Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolong
“Kau, benar-benar konyol,” gadis itu terlihat sangat geram terhap Metallo, sebelum mengalihkan pandangannya kepada Mey dan menunjuknya, "Kau juga sama konyolnya dengan dia...." perkataannya terhenti, ketika melihat Mey yang tidak sadarkan diri.
Mulutnya menganga, menatap Mey penuh tanya terhada Metallo, "Mey... Apa yang dilakukannya terhadapmu?" diapun mulai duduk dihadapan Mey, serta memegang kedua pipi Mey.
Ia yang terlempar akibat pukulan dari gadis itupun mulai bangkit, dan menggosok-gosokkan matanya oleh karena kepala sedikit pusing akibat pukulan yang dia terima.
Perlahan-lahan Ia membuka matanya, dan menatap gadis itu penuh keheranan, 'Sejak kapan dia ada disini... Jangan-jangan dia memperhatikan kami berdua sejak dari tadi.'
"I... Indri," sapanya terbata-bata, sembari memegang pinggangnya yang jadi sasaran pukulan Indri, 'Lumayan sakit,' ia kemudian menggelengkan kepala pelan.
Indri tak lain adalah saudari sepupu Mey, yang seumuran dengannya. Umur meraka berdua 11 tahun, beda dengan Metallo yang lebih tua setahun. Mereka bertiga seangkatan, oleh karena itu kedekatan diantara mereka sangatlah erat, walaupun terkadang pula saling bermusuhan.
Metallo sebenarnya tak seangkatan dengan mereka berdua, hanya saja ketika menginjakkan kaki di bangku kelas satu SD, ia menderita penyakit Kronis, yang menyebabkannya berhenti sekolah, dan melanjutkan kembali pendidikannya bersama mereka. Ibu Elena waktu itu sangat terpukul, melihat anak semata wayangnya jatuh sakit.
Walaupun hanya dua bulan penyakit yang dideritanya itu sembuh total, Ibu Elena memutuskan untuk memberhentikan ia dari dunia pendidikan, dan melanjutkan kembali di tahun depan, sebab dia sangat khawatir jikalau penyakit yang di derita anaknya kambuh kembali, apalagi disaat Metallo tak bersamanya, oleh karena itu dia ingin salalu ada di dekat Metallo.
Indri tak kalah cantik juga dengan Mey, bahkan orang yang baru mengenali mereka berdua, bisa mereka mengambil kesimpulan bahwa keduanya merupakan anak kembar.
Keduanya memiliki paras yang sama. Cara berpikir, pola prilaku, makanan kesukaan dan hampir semuanya sama. Walapun hampir semuanya sama, tetapi diantara mereka berdua ini juga memiliki kelainan yang tak pernah di bayangkan oleh siapapun.
Mey sangat menyukai bunga Mawar. Tetapi sebaliknya dengan Indri, dia bahkan tak mau memandangi segala jenis bunga Mawar, apalagi mencium harumnya aroma bunga itu.
Indri sendiri sangat menyukai bunga Matahari. Tetapi tidak dengan Mey, dia sangat senang memandangi bunga itu, tetapi dilain sisi dia tidak mau mencium harumnya aroma bunga itu, karena takut muntah.
Paling signifikan yang dapat membedakan Mey dan Indri dari jarak dekat, terletak pada mata mereka.
Mey memiliki mata yang sangat bulat, dan berwarna biru langit dengan sedikit titik hitam di tengah-tengahnya. Sedangkan Indri memiliki mata layaknya manusia pada umumnya. Walaupun mereka sama-sama cantik tetapi cantikan Mey.
"A... Ada apa denganmu?" tanya Metallo terbata-bata, sembari memandangi Indri dengan raut wajah yang sangat cemberut.
Ia sama sekali tak menyangka tingkah Indri yang terlalu berlebihan terhadapnya, sebab Indri orang yang sangat baik. Jikalau Indri melakukan sebuah tindakan, dia selalu saja memikirkannya terlebih dahulu sebelum berbuat sesuatu yang lebih jauh, tetapi tidak dengan yang ini.
Kedua tangan Indri dilipatkan, tatapan sinisnya mengarah kepada mereka berdua secara bergantian, "Diam! Sebenarnya aku yang memberikan pertanyaan kepadamu," dia mulai melangkah menghampiri Metallo, "Apa yang engkau lakukukan terhadapnya?" tanganya, menunjuk ke Mey.
