"Apa lo takut?"
"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."
Kalimat itu membuat Agnesa membeku.
Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.
Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.
Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.
Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:
Tatapan Agnesa.
Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.
Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—
Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang terbaca
Suara alarm dari jam beker berbentuk kepala kucing di atas nakas berbunyi nyaring.
Drrrttt! Drrrttt!
Agnesa segera menekan tombol matinya sebelum dering ketiga sempat bergema di lorong lantai dua rumahnya.
Udara Senin pagi di Bandung masih membawa sisa embun yang meresap lewat celah ventilasi, menciptakan suhu yang memaksa kulit untuk merinding.
Agnesa tidak segera bangun; ia duduk di tepi ranjang, menatap kakinya yang terbungkus kaus kaki putih.
Ada noda cokelat kecil di ujung kaus kaki kanannya—mungkin bekas tetesan susu dari hari Minggu yang ia lewatkan saat mencuci.
Cek.
Agnesa menggosok noda itu dengan jempolnya. Noda itu tidak hilang, justru sedikit melebar.
Ia mengembuskan napas panjang, sebuah suara huff kecil yang segera hilang ditelan sunyi kamar.
"Agnes? Sudah rapi? Sarapan sudah siap," suara ibunya terdengar dari balik pintu, diiringi bunyi kunci yang diputar.
Klik.
Ibunya tidak masuk, hanya memastikan bahwa otoritasnya telah tersampaikan.
"Iya, Ma. Turun sebentar lagi."
Agnesa bangkit. Ia mengenakan seragam putih abu-abunya yang sudah disetrika sangat kaku hingga kerahnya terasa tajam menyentuh leher. Ia menyisir rambutnya, memastikan tidak ada satu helai pun yang keluar dari jalur kuncir kudanya.
Namun, saat ia melihat cermin, ia menyadari bahwa sepatu pantofel hitamnya sedikit berdebu.
"Biarkan saja," gumamnya pelan. "Lagi pula nanti harus mengecek logistik ke lapangan."
Ruang makan keluarga Anabella sangat luas dengan meja jati yang sanggup menampung dua belas orang, namun pagi ini hanya ada tiga piring yang tertata.
Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi melodi utama.
Ting. Crak.
Ayahnya sedang memotong roti panggang dengan presisi seorang ahli bedah, sementara ibunya sibuk dengan tablet di tangan kiri dan cangkir kopi di tangan kanan.
Tidak ada televisi yang menyala. Hanya suara kunyahan pelan dan detak jam dinding kuno di sudut ruangan.
"Papamu sudah bicara dengan kepala sekolah kemarin," ibunya membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet.
"Program beasiswa ke Oxford itu akan diprioritaskan untuk pemenang olimpiade sains. Kamu harus pastikan baksos OSIS ini tidak mengganggu jadwal belajarmu."
Agnesa mengunyah telur matanya perlahan.
Slurpp.
Ia meminum jus jeruknya sebelum menjawab. "Iya, Ma. Hari ini hanya penyerahan logistik awal. Naren dan kelompoknya sudah mengumpulkan barangnya kemarin."
Ayahnya menurunkan garpu. Mata tajamnya menatap Agnesa. "Naren? Anak yang motornya sering bising itu?"
"Dia ketua gengnya, Pa. Tapi dia kooperatif untuk baksos ini."
"Jangan terlalu dekat dengan tipe seperti itu, Agnes. Mereka hanya akan menjadi catatan kaki di masa depanmu. Ingat posisi kamu sebagai ketua OSIS," ayahnya kembali memotong roti.
Krek.
Agnesa tidak membalas. Ia meletakkan sendoknya dengan posisi sejajar di atas piring.
Agnesa meraih serbet kain di samping piringnya.
Bukannya menyeka mulut, ia justru mulai melipat serbet itu menjadi bentuk segitiga sempurna, lalu membongkarnya, dan melipatnya kembali menjadi persegi.
Ia melakukannya tiga kali dengan gerakan yang ritmis, seolah-olah konsistensi lipatan itu jauh lebih penting daripada diskusi tentang masa depannya di meja makan.
"Aku berangkat sekarang. Takut macet di dekat gerbang sekolah," kata Agnesa sambil berdiri.
