Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.
Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Biasa diejek.
Perlahan kakiku sembuh. Beberapa hari tidak masuk sekolah membuatku kangen datang ke sekolah? Kangen? Dengan cara sebagian teman yang menilai negatif padaku itu masihkah kurasakan rindu datang ke sekolah? Bukan. Berada di dalam kelas dengan teman-teman sekelas yang membuatku kangen. Mereka yang tidak seperti Arin Squad. Mereka yang bisa menerima aku si makhluk jelek ini.
Seperti hari-hari kemarin, aku berangkat ke sekolah berjalan kaki melewati jalan aspal depan rumah dan memasuki halaman sekolah.
Moodku sedang baik sehingga berangkat lebih awal lima belas menit sebelum jam masuk kelas. Sejenak berhenti ketika kudengar suara Nai memanggilku.
"Icha! Icha! Tunggu aku!"
Aku pun menoleh mendengar teriakan itu dan kulihat Nai melambaikan tangan padaku. Kami tersenyum bersamaan.
"Cepatan sedikit," kataku.
"Ah ngapain cepat-cepat. Masih lama belnya. Kok kamu datang cepat?" Tanya Nai.
"Iya nih lagi senang saja. Memang nggak boleh ya?" Tanyaku.
"Kamu kan paling senang datang satu menit sebelum bel bunyi," lanjut Nai.
"Saat ini beda sama kemarin. Aku ingin menikmati suasana sekolah. Lihatlah awan putih sekali seperti kapas dan langit biru terang. Cantik bukan?" Aku menarik nafas menghirup udara pagi. Sol sepatu kami menapak hamparan lapangan sekolah.
"Ya, ya bagus. Cerah sekali. Tetap saja aku heran biasanya kamu alergi sama suasana sekolah apalagi sama teman-teman iseng yang usil ejek kamu terus itu. Datang sepagi ini, wow gitu!" Seru Nai di ujung kalimat.
"Nai...aku semangat sekali hari ini, karena aku bermimpi jumpa cowok keren. Cakepnya belum ketahuan sih," kataku sambil tersenyum agar Nai penasaran dengan kata-kataku.
"Apa?? Keren tapi cakepnya belum ketahuan...?" Bola mata Nai berputar ke samping.
"Ya iyalah cowok keren tapi nggak bisa ketahuan cakep atau tidak. Dari bodinya sih keren gitu, atletis tapi wajahnya samar-samar kurang jelas Nai. Bayangkan jika aku ada dalam rengkuhannya uuuhm," ceritaku.
"Samar-samar gimana nih?" Nai melihat ke manik mataku.
"Tidak terlalu jelas jadi aku nggak kenal siapa dia. Kalau temen sekolah sih enggak tahu juga ya. Iya atau bukan ya. Dia memakai jas, setelan jas warna abu-abu pekat. Mau pergi ke acara kayaknya atau sengaja mendatangi aku di dalam mimpi ya Nai?"
"Wow mana aku tahu! Tanda jodoh dari Tuhan kali ya." Nai asal saja menebak. Aku meringis melihat wajahnya.
"Sok tahu Nai..." Gantian Nai meringis padaku.
"Kamu nanya ya aku jawab Eh siapa tahu cha, itu jodoh kamu nantinya. Menampakkan diri di dalam mimpi dulu." Bagiku Nai sekedar menghibur.
"Sok tahu. Ya ampun tapi kan aku nggak lihat wajahnya Nai. cacat atau enggak. Ganteng atau enggak. Gimana juga bisa tahu?" Aku memegang pelipis kanan dengan telunjuk.
"Astaga... jadi pilih yang ganteng juga nih? Ckck." Nai berdecak heran.
"Kenapa memang? Tidak bolehkah? hehehe Nai, pandangan pertama berasal dari mata baru turun ke hati, gitu loh. Pertama lihat wajahnya kan bisa jadi suka. Kalau tertarik sih. Lama-lama suka...!" Aku beri alasan.
"Hahaaa wekk wekk, bisa saja." Nai menertawaiku. Namanya juga mimpi Nai.
