Pernikahan yang dijalani Nafa Naufara 23 tahun dan Sakti Bimantara 30 tahun sudah memasuki usia 6 bulan, awal yang indah. Meskipun pernikahan itu harus dijalani secara jarak jauh, dengan alasan ada pekerjaan diluar kota. Nafa tidak mempermasalahkan. Namun ketika pertemuan itu semakin berkurang, Dara merasa curiga. Kini Sakti sebagai suami, hanya bisa menemui Nafa istrinya sebulan dua kali.
Kecurigaan Nafa, akhirnya terjawab. Siang itu di hunian perumahan type 36, tiba-tiba Nafa kedatangan dua orang tamu. Dua orang wanita beda usia. Yang tiba-tiba mencaci maki dengan kata-kata yang kasar.
"Dasar pelakor, tidak bisa mendapatkan pria singel malah merebut suami orang." Hardik salah satu perempuan yang kira-kira 5 tahun di atas Nafa. Nafa melongo tidak percaya dengan makian perempuan tadi.
Benarkah Nafa menikah dengan pria beristri sedangkan setahu dia Sakti adalah pria singel?
Apa yang akan Nafa lakukan setelah dia tahu bahwa Sakti adalah pria beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindari Sakti
Seperginya Mas Sakti, Aku kembali menangis meratapi kenyataan pahit yang baru saja Aku terima. Nara, sahabatku masih setia menemaniku. Dia memang sahabat yang benar-benar berempati padaku. Dia selalu mendukung Aku, dalam susah maupun suka.
"Udah Naf, jangan terlalu larut dalam kesedihan aku tahu kamu sakit dan kecewa, tapi mau gimana lagi? Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah berusaha tenang dan tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan, cara ini Insya Allah bisa membuat kamu sedikit tenang," bujuk Nara sembari mengusap-ngusap bahuku.
Aku mencoba mengikuti saran Nara, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dan berulang-ulang Aku lakukan. Memang benar Aku merasa sedikit lega. Walaupun luka hati tetap masih ada.
"Naf, sebaiknya aku pulang dulu ya. Sebentar lagi aku masuk kerja sore. Ini mau jam 4. Sorry, aku tidak bisa temanin kamu dan nginap disini. Mungkin lain kali ya." Ucap Nara, seraya melihat jam di tangannya. Aku mengangguk, padahal sebenarnya Aku masih ingin bersama Nara. Namun Nara harus bekerja sore ini, kebetulan dia naik shift sore. Pekerjaan Nara sebagai Kasir di sebuah Supermarket besar di kotaku ini, yang menerapkan sistem kerja shift.
"Yang sabar ya Naf, jika ada waktu nanti kita ketemu lagi. Be a strong women!" Ucapnya sebelum pergi menyemangatiku. Aku tersenyum dan merangkul Nara, kemudian air mata ini jatuh lagi.
"Sudah Naf... nanti tidak akan habis-habis. Sayang lho air matamu ini. Aku pamit ya!" Nara mengusap bahuku sebelum melepaskan pelukannya. Nara menaiki motor maticnya dan melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Dah Nafa....!" lambainya sambil berlalu. Sejenak Aku tertegun menatap kosong ke arah depan. Bayangan Nara semakin jauh, dan himpitan kecewa di dada ini malah semakin menghujam. "*Mas... kenapa kamu tega bohongi* *Nafa? Apa salah Nafa? Padahal Nafa sangat* *mencintaimu Mas*." Bisikku dalam hati sambil kembali air mata ini berderai.
Aku tersadar ketika suara HPku berbunyi, tanda panggilan masuk. "Mas Sakti?" Kejutku.
Aku membiarkan panggilan masuk dari Mas Sakti, sampai beberapa menit baru panggilan masuk itu berhenti. Lalu tidak berapa lama bunyi notif pesan WA masuk terdengar. "Ting...."
Masih dari Mas Sakti. Aku tidak membuka juga pesan WA tersebut, kubiarkan pesan itu sampai beberapa kali masuk.
