Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN MAUT
Memakai gaun merah maroon dengan leher dan bahu rendah, membuat ***** nya terlihat menggoda. Kakinya yang jenjang dan mulus menyembul saat Alexa melangkah. Semua mata lelaki memandang, saat Alexa masuk ke dalam bar.
Begitu cantik dan sexy, matanya yang coklat berbinar ketika menyambut tangan Nickolas yang kekar. Nickolas kebetulan berada di bar. Laki-laki yang penuh tatto itu sangat terpesona ketika melihat Alexa. Gadis itu saat ini duduk di depan nya hanya berbatas meja.
"Namamu cantik seperti orangnya. Apa kau sengaja datang kesini untuk minum atau ada yang mengutusmu untuk membeli Napza?"
"Nickol, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku kesini cuma mampir, jadi jangan berpikiran kalau ke bar harus minum dan membeli lintingan."
"Sorry.. apa kau tidak tahu bahwa bar ini adalah khusus untuk transaksi narkoba?" kata Nickolas pelan. Alexa mengerjitkan alisnya, pura-pura kaget.
"Kalau begitu aku keluar saja, aku baru menyadari semuanya laki-laki, hanya aku saja wanita. Tahu begini aku tidak mampir. Tadi maunya singgah di bar double six, tapi belum buka. Akhirnya aku mencari bar yang buka. Bodohny aku bisa memilih bar ini.." ucap Alexa sambil melempar senyum mautnya.
"Owhh..sayank, kau very fascinating. Aku tidak bisa menahan hasratku. Bolehkah aku mencium tanganmu?"
"Tidak Nickolas, aku tidak terbiasa melakukan itu. Kita baru berkenalan, aku masih virgin." jelasnya membuat perasaan Nickolas melambung ke awang-awang mendengar dua suku kata itu.
"Aku tidak percaya akan hal ini, serasa mimpi. Aku membutuhkan permaisuri di istanaku. Hari ini aku melamarmu."
"Nickol apakah kau dalam keadaan sadar, bicaramu makin kesini, makin membingungkan."
"Apakah kau belum pernah berpacaran kau begitu naif. Kau sudah dewasa sudah bisa merasakan aura cinta dariku, mengertilah sayank. Aku rasa kau bohong mengaku pernah pacaran."
"Aku pernah pacaran oline, kita berjauhan. Dia di sono aku disini hahaha...seruu dan menyakitkan."
"Beruntung sekali orang yang mendapat cintamu, sekarang masih pacaran?"
"Sudah putus, semenjak ponselku di jambret orang."
"Syukurlah, jangan percaya sama rayuan lelaki, semua palsu."
"Mungkin kau juga palsu."
"Hahaha...betul, sebutkan alamat rumahmu akan aku belikan ponsel, pilih merknya apapun yang kamu minta aku akan belikan."
"Aku tidak minta yang aneh-aneh, minta Napza 1kg kirim ke alamatku."
"Kau sadar bicara, jangan main-main, barang begini sangat berbahaya dan taruhannya nyawa."
"Aku tidak percaya, buktinya kau aman saja, tidak ditangkap polisi."
"Karena aku bermain, kau tidak akan mengerti."
"Ya sudah aku mau pergi." kata Alexa berdiri. Nickolas menarik tangannya supaya dia duduk lagi. Wajah Nickolas di penuhi keringat. Barangkali dia mengira Alexa serius.
"Aku mau pulang, tidak baik seorang gadis duduk sendiri di bar tanpa pengawalan."
"Aku pengawalmu. Tidak boleh ada yang dekat denganmu jika ingin nyawa nya tidak melayang."
"Nickol, aku rasa anak buahmu pasti banyak, ajak sekalian ke rumahku dan ingat bawa napza 1 kg."
"Oke say......" Nickolas menelepon anak buahnya memerintahkan apa yang Alexa minta.
Alexa keluar bersama Nickolas, dia tidak mendapatkan Marchel di luar. Matanya jelalatan berharap Marchel di mobil, tapi mobilnya tidak ada.
"Aku minta naik mobil Lamborghini yang atapnya terbuka, dan mobilku berada di urutan paling belakang."
"Berbahaya say..apalagi kita membawa senjata dan narkotika."
"Suruh pengawalmu bawa barangnya, aku tidak mau bermasalah kalau mobil di tangkap polisi. Aku bisa mati ketakutan sepanjang jalan, kita hanya butuh pistol saja untuk jaga-jaga."
"Oke say...aku akan atur. Apakah kau bisa menembak?"
"Aku memegang pistol tidak bisa apalagi menembak."
"Nanti aku ajarkan, pistol aku simpan di dashboard mobil." kata Nickol enteng.
