"Qay,, kenapa kamu melakukan ini semua padaku,, apa kamu telah melupakan kenangan indah kita selama ini?"
"Lalu,, apakah kamu tidak berfikir,,, apa yang membuatku seperti ini? bukankah setiap perubahan selalu ada sebabnya?"
Djani dan Qaynaya adalah sepasang kekasih yang telah berpacaran selama 5 tahun, karena kesibukan masing-masing, sepertinya mereka mulai bersikap cuek terhadap pasangan mereka sendiri.
Saat hubungan mereka kembali membaik, masalah baru muncul lagi karena Qaynaya dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Doni, yang merupakan sahabat Djani.
Setelah pernikahan Doni dan Qaynaya, apa yang akan dilakukan oleh Djani? apakah dia akan merebut Qaynaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A̳̿y̳̿y̳̿a̳̿ C̳̿a̳̿h̳̿y̳̿a̳̿, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Berusaha
"Djani tiiddaakkk!!"
Qaynaya telah berada dalam pelukan kekasihnya itu didalam apartemennya sendiri, mereka telah kembali dari resepsi pernikahan Rani.
"Sayang, aku tidak sanggup lagi, aku sudah menunggu ini selama lima tahun, tolonglah Qay,, kalau terjadi apapun, tidak sayang,, bukan seperti itu maksud aku, walau tidak terjadi apapun, aku akan bertanggung jawab"
"Aku mohon jangan seperti ini, aku masih harus membahagiakan kedua adik-adik ku, aku adalah harapan mereka, tolong jangan rusak aku sebelum waktunya".
"Aku hanya pria biasa Qay, aku tidak sanggup terus menahannya, apalagi kita sudah terlalu lama berpacaran" perkataan Djani dibarengi dengan bibirnya yang telah mereguk manisnya bibir Qaynaya.
Walau melawan sekuat tenaganya, tetapi Qaynaya tetap tidak bisa menandingi kekuatan Djani, bahkan tidak lama kemudian, gaun Qaynaya telah melorot jatuh ke lantai karena resletingnya ditarik oleh Djani, untuk beberapa saat Djani terdiam memandangi tubuh kekasihnya itu.
Qaynaya menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya, untung saja dia memakai celana legging panjang, jadi bagian bawahnya tidak terekspos, Qaynaya sangat panik melihat Djani, dia tidak menyangka kalau kekasihnya itu akan secepat ini berbuat hal ini padanya.
"Aku sudah pernah bilang padamu, aku mengatakan alasannya kenapa aku tidak mau disentuh olehmu, karena ini yang akan terjadi, kamu telah memaksakan sebuah ciuman, lalu kamu akan terus melakukannya, saat ini kamu bahkan meminta lebih, dan seterusnya juga aku yakin kamu akan memintanya lagi, lalu aku ini apa?? tolong jangan hina diriku kalau kamu memang benar mencintaiku" Qaynaya terisak, dia ketakutan melihat Djani yang hendak membuka celananya, sementara bajunya telah terlempar jauh entah dimana.
Djani terdiam mendengarnya, dia akhirnya sadar telah khilaf, dengan cepat kembali menaikkan gaun kekasihnya dan membenarkan resletingnya, Djani lalu mencium kening Qaynaya.
"Maafkan aku sayang, aku sungguh tidak berniat menghina dirimu, masuklah ke kamarmu, aku akan tidur disini" Djani menahan hasratnya lalu tiduran di sofa saat Qaynaya telah masuk kedalam kamarnya.
"Apa aku terlalu jahat? apa seharusnya aku tidak harus berlebihan seperti ini? mungkinkah Djani begitu kesepian?" batin Qaynaya sesaat setelah dia mengunci pintu kamarnya, Qaynaya kembali lali keluar dari kamarnya untuk memberikan bantal dan selimut buat Djani.
"Kenapa belum tidur?" tanya Qaynaya saat melihat Djani yang sedang melakukan push up, Qaynaya langsung berbalik badan saat melihat situasi dan posisi kekasihnya itu.
Djani bingung tidak tau harus bersikap berbuat apa, yang dia lakukan adalah kegiatan untuk meredam nafsunya yang sudah sangat memuncak.
"Emm, anu,, aku tidak bisa tidur" jawab Djani canggung, apalagi dia hanya memakai kaos dalaman nya saja karena merasa sangat kepanasan, Qaynaya mencoba menguatkan hatinya, lalu kembali melihat kearah Djani.
"Aku pikir kamu akan kedinginan, tapi sepertinya kamu sangat kegerahan, ini selimut dan bantal" ucap Qaynaya lalu mendekati Djani dan memberikan selimut dan bantal yang dibawanya, saat menyerahkan selimut dan bantal tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, tentu saja Djani langsung mundur karena kaget.
Djani sedang berjuang keras untuk bisa meredam nafsu birahinya, tetapi sepertinya darahnya telah kembali bergejolak, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, sepasang kekasih didalam ruangan yang sama dan tanpa orang lain, sudah tentu atmosfer nya akan berbeda.