"Pak Jaka sudah di depan. Bawa payung, ramalan cuaca bilang sore nanti hujan lagi," tambah ibunya.
Brummm.
Mobil sedan hitam itu membelah jalanan Bandung yang mulai padat oleh angkot dan pelajar.
Saat mobil mendekati gerbang sekolah, Agnesa melihat sekumpulan motor terparkir di depan warung kopi seberang sekolah. Motor-motor besar, berisik, dan tidak beraturan.
Di tengahnya, berdiri seorang pemuda dengan jaket kulit hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka.
Mobil Agnesa melambat saat memasuki gerbang.
Melalui kaca jendela yang gelap, Agnesa melihat Naren sedang memegang helmnya, menyandarkan pinggang pada jok motor.
Naren menoleh ke arah mobil yang lewat. Agnesa tetap menatap lurus ke depan, tapi tangannya yang berada di pangkuan meremas tali tas sekolahnya hingga kulit tas itu mengerut.
Mobil terus melaju masuk ke area parkir dalam.
Agnesa turun dari mobil tepat jam 07:10 WIB.
Area koridor sekolah mulai ramai.
Tap, tap, tap.
Suara langkah sepatunya yang kaku bergema di lantai ubin. Ia langsung menuju ruang OSIS.
Di depan ruang OSIS, ia menemukan pemandangan yang tidak biasa.
Tiga kardus mi instan sudah tertumpuk di depan pintu, beserta dua jeriken minyak goreng.
Di atas tumpukan itu, ada secarik kertas yang ditempel dengan selotip bening yang dipasang asal-asalan—miring dan berkerut.
Agnesa mendekat. Ia membaca tulisan di kertas itu: "Logistik Batch 1. Sesuai revisi. - N"
Agnesa mencoba membuka pintu ruang OSIS. Tangannya menyentuh gagang pintu, tapi ia berhenti sejenak.
Ia melihat ke arah selotip yang miring di kertas tersebut. Ia melepaskan selotip itu perlahan, berusaha tidak merobek kertasnya, lalu memasangnya kembali dengan posisi yang benar-benar lurus dan sejajar dengan pinggiran kardus.
Setelah itu, ia mengusap permukaan kertas itu sekali dengan telapak tangannya.
"Pagi, Bu Ketua! Rajin amat jam segini udah ngerapihin sampah," sebuah suara cempreng menyambar dari arah koridor.
Abyan berjalan mendekat dengan gaya berjalan yang membal mental-mentul, diikuti oleh Naren dan Venzo di belakangnya.
Naren tampak berbeda pagi ini; kemeja sekolahnya tidak dimasukkan ke dalam celana, dasinya hanya dikalungkan tanpa simpul yang benar, dan rambutnya basah—mungkin baru terkena air wudu atau sekadar disisir dengan jari.
"Ini bukan sampah, Abyan. Ini logistik baksos," sahut Agnesa ketus. Ia menatap Naren.
"Kenapa diletakkan di luar? Kalau hilang bagaimana?"
Naren maju satu langkah. Ia berdiri di depan Agnesa, jarak mereka hanya terpisah oleh tumpukan kardus.
"Gue nggak punya kunci ruangan ini. Mau gue titip ke satpam, satpamnya lagi sarapan bubur."
Naren tidak mundur. Ia justru sedikit condong ke depan, melewati batas kardus, membuat Agnesa secara refleks menegakkan punggungnya lebih kaku.
Dominasi ruang berpindah ke tangan Naren seiring dengan aroma samar sabun batangan dan bensin yang menguar dari jaketnya.
"Kamu kan bisa telepon saya," kata Agnesa.
"Gue nggak mau ganggu ritual sarapan porselen lo," balas Naren.
Agnesa sedikit tersentak. "Maksudnya?"
"Nggak ada. Bukain pintunya. Berat nih pindahin sisanya dari parkiran."
Agnesa merogoh kunci dari tasnya.
Kring.
Ia membuka pintu ruang OSIS yang berbau pengharum ruangan jeruk yang tajam.
"Pindahkan ke sudut sana. Jangan dicampur dengan barang inventaris."
