Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Malam itu, Cia merasa kepalanya hampir meledak.
Di ruang tengah rumah dinas yang sepi, ia duduk bersila di atas karpet, dikelilingi buku-buku tebal Textbook of Surgery, catatan stase, dan map hijau berlogo Persit yang baru saja ia terima sore tadi. Rambutnya diikat asal, wajahnya kusut masai.
Di sofa tepat di belakangnya, Ren duduk bersandar sambil membaca setumpuk dokumen laporan batalyon. Pria itu sudah mandi, mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek selutut. Suasana tenang, hanya terdengar suara detak jam dinding dan gemerisik kertas yang dibalik.
"Ini nggak masuk akal," gumam Cia memecah keheningan, menatap jadwal kegiatan Persit dengan mata menyipit. "Senam jam enam pagi. Rapat pengurus jam sembilan. Kunjungan posyandu asrama jam sepuluh. Terus jam kerjaku gimana? Masa aku harus minta izin ke konsulen setiap ada arisan ibu-ibu?"
Ren membalik halaman dokumennya tanpa menatap Cia. "Itu bukan sekadar arisan, Cia. Itu pembinaan. Struktur Persit mengikuti struktur jabatan suami. Karena saya Komandan Kompi, istri saya otomatis memiliki tanggung jawab untuk mengayomi istri-istri prajurit di kompi saya."
Cia memutar tubuhnya, menatap Ren dengan raut frustrasi. "Tapi aku punya tanggung jawab sama nyawa pasien di rumah sakit, Mas. Besok jam delapan pagi aku ada jadwal jaga IGD. Kalau aku telat ikut briefing pagi sama dokter jaga, aku bisa diskors dan staseku diperpanjang!"
Ren menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan laporannya di atas meja, menunduk menatap Cia yang duduk di bawahnya. Sorot mata pria itu tenang, namun menuntut perhatian penuh.
"Saya tahu," ucap Ren pelan. "Dan saya tidak pernah memintamu melepaskan jas putihmu."
Cia tertegun. Ia mengira Ren akan menyuruhnya berhenti menjadi dokter, persis seperti stereotip suami otoriter yang sering ia dengar.
"Lalu aku harus gimana?" tanya Cia, suaranya sedikit melunak. "Aku nggak bisa membelah diri."
"Beradaptasi," jawab Ren singkat. "Di dunia ini, kamu bukan orang pertama yang menjadi istri tentara sekaligus wanita karier. Jika kamu ingin mempertahankan keduanya, kamu harus tahu cara membagi waktu, bernegosiasi, dan menempatkan diri. Jangan menyerah hanya karena melihat jadwal di atas kertas."
Pria itu bangkit berdiri, menepuk pelan puncak kepala Cia sebelum melangkah menuju kamar. "Tidur, Cia. Besok harimu akan sangat panjang."
Cia terdiam menatap kepergian suaminya. Ucapan Ren tidak memberikan solusi praktis, tapi entah mengapa, kata 'jangan menyerah' dari mulut pria itu terasa seperti sebuah tantangan yang memantik api gengsinya.
Oke. Kalau Komandan Kulkas pikir aku bakal nangis minta ampun, dia salah besar.
Pukul 06.30 pagi.
Cia berdiri di depan cermin lemari, menatap pantulan dirinya dengan perasaan asing. Untuk pertama kalinya, ia mengenakan Pakaian Seragam Kerja (PSK) Persit. Setelan jas lengan pendek dan rok selutut berwarna hijau pupus itu melekat pas di tubuhnya. Rambutnya, dengan susah payah dan tutorial YouTube kilat, berhasil ia gulung masuk ke dalam hairnet hitam standar.
Ia memoleskan lipstik berwarna natural, menyambar tas tangan hitamnya, lalu memasukkan jas putih dokternya yang sudah dilipat rapi ke dalam kantong belanja kain berukuran besar yang disembunyikan di balik tas.
Ren sedang meminum kopi hitamnya di meja makan saat Cia keluar dari kamar. Pria yang sudah rapi dengan seragam PDH-nya itu menoleh. Matanya memindai Cia selama beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada sebersit kekaguman yang tertahan di balik wajah datarnya.
"Rapi," komentar Ren singkat. "Saya antar ke aula, sekalian jalan ke kantor batalyon."
