Kepercayaan Aleesya terhadap orang yang paling ia andalkan hancur begitu saja, membuatnya nyaris kehilangan arah.
Namun saat air matanya jatuh di tempat yang gelap, Victor datang diam-diam... menjadi pelindung, meskipun hal itu tak pernah ia rencanakan. Dalam pikiran Victor, ia tak tahu kapan hatinya mulai berpihak. Yang ia tahu, Aleesya tak seharusnya menangis sendirian.
Di saat masa lalu kelam mulai terbongkar, bersamaan dengan bahaya yang kembali mengintai, mampukah cinta mereka menjadi perisai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CutyprincesSs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
"Bianca, Aleesya tidak seperti yang kau pikirkan." Victor berbicara dengan nada hati-hati karena kini emosinya mulai tak bisa ia kontrol, mendengar sahabat kecilnya di hina seperti ini meskipun oleh kekasihnya sendiri entah mengapa membuat dadanya terasa terbakar.
"Apa maksudmu?? Dia sering tidur di rumahmu, bahkan kemarin malam dia yang menemuiku. Dia sepenting apa sih? Tanpa kau dan CEO Lenz Property itu dia bukan siapa-siapa!"
Geram, Victor mengebrak meja begitu keras hingga gelas di atasnya bergetar dan suara hantamannya memecah keheningan butik. Aleesya yang bahkan baru saja menginjakkan kaki di daun pintu ikut tersentak. "Ku bilang berhenti menghina Aleesya! Kau tidak mendengar apa yang ku katakan?!" Ia berdiri, masa bodoh dengan mereka yang melihat. Aleesya menelan ludahnya, merasa bahwa ia salah timming masuk ke sana.
Bianca terdiam, selama setahun menjalin hubungan, belum pernah sekalipun Victor menunjukkan amarah seperti ini. Tangannya gemetar, namun dengan cepat ia sembunyikan tapi raut wajahnya tak bisa menyembunyikan ketakutan. Victor yang mulai bisa mengontrol emosinya, menoleh melihat Aleesya lalu menarik tangan wanita itu agar berdiri di sampingnya. Victor mengambil paksa kotak perhiasan yang ada di tangan Aleesya dan memberikan langsung kepada Bianca tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Ini untukmu! Sebagai tanda perpisahan kita. Mulai hari ini hubungan kita resmi berakhir Bianca Lavelle."
Bianca mendengar itu merasa seperti hatinya di tusuk ribuan jarum. Ia tersenyum getir. "Ulangi perkataanmu Victor Scott... kau... mengakhiri hubungan kita?" Ia menggeleng, membanting kotak persegi biru muda berisi satu set lengkap perhiasan mewah tepat di depan Victor dan Aleesya hingga isi di dalamnya tercecer.
Bianca kemudian menatap Aleesya dengn kedua tangannya yang mengepal erat. Tatapannya penuh kebencian, membara seperti nyala api yang disiram bensin. "Kau! Pasti kau kan yang menyuruh Victor memutuskanku?!" suaranya tegas namun sedikit bergetar dengan jari telunjuknya mengarah ke wajah Aleesya. Mata Aleesya membesar, namun ia menanggapinya dengan tenang.
"Apa maksudmu? Aku disini hanya mengantar Victor dan tidak tahu menahu mengenai hubunganmu dengannya. Jangan asal tuduh Bianca."
Suasana makin memanas. Victor ingin mengucap sesuatu, namun tangan Aleesya segera mengintruksi untuk diam.
"Halah tidak usah beralasan lagi, Sya! Kalian dari dulu sudah di gosipkan menjadi sepasang kekasih! Banyak yang mengira kalian punya hubungan khusus," Bianca menoleh ke arah Victor, ia berusaha mengendalikan diri. "lalu kau Victor! Kau pasti menggunakan ku sebagai pelarianmu bukan? Setelah itu kalian bisa bersama. Haha konyol sekali!" Bianca terus meracau tidak memperdulikan keadaan disekitarnya yang sudah ramai melihat aksinya ini.
"Tutup mulutmu Bianca! Aku dan Aleesya hanya sahabat, karena orangtua kamu adalah teman. Kau tidak berhak menuduh kami seperti itu." Victor memejamkan matanya, "satu hal yang harus kau tahu... ibuku tidak pernah menyukaimu. Dan... bagaimana denganmu dan Hans?" pertanyaan terakhir Victor itu sukses membuatnya mundur selangkah, namun wanita ini justru kembali kesal. "Apa karena ku lebih baik dari Aleesya? Apa yang kurang dariku, Victor? Katakan!"
Aleesya berdiri di depan Victor dan menatap tajam Bianca. "Karena kau tidak bisa membuat Victor lebih baik! Kau tahu Bianca? Om dan Tante selalu khawatir saat Victor selalu bermain dengan hobinya, termasuk ke bar bersamamu! Kau tidak memikirkan masa depannya... yang kau pikirkan hanya kesenangan sesaat! Jika kau menang mencintai Victor, kau pasti bisa membuatnya setia dan menikahimu. Ku harap kau belajar bahwa menikah itu bukan hanya tentang menghabiskan uang dan bersenang-senang!" ucapannya yang panjang terdengar seperti nasehat dan penutup pertemuan mereka malam itu.