"Dasar aku ya. Sadar dong aku ini siapa Nai," kataku akhirnya. Lagian itu cuma cerita mimpi. Hanya bunga tidur.
"Hei Icha! Kamu tak salah kok, semua manusia mempunyai hak yang sama termasuk kamu. Dalam hal apapun. Kamu boleh mendapatkan cinta siapa pun dan berhak punya impian" Nai kadang pintar.
"Iya, iya deh. tuh lihat, kita bakal papasan nih." Tunjuk Nai dengan wajahnya yang mengarah ke depan kami.
"Biar aja, siapa takut," kataku. Nai menunjuk arin dan kawan-kawan yang berjalan dari lorong sebelah ruang Majelis Guru.
"Ruang kelas mereka berada di seberang depan ruang Majelis Guru sehingga melewati lapangan yang sama yang sedang kulewati dengan Nai.
"Cepatkan langkah kamu Ica," kata Nai.
"Ah santai saja Nai. Aku nggak takut kok, yang suka bikin masalah itu mereka bukan kita. Jangan takut biar ku lawan," kataku dengan percaya diri.
Nai menoleh padaku mungkin tak percaya akhir-akhir ini aku berani menghadapi kawan-kawan yang reseh itu. Mereka semakin menjadi karena selama ini aku cuma diam dan semakin terlihat bodoh di hadapan mereka. Arin dan kawan-kawan.
"Kamu heran kenapa aku berani menghadapi mereka?" Tanyaku
"Ehemmm sedikit, tapi wajar deh. Aku siap membantumu kok. Pakai ini...boleh juga." Nai mengangkat tangan kanannya. Siap sedia berikan pertolongan.
"Nai ... kita tidak main kekerasan karena itu bukan kita," kataku mencegah Nai berbuat kasar dan bikin onar.
"Oke, oke. Baiklah. Aku sudah terlalu muak sama Arin, Cha. Rasanya ingin beri dia pelajaran.Uuuuhhh," suara Nai penuh semangat.
"Jangan Nai, nama baik kita bisa rusak. Aku takut kena marah papa karena buat ribut di sekolah," kataku.
Dan Arin beserta gengnya semakin dekat dengan kami. Akhirnya berhenti di depanku dan Nai.
"Minggir, minggir... gembrot mau lewat. Kita bisa kesenggol dia, kita yang jatuh loh." Itu suara Arin. Nai pasang muka cemberut dan anti menanggapi kalimat Arin. Aku masih tetap tenang padahal darahku mendidih ingin melawan Arin.
"Hahahaha apalagi kalau tertimpa dia, aduh sakiiiit," tambah Adel.
"Enggak ada yang kuat bangunin dia hahaha!" Iyun tak ketinggalan. Ketawanya sungguh menyakitkan telinga.
"Terserah kalian mau ngomong apa karena kalian punya mulut, tapi ingat suatu saat kalian akan mendapatkan balasan. Mungkin bukan aku yang balas tapi Tuhan yang membalas kalian," kataku.
"Huuuh sok alim!" Tentu saja Arin tak terima dengan ucapanku.
"Kamu kenapa Arin? Kamu sangat membenciku. Apa salahku padamu?" pertanyaan muncul begitu saja.
"Ooooh karena kamu itu kuno, kamu tuh dekil, gembrot, nggak enak sekali dilihat dan yang paling penting kamu suka dekat-dekat sama Elang. Kamu itu pansos (panjat sosial)." Tuduh Arin padaku.
Jadi karena ini dia membenciku.
"Aku mendekati Elang dan pansos?? Uuuhh enak sekali kamu asal nuduh. Kamu salah Arin, Elang yang mendekati aku dan mau berteman denganku. Kamu salah paham. Dan kamu bisa lihat, bisa belajar dari Elang, meskipun dia keren, ngetop, pintar tapi tidak memilih teman bermain." Aku tak tahu kalimatku ini benar atau salah.
"Halaah kamu tak perlu mengajariku. Seperti nenek-nenek saja. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Kamu kasih apa si Elang sampai dia dekat-dekat di kamu?"