Sepanjang perjalanan singkat itu, perut Cia mulas. Begitu mobil Ren berhenti di depan bangunan bercat hijau bertuliskan 'Aula Persit Kartika Chandra Kirana', Cia menelan ludah. Belasan ibu-ibu berseragam hijau tampak sudah berkumpul, mengobrol, dan tertawa.
"Cia," panggil Ren saat Cia hendak membuka pintu mobil.
Gadis itu menoleh. Ren menatapnya lurus. "Jangan menunduk. Istri seorang Komandan Kompi tidak boleh terlihat ragu di depan anggota yang lain."
Kalimat itu terdengar seperti perintah operasi, tapi sukses membuat Cia menegakkan bahunya. "Siap, Kapten."
Cia turun dari mobil dan melangkah masuk ke aula. Kehadirannya langsung menyita perhatian. Beberapa pasang mata menatapnya dengan rasa ingin tahu, beberapa dengan senyum ramah, dan beberapa lagi dengan pandangan menilai.
Di barisan paling depan, Ibu Rima duduk dengan postur sempurna. Saat melihat Cia masuk, wanita itu tersenyum tipis dan menunjuk sebuah kursi kosong di baris kedua.
Tepat pukul 07.00, acara dimulai. Cia duduk dengan punggung tegak, mendengarkan sambutan tentang dedikasi istri prajurit. Namun, matanya tak lepas dari jam tangan peraknya.
07.10... 07.15... 07.20.
Waktu terasa berjalan dua kali lebih cepat. Jika ia tidak berangkat sekarang, ia akan terjebak macet dan dipastikan terlambat tiba di rumah sakit.
Cia menarik napas dalam-dalam. Di tengah jeda pergantian pembicara, ia berdiri dari kursinya. Semua mata serentak tertuju padanya, termasuk Ibu Rima yang menautkan alis.
Cia melangkah maju dengan sopan, setengah menunduk, dan mendekati Ibu Rima.
"Mohon maaf, Ibu Rima, Ibu Ketua," bisik Cia dengan nada sesopan mungkin namun jelas. "Saya memohon izin untuk undur diri lebih awal. Pukul delapan ini saya ada jadwal tugas di IGD rumah sakit yang tidak bisa ditinggalkan."
Keheningan canggung mendadak menyelimuti aula. Ibu Rima menatap Cia, senyum formalnya tidak mencapai mata.
"Acara pembekalan ini sangat penting untuk istri perwira baru, Mbak Cia," ucap Rima, suaranya sengaja tidak dikecilkan hingga terdengar oleh barisan depan. "Apakah tugas di luar sana lebih prioritas daripada kewajiban Anda di kesatuan ini?"
Cia merasakan telapak tangannya berkeringat, tapi ia ingat ucapan Ren. Jangan menunduk.
"Bagi saya, keduanya adalah prioritas, Bu," jawab Cia tenang, menatap mata Rima tanpa gentar. "Sebagai istri prajurit, saya hadir di sini untuk menghormati institusi. Dan sebagai tenaga medis, saya harus berada di rumah sakit untuk menolong nyawa pasien. Keduanya adalah wujud pengabdian. Saya mohon pamit."
Tanpa menunggu perdebatan lebih lanjut, Cia menundukkan kepala hormat, lalu berbalik dan berjalan keluar aula dengan langkah tegap, mengabaikan bisik-bisik yang mulai terdengar di belakangnya.
Begitu sampai di luar gerbang asrama, Cia langsung melambaikan tangan menghentikan taksi yang kebetulan lewat, melompat masuk, dan meneriakkan nama rumah sakitnya.
Di kursi belakang taksi, ia buru-buru melepas jas hijaunya, mengeluarkan kemeja kerjanya, dan menggantinya dengan gerakan kilat ala ninja. Rok hijaunya ia ganti dengan celana bahan hitam panjang. Hairnet-nya ia tarik lepas hingga rambut sebahunya kembali tergerai bebas.
Pukul 07.50. Cia berlari menyusuri lorong IGD sambil menenteng jas putihnya, menabrak beberapa troli obat. Ia menyelinap masuk ke ruang loker perawat tepat saat alarm jam di ponselnya berbunyi.
"Gila! Lo kayak habis dikejar satpol PP!" seru Nayla yang sedang memakai stetoskopnya di dekat loker.
Cia terengah-engah, bersandar di loker besi dingin, mengenakan jas putih kebesarannya dengan napas putus-putus. "Dikejar... komite kedisiplinan Persit... lebih tepatnya."
