"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Di bawah selimut malam yang pekat, deru ombak terdengar bagai bisikan alam yang megah namun menenangkan, memecah kesunyian pantai dengan irama yang konsisten. Gulungan air laut yang tak terlihat di kegelapan itu menghantam bibir pantai secara bergantian, meninggalkan buih-buih putih yang berkilau redup diterpa cahaya bulan. Aroma asin yang khas berhembus bersama angin malam, menyatu dengan gemuruh ombak yang konstan, seolah mendendangkan lagu tidur purba yang membawa kedamaian bagi siapa saja yang mendengarkannya.
“Jangan menatapku seperti itu.”
Aku mengatakannya dengan senyuman ketika menyadari dia menatapku dengan penuh empati.
“Memang benar saat itu merupakan salah satu kematianku yang paling menyakitkan. Tapi pada akhirnya, itu hanyalah 1 dari 100 kematian yang mengerikan—tidak kurang dan tidak lebih.”
Jika ada yang bilang aku hebat dalam menahan rasa sakit dan penderitaan ini, aku akan membantahnya secepat kilat. Aku tidaklah sekuat itu. Sudah berulang kali aku ingin mati selamanya, meskipun itu adalah hal yang mustahil.
Dia kembali menatap lautan yang terbentang luas. Ada kesedihan yang terpancar jelas di matanya meskipun tidak ada air yang menggenang di sana. Dia benar-benar berempati padaku.
“Luar biasa” adalah gambaran yang terlintas di benakku tentangnya. Tubuhnya saat ini dipenuhi dengan luka yang dibalut perban. Tapi meskipun begitu, dia sama sekali tidak terlihat merasakan sakit sedikitpun. Seolah-olah itu hanyalah hal yang sepele baginya. Aku yakin dia sudah sangat menderita di masa lalu. Tapi dia masih saja bisa berempati pada orang lain.
Tidak, mungkin karena penderitaan dan rasa sakit di masa lalulah, dia bisa berempati pada orang lain. Karena semua pengalaman baik atau buruk itulah yang membuatnya menjadi sosok yang luar biasa seperti sekarang ini.
...****************...
Setelah terbangun dari pingsan, aku menceritakan segala hal yang aku rasakan sambil menangis. Aku tahu itu percuma. Orang tuaku kembali membawaku ke psikiater, dan aku didiagnosis memiliki gangguan kesehatan mental yang cukup parah dan diberi resep obat. Meskipun begitu orang tuaku masih tidak tenang dan merasa sangat bingung karena aku memiliki PTSD tentang menaiki kendaraan, sedangkan aku belum pernah mengalami kecelakaan sama sekali.
Sebelum ke psikiater, aku gemetaran hebat di mobil, lalu muntah dalam 10 detik perjalanan, dan pada akhirnya kami berjalan ke tempat psikiater itu.
Karena kematian yang berulang disertai dengan tidak adanya kepercayaan dan dipandang sebelah mata karena kegilaan yang aku lontarkan, aku menjadi sangat tertutup. Aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar sambil membaca buku, bermain ponsel, dan tiduran sebagai pengalihan. Namun itu semua masih belum cukup. Ketika mau tidur, aku akan gemetaran dan menangis karena takut akan pengulangan lagi. Ketika aku mau membuka pintu, aku takut kalau ayah dan ibu akan terbaring berlumuran darah di sana.
Setelah dua bulan mengalami depresi berat, ayah dan ibu memasukkanku ke TK. Awalnya aku sangat ketakutan dan tidak mau pergi, namun aku tahu kalau aku tidak merepotkan mereka lebih jauh lagi dan dengan berat hati aku menyetujuinya.
Ada berbagai jenis orang di sana. Mereka juga berusaha mengajakku mengobrol dan bermain. Aku sangat senang awalnya. Namun dalam waktu singkat perlahan-lahan mereka semua pergi. Mereka bosan denganku yang selalu ketakutan dan gagap dalam bicara. Mereka juga bingung kenapa aku tidak tertawa ketika semua orang tertawa. Waktu SD pun juga begitu. Yang awalnya hanya penasaran datang, lalu pergi begitu saja karena bosan. Setiap harinya aku semakin sendirian. Kesepian menjadi ketakutan selain kematian.
Ketika aku berumur delapan tahun, ibu memutuskan untuk kembali bekerja. Sebuah keputusan yang bagi anak lain mungkin akan memicu tangis atau penolakan, namun bagiku, itu hanyalah riak kecil di atas telaga yang sudah mati.
Dalam tiga tahun terakhir, aku telah mencicipi kematian berkali-kali. Rasanya persis seperti balok baja konstruksi yang mendadak jatuh dan menghancurkan tubuhku saat berjalan di bawah perancah bangunan. Seperti hantaman bumper truk yang menggilasku di tengah jalan saat menyeberang. Seperti sensasi patah leher saat menggelinding jatuh dari tangga, atau sengatan jutaan voltase dari hair dryer yang terjatuh ke dalam bak mandi, menyetrumku hingga hangus di dalam air.
Aku mengingat semua rasa sakit itu. Semuanya terasa nyata, mengendap di balik kulitku, meski aku masih bernapas di sini.
Ditambah lagi dengan kesendirian yang mencekik di sekolah. Pandangan-pandangan aneh dan berjarak dari para tetangga—bahkan dari orang tuaku sendiri—lambat laun menempaku menjadi pribadi yang suram. Sepasang mataku kosong, dan wajahku mengeras tanpa ekspresi. Jiwaku sudah terlalu baal. Semua rasa sakit yang terakumulasi itu membuatku tidak peduli lagi apakah ibu akan tinggal atau pergi melangkah keluar rumah untuk bekerja.
