seorang pemuda remaja yang bernama Gilang, dipindahkan dari sekolah lamanya menuju sekolah baru yang berada di Sumatera.
Sumatera itu sendiri adalah tempat kelahiran asal Gilang dan orang tuanya sebelum pada akhirnya mereka pindah ke kota Jakarta.
di sanalah Gilang diuji untuk mendapatkan jati dirinya yang sesungguhnya.
pernyataan bahwa gelang bukan seorang manusia biasa, membuat gelang shock namun tidak membuat gelang depresi.
tugasnya kali ini, selain mencari jati dirinya ialah mengumpulkan semua keturunan terakhir dari inyek leluhur/manusia harimau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana.ds, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps8
Tidak mau semakin pusing untuk memikirkan hal tersebut, Gilang akhirnya memutuskan mengusir kakek itu untuk pergi dari rumahnya.
"Udah deh ki ya udah ya,,, makin ke sini perkataan aki makin ngelantur. Udah mending sekarang aki pulang beristirahat di rumah... Hari udah malam jangan sampai aki masuk angin. Kalau masuk angin ntar keluarga aki yang repot. Yaahhh..."
Ucap Gilang terhadap kakek tersebut meminta kakek itu pulang dengan secara baik-baik. Agar tidak ada perdebatan dan tidak ada cekcok lagi.
Lagian semakin larut cuacanya juga akan semakin terasa sangat dingin.
"He he he... Baiklah kalau begitu Aden. Saya akan pulang dulu. Besok saya akan kemari lagi untuk membantu Aden ku.!"
"Apa sih aki,,, besok kenapa!!. Nggak bakal terjadi apa-apa sama gue besok, toh lagi selama ini gue menghadapi bulan purnama juga gak pernah kenapa-napa aki. Udah deh ya aki mending aki pulang. ya,, ini udah malam banget juga gue mau tidur besok mau sekolah.. Oke."
Gilang beranjak bangkit dari tempat duduknya, dan membawa kakek itu menuju ke pintu depan rumahnya.
"Daah... Bay bay aki . Selamat malem.."
Ucap Gilang sembari menutup pintu rumahnya setelah mengeluarkan aki tersebut dari dalam rumahnya.
" Hadeen... Ada-ada aja sih orang di sini.. percaya hal yang kayak gitu-gituan sama yang namanya mistis gaib apalah sebagainya itu.. bikin pusing kepala Ike aja. Huh..."
Ucap gilang memperagakan kecantikannya yang jarang terlihat tersebut. Iya lalu beranjak dari tempat itu dan kembali ke tempat tidur untuk menikmati malamnya yang terasa panjang tersebut.
Keesokan harinya seperti hari-hari biasa, setelah mandi paginya Gilang pun bersiap untuk berangkat sekolah.
Memasang helm, menggunakan motor berwarna hitam yang sering digunakannya untuk berangkat ke sekolah.
Brum Brum Brum..
Entah kenapa tiba-tiba selama perjalanan, Gilang merasa gelisah. Seperti ada sesuatu namun ia tidak tahu apa itu.
Sedangkan jarak antara sekolah dan rumahnya sekitar 20 menit, menggunakan motornya.
Namun ia mencoba untuk tidak memikirkannya, Gilang mencoba memikirkan bahwa itu hanyalah perasaan dan halusinasinya saja.
Gilang tetap melanjutkan perjalanan menuju gedung sekolah SMA 1 kumayan.
Sedangkan di posisi lain, Tasya yang sudah sampai terlebih dahulu di sekolahnya duduk di bangkunya sembari menatap kursi tempat duduk Gilang.
*Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan aura orang ini. Dia seperti orang biasa pada umumnya tapi auranya seperti aura pemimpin, bahkan sangat pekat. UMM...Aku belum pernah melihat aura yang seperti itu, aura yang sangat mendominan*.
Batin Tasya mengenai pendapat tentang pemuda yang baru dikenalnya beberapa hari tersebut.
"Mau gimana pun aku nggak boleh ceroboh. Takutnya aku buat kesalahan yang fatal di kemudian hari."
Ucap Tasya sembari menggigit ibu jarinya untuk mewaspadai diri sendiri.
Waktu masuk kelas hampir tiba, dan Gilang belum juga sampai ke sekolah tersebut.
Bel sekolah mulai berdering, namun belum memperlihatkan tanda-tanda kehadiran Gilang.
"Sebentar lagi kelas akan dimulai.. kenapa gilang belum sampai ya.? Apa hari ini dia nggak masuk sekolah?!."
Tidak lama setelah gumuman Tasya berakhir, Gilang yang baru sampai di depan gerbang mengegas motornya.
Rum Brum Brum...
Suara motor itu terdengar nyaring dan security yang ingin menutup pintu gerbang pun akhirnya terhenti.
"Aduh aduh aduh berisik... Udah cukup berisik.. ini lagi datang terlambat udah buat recok lagi. Anak zaman sekarang bener-bener ya.."