Keesokan harinya Aku masih beraktivitas seperti biasa, bekerja di Butik Delia. Masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Hari ini Aku begitu sibuk melayani pelanggan. Ada banyak pelanggan dari kalangan kawula muda yang ternyata menyukai hasil rancangan gaun malamku. Aku bersyukur, ternyata usahaku membuahkan hasil yang cukup bagus. Padahal ini minggu pertama Bu Delia launcing gaun malam hasil rancanganku. Dibalik rasa syukur ini ada tetesan air mata haru, yang sejenak melupakan rasa sedih atas kecewaku terhadap Mas Sakti.
"Wahhh... keren ya, ini seperti rancangan Desainer handal. Jahitannya juga rapi, detailnya juga keren!" Puji salah satu pelanggan. Aku yang tidak sengaja nguping, tak hentinya bersyukur pada Yang Maha Kuasa.
"Bu, ini rancangan siapa dan Desainernya siapa, terus dijahitnya dimana?" Bahkan salah satu pelanggan penasaran dengan gaun malam hasil rancanganku, sampai menanyakan rancangan siapa, Desainer siapa, sampai menanyakan dijahitnya dimana?
"Ohh... kalau yang ini, kami masih fresh mengeluarkan rancangan gaun malam ini, baru seminggu launcing. Dan ini perancangnya kebetulan pelayan kami sendiri, sedangkan Desainernya juga Desainer kami sendiri, dijahit juga di butik kami dengan tenaga ahli jahit yang handal." Beber Bu Delia merasa bangga terhadap para Personil butiknya. Aku tersenyum bangga mendengarnya.
"Wawww... rupanya butik Delia punya perancang busana yang jago menarik minat kawula muda. Ini keren lho Bu, saya tertarik dengan gaun malam yang modelnya kekinian dan anak muda banget." Puji pelanggan itu lagi seraya meraba-raba detail gaun malam itu.
"Kalau boleh tahu yang mana perancang gaun malam ini?" Tanya pelanggan itu penasaran. Saat itu juga sontak dadaku berdetak cepat. Rasa bahagia bercampur haru mendengar salah satu pelanggan ingin tahu siapa perancang gaun malam itu. Jantungku tidak berhenti berdetak. Antara rasa bahagia dan tidak percaya menjadi satu.
"Nafa... kemari sebentar!" Bu Delia tiba-tiba memanggilku. Aku yang sejak tadi degdegan sontak menghampiri Bu Delia yang sedang melayani pelanggannya. Aku menghampiri dengan perasaan campur baur.
"Iya Bu...," sahutku.
"Nah ini dia perancang gaun malam kami." Sambut Bu Delia memperkenalkan Aku sebagai perancang gaun malam yang saat ini sedang digandrungi kawula muda.
"Wowww... pantas saja hasil rancangannya anak muda kekinian, rupanya perancangnya masih muda dan cantik." Puji pelanggan itu menatapku takjub. Aku tersenyum dan tertunduk malu dengan segala pujiannya.
"Terimakasih Mbak," ucapku malu-malu pada perempuan yang diperkirakan usianya 30 tahun itu, masih muda. Walaupun masih jauh lebih tua dia dibanding Aku.
"Benar Mbak ini pelayan di butik ini? Waww...hebat bisa merancang gaun malam yang keren. Jangan kasih kendor Bu, punya perancang berbakat seperti Mbak ini. Maksud saya jangan kasih ke orang lain. Hahaha....!" Ujar pelanggan itu diakhiri tawanya yang renyah.
"Wah... jika punya perancang sekelas kalangan artis begini, bisa-bisa butik Delia ini terkenal ke mancanegara." Celetuk pelanggan itu tidak henti-hentinya memuji hasil rancanganku. Padahal rancangan karya Mbak Nirapun tidak kalah bagus dan menariknya. Hanya kebetulan rancanganku sasarannya khusus anak muda kekinian. Semua tersenyum bahagia menanggapi ucapan pelanggan butik Delia ini, termasuk Aku.