"Siap, Kanjeng Ratu!" Abyan langsung menyambar satu kardus.
"Ayo Arion, Venzo, kerja bakti kita!"
Venzo mengangguk pada Agnesa saat ia lewat membawa jeriken minyak.
"Pagi, Agnes. Revisi kamu sangat membantu."
"Terima kasih, Venzo. Setidaknya ada yang menganggap itu serius," sindir Agnesa sambil melirik Naren.
Naren tidak membalas sindiran itu. Ia masuk ke ruangan, mengangkat dua kardus sekaligus di lengan kiri dan kanannya. Otot lengannya menegang di balik kemeja putih yang tipis.
Agnesa berdiri di dekat meja besar, memperhatikan mereka bekerja.
"Kenapa diam saja?" tanya Naren saat ia meletakkan kardus ketiga.
"Nggak mau cek pakai sarung tangan plastik?"
Agnesa merasakan wajahnya memanas. "Saya akan mengeceknya nanti setelah semua terkumpul."
Agnesa memalingkan wajah, berpura-pura memeriksa kalender di dinding.
Namun, matanya sesekali melirik ke arah Naren yang sedang membungkuk merapikan tumpukan kardus.
Ia memperhatikan bagaimana Naren menggunakan kakinya untuk mendorong kardus agar sejajar—sebuah gerakan kasar yang sangat bertolak belakang dengan cara Agnesa bekerja, tapi entah mengapa tumpukan itu terlihat kokoh.
"Udah semua, Ren," lapor Abyan sambil mengusap keringat di lehernya.
"Gue mau ke kantin ya, laper beneran ini mah. Tadi cuma sempet makan kerupuk sebungkus bertiga."
"Sana," usir Naren.
Abyan dan Venzo keluar dari ruangan, meninggalkan Agnesa dan Naren dalam keheningan yang tiba-tiba terasa berat.
Suara riuh rendah siswa di luar koridor terdengar seperti suara latar yang sangat jauh.
Naren berjalan menuju pintu, tapi ia berhenti tepat di samping meja Agnesa.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sesuatu yang dibungkus plastik kecil.
Pletak.
Ia meletakkannya di atas meja Agnesa.
"Apa lagi ini?" tanya Agnesa.
"Obat merah sama plester. Tangan lo lecet kan?"
Agnesa melihat tangannya sendiri. Benar, di pangkal jempolnya ada bekas luka kecil yang memerah akibat gesekan tali tas yang ia remas terlalu kencang di mobil tadi.
Ia bahkan tidak menyadarinya sampai Naren mengatakannya.
Agnesa menatap plester itu. Ia merasakan denyut kecil di luka lecetnya yang tadinya mati rasa.
Tenggorokannya tiba-tiba terasa sempit. Ia ingin bertanya bagaimana Naren bisa tahu, tapi kata-kata itu seolah tersangkut di antara lidah dan giginya.
Ia hanya bisa menelan ludah pelan.
"Tali tas lo itu terlalu tajam buat tangan yang jarang kerja kasar," kata Naren sambil berjalan keluar.
"Naren!" panggil Agnesa.
Naren berhenti di ambang pintu, menoleh tanpa membalikkan badan sepenuhnya. "Apa?"
"Terima kasih. Untuk logistiknya."
Naren terdiam sebentar. Ujung bibirnya bergerak, sebuah gestur yang terlalu singkat untuk disebut senyum.
"Susu cokelatnya udah basi belum?"
"Sudah saya habiskan kemarin," jawab Agnesa cepat, terlalu cepat sehingga terdengar seperti pengakuan dosa.
Naren tidak membalas lagi. Ia hanya mengangkat tangan kirinya sebentar, lalu melangkah pergi ke koridor, menghilang di antara kerumunan siswa yang mulai masuk kelas.
Agnesa duduk di kursinya.
Kursi empuk ketua OSIS yang biasanya memberikan rasa bangga, kini terasa sedikit terlalu besar untuknya.
Ia mengambil plester yang diberikan Naren. Plesternya bergambar karakter kartun yang konyol—sangat tidak pantas untuk seorang ketua OSIS yang berwibawa.
"Anak ini benar-benar..." Agnesa menggelengkan kepala.