Qaynaya maju mendekati Djani dan mengambil selimut serta bantal yang dipegang oleh Djani, Qaynaya lalu meletakkannya di atas sofa, dengan pandangan mata yang tidak bisa diartikan oleh Djani, Qaynaya semakin mendekati Djani.
Cccuuuuppppppp
Qaynaya mengecup bibir Djani sekilas, mereka lalu berpandangan, kedua tangan Qaynaya telah melingkar di pinggang Djani.
"Bolehkah aku tidur denganmu?" pertanyaan Qaynaya membuat Djani terperangah dan membulatkan matanya dengan sempurna.
"Sofanya tidak terlalu kecil, bisa muat untuk dua orang" ujar Qaynaya lalu menarik tangan Djani, Qaynaya merapikan bantal dan selimut, Qaynaya tiduran di sofa terlebih dahulu dan menarik tangan Djani, karena kekasihnya itu dari tadi hanya diam mematung.
"Ayo tidur, bukankah besok kamu harus bekerja?" Qaynaya terus menarik tangan Djani, akhirnya mereka tidur berpelukan dengan erat diatas sofa, Qaynaya telah terpejam dan tidur dengan nyenyak nya dalam dekapan Djani.
"Kenapa harus seperti ini Qay,,, kalau seperti ini sama saja kamu semakin menyiksaku" batin Djani, tetapi bibirnya terus tersenyum sambil mengacak lembut rambut Qaynaya, Djani sendiri lalu mencoba untuk memejamkan matanya walau terasa sangat berat.
Pagi menjelang, Djani bangun terlebih dan memandangi wajah cantik kekasihnya yang masih tidur, Djani turun dari sofa dengan gerakan pelan supaya tidak menggangu tidurnya, Djani berniat kembali ke apartemennya terlebih dahulu untuk mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor, sementara Qaynaya dia biarkan tidur, supaya hari ini dia bisa beristirahat dan mengambil libur, karena pastinya dia kelelahan karena beberapa hari ini membantu persiapan pernikahan temannya.
"Mau kemana" Djani dikagetkan dengan suara Qaynaya yang ternyata terbangun.
"Tidur lagi saja sayang, hari ini beristirahatlah, minta libur dahulu, kamu pasti lelah" ucap Djani membenarkan selimut Qaynaya, tetapi kekasihnya itu malah ikut bangun, dan ingin bekerja.
"Aku sudah segar kembali dan tidak lelah, aku mau bekerja" Qaynaya lalu merapikan selimut dan bantal yang tadi malam mereka pakai.
"Baiklah,, tapi ingat untuk tidak memaksakan diri, saat kamu lelah maka istirahatlah, dan jangan sampai telat untuk makan, bersiaplah lebih dahulu, aku juga akan bersiap, nanti aku akan menjemputmu untuk berangkat bekerja bersama"
Qaynaya hanya mengangguk lalu mengambil air minum sebelum masuk ke kamarnya saat Djani sudah pergi.
"Baru pulang Djani?" tanya Reina dengan tenangnya, saat melihat Djani membuka pintu, Djani tidak membalas apapun lalu hanya membuat kopi untuknya sendiri.
"Apa kamu merasa lebih baik" tanya Djani pada Reina yang terlihat kecewa karena terlihat didepan meja ada secangkir kopi yang sepertinya disiapkannya untuk Djani.
"Sudah lebih baik, hanya saja kakiku masih sakit saat digerakkan tanpa tongkat ataupun bantuan dari seseorang"
"Baiklah, dan berusahalah cepat sembuh, Doni kelimpungan tanpa dirimu, pekerjaan menjadi lebih berat dua kali lipat mengerjakan tugas dan pekerjaan dirimu"
Djani duduk sebentar di atas sofa di depan Reina untuk menghabiskan kopinya, tanpa dia sadari, dia meletakkan jas yang tadi malam dia pakai di atas meja, sementara ponselnya ada di dalam jas itu.
Setelah Djani masuk kedalam kamarnya, Reina mendengar suara ponsel, dengan melihat situasi, Reina lalu mengambil ponsel didalam saku jas Djani yang ada di atas meja, Arya melihat hal itu, tetapi dia yang semalam telah mendapatkan jatah lubang milik Reina, tidak berani melakukan apapun untuk melarangnya.
"Djani, kamu sarapan disini ya,, aku membuat sarapan untuk mu" pesan dari Qaynaya.
"Jangan terlalu gatel jadi perempuan, apa tidak puas semalaman kamu telah bersama dirinya? sekarang gantian dia bersama diriku, mungkin dia belum puas denganmu, sehingga dia membuat alasan untuk bisa kemari" Reina sangat puas dengan balasan pesan yang dia ketik.
Reina masih terus berusaha untuk bisa memisahkan Djani dan Qaynaya, dengan cepat Reina lalu menghapus pesan yang dia kirimkan pada Qaynaya, supaya tidak terbaca oleh Djani, dan dengan cepat kembali menyimpan ponsel itu ke saku jas Djani.