Rania muncul dari balik pintu sambil membawa papan rekam medis. "Pasien sudah mulai masuk, Cia, Nayla. Kita kedatangan pasien laka lantas ganda. Cepat ke bed tiga dan empat."
Perubahan dari dunia loreng ke dunia medis terjadi dalam hitungan detik. Cia membuang semua pikiran tentang tatapan tajam Ibu Rima, menggantinya dengan fokus pada denyut nadi, luka terbuka, dan tekanan darah pasien.
Siang itu IGD sangat sibuk. Cia belum sempat makan, perutnya keroncongan, namun adrenalin menahannya untuk tetap berdiri. Tangannya bersimbah darah saat menjahit luka robek seorang pasien, matanya fokus, gerakannya presisi. Di sini, ia bukan istri kapten. Di sini, ia adalah Almeera Cia yang memegang kendali.
Pukul 14.30. IGD baru saja sedikit tenang. Cia sedang mencuci tangannya di wastafel sudut sambil meregangkan lehernya yang kaku ketika suara sirine ambulans yang sangat nyaring meraung-raung dari arah luar. Suaranya berbeda dari ambulans rumah sakit pada umumnya. Lebih keras. Lebih mendesak.
"Dokter Jaga! Cito! Cito!" teriak perawat triase dari arah pintu depan.
Pintu kaca otomatis IGD terbuka paksa. Tiga orang petugas paramedis militer berlari mendorong brankar beroda dengan kecepatan penuh. Di atasnya, seorang prajurit muda dengan seragam loreng tampak mengerang kesakitan. Paha kirinya tertusuk sepotong besi tajam yang menembus hingga ke sisi belakang, darah menggenang membasahi kain seragamnya.
"Kecelakaan latihan halang rintang! Korban tertusuk besi struktur yang runtuh. Pendarahan arteri masif, tourniquet sudah dipasang tiga puluh menit yang lalu, tapi masih merembes!" lapor salah satu paramedis berseragam itu dengan lantang.
Cia dan dokter residen bedah yang sedang bertugas langsung berlari menghampiri brankar tersebut, mengambil alih kendali.
"Siapkan ruang operasi darurat! Akses IV dua jalur, loading cairan sekarang! Ambil sampel darah untuk crossmatch!" teriak dokter residen. Cia dengan sigap menekan kasa tebal di sekitar pangkal besi untuk membantu menahan pendarahan yang terus menyembur.
Bau karat dari besi bercampur dengan amis darah yang kental memenuhi udara. Cia fokus pada tugasnya, tidak memedulikan seragamnya yang mulai terkena cipratan darah.
Namun, saat brankar itu didorong masuk ke bilik resusitasi, langkah kaki berat yang berlari menyusul dari arah pintu membuat Cia tanpa sadar menoleh.
Seorang pria tegap menerobos masuk ke area IGD, napasnya memburu. Seragam PDL-nya dipenuhi debu tanah merah. Wajahnya yang biasa sedatar es, kini dipenuhi ketegangan yang pekat.
Itu Ren.
Di belakangnya, menyusul Lettu Maya yang terlihat sama paniknya, berbicara cepat melalui HT di tangannya.
"Bagaimana kondisinya?!" tuntut Ren keras pada paramedis militer yang tadi mendorong brankar, suaranya menggema di IGD yang sibuk.
"Pendarahan hebat, Ndan! Besinya mungkin mengenai arteri femoralis," jawab paramedis itu pucat.
Mata elang Ren menyapu area bilik resusitasi, mencari sosok dokter yang menangani prajuritnya. Dan tepat di saat itulah, pandangannya terkunci.
Di sana, di balik kerumunan perawat dan monitor yang berbunyi panik, berdiri istrinya. Jas putih Cia ternoda darah segar. Tangan mungil yang pagi tadi dengan rapi menyematkan bros Persit, kini menekan luka terbuka prajuritnya dengan kekuatan penuh, wajahnya serius dan tegas, tak ada sedikit pun keraguan.
Dua dunia yang sejak pagi berusaha Cia pisahkan, kini bertabrakan telak di depan matanya.
Di tengah hiruk-pikuk IGD, mata Cia bertubrukan dengan mata Ren. Tidak ada kata-kata. Hanya tatapan yang seolah membekukan waktu, mempertanyakan satu hal: Bisakah mereka benar-benar menyatukan dua dunia yang sama-sama menuntut nyawa ini?