Bagaimana perasaan mu jika kekasih yang kau cintai mengaku telah menghamili gadis lain tepat sehari sebelum hari pertunangan mu?
Lisa Anastasia, seorang gadis manis yang jenaka. Harus menerima pahit nya penghianatan sang kekasih bernama Candra Adijaya. Lalu bagaimana Lisa menjalani kehidupan nya dibawah bayang-bayang sang mantan, akankah gadis manis itu bangkit dari jurang keterpurukan yang mendalam?
Follow akun IG : _lisaautmptri
(BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA)
KLIK FAVORITE, LIKE, KOMEN, VOTE!!
NOVEL INI HANYA TERBIT DI MANGATOON!!!
(Harap lapor jika menemukan kesamaan di platform lain!!)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MY SWEET LISA 8
Malam yang terang, dengan cahaya bulan purnama di awal Juli menghiasi langit. Seorang gadis dengan tinggi semampai mengenakan yang celana jeans, dengan atasan berlengan pendek, dan tas selempang yang menjuntai di pundaknya tengah berjalan cepat menuju stasiun. Gadis itu berkejaran dengan waktu, berharap masih mendapatkan sisa tiket dan juga tempat duduk didalam gerbong.
Dengan setengah berlari Lisa terus berjalan menuju loket, waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Dan stasiun akan berhenti beroperasi sekitar jam sebelas malam. Siang tadi setelah bertemu dengan Roland, Lisa menyempatkan diri mengunjungi sebuah perpustakaan kota. Alhasil, dirinya sampai lupa waktu dan sekarang dirinya mungkin akan ketinggalan kereta jika terlambat sedikit saja.
Sampai didepan sebuah toko kecil diseberang stasiun, Lisa berhenti disisi jalan. Gadis itu celingukan, bersiap hendak menyeberang. Sampai sebuah tangan mencekal lengan nya, berhasil membuat Lisa hampir terkena serangan jantung saking terkejutnya.
Lisa menoleh, mencari si pelaku yang sudah lancang mengganggunya. Namun apa yang dilihatnya, justru membuat Lisa diam membisu.
"Lisa....," Sebuah suara yang begitu dihapalnya terdengar, Lisa mengerjab beberapa kali berharap semua ini hanya mimpi.
"Lisa ini aku," Suara pria itu terdengar lagi, Lisa menatap wajahnya lalu menatap lengannya yang masih dicengkram oleh pria itu. Lisa menggeleng, menyadari ini memang bukan mimpi.
"Lepas!!" Teriak Lisa menghempas tangan pria itu, secepat mungkin Lisa berusaha berlari, tetapi Candra lebih dulu menarik pergelangan tangan Lisa.
"Tunggu bentar Lisa, aku mau bicara sama kamu." Lirih Candra sambil mencengkram erat tangan Lisa agar gadis itu tidak pergi.
"Lepasin, nggak ada yang perlu dibicarain lagi semua udah selesai," Lisa masih berusaha melepaskan tangannya dari Candra.
"Aku mohon Lisa, kali ini aja..," Mohon Candra, masih memegang tangan Lisa.
Lisa menghela napas, percuma baginya melawan karena akan sia-sia, kekuatan Candra jauh lebih kuat.
Kedai kopi di dekat stasiun hampir sepi. Sebagian besar kedai dan toko lain sudah tutup karena malam yang semakin larut. Lisa dan Candra duduk diluar kedai di bawah salah sstu payung lebar. Secangkir kopi hitam panas diatas meja kayu dihadapannya menjadi pusat perhatian Lisa selama sepuluh menit ini. Sepuluh menit dalam keheningan.
Candra duduk di posisi berseberangan, menghadap Lisa. Kenapa Lisa tidak melihat adanya perasaan bersalah di matanya? Lisa bertanya-tanya. Sesuatu mengaduk-aduk hatinya, masihkah hatinya menyimpan rasa yang mendalam pada Candra?
He is as handsome as ever, pikir Lisa. He even smells the same.
"Apa yang kamu pikirin?" Tanya Candra sambil tersenyum, sungguh tak ada sedikitpun rasa bersalah nampak diwajahnya.
Lisa membasahi bibirnya, kerongkongannya terasa kering.
"Apa yang kamu lakuin disini?" Tanya Lisa dengan suara dingin.
"Kamu nggak senang liat aku?" Goda Candra dengan percaya diri. Lisa membuka mulutnya, bersiap mendebat Candra.
"Kenapa kamu bisa tau aku ada disini?" Otak Lisa menghadirkan kiasan wajah Alex, Rayhan, Kayla, dan Ian. Nggak mungkin Kayla, pikir Lisa menyanggah.
