Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 06
...Katakan padaku, sayuran apa yang bikin ketagihan?...
...- Yumnallasha -...
Maraknya penipu ulung yang dikemas begitu rapi dalam sebuah kata dirangkai menjadi kalimat manis menjanjikan. Hingga hal itu memakan banyak korban jiwa yang masih terlalu hanyut pada imajinasi mereka sendiri.
Sadar, jika berekspetasi terlalu tinggi itu sangatlah menyakitkan. Karena mampu mendatangkan virus tekanan batin yang membuat diri begitu sulit menerima kepahitan hidup dari alam semesta.
"Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini." Gumam Yumna sembari melihat-lihat kembali beberapa sayuran didepan matanya. "Karena ibuku yang selalu melakukannya."
"Ini kali pertamanya aku mengiyakan permintaan atasan diluar pekerjaan." Tidak kalah sendunya, kalimat itu terlontar dari mulut Vallen.
Pundak yang tadi pagi terlihat tegak kini perlahan menyusut, karena lelah terus menjalar keseluruhan sel-sel tubuh mereka yang mau tidak mau menampilkan senyum tulus, tuk menghindarkan diri dari beberapa perkataan tidak enak dari orang lain. Akan kesan pertama saat melihat mereka.
"Aku juga tidak bisa mengeluh karena membantunya." Sambung Vallen, tersenyum getir melihat beberapa bahan makanan di troli depan matanya.
Yumna yang mendengar perkataan itu mengangguk paham. Karena tubuhnya pun juga merasa letih. Tapi dilain pemikiran, entah kenapa Yuman semakin meminta jiwanya untuk menerima hal yang telah terjadi di hidupnya.
"Siapa bilang kau tidak bisa mengeluh? Lakukan! Katakan apa yang membuat mu sesak, dengan hal itu kau bisa merasa lega setelah mengatakannya." Optimis Yumna.
Tidak langsung memberi sahutan, Vallen berdecak pinggang menatap intens kearah Yumna. "Bagaimana bisa kau bersikap seolah-olah kau tidak merasa lelah hari ini? Apa kau senang mendapat pekerjaan setelah menganggur dirumah?"
"Menganggur di rumah?" Ulang Yumna yang terlihat tidak terima dengan perkataan dari Vallen. "Asal kau tahu, aku tidak pernah menganggur di rumah. Setelah aku lulus disekolah, aku langsung bekerja disini. Tidak sama seperti mu."
"Dan tidak hanya dirimu saja yang lelah. Akupun juga merasakan hal itu. Tapi aku tidak sama seperti mu yang terus mengeluh disaat mendapat pekerjaan tanpa interview. Seharusnya kau bersyukur untuk hal itu. Karena banyak orang yang susah mencari pekerjaan saat ini." Yumna menambahkan perkataannya, yang tidak terselip kemarahan sedikit pun di benaknya.
Karena bagi Yumna sendiri berbeda pendapat dengan orang lain itu sudah menjadi hal biasa. Apalagi jika mulut mereka tidak bisa mengontrol kalimat dari kepalanya, disaat tubuh diselimuti rasa lelah.
Vallen tersenyum getir. Menurunkan kedua tangannya dari pinggang, sebentar melihat sekitar. "Kenapa kau melupakan perkataan mu sendiri? Kau tidak mempermasalahkan ku jika aku mengeluh. Tapi__"
"Aku akan menariknya kembali." Cepat Yumna dengan tampang yang berusaha untuk menutup rasa malunya.
"Terserah apa yang kau katakan. Yang jelas, antarkan bahan makanan itu sendiri. Karena aku mau pulang." Kesal Vallen, melangkah meninggalkan Yumna sendiri. Karena tubuh Vallen benar-benar tidak lagi bisa menahan rasa lelahnya hari ini.
Dan Yumna yang melihat kepergian Vallen hanya bisa diam tersenyum kecut, tidak percaya dengan sikap rekan kerjanya itu.
"Kenapa banyak sekali orang-orang jahat didunia ini?" Monolog Yumna, rasanya ingin menarik ujung rambut Vallen saat ini juga. Karena Yumna merasa gemas sendiri dengan Vallen yang tidak setia kawan.
"Karena kau terlalu lugu menerima orang baru di hidup mu." Suara familiar dari seseorang yang entah datang dari mana, mampu membuat tubuh Yumna tersentak kaget.
Melihat horor kearah pria tampan yang sedikit membungkukkan punggungnya dengan tubuh bersandar ringan pada pegangan troli. Kedua tangannya bersilang di atasnya. Kini membalas tatapan Yumna, tanpa melupakan senyuman hangatnya.