"Nah mengaku kan kalau Elang yang dekat-dekat aku. Berarti kamu sendiri yang mikir gitu. Aku dan Elang hanya teman biasa. Jangan menyebar fitnah ya kalau aku yang pertama dekati Elang!" Kataku.
"Huuuhhh mengelak lagi!" Kata Arin. Membuang muka ke samping.
"Itu kenyataan dan kamu harus ingat, Elang lebih suka bermain denganku daripada dengan kamu!"
Akhirnya Arin semakin sebal dengan ucapanku. Setelah mengatakan ini aku tersenyum puas.
"Sok yakin. Elang itu cuma kasihan sama kamu. orang tuanya kaya, dia, keren, pintar, ngetop satu kota ini. Mana mungkin dia mau sama kamu," kata Arin lagi.
"Hehhh sekali lagi ngomong merendahkan Icha, kuberi ini." Nai menunjukkan kepalan tangan.
"Nai sudah cukup. waktunya kita belajar. Yuuuuk!" Jam di tanganku menunjukkan angka tujuh kurang tiga menit yang berarti sebentar lagi jam pelajaran dimulai. Ku gamit lengan Nai. Mengajaknya pergi.
"Ayolah! Tak ada habisnya melayani tingkah mereka. Buang-buang waktu saja. Bel mau bunyi," lanjutku.
"Laah kamu sendiri yang mau hadapi mereka. Tanganku sudah ingin mencakar mulutnya itu, sombong nggak ada duanya," Nai geram.
Braaak. Nai meletakan tas di meja. Nai mengatur nafasnya. Kuletakkan kedua telapak tangan di atas dagu. Kami diam menunggu guru masuk memberikan pelajaran. Lima belas menit berlalu dan guru biologi belum muncul juga.
"Mana sih pak guru?" Tanyaku.
Nai menjawab, "Nggak tahu tu."
Suara-suara gelisah menunggu kedatangan guru biologi mulai terdengar. Semua teman mulai berceloteh samar dari bangku masing-masing. Lama kelamaan kelas menjadi riuh dengan ocehan dan canda kami.
"Icha! Nai! lihat ke sini! Mari kita main" Panggil Edi. Dua orang teman yang duduk di depan Edi telah membalikkan badan persis menghadap Edi.
"Main apaan?"tanyaku.
"Diiiih bisa-bisanya Edi kepikiran bawa kartu," ucap Nai.
"Ohooo ini hiburan karena guru tidak ada. Tenang ini hanya hiburan pengisi jam kosong, bukan judi karena tidak memakai uang," kata Edi.
"Main apa nih? Kocok kartunya Ed," pintaku.
"Kartu ini akan mengatakan apa yang akan terjadi." Edi lagi seperti sedang promo sesuatu.
"Memang kartunya bisa ngomong?" Aku bertanya bodoh.
"Itu sih cuma kata Edi. Eh sejak kapan kamu jadi tukang ramal, Ed?" Nai memperhatikan wajah Edi. Yang dilihat hanya tersenyum lebar.
"Sejak berguru, ada deh," kata Edi.
"Hahaaa kalau begitu katakan ada apa denganku?" Nai ingin tahu.
"Aku juga, apa akan terjadi?" Aku pun penasaran.
"Kalian percaya Edi huuh? Sejak kapan dia punya bakat itu. Jangan percaya. Jangan percaya." Teman sebangku Edi berbicara. Edi tertawa kocak.
"Aku mau dengar ocehannya haaa," kata Nai.
"Sudahlah Ed. Lama banget. Siapa nih yang mau ke kantin. Beli jajanan?" Tanyaku. Sedari tadi Edi hanya membalik-balikkan kartu saja.
"Icha...kita tidak boleh makan di kelas, kamu tahu kan?" Edi melarang.
"Pelajaran kosong Edi. Boleh saja. Aku saja yang ke kantin," kataku.