"Susah banget temuin kamu Lisa," Candra berusaha bercanda. "Aku tahu kamu belajar di universitas ini dan di fakultas ini. Aku udah tunggu kamu di gerbang utama selama seminggu."
Seminggu?! Lisa menatap Candra tidak habis pikir. "Buat apa kamu lakuin itu Candra?"
"Aku kangen kamu." Jawab Candra selembut mungkin.
Lisa lupa betapa kaya nya orangtu Candra. Mereka bergeming walaupun tahu biaya hidup di Inggris sangat mahal, mungkin tidak seberapa bagi mereka.
Candra menggerakkan tangannya menyebrangi meja dan meraih tangan Lisa. Lisa ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Candra, namun genggaman itu begitu kuat. Lisa bergetar karena sentuhannya dan merasakan degupan jantungnya naik-turun tak beraturan.
"Lisa," panggil Candra lembut, "Aku dateng kesini jauh-jauh untuk minta maaf supaya kamu mau memaafkan aku."
Lisa menarik napas dengan susah payah, lalu mengalihkan pandangannya tak sanggup menatap wajah Candra lebih lama.
"Apa yang aku lakuin sangat salah, dan aku nggak punya alasan untuk itu. Tapi aku kangen banget sama kamu, aku cinta sama kamu Lisa. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu...,"
"Aku...,"
Candra menggenggam tangan Lisa erat, seperti tak akan membiarkan gadis itu pergi.
"Aku mohon Lisa, bilang kalau kamu udah maafin aku." Candra memaksa tersenyum.
Apa benar Candra menyesalinya? Diatas segala-galanya Lisa ingin sekali mempercayai ucapan Candra. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, tak ada jawaban dari Lisa. Candra masih setia menunggu jawaban, menatap penuh harap sambil mengeratkan genggamannya. Candra mengelus tangan Lisa.
"Maafin aku, Lisa?" Bisik Candra lembut, suaranya hampir tertelan suara bising.
Apa aku bisa?! Lisa bertanya pada hatinya.
"Aku cinta kamu. Aku tahu kamu juga masih cinta sama aku kan?"
Benarkah? Lisa menggigit bibirnya. Hatiku masih sakit, apa itu artinya aku masih mencintainya?
"Aku tahu kamu pasti terluka, tapi aku juga tersiksa karena kamu nggak ada disampingku Lisa...,"
Tersiksa?! Spontan rasa marah mengambil alih pikiran dan hati Lisa. Terus gimana aku?!
Lisa menarik tangannya dari genggaman Candra.
"Apa yang kamu mau sebener nya, Candra?" Suara Lisa terdengar dingin.
Masih sambil tersenyum Candra menjawab, "Aku cinta sama kamu. Aku mau kita sama-sama lagi, aku mau kamu kembali."
"Setelah semua yang kamu lakuin?" Tanya Lisa dingin. "Kamu masih berharap aku mau kembali sama kamu?"
Seperti tidak terpengaruh emosi, Candra mengangguk. "Kamu boleh maki-maki aku, teriakin aku, kamu boleh lakuin apapun yang kamu mau, tapi tolong.... tolong balik lagi kaya dulu, maafin aku. Aku mohon, Lisa." Bujuk Candra masih belum menyerah.
"Candra! You're married!" Lisa memakinya tanpa berpikir. Mendadak tempat itu menjadi hening, perhatian orang-orang mengarah pada meja Lisa dan Candra. Lisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Lisa menarik tas nya dari meja dengan kasar dan mulai berjalan cepat. Air mata sudah menggenang dipelupuk matanya, dan merasakan luka dalam dihatinya kembali berdarah. Sebuah tangan merenggutnya dan menghentikan langkahnya.
"Lisa, tolong, bisa kita bicara baik-baik kan?" Candra menggenggam tangan Lisa erat-erat.
Lisa masih berdiri mematung, tidak sanggup berkata apalagi melepaskan diri dari Candra.
"Aku mohon dengerin aku," Mohon Candra.
"Aku mohon kamu tinggalin aku Can!" Lisa juga memohon.
"Aku nggak bisa," Candra meraih kedua tangan Lisa. Matanya yang besar kecoklatan memancarkan permohonan.
Lisa membenci dirinya sendiri karena terlampau lemah. Dan Lisa membenci dirinya juga karena telah membiarkan Candra memeluknya. Lisa tidak punya sisa kekuatan ketika Candra menariknya kedalam pelukannya. Lisa bahkan membiarkan tangisannya pecah didada Candra. Lisa tidak bisa berbohong, gadis itu sangat merindukan Candra. Lisa tidak tahu apakah masih mencintainya atau tidak, tapi Lisa sangat merindukannya. Berada dipelukannya membuat Lisa menyadari, betapa selama ini dia merindukan kehadiran Candra yang dulu selalu mengisi hari-harinya.