Di Manssion Alvaro dengan wajah merah membara mengamuk tidak karuan. Pot bunga hancur di tendang. Semua pelayan ketakutan. Hari ini pistol Alvaro tidak mengambil nyawa pelayan. Tapi dua anjing pemburu di tembak. Ntah apa yang terjadi sehingga Alvaro sedikit berubah.
"Kemana Marchel membawa Alexa, katakan atau kalian mati!!" teriak Alvaro dengan suara tinggi.
"Aku tidak tahu Tuan, Alexa berdandan cantik sekali, kami sampai pangling." kata Mika ketakutan.
"Apa kau bilang, siapa mendandani Akexa."
"Sa. Sa. Saya Tuan." dengan gemetar Viji menjawab.
"Plaakkk..." tamparan Alvaro membuat Viji terjatuh saking kerasnya. Alvaro hampir menarik pelatuk pistolnya ketika mobil Marchel masuk. Marchel turun dari mobil tergopoh-gopoh.
"Tuan siapkan pengawal dan senjata. Iring-iringan mobil Nickolas menuju kesini."
"Goblog, dasar bodoh, kenapa kau ajak Alexa keluar!!" pekik Alvaro menampar Marchel.
"Plookkk..."
"Tuan menyuruh membunuh Nickolas. Aku sudah minta izin dan Tuan setuju memakai Alexa sebagai pancingan." ucap Marchel memegang pipinya yang merah.
Alvaro terdiam sesaat, dia mengingat jika Marchel pernah meneleponnya waktu rapat. Tapi dia tidak ingat apa yang di tanya Marchel atau apa yang dia jawab. Kemudian dia masuk meninggal kan Marchel sendiri. Akhirnya Marchel memerintahkan pengawaĺnya untuk berbaris.
"Tidak perlu banyak membawa mobil. Kalian cukup menunggu di jalan yang menanjak, kalian menyebar, sembunyi di pepohonan. Habisi mereka disana. Mobil Lamborghini tidak boleh di tembak. Karena ada nona Alexa di dalam mobil itu."
"Siap bos." jawab mereka serentak.
Marchel mengeluarkan dua rompi untuk melindungi dadanya dari terjangan pistol panas. Dia memakai rompi dan menyerahkan satu kepada Alvaro.
"Kau urus sendiri!!" bentak Alvaro melempar rompinya.
"Kau tidak kasihan kepada Alexa yang kita jadikan tumbal?"'
Alvaro bangun dengan menggerutu dan memakai rompi. Dia sangat marah atas kelakuan Marchel yang berani kurang ajar membawa Alexa.
"Sampai Alexa celaka, kau aku tembak ditempat."
"Tidak usah berdebat, Alexa sedang bersama Nickolas. Kapan saja dia bisa mati atau Nickolas melarikannya." sahut Marchel merasa geram atas tingkah Alvaro yang ke kanak-kanakan
Alvaro dan Marchel keluar ruangan menenteng AK-47, lengkap dengan peluru kaliber 7,62 x 39 mm yang lebih kecil, dan memiliki pilihan tembakan (selective-fire).
Lima puluh orang pengawal bersiap dan berbaris menunggu instruksi dari Marchel. Pengawal di perintahkan naik ke mobil SUV Rezvani sedangkan bos mereka, Alvaro dan Marchel naik ke mobil Rubicon anti peluru.
Ada empat orang pengawal duluan berjalan naik motor Trail. Mereka berempat akan menunggu lawan dan memberi informasi.
"Sekarang kalian berangkat, usahakan berada di pertigaan, kalian habisi mereka." perintah Marchel. Lima puluh pengawal berangkat dengan senjata terkokang.
Kemudian Marchel memacu mobilnya, dia tidak mengerti kenapa Alexa membawa Nickolas kemari. Padahal sebelumnya mereka tidak ada permusuhan dan saling menghargai.
Perjalanan ini membuat wajah Nickolas berseri-seri. Nalar mafia nya sontak hilang ketika paha Alexa berkilat diterpa matahari. Nickolas menelan salivanya. Hasratnya naik ke ubun-ubun. Reflex tangan kirinya menyentuh belahan gaun di paha Alexa. Senyum Alexa mengembang, dia menepis tangan Nickolas pelan.
"Pesta belum mulai, sabarlah."
"Aku tidak sabar sayank. Ntah mimpi apa aku semalam sehingga bertemu denganmu. Biasanya aku jarang ke bar, tapi tumben aku mengikuti ajakan teman. Rupanya Tuhan menunjukan jodohku. Aku sangat bersyukur." kata Nickolah mengurai senyum.
"Jodoh dan kematian tanpa pembatas, kadang kita tidak tahu kemana takdir membawa kita." gumam Alexa.
*****