Ia menundukkan kepalanya sesaat, sebelum memandangi Mey, dan mengarahkan kembali pandangannya kepada Indri. dihelanya nafas yang panjang, dan mulai berdiri serta melangkah mendekati Mey, "Sebenarnya... Sebelum kau bertindak pikirkan terlebih dahulu, jikalau engkau tak mau pipimu menjadi bengkak akibat pukulan," Iapun mengarahkan tangan kanannya yang telah dikepalnya kepada Indri.
Indri mengerutkan dahinya, dengan tatapan mata yang begitu lebar kepadanya, "Apa yang kau lakukakan terhadap dia?"
Metallo menghela nafas panjang, sebelum menatap Mey dengan penuh kegelisaan, "Kuharap engkau dapat membantu aku."
"Apa?" raut wajah Indri seketika berubah penuh kebingungan.
"Engkau sendiri dapat melihat dengan mata kepalamu," ia kemudian menunjuk Mey, "Kenapa... Kenapa engkau tak mau membantuku menyadarinya. Sedangkan dirimu menghalangi Aku?"
Indri membuang mukanya, "Siapa juga yang membuatnya pingsan."
Sebenarnya Indri ingin membantunya menyadarkan Mey, tetapi Metallo tidak menjelaskan apa yang ia butuhkan, sehingga Indri tidak mau. Dilain sisi dia juga berpikir bahwa, pertolongan yang harus dia berikan ialah, membopong Mey menuju ke dapur bersama dengan Metallo.
Indri membalikkan bandannya membelakangi mereka berdua, seraya menepuk-nepuk jidatnya, 'Hm... Jangan harap,' dia kemudian membalikkan badannya, dan melangkah balik mendekati mereka berdua.
"Maaf... Aku tidak mau membantumu," pintanya, tersenyum lebar menatap Metallo.
Ia membalas tatapan Indri dengan senyuman yang penuh makna, "Oke... Jikalau demikian, jangan sekali-kali menghalangi aku."
Iapun Mulai menghela nafas yang begitu panjang, sebelum menghembuskannya ke hidung Mey, sebagai nafas buatan untuk menyadarkan Mey.
Ketika ia mendekatkan mulutnya ke hidung Mey, lagi-lagi Indri menghalanginya dengan mendorong wajahnya dan berusaha menjauhkan dia dari Mey. Dia kemudia menyipitkan kedua bola matanya, "Apa yang engkau mau?"
Ia mengankat alis mata kirinya, dengan dahi yang sedikit mengkerut, "Kenapa... Apakah engkau tidak mau aku memberikan pertolongan kepada Mey."
Indri menghela nafas panjang, sebelum menatapnya dengan senyuman yang begitu lebar, "Bukan begitu... Seharus engkau katakan dari tadi, bahwa engkau memberikannya nafas buatan, sehingga aku tak menghalangimu.'
Sesaat Indri memandangi Mey dengan penuh kebencian, 'Dasar... Apakah engkau berpura-pura pingsan, dan ingin merasakan ciuman dari Metallo. Hm...'
"Kamu tenang... Ada aku di sini, dan aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini."
Mendengar itu, Metallo diam sesaat tertuju menatap mereka berdua secara bergantian, "Jikalau demikian berhentilah berbicara, dan cepat bantu dia."
Indri menutup matanya sesaat, sebelum menghela nafas panjang dan menghembuskannya ke hidung Mey. Dia merasa geli, tetapi dilain sisi dia juga tidak mau jikalau Metallo yang melakukannya, 'Ini anak benar-benar buat aku muak,' dia menggigit bibir bawahnya.
Metallo yang melihat tingkah Indri, membuatnya tersenyum lebar, dilain sisi ia tidak menyangka Indri sangat keras kepala kepadanya. Sebab setahu nya, Indri yang sangatlah bersih dan tidak mungkin melakukan hal-hal yang demikian. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan, 'Dia benar-benar melakukannya.'
Sudah sekali Indiri memberikan nafas buatannya kepada Mey, namun Mey juga tak sadarkan diri, "Hoe... Mey! Bangkit Mey," Dia kemudian mendorong-dorongkan badan Mey, namun Mey tidak sadar juga, sehingga membuat Indri mendaratkan sekali pukulannya di pipi Mey. Indri kemudian memandangi Metallo yang tersenyum menatapnya, "Ini semua... Ini semua gara-gara kamu."
"Baiklah... Jikalau engkau tak melakukannya lagi, maka aku sendiri yang harus menyelesaikan ini."
"Ini... Ini demi kamu, tidak akan kubiarkan," Indri tergesah-gesah menarik nafas yang sedalam-dalam mungkin, dan memberikan nafas buatan sekali lagi kepada Mey.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??