Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Mengintimidasi
Udara di dalam mansion Virello, terasa lebih dingin dari biasanya. Alya berdiri di depan jendela besar, kamar yang kini di sebut sebagai 'kamarnya'. Meski tidak pernah benar-benar, terasa seperti miliknya.
Tangannya memeluk tubuhnya sendiri, seolah berusaha menahan sesuatu yang tak kasatmata.
Hari ketujuh.
Tujuh hari, sejak ia resmi menjadi istri Arkan Virello. Dan tujuh hari terasa seperti tujuh bulan, langkah kaku berat terdengar dari lorong luar kamar.
Alya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu, hanya satu orang yang memiliki cara berjalan seperti itu. Tenang, berat, dan penuh dominasi. Seolah setiap langkahnya adalah sebuah perintah.
Pintu terbuka tanpa ketukan, Arkan masuk seperti biasa. Alya menelan ludah, tetap menghadap jendela, mencoba terlihat tidak peduli.
"Aku tidak suka diabaikan."
Perlahan Alya menoleh, tatapan mereka bertemu. Dan seperti biasa, Alya kalah duluan. Tatapan Arkan tidak pernah biasa, bukan hanya dingin, tapi seperti sedang menelanjangi isi pikiran Alya.
"Aku sama sekali tidak mengabaikanmu," jawab Alya pelan.
Arkan berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat jantung Alya berdetak lebih cepat.
"Lalu apa?"
Alya diam, karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Menghindar? Iya.
Takut? Sudah jelas.
Membenci? Mungkin.
Arkan berhenti tepat di depannya, bahkan terlalu dekat. Alya bisa merasakan aroma maskulin, yang samar dari tubuh pria itu.
"Tatap aku, Alya."
Seketika Alya mengangkat wajahnya, mata mereka kembali bertemu. Dan lagi-lagi, Alya merasa seperti terjebak. Arkan menunduk sedikit, mempersempit jarak di antara mereka.
"Kamu harus mulai terbiasa."
"Terbiasa dengan apa?" tanya Alya.
Arkan menyeringai tipis, "Ditatap seperti ini."
Deg.
Alya ingin mundur, tapi tubuhnya seakan terkunci dan tidak bisa bergerak.
"K-kenapa?" bisiknya.
Arkan terdiam beberapa saat, tangannya terangkat dan menyentuh dagu Alya. Seakan memaksa Alya untuk menatapnya.
"Karena di dunia ini," ucapnya pelan. "Orang yang mengalihkan pandangan, adalah orang yang kalah."
Alya menahan napas, "Tapi aku tidak merasa sedang bertarung denganmu."
"Semua orang di sekitarku sedang bertarung," jawab Arkan datar.
Tatapan itu semakin dalam, semakin menekan. Alya merasa seperti tenggelam dalam tatapannya.
"Tapi aku bukan bagian dari duniamu," bisik Alya.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di mata Arkan. Bukan kelembutan, bukan juga amarah, tapi tatapan yang semakin gelap.
"Sekarang kamu adalah milikku, Alya. Dan milikku, berarti duniamu adalah duniaku juga."
Alya menarik napas pelan, "A-aku manusia, dan aku bukan barang."
Arkan tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak hangat. "Benar, tapi kamu tetap berada di bawah kendaliku."
Alya menepis tangan Arkan dari dagunya, gerakan kecil itu cukup untuk membuat suasana berubah menjadi sunyi dan tegang.
Tatapan Arkan mengeras, "Jangan pernah lakukan itu lagi."
Alya mundur satu langkah, "Lalu apa? Apa aku harus diam saja, setiap kali kamu memperlakukan aku seperti sebuah benda?"
Arkan mendekat lagi, "Aku tidak memperlakukan kamu seperti benda."
"Lalu seperti apa?" tantang Alya, meski suaranya mulai bergetar.
Arkan berhenti tepat di depannya lagi, "Seperti sesuatu yang harus aku lindungi."
Alya tertegun, jawaban itu tidak sesuai dengan yang ia bayangkan.
"Dengan cara seperti apa? Mengontrol? Menekan? Itu bukan melindungi."
"Kamu sama sekali tidak tahu, apa arti perlindungan di dunia ini."
"Dan aku tidak ingin tahu itu!" teriak Alya.
Beberapa detik terasa sangat lama, Arkan akhirnya menarik napas pelan, lalu berbalik.
Untuk sesaat, Alya mengira percakapan itu selesai. Tapi tidak.
"Ada seseorang yang datang hari ini."
"Siapa?"
Arkan menoleh cepat, "Selena."
Nama itu seperti petir, tidak tahu kenapa, Alya merasakan dadanya langsung sesak.
"Untuk apa dia datang ke rumah ini?"
"Itu bukan urusanmu."
Jawaban dingin itu kembali terdengar, seolah percakapan sebelumnya tidak pernah terjadi.
Alya menggenggam tangannya, "Dia mantanmu, kan?"
Arkan diam, itu sudah cukup sebagai jawaban.
"Aku tidak peduli," lanjut Alya, meski suaranya tidak menyakinkan.
Arkan menoleh sepenuhnya, tatapannya kembali tajam. Ia berjalan mendekat lagi, tapi kali ini langkahnya lebih lambat.
"Kenapa? Apa kamu cemburu padanya?"
"Tidak," jawab Alya cepat. "Aku tidak punya alasan untuk cemburu padanya."
Arkan berhenti di depannya, lalu sedikit menunduk. "Kamu istriku, Alya."
"Itu hanya sebuah kontrak," potong Alya. "Dan itu memang kenyataannya."
Arkan menatap Alya tajam, "Jangan pernah mempermalukanku di depan siapa pun, termasuk dia."
Nada suara itu berubah, bukan lagi dingin, tapi seolah itu adalah sebuah ancaman. Alya merasakan bulu kuduknya meremang.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa."
"Akan aku pastikan itu."
Alya menatapnya balik, kali ini ia tidak mengalihkan pandangan. Meski jantungnya berdegup dengan kencang.
"Aku tidak takut padanya."
Arkan menyipitkan mata, "Kamu salah, bukan dia yang harus kamu takuti."
Arkan berbalik, dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
"Dan satu hal lagi, tetaplah tersenyum."
"Untuk apa aku harus selalu tersenyum?" tanyanya heran.
"Karena hari ini, kamu harus terlihat seperti istri yang bahagia."
Pintu tertutup, dan Alya berdiri sendirian lagi. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Wajah yang sama, tapi mata itu tidak lagi sama.
Lelah.
Tertekan.
Dan perlahan berubah.
"Tersenyum," bisiknya pelan.
Senyum pahit terbentuk di bibirnya, "Kalau ini yang kamu mau, Arkan. Maka aku akan bermain seusai aturanmu."
Di luar sana, permainan baru akan segera dimulai. Dengan tatapan, kebohongan, dan dengan luka yang belum terlihat.
Dan kali ini, Alya tidak akan diam hanya untuk menjadi korban. Ia akan bertahan atau menghancurkan.