Setelahnya, Aleesya meninggalkan tempat itu, menyisakan Victor bersama Bianca. Masa bodoh dengan orang-orang yang melihatnya, ia tak peduli. "Sudah jelas kan? Aku pergi!" Victor menatap tajam Bianca terakhir kali sebelum mengejar Aleesya, "Aleesya, tunggu aku!"
Bianca bagaikan terhipnotis, ia terlihat menyedihkan, dan duduk bersama perhiasan yang berceceran di lantai sambil menangisi kejadian yang akan membekas seumur hidupnya.
"Wah kau berani sekali." ucap Victor sambil membuka pintu mobil dan melihat Aleesya mengipasi rambut panjangnya dengan tangan, wanita itu tertawa kecil. "Aku hanya berbicara kenyataan. Jika memang kau masih dengannya, kau tidak akan bisa menabung untuk masa depan! Ayo ke McD, aku lapar!" jawab Aleesya sambil menyilangkan tangan. "Sesuai permintaan anda, Nona."
Mobil hitam itupun melaju meninggalkan area butik Bianca dan menyatu dengan mobil yang tengah memenuhi jalan malam Northtown.
Selama di jalan, Victor tengah melakukan sambungan telepon dengan seseorang. Sementara Aleesya memilih mengamati jalanan dengan kaca jendela yang terbuka sedikit. Angin segar menyapa wajahnya, membuat wanita itu merasa relax.
"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Aleesya setelah Victor menutup sambungan telepon. "Ya, aku sudah tidak mau menjalin hubungan dengan wanita manapun. Lebih baik aku jomblo abadi daripada harus kehilangan fasilitas dari papa. Ancamannya itu sukses membuat nyaliku ciut." jawaban Victor membuat Aleesya tertawa. Padahal itu hanya siasat Victor agar terbebas dari wanita-wanita tak jelas yang hanya menghabiskan tabungannya.
"Sungguh konyol. Tolong berkacalah. Lihat badanmu yang seperti Titan ini, tapi nyali saja kau tidak punya." Aleesya berkata dengan gembira, seolah penderitaan Victor adalah hiburan baginya setelah adegan marah-marah di butik Bianca tadi. Victor ingin membalas, namun melihat senyum Aleesya yang lepas dan berbeda malam ini, membuatnya urung dan malah diam memperhatikan wanita di sampingnya. 'Kau ini... benar-benar unik, Sya.'
Beberapa menit kemudian, mobil mereka sampai di area parkir McD, Aleesya keluar lebih dulu dan pergi memesan. Sedangkan Victor memarkirkan mobil. Saat berjalan masuk ke dalam McD, ia menangkap mobil yang tak asing. "Mobil Maxime? Wah... hari ini hari yang spesial. Aku harap hari ini semua kebusukan Maxime akan terbongkar." ia tersenyum sinis, lalu melangkah cepat menyusul Aleesya.
Victor mengedarkan pandangannya mencari Aleesya. Ia justru melihat kemesraan Maxime dan Vira di sudut ruangan, sementara sahabatnya itu duduk di dekat kasir, membelakangi Maxime jadi dia tidak mengetahui kemesraan kekasih dan selingkuhannya itu.
"Belum di antar?" tanya Victor pura-pura sibuk membereskan meja dan duduk di depan Aleesya. Wanita itu menggeleng, "Maklum, ramai. Tadi aku pesan yang sama, sekalian ayam goreng bungkus buat di rumah." jawabnya dengan ceria, Victor hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia malah mendengar Aleesya menceritakan tentang kekasihnya, namun Victor yang sudah tak tahan akhirnya memutuskan untuk mengatakannya sekarang sambil menggulung kemejanya hingga lengan.
Ia mencondongkan badan ke Aleesya Denga sesekali melirik Maxime yang masih tak tahu bahwa ada dia dan Aleesya di sana. "Hey Sya.. kau ingin tahu kejutan yang ku bilang kemarin jika kau pergi ke villa Maxime?" Victor bertanya sedikit berbisik dengan mata yang menatap dua pasangan itu. Aleesya yang sibuk dengan ponselnya menatap Victor, "Kejutan apa?"
"Ikuti arah pandangku." sahut Victor menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Aleesya menurut, dia menengok dan betapa terkejutnya ia melihat Maxime sedang menyuapi Vira burger dengan mesra. Aleesya menganggukkan kepalanya sambil tertawa getir, "Wah... Hahaha... rasa laparku tiba-tiba menghilang begitu saja. Vic, terima kasih kejutannya." Aleesya mengambil tasnya, menghampiri Maxime dan Vira.
"Aleesya! Tunggu!" Victor buru-buru menyusul Aleesya, punggungnya bergetar kuat. "Aleesya! Biar aku saja!" lanjut pria itu memegang bahu Aleesya yang menggeleng dan menghempaskan tangan Victor.
***
Siapa yang pernah di posisi kaya gini?😔