"Terimakasih Mbak pujiannya, dan atas kehadirannya kami ucapkan Terima. Silahkan datang kembali lagi dengan hasil rancangan kami yang lainnya yang tidak kalah menarik juga lho." Pungkas Bu Delia senang.
Sejak saat itu Aku semakin bersemangat menjalankan pekerjaanku yang baru, dan sekarang Aku benar-benar diangkat menjadi Asisten Desainernya Mbak Nira. Mbak Nirapun merasa bersyukur setelah Aku diangkat menjadi Asisten Desainer, Mbak Nira merasa terbantu berkat kerjasama kami. Pengetahuan dan ilmuku dibidang merancang busana semakin maju pesat.
Hingga suatu hari ada sebuah permintaan dari salah satu pelanggan butik yang menginginkan gaun malam yang kekinian namun temanya unik. Bu Delia menyampaikan pesanan pelanggan ini, katanya pelanggan ini masih muda usianya 28 tahun.
"Gimana Naf, kamu siap dengan rancangan request pelanggan baru kita itu?" Tanya Bu Delia menatapku mencoba meyakinkan.
"Insya Allah Bu, Nafa siap," sahutku optimis.
Sejak saat itu Aku memulai proyek baru, yaitu gaun malam dengan tema unik. Awalnya Aku merasa kesulitan untuk menentukan detail yang sentuhannya unik untuk tema gaun malam kali ini. Dengan Bismillah, akhirnya Aku bisa menyelesaikan hasil rancanganku yang kedua, dengan tema gaun malam sentuhan unik.
"Waww... rancangan gaun malam dengan sentuhan uniknya keren banget Naf. Gila... kamu benar-benar berbakat menjadi Desainer handal. Asli keren banget Naf." Puji Mbak Nira dengan hasil rancanganku yang kedua. Gaun malam kekinian bertema unik ini, salah satu request pelanggan baru di Butik Delia ini. Aku merasa terharu dengan pujian Mbak Nira barusan. Semoga saja pelanggan barunya suka dengan hasil rancanganku.
"Kamu benar-benar hebat Nafa, kamu memang berbakat jadi Perancang busana. Sentuhan detailnya benar-benar kekinian tapi kesan uniknya dapat. Ya ampun otak kamu memang brilian Naf." Puji Mbak Nira lagi dan lagi.
"Makasih Mbak, Mbak Nira ini terlalu berlebihan. Justru Mbak Niralah Perancang dan Desainer handal dan berbakat butik ini. Nafa tidak ada apa-apanya dibanding Mbak Nira." Ucapku merendah dan malu-malu. Akhirnya hari ini Aku bisa menyelesaikan rancanganku yang kedua yang boleh dikatakan sukses.
Aku merasa bersyukur hari ini, sebab rancanganku yang kedua sesuai request salah satu pelanggan baru, hasilnya bisa diterima Bu Delia selaku Owner Butik ini. Tinggal launcing dan memperkenalkan pada pelanggan yang lain.
Jam 4 sore tiba, saatnya pulang tiba. Namun Aku sedikit pulang telat sebab Bu Delia tadi mengadakan rapat mendadak mengenai produk yang akan launcing minggu depan.
Tiba di depan butik, tiba-tiba Aku dicegat Mas Sakti. Aku ditariknya menuju mobilnya. Aku sangat terkejut dan takut. Rasa kecewa itu kini kembali merekah lagi, setelah seminggu lamanya Aku bisa sedikit melupakan Mas Sakti dan masalahku karena kesibukan di butik. Tapi kini Mas Sakti memaksaku untuk ikut pergi bersamanya, entah kemana. Aku berontakpun tiada guna, sebab diluar sudah banyak orang dan Aku tidak mungkin berteriak dan memaksa keluar mobil lagi.
Iyan kan Thor...😬😬😬
ah mau gimanapun terserah author aja lah.....hanya author yg tau 🤭🤭🤭