"Kau terlihat tidak menyukai ku ada disini." Ucapnya, sembari meneggakan kembali punggungnya.
Yumna masih diam. Menatap lawan bicaranya penuh makna, dan sangat menusuk. Karena ada hal yang tersembunyi dibenak Yumna. "Kau yang menghasut Tirtha menarik ku bekerja ditempatnya?" Sorot mata intimidasi sangat terlihat jelas.
Menutup mulut bukan berarti Tama kehabisan kata untuk memberi balasan. Hanya saja, pria itu tidak mau menambah mood Yumna semakin buruk atas jawabannya. Tapi itu memang benar, Tama yang meminta Tirtha untuk menawarkan pekerjaan pada Yuman. Karena pria itu tahu, jika Yumna berdiam terlalu lama di rumah itu akan membuat Yumna malas untuk bergerak melakukan aktivas.
"Seharusnya kau membalas apa yang aku katakan." Lesu Yumna, kini mendorong troli belanjaannya ke arah kasir. Karena Yumna tidak mau lama-lama hanya untuk berdebat dengan orang yang sulit sekali berkata jujur.
"Tanpa aku mengatakannya, kau pasti sudah tahu seperti apa jawabannya." Tama mulai melangkah mengajarkan kakinya dengan milik Yumna.
"Tapi jika kau bisa mendiskusikannya lebih dulu, mungkin aku akan menerimanya tanpa adanya sebuah paksaan. Karena, berada di lingkungan baru benar-benar menguras energi ku." Penuturan Yumna, membuat kepala Tama mengangguk kecil. Rasa bersalah sedikit menghantam pikirannya.
"Sella memberimu pekerjaan di luar job?" Bukannya basa-basi, Tama memang ingin melontarkan perkataannya yang sudah memiliki jawaban di depan matanya.
"Tidak!!" Tanpa sadar, Yuman mengucap ketidak jujurannya.
"Benarkah? Terus kenapa kau membeli banyak bahan makanan? Ibumu yang meminta mu?" Pertanyaan konyol yang Tama ucapkan.
"Bukan." Rendah Yumna yang sulit sekali mengelabui pria disampingnya. Jika pun Yumna bisa berbohong, Tama akan mudah menebaknya tanpa mendesak.
Sekilas Yumna melirik ke arah Tama yang diam membisu, pandangan lurus kedepan, kepala sesekali mengangguk keci. Dan itu membuat mulut Yumna merasa gatal sendiri, ingin sekali memberitahu pria itu. Jika bahan makanan yang Yumna beli itu memang Sella yang meminta bantuannya.
Tapi Yumna juga tidak mau membuat masalah jika dia mengatakan hal itu pada Tama. Karena firasat Yumna, Tama pasti mengadukannya pada Tirtha. Itu akan membuat keadaannya semakin kacau. Dan Yumna tidak mau menjadi tokoh utama dari permasalahan sepele seperti ini.
"Jika dihari pertama saja kau sudah merasa berat. Apa aku sanggup dihari berikutnya?" Cetus Tama, sebentar melihat wajah Yumna dari samping.
"Aku tidak memikirkan esok hari harus bagaimana. Yang terpenting, hari ini pekerjaan ku tidak ada masalah." Sangat realistis Yumna mengatakannya.
Perlahan Tama mengalihkan pandangannya ke arah pintu toserba yang langsung mendapati Yuman. "Kenapa tangan mungil itu harus membawa banyak kantong plastik?" Gumam Tama dalam keheranan.
Kini Tama menyimpan handphonenya, dan berjalan mendekati Yumna. Mengambil alih semua kantong plastik ditangan Yumna. "Sebenarnya aku tidak mau membantumu. Tapi aku tidak bisa mengabaikan mu."
"Jika kau tidak ikhlas membantu ku, lebih baik kau pulang saja sana." Sungut Yumna sedikit kesal.
"Kenapa banyak orang yang mengeluh setelah memberi pertolongan?" Gerutu Yumna, berjalan beriringan dengan Tama.
"Aku hanya tidak mau tidurku tidak nyenyak malam ini, karena sudah membuat hidup anak tetangga sendiri berat dihari pertamanya bekerja." Pengakuan Tama dengan senyum kecil itu tidak langsung melelehkan gumpalan es di benak Yumna.
"Jika kau sadar, perlakukanlah aku sebaik mungkin. Itu bisa menebus semua rasa bersalah mu padaku." Balas Yumna, yang terus melangkah di samping Tama.
Tersenyum kecil. Lagi, lagi Yumna merasa sangat bersyukur karena masih ada orang-orang baik yang mengelilingi jalan kehidupnya, tanpa memperdulikan berapa egoisnya Yumna saat berada didalam tekanan kelelahan jiwanya.