NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07 - Rekening Atas Namaku

Bank kecil di dekat pasar baru buka setengah jam ketika Raka mengantar Nadia ke sana.

Jalanan sudah ramai. Pedagang sayur berteriak menawarkan kangkung. Tukang gorengan menuang adonan bakwan ke minyak panas. Motor-motor lewat terlalu dekat, meninggalkan bau bensin yang bercampur aroma kopi dari warung sebelah.

Nadia turun dari mobil pelan.

Mobil itu bukan mobil mewah. Kijang tua berwarna hijau gelap, tapi bersih. Di dasbor ada tasbih kayu kecil dan sebotol air mineral. Raka mengemudi sendiri, meski beberapa kali batuk pelan di perjalanan.

"Mas Raka yakin tidak perlu istirahat?" tanya Nadia.

Raka mematikan mesin.

"Saya tidak selemah yang mereka bicarakan."

"Saya tidak bilang lemah."

"Tapi kamu khawatir."

Nadia menoleh. "Tidak boleh?"

Raka diam sesaat.

"Boleh."

Jawaban itu pendek, tapi telinga Nadia terasa hangat.

Mereka masuk ke bank. Satpam menyapa ramah, mungkin karena mengenal Raka. Proses membuka rekening tidak lama. Nadia mengisi formulir, menandatangani beberapa lembar kertas, lalu menerima buku tabungan baru dengan namanya sendiri tercetak di sampul.

Nadia memegang buku itu agak lama.

Nama: Nadia Safira.

Di kehidupan lalu, uang yang ia terima selalu lewat tangan orang lain. Mahar disimpan mertua, gaji kecilnya dipakai Arman, tabungan habis untuk kebutuhan rumah. Bahkan saat ia ingin membeli obat, ia harus menjelaskan untuk apa.

Sekarang buku kecil itu terasa seperti pintu.

Raka memperhatikan.

"Pertama kali punya rekening?"

Nadia tersenyum.

"Pertama kali punya sesuatu yang tidak langsung diminta orang rumah."

Raka tidak langsung menjawab. Ia berjalan bersamanya ke kursi tunggu, menunggu teller memproses setoran awal.

"Kalau nanti ada yang memintamu menyerahkan buku itu, jangan berikan."

"Termasuk Mas Raka?"

Ia menatap Nadia.

"Termasuk saya."

Nadia terdiam.

Di luar bank, suara pasar ramai. Tapi di antara mereka ada hening yang aneh, bukan canggung, lebih seperti ruang kosong untuk kalimat yang tidak biasa didengar Nadia.

"Kamu tidak bertanya berapa uang yang akan masuk?" tanya Nadia.

"Itu hakmu."

"Kalau jumlahnya besar?"

"Tetap hakmu."

"Kalau aku boros?"

"Kamu boleh belajar dari kesalahanmu sendiri."

Nadia menunduk, menahan sesuatu yang tiba-tiba naik ke mata.

Raka melihatnya, tapi tidak membuatnya malu.

Ia hanya berkata pelan, "Nadia, menikah denganku tidak berarti kamu harus menyerahkan kendali hidupmu."

Nadia menggenggam buku tabungan.

"Kalimat seperti itu berbahaya."

"Kenapa?"

"Bisa membuat orang ingin percaya."

Raka memandangnya lama.

"Kalau belum bisa percaya, tidak apa-apa. Simpan dulu. Nanti lihat sendiri."

Teller memanggil nama Nadia. Ia menerima buku tabungan dengan setoran awal kecil dari uangnya sendiri. Setelah itu Raka mengajaknya ke warung kopi di samping bank, karena ia harus minum obat.

Warung itu sederhana. Meja kayu, bangku panjang, radio kecil memutar lagu lama. Pemilik warung menyapa Raka dengan akrab.

"Mas Raka, biasanya teh tawar hangat?"

"Iya, Bu. Satu lagi teh manis untuk Mbak Nadia."

