Beberapa bab akan mengandung konflik keras. Tidak diperkenankan berkomentar buruk dan sok tau sebelum membaca sampai bab terakhir. Yang tidak kuat harap SKIP.
Bukan aku tidak mencintai gadis impianku, Bukan tidak menyayangimu. Aku menjaga dirimu dan kehormatanmu. Memilihku adalah pilihan berat untukmu, Jika kamu sabar..tunggulah aku. Kulindungi wanita pilihanku, Karena aku mencintaimu selalu walau Nyawa ada di ujung peluru.
Aku Ardian Putranto, Lettu Ardi.. memilihmu dalam hatiku Adinda ku...
Bersama kisah Lettu Rama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Sibuk
Ardi sudah meminta surat ijin menikah dari desa Adinda dan tidak menemui kendala. Berhari hari Ardi off dari kegiatannya dan mengantar jemput Adinda dari kontrakannya.
Hari sudah beranjak sore. Ardi mengajak Adinda makan karena mereka melewatkan jam makan siang
"Apa lelah Din?" Tanya Ardi pada Adinda yang raut wajahnya sedang murung sambil meminum es jeruk di hadapannya dengan tatapan kosong
"Sulit sekali mas, aku hanya kasihan padamu dengan membawa statusku"Jawab Adinda
"Aku yang menjalani, jangan dengarkan apa kata orang lain" Ardi mencubit mesra hidung Adinda. Adinda tersipu malu hingga pipinya memerah.
"Bidadariku cantik sekali kalau malu malu seperti ini" Ardi mengedipkan mata menggoda Adinda.
"Besok kita ke Komandan dan lusa pemeriksaan kesehatan. Sabar ya" Bujuk Ardi
***
"Lettu Ardi yang mengajukan nikah?" Komandan tersenyum melihat Lettu Ardi dan Adinda secara bergantian.
"Siap Komandan" Ardi tersenyum bahagia
"Adinda.. apa sudah siap sebentar lagi menyandang status istri dari Lettu Ardi? Suara tegas Komandan membuat gugup Adinda.
"Siap pak" Adinda mengangguk dengan senyum yang di paksakan.
----
"Jika Lettu Ardi harus bertugas membela negara apa Adinda siap menerima segala resiko yang mungkin terjadi?"
Adinda menarik napas yang terasa berat. Adinda sangat takut jika harus kehilangan lagi.
"Siap.." Suaranya terdengar bergetar
"Siap atau tidak?" Tanya Komandan menegaskan
"Iya..saya siap" Jawab Adinda menahan tangis yang hampir menggenang
***
"Ada apa Dinda? memang begitu tugasku. Jangan terlalu di masukan ke dalam hati" Ardi mengusap Jilbab Adinda melihat istrinya nampak murung.
"Masih kuat dek?" Ardi tersenyum melembutkan suaranya sambil menatap wajah Adinda dengan jarak yang sangat dekat. Adinda menoleh pada Ardi, Adinda terkejut dan ikut tersenyum menanggapi sapaan baru suaminya.
"Iya abang, adek masih kuat"
Ardi berbisik di telinga Adinda mesra sekali "Abang yang nggak kuat Dindaku"
***
Persyaratan terakhir sebelum diserahkan lagi ke komandan adalah pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Tentara atau RST. Ardi dan Adinda melangkah menuju ruang pemeriksaan. Adinda sangat gugup hingga tangannya dingin.
"Masuklah dek, abang tunggu disini. Jangan khawatir.. dokternya teman Abang"
"Iya bang" Adinda melangkah masuk ke dalam ruangan
-----
Dokter mengerutkan dahi melihat Adinda, lalu membaca lagi untuk meyakinkan diri.
"Mbak Adinda ini.. maaf.. janda khan ya?" Tanya dokter seperti tidak yakin
"Iya dok" Jawab Adinda tersenyum
-----
Cukup lama Ardi dan Adinda menunggu hasil pemeriksaan. Dokter keluar dengan membawa dua lembar hasil pemeriksaan dan sepucuk kecil kertas
Ardi bersiap memasukkan lembaran itu ke dalam tasnya, ia melihat kertas kecil yang menandakan Adinda masih "utuh". Ardi memanggil dokter Nisa dan berbicara dengannya.
"Nis.. ini kamu nggak salah tulis? Istriku ini..."
"Janda??" Tanya dokter Nisa
"Iya" Jawab Ardi mantap
"Ya benar tertulis seperti itu, tapi kenyataannya lain. lebih baik kamu tanyakan saja langsung pada Adinda. Dia sungguh masih utuh Ar" Dokter meninggalkan Ardi yang masih mematung tak percaya.
Ardi melangkah pelan mencerna setiap perkataan dokter Nisa. Ardi memandang Adinda yang sedang asyik menonton drama korea lalu duduk di sebelahnya.
"Dek.. sebenarnya apa yang terjadi dengan pernikahanmu dan almarhum Ridho?"
Adinda terdiam sejenak lalu mematikan video drakornya. Adinda membalas tatapan Ardi, dia melihat sepucuk kertas dan Adinda tau kemana arah pembicaraan Ardi.
"Mas Ridho meninggal terkena serangan jantung sesaat setelah ijab qabul bang" Adinda menunduk tidak ingin mengingatnya lagi.
"Jadi.. kamu.." Ardi terkejut menata hatinya
Adinda mengangguk dan menangis sesenggukan. Ardi memeluk Adinda erat mengusap sendiri air mata di bingkai matanya.
"Dinda hanya milikmu bang. Milik Abang sendiri" Kali ini Ardi sungguh tak bisa membendung rasa harunya
Bangga sekali aku Dinda.. Tak pernah aku bayangkan hal seperti ini bisa kudapatkan. Kamu memang wanita yang sangat berbeda.
.
.
kalau ibu yg seperti ini, hanya ada neraka bagi kehidupan anaknya... 😡