"Lisa, aku masih sayang sama kamu," bisik Candra. Lisa bisa merasakan ciuman Candra dikepalanya. Gadis itu terisak, tidak mampu menyembunyikan kesedihan.
"Dan aku tahu kamu masih sayang sama aku juga...,"
"Aku nggak tahu Candra," Ujar Lisa, bingung pada hati dan pikirannya. Masihkah ada rasa cintanya untuk Candra setelah semua yang telah dilakukan pria itu?
"Tapi kamu udah nikah Can, dan bahkan udah punya anak,"
"Sekarang aku emang udah nikah, tapi nggak akan lama lagi...,"
"Apa maksud kamu Candra?" Lisa takut mendengar jawaban yang akan dikatakan Candra.
"Pernikahan kami nggak berhasil Lisa, aku nggak bisa lanjutin pernikahan ini." Ujar Canda sambil mengeratkan pelukannya, membuat Lisa sedikit terkejut dan memberontak.
"Tapi kamu udah punya anak, apa kamu nggak pikirin dia?"
"Aku pasti tanggung jawab atas hidupnya, tapi aku nggak mau orang lain jadi istriku. Aku mau kamu, aku butuh kamu Lisa."
"Apa maksud kamu Candra?!" Lisa merasakan aneh, ketakutan dan kesadaran baru.
"Aku mau ajuin gugatan cerai sama Clara." Jawab Candra tegas, membuat Lisa terkejut dan spontan melepas pelukannya dari Candra.
"Semudah itu Candra?" Sentak Lisa sambil menatap tajam, seperti menemukan kemarahan yang sudah lama terpendam.
"Maksudmu?" Tanya Candra tak mengerti, masih berusaha bicara selembut mungkin.
"Gimana bisa kamu semudah itu minta cerai sama ibu dari anak kamu?" Lisa tersenyum sumbang sambil menggeleng, tidak mengerti dengan jalan pikiran Candra. Candra mencoba meraihnya, tetapi Lisa melangkah mundur.
"Karena aku cinta sama kamu, dan aku nggak cinta dia." Kata Candra mencoba meyakinkan Lisa.
"Tapi dia ibu dari anak kamu, apa kamu nggak mikirin gimana masadepan dan hidup anak kamu?" Tanya Lisa penuh keheranan.
"Kamu nggak ngerti Lisa...,"
"Nggak, aku nggak ngerti," Lisa menggeleng. "Kamu selingkuh sama Clara tanpa peduli ada aku disamping kamu, dan kalian punya anak. Apa nggak ada sedikitpun perasaan kamu buat dia?"
Pertanyaan Lisa kali ini membuat Candra bungkam, tidak bisa menjawab pertanyaan gadis yang berdiri sambil menangis dihadapannya.
"Semua nggak ada artinya, hubunganku sama Clara nggak ada artinya,"
"Apa?! Kamu berhubungan sama dia dan sekarang kamu bilang semua itu nggak ada artinya?" Tanya Lisa lagi, semakin tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Candra.
"Aku nggak punya hubungan apapun sama dia, dan aku nggak punya perasaan apapun sama Clara. Tolong kamu percaya sama aku Lisa...," Lisa memandang Candra tidak mampu menyembunyikan rasa heran. Tidak percaya Candra bisa begitu hina. Kalau Candra bisa melakukan hal itu pada Clara, tidak menutup kemungkinan dikemudian hari dia akan melakukan hal yang sama pada Lisa.
"Kamu gila Candra, kamu GILA!" Maki Lisa penuh kemarahan, gadis itu berlari sekuat tenanga menjauhi Candra. Menyusup dikerumunan orang berharap Candra tidak bisa mengejarnya, Lisa berlari tanpa arah. Gadis itu tiba-tiba kehilangan akal sehat, tidak memikirkan kemana langkah kaki akan membawanya. Lisa hanya berharap bisa lari sejauh mungkin dari Candra, berlari meninggalkan semua kenangan dan rasa sakitnya dibelakang sana.
🌺
🌺
🌺
**Selamat sore semua :) aku up lagi nih wkwk, sengaja up nya hari ini supaya besok libur.
Jangan lupa jempol di klik, jan pelit jempol ya kalian🙄🙄
Masa dari kemarin like ku menurun terus, kalian pada kemana wahai readers budiman :(
Sampai jumpa hari senin, aku kasih waktu untuk kalian bisa nabung like sampai setiap part jadi 100 wkwkwk✌✌
LIKE, KOMEN, VOTE** 😘😘
cemunguutt wkwk
biar skalipun clara ngancam bunuh diri setauku candra cuek saja karena dia benci sama clara apalgi mau tunangan ma lisa pujaan hatinya
ga seru cerita ny karakter pemainnya diubah2
sunting saja deh.