Nadia duduk di bangku dekat dinding.

"Sering ke sini?"

"Kalau habis kontrol atau urus sesuatu di pasar."

"Mas Raka kontrol di mana?"

"RSUD. Kadang puskesmas untuk obat rutin."

Ia mengeluarkan obat dari saku, menelannya dengan teh hangat. Gerakannya biasa, tapi Nadia menangkap kelelahan yang ia sembunyikan.

"Sakit Mas Raka karena banjir waktu kecil?"

Raka menatap gelas.

"Kamu dengar dari siapa?"

"Orang kampung banyak bicara."

"Versi orang kampung biasanya lebih dramatis."

"Versi Mas Raka?"

Ia tersenyum samar.

"Saya hanyut waktu umur sembilan. Air masuk paru-paru. Terlambat ditangani. Setelah itu tubuh saya tidak pernah benar-benar kuat. Kalau terlalu lelah atau kena dingin, batuknya kambuh."

Nadia mendengar tanpa menyela.

"Keluarga merasa sudah melakukan banyak hal untuk saya," lanjut Raka. "Dokter, obat, orang pintar, terapi. Semua dicoba. Karena itu saya tidak enak menolak banyak hal."

"Padahal yang sakit Mas Raka."

Raka menatapnya.

Nadia mengaduk teh.

"Kadang orang yang merawat merasa penderitaannya paling besar. Mereka lupa yang merasakan sakit setiap hari bukan mereka."

Raka tidak langsung bicara.

Kalimat itu terlalu tepat.

"Kamu bicara seperti pernah mengalaminya."

Nadia menatap teh manisnya. "Mungkin."

"Di rumah Pak Darto?"

"Di banyak tempat."

Raka tidak memaksa.

Itu membuat Nadia makin ingin bicara, tapi ia menahan diri. Ia belum bisa mengatakan tentang kehidupan lalu. Bahkan tentang Bu Ratna dan Bella pun ia harus bergerak pelan.

Ponsel Raka berbunyi. Ia melihat layar, lalu tidak mengangkat.

"Dari siapa?"

"Arman."

"Tidak diangkat?"

"Belum perlu."

Ponsel berhenti, lalu berbunyi lagi. Kali ini nama Pak Hendra. Raka mengangkat.

"Ya, Mas."

Nadia tidak mendengar suara Pak Hendra jelas, hanya nada berat dari speaker kecil.

"Kami masih di warung dekat bank. Rekening sudah jadi."

Raka mendengarkan, lalu menatap Nadia sekilas.

"Arman dan Bella bertengkar?"

Nadia mengangkat alis.

Di seberang, suara Pak Hendra terdengar makin keras walau tidak jelas.

Raka menghela napas.

"Saya kembali sebentar lagi."

Panggilan selesai.

Nadia mengambil teh.

"Mulai cepat."

"Apa?"

"Mereka saling mencintai, tapi baru pagi sudah bertengkar."

Raka menahan senyum.

"Kamu terdengar puas."

"Sedikit."

"Sedikit?"

"Baik, lumayan banyak."

Raka tertawa pelan. Tawa itu berubah menjadi batuk, tapi matanya tetap tersenyum. Nadia spontan menggeser gelas teh hangat ke dekatnya.

"Minum dulu."

Raka menurut.

Mereka kembali ke rumah Pak Darto setelah Raka cukup tenang. Dari halaman saja sudah terdengar suara tinggi Bu Lilis.

"Arman, kamu jangan mempermalukan Ibu lagi!"

Begitu masuk, Nadia melihat Bella berdiri menangis di dekat pintu dapur. Arman di depan meja dengan wajah kesal. Bu Ratna memegang tangan Bella, sementara Bu Lilis berdiri seperti hendak menelan semua orang.

Pak Hendra melihat Raka.

"Kamu sudah datang. Bagus."