"Hahaha maaf pak tadi sedikit kesasar salah jalan, jadinya agak sedikit terlambat maaf ya pak..."
Ucap Gilang sembari menggoda security tersebut dengan nada cengengesan nya.
"Ya sudah ya sudah masuk sana,, sebentar lagi pelajaran akan dimulai."
" Wih pak makasih ya pak,, baik bener bapak dah.. beda bener sama security yang ada di Jakarta,, makasih ya pak. permisi.."
"Wih dapat pujian,, terbang ntar saya.. ya sudah buruan masuk gerbang mau ditutup.!!"
Setelah masuk Gilang memparkirkan motornya dan melepas helmnya. Bahkan tanpa basi-basi ia langsung turun dari motor tersebut dan masuk ke kelasnya.
"Hehehe untung bapak security-nya baik. Kalau di Jakarta mah gue udah kena pukul, kena jemur, panggilan orang tua lagi.. kan kasihan nyokap gue udah tua hehe..."
Ucapnya sembari mendekati pintu kelas tersebut.
Setelah Gilang sampai di depan pintu kelasnya, iya pun mengetuk pintu dengan sopan baru masuk ke dalam kelasnya seolah Ia adalah anak teladan dan berasosiasikan sopan santun.
"Permisi. Gue gak telat kan.."
"Hampir telat.."
Jawab teman-temannya ketika menanggapi pertanyaan dari Gilang ya memang sekitar 5 menit lagi mereka akan memulai jam pelajarannya.
Ketika ia ingin melangkah maju lagi, mendadak Gilang berhenti setelah melihat pesona seorang wanita yang sangat cantik jelita.
Untuk sejenak tanpa berkedip ia merasakan ada satu denyutan di nadinya.. merasa hatinya bergetar.
Setelah terbengong untuk beberapa saat, iya akhirnya tersadar kembali dari lamunannya.
"Eh ada cewek cakep,, eh cantik maksudnya. Halo Mbak kenalin gue eh saya Gilang. Lo eh kamu maksudnya, anak baru ya..??"
Ucap Gilang dengan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan sembari menanyakan nama dari sosok anak baru tersebut.
"Halo nama saya Alina petonica. Saya murid pindahan baru dari kampung sebelah.."
Ucap wanita remaja di depannya tersebut memperkenalkan namanya adalah Alina petonica.
"..oh.. hai Alina petonica,, nama yang cantik aku boleh panggil Alina gak?."
Gombal gilang sembari tersenyum menatap ke arah Alina.
" Ya boleh. Semuanya juga memanggil saya Alina."
"Oh semua ya..?!!. Kirain gue dong yang spesial hehehe"
Ucap gilang lagi seperti tanpa rasa malu. Alina pun tanpa ragu tersenyum ke arah Gilang.
Melihat keakraban Alina dan Gilang yang baru bertemu, entah kenapa Tasya menjadi kesal pada mereka berdua yang sok akrab.
Padahal selama ini Tasya tidak pernah merasakan hal seperti itu Kalaupun ada anak baru yang pindah ke kelas mereka.
Iya tampak memasang wajah yang sangat cemberut.
Setelah tidak lama Alena dan Gilang berbincang, mereka menempati posisi duduk mereka masing-masing dan melanjutkan pelajaran pertama.
Gilang merasa wajar menggoda Alina atau mengakrapinya karena Alina sosok perempuan yang cantik. mungkin siapa saja akan menggodanya ketika melihatnya. Begitupun juga dengan Gilang yang termasuk pria normal pada umumnya.
\*\*\*
" Yeyy... Akhirnya kita pergi ke pantai juga nyonya... Apalagi pantai di Bali ini pemandangannya super wow,,, bener-bener bombastis.! Saya suka liburan kita kali ini nyonya."
"Y pan kemarin gue dah bilang, kita untuk rehat healing-hilling get rid of boredom. Yakan.. udah lu tenang aje,, kagak bakalan nyesel kalo lu ikut gue mah..!"
"Hehehe iya deh nya... Emang di sisi nyonya paling terbaik ter the best. Istilah Kate only you are the best, itu kan yang sering nyonya bilang.?"
"Hehehe jago juga lu pakai bahasa Inggrisnye.. kagak sia-sia tiap hari gue koak-koak pakai bahasa Inggris di rumah ye."
" Iyalah.. pan nyonya is the best hehehe"
Puji bikjah kepada ibu Gilang, yang sedang melakukan liburan ke pantai yang berada di Bali.
Akhirnya mereka pun pergi selama sekitar 5 hari untuk merefleksikan diri.
"Nyonya kira-kira kabar Aden gimana ya di sono?.. udah lama kita nggak dapat kabar dari Aden.!"
"Iye juga sih.. ya udah ntar malam coba kita call-an sama si Mey handsome Gilang. Kita saling sharing stories gitu kan ya kan.."
"Oh.. ah, siap nyonya.."
Mereka berdua pun melanjutkan kegiatan mereka menikmati suasana yang mereka hadapi kali ini.