" tanyaku memastikan.
"Apa kakak bisa jemput aku? Soalnya hari ini dosennya gak datang. Tapi kalau kakak sibuk, biar Azzah telfon abi," katanya dari seberang sana.
Mendengar itu aku ya gak terima. Lebih baik aku yang jemput, sekalian menanyakan siapa pria yang mengajaknya ngobrol tadi. Awas aja kalau dia bohong. Habislah dia malam ini.
"Gak usah. Biar ku jemput," jawabku datar.
"Ya kak. Azzah tunggu. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum."
"Ya, wa'alaikum salam."
Setelah ponsel ku matiin. Segera ku raih kunci mobil yang terletak di atas meja.
"Rit! Jaga kasir!" perintahku pada Rita.
"Iya Pak."
"Dan kalian! Jaga toko baik-baik. Saya mau jemput istri saya," ucapku sambil menekankan kata saya pada mereka.
Mereka nampak terkejut ku goda begitu. Ya, aku lagi berbunga-bunga sekarang. Seorang perempuan minta jemput, udah jadi istri lagi. Sebelumnya aku yang suka nawarin jemput cewek. Sekarang tanpa aku sibuk keliling, istriku udah minta jemput sendiri.
Beberapa menit melajukan mobil. Akhirnya aku udah sampai di kampusnya Azzahra. Dia sudah menunggu di luar gerbang. Kali ini tidak dengan seorang cowok. Melainkan sama teman cewek yang juga berhijab namun tidak bercadar.
"Eh suamiku udah datang Wi. Aku duluan ya." Sayup-sayup ku dengar Azzahra pamitan sama temannya.
Melihat dia hendak menuju mobil. Segera aku turun dan membukakan pintu untuknya.
"Udah lama ya?" tanyaku. Agak canggung namun pura-pura sedikit cuek. Biar dia jujur soal pria yang tadi.
"Dari Azzah telfon kakak tadi," jawabnya sambil memelintir baju.
Ah, ni anak! Bikin gemes aja. Rasanya ingin sekali ku pegang tangannya itu. Tapi aku takut dia marah.
Akhirnya suasana kembali hening. Hanya terdengar suara kendaraan yang bising dari jalanan.
"Ehm!" Aku berdehem sambil meliriknya. Buat ngilangin rasa canggung di antara kami berdua.
Tak ku sangka, dia juga mencoba melirikku dari ujung matanya. Wajahnya tak terlihat karena dia masih mengenakan cadar.
Nafsuku ingin melonjak. Tapi ku tahan. Jangan dulu, apaan otak ku ini. Secara sadar aku bayangin drama china adegan di mobil.
Astagfirullah, maafin aku istriku. Hehe, otakku emang kadang-kadang begini. Normal bukan?
"Kakak ke toko gak?"
Hah! Aku langsung menoleh menatapnya. Tumben dia berinisiatif bertanya duluan.
"Iya, kenapa?" tanyaku masih pura-pura cuek.
Mendengar jawabanku seperti itu. Dia seperti murung.
Apa aku keterlaluan, atau aku salah jawab ya?
'Apa seharusnya aku gak bertanya ya? Niat hati ingin ikut ke toko. Tapi kak Mustafa kayaknya lagi gak mau di ajak ngobrol,' batin Azzahra merasa sungkan.
Ciiiit!
"Astaghfirullahal'adzim." Azzahra terkejut saat aku menghentikan mobil secara mendadak di pinggir jalan.
"Kakak kenapa?" tanyanya seperti ketakutan.
"Kamu yang kenapa?" tanyaku datar.
"Kakak marah?"
"Ck. Kamu nanya gitu, kenapa? Mau ikut ke toko? Atau mau ngapain? Atau mau pergi tanpa sepengatahuan aku?"
"Astagfirullah, kakak!" bentaknya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Aku jadi tak tega.
Segera ku peluk dia. "Maaf Dik. Aku gak bermaksud nyakitin kamu," kataku sedikit menyesal.
Dia hendak melepas pelukanku. Tapi ku tahan.
"Sebenarnya kakak kenapa?" tanyanya dalam pelukanku.
Siapa cowok yang ngobrol sama kamu tadi pagi?
Kata-kata itu ingin ku lontarkan padanya. Tapi gak bisa. "Udahlah lupain aja," jawabku yang kini udah melepas pelukan dan lanjut menyetir mobil.
"Mau ke rumah abi atau ikut aku?" tanyaku kemudian.
"Terserah kakak aja," jawabnya pasrah.
"Kita makan dulu," ajakku padanya. Dan dia hanya terlihat pasrah. Sepertinya dia masih syok dengan kelakuanku tadi. Ini aku yang akan shock, atau justru dia yang shock? Jika benar dia punya cowok sebelum kita menikah? Jelas aku yang shock karena merasa sangat bersalah.
Fiuh.
"Kita beli lontong sayur aja ya Dik. Kamu mau gak?" tawarku.
"Apa aja kak," jawabnya yang lagi-lagi hanya pasrah.
"Oke!" Aku berhenti di warung lontong. Dan lanjut menuju ke toko.
"Siang pak! Mbak!" Beberapa karyawan menyawa.
"Ya," jawabku santai.
"Rita! Tolong keuangan hari ini langsung kirim ke rekening saya. Saya ada urusan, jadi hanya mantau lewat CCTV," ucapku padanya dan Rita mengangguk paham.
"Dik, kita istirahat dulu!" ajakku sambil menarik tangannya.
Azzahra seperti terkejut. Seperti kekanak-kanakan emang. Tapi biarin aja, emang ini caraku memperlakukan istriku.
"Kamu kaget ya?" selidikku saat dia sudah masuk ke ruangan kerjaku.
Dia menggeleng.
"Ku harap kamu gak kaget. Soalnya dari awal kamu udah tahu, aku ini kasar. Bejat juga kan? Jadi ke depannya ku harap kamu bisa ajarin yang baik-baik padaku. Sabar juga ngadepin aku. Dan satu lagi..." Ku tatap matanya dengan tajam. Dia seperti ketakutan. Dan emang selalu seperti itu, takut padaku.
"Kalau kamu itu udah jadi istriku. Jadi jangan dekat-dekat sama cowok lain." Pada akhirnya aku udah mengatakannya.
"Dan aku berjanji, jika ada cewek yang suatu saat muncul. Itu bukan karena aku selingkuh. Tapi cewek di masa lalu. Jujur aku belum pernah pacaran sebelumnya," ucapku diakhiri dengan nada pelan.
"A... apa?" Azzahra makin terkejut aja. Mungkin dia kaget atau apalah.
"Ya, ku harap kamu bisa jujur juga sama mas. Suamimu sendiri. Oh ya, lain kali jangan panggil kakak. Mas atau sayang juga boleh," kataku sedikit ngelunjak.
Azzahra hanya terdiam dan tak menanggapi.
Bersambung...
Apakah Azzahra bakal jujur dengan masa lalunya?