"Icha, awas ketahuan guru. Kamu melewati ruang Majelis Guru. Bisa-bisa guru masuk ke kelas kita karena melihatmu di luar dan tahu jam kosong di kelas." Edi memperingatkan.
"Woooii diam! Sssst...diam semua. guru BK lewat. Sssshh." Itu suara Andi meminta kami agar tenang. Hening seketika. Andi mengintip dari balik pintu sedari tadi. Berjaga-jaga jika ada guru lewat di luar kelas. Suara berisik membuat guru yang lewat masuk ke kelas dan bertanya bahkan bisa jadi mengisi jam pelajaran kosong.
"Aaawwww!!!" Suara jeritan Elia memecah keheningan. Semua mata tertuju pada Elia. Terkejut karena teriakan Elia. Wajah Elia kelihatan pucat. Kenapa Elia?
Astaga. Heran, kaget dan terkejut terpancar di wajah kami. Ada apa Elia?
"Hiiiih ada, ada co...coro. Lihat itu." Suara Elia bergetar sembari menunjuk hewan kecil yang merugikan itu sedang bertengger di teralis jendela. Tepat di samping meja Elia.
"Cuma ini???" Tanya Andi.
"Iiiiiih jijik. Jijik pokoknya." Elia semakin menjauh dari kursinya. Dia mengibas-ngibaskan tangan di rok.
"Sini aku buang. Enyah kau coro." Andi menepis coro. Sang coro terjengkang ke luar jendela. Andi mengibaskan kedua tangannya.,,,,
"Beres kan? Aku kira kamu kejepit apaan El." Kelegaan terpancar di wajah Andi.
Kreeeeek.
Suara panjang itu membuat kami serentak menoleh ke pintu. Pintu kelas terbuka.
Guru BK!
"Selamat siang. Oh tidak ada guru di sini rupanya.j Bu. Pantasan kalian menjerit. Kalian sedang apa??" Tanya Guru BK yang terkenal disiplin. Bukankah kami menjerit tadi Bu? Andi menghampiri Guru BK. Andi memasang tampang memelas agar dikasihani Guru BK.
"Eee Ibu selamat siang . Ma'afkan kami Bu." kata Andi segan.
"Ini jam kosong ya?" Tanya bu guru lagi.
"Benar Bu. Sebagian ada yang membaca buku Bu," kata Andi.
Tetap saja Guru BK tak berhenti berkata. Katanya, "Kalian ini ya suara kalian sampai ke lapangan sana. Teman-teman kalian sedang belajar dan kamu, ketua kelasnya tidak koordinir mereka supaya melakukan hal yang positif. Kalian bisa membaca buku, berdiskusi dengan tenang atau mengerjakan PR ( tugas untuk dibawa pulang ) bukankah begitu?" Guru BK menunjuk Andi.
"Saya salah Bu." Begitu sikap Andi. Menunduk dan tak niat melawan atau membela diri lebih jauh. Dia memang anak yang baik. selalu santun dengan guru.
"Sekarang tetap tenang di sini dan buka buku kalian. Buka buku biologi, kerjakan halaman lima puluh dua."
Sreeek ...sreek...srek.
Semua membuka halaman demi halaman buku pelajaran biologi. Mencari halaman yang dimaksud guru BK. Tak ketinggalan pula denganku.
Nai berkata cepat, "Bu, ma'af Bu, materi di buku diapakan Bu?"
"Kerjakan soalnya!" Jawab bu guru.
"Pertanyaannya di halaman lima puluh tiga Bu," kata Nai.
Guru BK menjawab, "Nah yang itu, yang ada pertanyaannya kalian selesaikan. Jawabannya serahkan ke saya hari ini juga."
"Baik Bu!" Seru kami hampir serentak. menunggu guru BK keluar. Lalu helaan nafas keluar dari mulut kami. Lega guru BK telah pergi.
Belum lama semua duduk di kursi masing-masing, suara sesegukan kecil terdengar.
"Elia kenapa kamu menangis?" Tanyaku.
"Hu...hu..ma'afkan aku ya teman-teman karena aku kalian semua mendapatkan hukuman. Terpaksa mengerjakan soal biologi," kata Elia dengan tersendat.