Raka bertanya, "Ada apa?"

Arman langsung menunjuk Bella.

"Dia menuntut akad dipercepat. Seolah aku mau kabur."

Bella menangis. "Aku tidak bilang Mas mau kabur. Tapi semua orang sudah melihat. Kalau Mas tidak segera menikahiku, bagaimana nasibku?"

Bu Lilis berkata dingin, "Nasibmu seharusnya kamu pikirkan sebelum masuk kamar."

Bu Ratna tersinggung.

"Bu Lilis, jangan bicara seolah Arman tidak ikut salah."

"Anak saya salah. Tapi anak Ibu juga bukan korban yang dibius."

Nadia hampir ingin duduk mengambil kacang.

Drama ini hangat sekali.

Eyang Marni melihat Nadia datang dan langsung berkata, "Nadia, kamu juga jangan berdiri seperti penonton. Gara-gara permintaanmu macam-macam, urusan Bella jadi tertunda."

Nadia menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?"

"Iya. Kalau kamu tidak minta Raka, semua fokus bisa ke Bella."

Nadia menatap Bella.

"Bella, kamu dengar? Bahkan pernikahanmu dengan Arman harus aku yang urus."

Bella menangis makin keras.

Arman menatap Nadia dengan campuran marah dan sesuatu yang lebih rumit.

"Kamu senang melihat kami begini?"

Nadia berpikir sebentar.

"Jujur?"

"Nadia," Raka memperingatkan pelan.

Nadia menoleh padanya, lalu tersenyum.

"Baik. Aku prihatin."

Sari yang baru datang dari dapur hampir menjatuhkan nampan.

Pak Hendra memijat kening.

"Cukup. Arman, kalau kamu memang mencintai Bella, kamu akad dengannya. Tapi keluarga kita tidak akan menutup semua akibatmu. Kamu sudah dewasa. Mulai sekarang, biaya rumah tanggamu kamu pikirkan sendiri."

Arman terkejut.

"Ayah?"

"Kamu ingin diakui sebagai laki-laki, kan?"

Arman menatap Bella, lalu ayahnya.

Bu Lilis panik.

"Pak, Arman belum siap hidup sendiri."

Nadia pelan-pelan berkata, "Tapi siap masuk kamar."

Raka menunduk, bahunya bergerak sedikit.

Pak Hendra menatap Nadia, tapi tidak memarahinya. Mungkin karena ia sendiri ingin berkata begitu.

Arman marah.

"Aku bisa bekerja."

"Bagus," kata Pak Hendra. "Buktikan."

Bella tampak tidak yakin. Dalam ingatannya dari kehidupan lalu, Arman punya masa depan cerah. Tapi kalau sekarang Pak Hendra menarik dukungan, apakah semuanya masih sama?

Nadia melihat keraguan kecil itu.

Ah.

Jadi Bella mulai menyadari pintu surga yang ia rebut ternyata tidak otomatis terbuka.

Pak Hendra lalu menoleh ke Raka dan Nadia.

"Untuk kalian, saya usulkan akad sederhana pekan depan. Lamaran resmi hari ini dianggap selesai, tapi akad harus tetap sesuai KUA."

Raka menatap Nadia.

"Kamu setuju?"

Semua orang menunggu jawaban Nadia.

Dulu, tidak pernah ada yang menanyakan apakah ia setuju.

Nadia membuka buku tabungannya, melihat namanya sekali lagi, lalu menutupnya.

"Saya setuju."

Bella langsung berkata, "Kalau begitu aku dan Mas Arman juga pekan depan."

Arman menatapnya tidak senang.

Nadia tersenyum.

"Bagus. Kita bisa saling mengucapkan selamat."

Bella tidak tahu kenapa kalimat itu membuatnya ingin mundur.

Tapi semua sudah telanjur.

Ia yang memilih Arman.

Dan sekarang, di depan semua orang, ia harus terus memilihnya.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!