Ia teringat setahun lalu, ketika kucing tetangganya mati tertabrak mobil. Ia melihat kucing itu tergeletak di aspal, tak berdaya. Ia ingin menangis, tapi ibunya bilang menangis di depan umum itu memalukan bagi keluarga Anabella.
Jadi ia hanya berdiri di sana, memegang tali tasnya kuat-kuat sampai tangannya memutih, persis seperti yang ia lakukan pagi tadi di mobil.
Ia tidak pernah mengobati luka hatinya, ia hanya menutupinya dengan jadwal belajar yang padat.
Naren, dengan segala kekasarannya, justru melihat luka yang sengaja ia sembunyikan di balik seragam yang rapi.
Agnesa membuka plastik plester itu.
Sret.
Ia menempelkan plester bergambar kelinci pink itu di pangkal jempolnya. Ia menatap tangannya yang kini terlihat aneh—seragam yang kaku, kacamata yang mahal, dan sebuah plester kelinci konyol pemberian pemimpin geng motor.
Ia kemudian meraih daftar logistiknya. Ia mulai mencentang barang-barang yang sudah datang.
"Minyak goreng... 2 liter... cek," bisiknya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup keluarga.
Mama: Jangan lupa bawa pulang formulir pendaftaran Oxford itu sore ini. Papa mau tanda tangan.
Agnesa menatap pesan itu. Ia tidak membalas. Ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah, persis seperti yang dilakukan Naren di ruko kemarin.
Agnesa berdiri, berjalan menuju tumpukan kardus mi instan milik Naren.
Ia membungkuk, lalu dengan ujung jarinya, ia merapikan sudut salah satu kardus yang sedikit menekuk.
Ia melakukan itu berkali-kali, menghaluskan karton yang kasar itu dengan penuh perasaan, sebuah pengulangan dari apa yang dilakukan Naren semalam di markasnya tanpa Agnesa ketahui.
Bel masuk berbunyi nyaring. Teeeeeet!
Suara itu menyentak Agnesa kembali ke realitas. Ia harus menjadi ketua OSIS yang sempurna hari ini. Ia harus memimpin rapat, ia harus belajar kalkulus, ia harus menjadi anak kebanggaan keluarga Anabella.
Namun, di pangkal jempolnya, plester kelinci itu terasa hangat.
Ia berjalan keluar dari ruang OSIS, mengunci pintunya dengan bunyi klik yang mantap.
Saat ia berjalan di koridor menuju kelasnya, ia melewati kelas Naren. Kelas itu sangat bising. Ia mendengar suara Abyan yang tertawa keras, dan ia melihat sekilas Naren yang sedang duduk di atas meja, tertawa bersama teman-temannya.
Agnesa tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan langkah yang tetap teratur.
"Baksos ini akan menjadi sangat melelahkan," gumamnya pada dirinya sendiri.
Agnesa berkata bahwa ini akan melelahkan, tapi ia tidak mempercepat langkahnya untuk menghindar. Ia justru memperlambat tempo jalannya saat melewati jendela kelas Naren, memberikan waktu bagi telinganya untuk menangkap sisa-sisa suara tawa kasar dari dalam sana sebelum ia benar-benar kembali ke dunianya yang sunyi dan teratur.
Di dalam kelas, ia membuka buku paket Matematika. Halaman 45: Turunan Fungsi.
Agnesa mengambil pulpen merahnya. Ia bersiap untuk mengoreksi angka-angka di hadapannya, tapi pikirannya tertuju pada satu angka ganjil yang tidak bisa ia bagi dengan logika apa pun: Mengapa seorang Naren Aksara Gavindra bisa tahu bahwa tangan seorang Agnesa sedang terluka?
Hari Senin baru saja dimulai, dan Agnesa sudah merasa bahwa jadwal yang ia susun dengan sangat rapi mulai berantakan di tangan seseorang yang bahkan tidak tahu cara memakai dasi dengan benar.
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Mungkin dia nungguin jemputannya," kata Naren akhirnya.
"Atau mungkin dia nungguin payung," Arion terkekeh.
Naren Gagal Gengsi Lagi? Yuk Intip Kelanjutan Hubungan Mereka di Bab 8: Payung Darurat