"Elia tidak apa. Itu kan tanpa kamu sengaja. Sudah ah Elia, jangan menangis lagi ya," pujukku. Meja Elia berada di sebelah mejaku hanya terpisah oleh jarak untuk kami lewat.
"Tak apa Elia, kita akan menanggung bersama," kata Nai.
"Semangat kerjain tugasnya. Jangan sampai kita tak boleh pulang karena belum selesai tugas ini," kataku lagi.
Menit demi menit berlalu hingga akhirnya tiba waktu usai pelajaran. Andi mengumpulkan tugas kami dan membolehkan kami pulang. Aku dan Nai berjalan ke luar kelas.
"Icha kapan kita mau belanja keperluan jualan minuman?" Tanya Nai tiba-tiba.
"Oiya kapan ya Nai? Diatur aja Nai, kamu bisanya kapan. Sekarang juga boleh kok," kataku.
"Benar nih? Enggak pakai pulang dulu ya ganti baju, begini saja langsung ke swalayan?" ajak Nai.
"Ya Nai sayang. Uangnya udah ada belum? sudah minta bu guru atau belum? Aku tidak membawa uang jika harus menutupi biaya membeli keperluan bazar terlebih dulu," kataku.
"Tenang, aku sudah terima dari Bu guru. Nih uangnya di dalam sini. Let's go." Nai menepuk tasnya.
"Bu guru ngasih daftarnya nggak, apa saja yang mau dibeli?" Tanyaku sembari menyamakan langkah dengan Nai. Kami jalan beringin menuju parkir motor. Jika tas Nai berupa ransel maka tasku berbeda. Tasku model tali panjang dan lebih suka kugantungkan di pundakku.
"Tidak. Malah bu guru memberi kebebasan kita membeli apa saja yang dibutuhkan tapi ya harus sesuai kebutuhan," ucap Nai.
"Bukan masalah sih. Kita selesaikan misi ini," ajakku.
"Ayooo beib," kata Nai.
"Hahahaaaa." Tawa kami pecah.
"Wooo kalian senang sekali. Bagi-bagi dong tawanya. Ada kabar apa nih?"
Hhhhhmmm? Elang sudah ada di antara kami. Ia muncul dari sebelah kiri kami berada. Sepertinya Elang melewati jalan sebelah kiri dari gedung utama sekolah.
"Eh Elang. Mau pulang ya?" Nai bertanya duluan.
"Iya. Kalian mau pulang juga?" Elang balas bertanya.
"Iya kami mau pulang tapi mampir ke swalayan dulu," kataku.
"Belanja nih ye. Mau beli apa?" Tanya Elang. Elang mau tahu juga ya.
"Banyak. Kamu mau ikut? Bantuin bawa belanjaan kami. Mau?" Tanyaku sedikit menggoda.
Barisan gigi putih milik Elang terlihat rapi menambah apik senyumnya. Senyum yang tulus, kurasa.
"Icha karena kamu yang mengajak Elang, jangan lupa kamu yang traktir Elang makan," Nai nyeletuk.
"Eeehmm..."Aku berpikir. Traktir Elang pakai apa? Bayar makanan pakai daun boleh ya karena aku tidak punya uang sepeser pun. Uang jajanku telah habis.
"Tidak jangan traktir aku. Aku punya uang sendiri atau kalian ku traktir, mau ya?"Justru Elang yang mau membelikan kami jajan.
"Eee eng_" Aku keberatan Elang ikut bersama kami dan tak ingin mendapat traktiran dari Elang. Nai terlihat senang.
"Asyik nih. Yuk kita jalan sekarang. Cari swalayan terdekat saja. Elang, kamu bisa duluan jalan, kami mengikuti," Dasar Nai, memotong kalimatku. Dia pasti senang mendapat traktiran makan. Nai mengedipkan sebelah mata kepada diriku. Aku membalas dengan melotot. Nai tersenyum lebar.
...🌾bersambung🌾...
semamgat
Semangat kaka
Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