Saat usiaku menginjak dua belas tahun—tepat di penghujung masa sekolah dasar—aku akhirnya berhasil mengikis sedikit demi sedikit ketakutan yang selama ini merantai jiwaku.
Semua itu bermula dua tahun lalu, ketika aku berumur sepuluh tahun. Hari itu hujan turun sangat deras saat jam pulang sekolah. Aku menunggu berjam-jam, namun badai tak kunjung reda bahkan ketika semburat matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Terjebak dalam pilihan yang mustahil, aku akhirnya mengumpulkan sisa-sisa tekad yang tercecer. Aku memutuskan untuk naik angkot.
Sepanjang perjalanan, tubuhku tidak bisa berhenti gemetaran. Dinginnya AC alami dari angin malam dan air hujan kalah telak oleh rasa gigil yang dipicu oleh isi kepalaku sendiri. Kenangan akan kecelakaan-kecelakaan maut itu masih membekas begitu pekat, seolah bekas lukanya baru mengering kemarin sore. Bayangan akan kematian—tubuh yang hancur, darah yang menyiprat, besi yang meremukkan daging—terus terbesit bergantian seperti rol film rusak.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain merapal doa tanpa putus di dalam hati. Dan entah karena Tuhan mendengarkan keputusasaanku atau aku hanya sedang beruntung, angkot itu berhenti tepat di depan rumah. Aku turun dengan tubuh gemetar, namun selamat tanpa kurang satu apa pun.
Pengalaman itu menjadi retakan pertama pada dinding traumaku. Sejak hari itu, sesekali aku memberanikan diri untuk naik angkot saat pulang sekolah. Dan ajaibnya, dalam beberapa bulan berikutnya, tidak ada satu pun kecelakaan yang terjadi.
Melihat secercah harapan, aku mulai menantang diriku lebih jauh. Demi melawan PTSD yang mencekik ini, aku mencoba menaiki berbagai moda transportasi umum. Aku melangkah masuk ke dalam bus TransJakarta, duduk di gerbong kereta yang melaju cepat, menumpang bus antar-kota, hingga membonceng ojek di tengah padatnya jalanan.
Dalam dua tahun perjuangan itu, takdir tampaknya sedikit melunak. Hanya terjadi beberapa kali kecelakaan maut pada kendaraan yang sedang kunaiki—sebuah penurunan drastis yang kusyukuri. Yah, meskipun aku tidak bisa menipu diriku sendiri. Di sudut-sudut kehidupan yang lain, kematian-kematian aneh itu masih saja terus mengintaiku.
“Tidak ada gunanya! Situasimu masih belum berubah. Lagi pula, sejak awal kenapa kau bisa kepikiran untuk melawannya?”
Kenapa? Tidak tahu. Aku hanya ingin mencobanya.
“Ketakutan dan trauma tidak bisa dihilangkan hanya karena adanya keinginan untuk mencobanya.”
Itu benar. Tapi itu berlaku hanya kepada orang normal saja. Aku telah mengalami berbagai kematian yang sangat menyiksa. Namun aku menyadari kalau kesendirian dan kebosanan jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.
Memang benar aku masih takut pada kematian. Rasanya sangat menyakitkan. Aku ingin lari dan aku berharap aku tidak lagi mati. Namun, di sebuah buku yang kubaca, aku menemukan sesuatu yang sangat indah sehingga dapat menghancurkan kutukan sekalipun.
“Dan apa itu?”
Cinta.
“Cinta?”
Ya. Dengan cinta, aku percaya aku dapat bertahan dari rasa sakit mana pun. Dengan cinta, aku yakin aku mampu menghancurkan kutukan apa pun yang merantai takdirku. Dan dengan cinta, hidupku yang semula sewarna abu-abu perlahan-lahan menjadi lebih berwarna.
Karena pemikiran seperti itulah, aku membulatkan tekad untuk meruntuhkan dinding pembatas yang kubuat sendiri. Aku mulai mencoba mengubah diriku secara radikal. Aku giat belajar hingga berhasil merebut peringkat pertama di sekolah. Aku berlatih bicara di depan cermin demi mengikis tatapan kosongku, belajar memasak, berolahraga, hingga menyelami dunia musik dan seni. Semuanya kupelajari tanpa terkecuali, termasuk bagaimana cara menata penampilan diri.
Tentu saja, kematian tidak luput dari proses metamorfosis ini. Kejadian-kejadian mengerikan itu tetap datang menjemputku di sela-sela rutinitas baru. Namun, aku memilih untuk tetap bertahan dan tegak berdiri, meskipun aku tahu, jauh di dalam sana, jiwaku semakin terkikis dan terluka.
Hasilnya terlihat nyata saat debutku di SMP. Aku mendadak menarik banyak perhatian karena kemampuan akademikku yang menonjol dan staminaku dalam berolahraga. Tidak hanya itu, dinding es di sekelilingku mulai mencair; aku mulai mendapatkan teman. Mengobrol di koridor kelas dan nongkrong sepulang sekolah kini menjadi rutinitas baruku. Meski awalnya terasa sangat asing dan canggung, aku berhasil menyesuaikan diri dengan cepat. Aku belajar menjadi manusia normal.
Di tengah popularitas baru itu, entah kenapa aku juga jadi sering mendapati surat cinta di dalam loker atau ajakan berpacaran dari banyak pria. Jika dinilai secara objektif, mungkin itu karena penampilanku sekarang yang bisa dibilang cantik dan menarik. Namun, aku memilih untuk menolak mereka semua tanpa ragu.
Alasannya sederhana, aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman-teman yang baru kumiliki. Dan tentu saja... karena aku tidak boleh melupakan fakta tentang kutukan mengerikan yang masih mengalir di dalam darahku ini.