Semua bermula ketika Vanessa yang memaksakan keinginannya untuk mengikat Calvin dalam ikatan pernikahan, dengan harapan bahwa pria itu akan mencintainya. Tapi yang terjadi, pria itu malah membencinya dan berusaha selalu menjaga jarak dengannya, bertahun-tahun menikah, pria itu ternyata masih memikirkan mantan kekasihnya.
Sampai saat Vanessa sekarat karena kanker yang menggerogoti tubuhnya, dia melihat, suaminya yang menggandeng mesra tangan seseorang yang menjadi alasan kenapa pria itu tidak akan pernah mencintainya.
Di sisa nafasnya, dia pun menyesali keputusannya saat itu. "Andai saja aku tidak pernah memaksa Calvin menikah dengan ku, mungkin aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan."
Karena sejak awal, hati pria itu memang bukan miliknya.
Dan yah, Tuhan pun mengabulkan keinginannya. Apakah Vanessa akan merelakan Calvin bersatu dengan mantan kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keegoisan Mu
*Jangan lupa like dan vote dulu sebelum lanjut membaca ☺️
.
Angin pagi khas Bali berhembus sejuk, membuat seorang wanita mengencangkan jaket yang sedang dia pakai.
Artur dan Vanessa dengan santai masuk ke dalam sebuah rumah makan tradisional, aroma rempah dari hidangan yang tersaji di meja menyapa penciuman mereka hingga perut Vanessa dan juga Artur kembali meronta-ronta.
Setelah memesan beberapa hidangan untuk sarapan, Vanessa dan ayahnya duduk santai di kursi sambil menunggu makanan mereka, Vanessa mengotak-atik ponselnya dan keningnya mengerut saat melihat ada panggilan tidak terjawab, itu dari Aurel.
Keningnya mengerut. Apa wanita itu ingin mengabari jika dia berhasil kembali dengan Calvin?.
Dia yakin pasti suaminya itu pasti bahagia karena sudah bertemu dengan kekasih hatinya. Membayangkan Calvin bersama Aurel membuat moodnya hancur.
Dengan cepat dia melekatkan ponselnya di atas meja saat seorang pelayan datang membawakan pesanannya.
"Terimakasih." ucapnya sopan. Dia menatap hidangan didepannya dengan perasaan antusias, belum lagi pemandangan di luar rumah makan ini terlihat sangat asri, suasananya sangat tenang dan dami, membuat tubuhnya rileks seolah semua masalah berat di Jakarta sudah tertinggal jauh di belakang.
Namun, kedamaian itu seketika buyar saat sebuah tangan kuat dengan kasar menarik lengan Vanessa.
Sret....
"Akh."
Vanessa tersentak kaget, hampir saja teh di tangannya tumpah. Dia mendongak melihat dengan wajah terkejut dan sedikit marah, siap memprotes orang yang tidak sopan itu. Namun, napasnya tercekat saat melihat siapa pemilik tangan itu.
"Calvin?"
Syok.
Tentu saja.
Bagaimana bisa dia melihat mantan, eh apa bisa di sebut mantan suami saat mereka belum resmi bercerai.
Ehm maksudnya, suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan, tiba-tiba ada di depannya.
Pria di hadapannya itu tersenyum miring, tatapannya tajam namun terlihat sangat menakutkan. "Tidak semudah itu untuk pergi Vanessa." ucapnya santai. Tapi tetap membuat wanita itu merinding.
Artur sendiri juga ikut kaget, dia tidak menyangka jika Calvin akan menyusul mereka.
Vanessa mencoba menarik tangannya kembali dengan kasar, jantungnya berdegup kencang bukan main. "Kau gila ya?, bagaimana bisa kau tahu aku di sini?, Bukankah kita sudah bercerai? Aku sudah memberikan surat cerai itu padamu!, Semuanya sudah selesai Calvin, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi!" ucapnya tegas dengan suaranya yang sedikit bergetar, campuran antara kaget dan emosi.
Calvin terkekeh kecil, dia mendekat ke arah wanita itu, tidak peduli dengan tatapan kaget ayah Vanessa dan pengunjung lain. "Selesai?" ucapnya santai namun tegas.
"Itu tidak akan pernah terjadi, surat cerai yang kau berikan padaku sudah ku buang di jalan. Aku tidak akan pernah setuju untuk bercerai denganmu." dia kembali menjauhkan wajahnya. Melihat dengan geli ekspresi wajah istrinya.
Mata Vanessa membelalak tidak percaya. "Kau... kau gila! lalu bagaimana dengan Aurel?, bukankah kau masih mencintainya, kau pikir aku tidak tahu kalau selama ini kau masih menyimpan perasaan padanya?" tunjuknya pada pria itu.
Respon Calvin hanya gelengan kepala. "Kata siapa aku masih mencintainya?" tanyanya santai.
Vanessa mengepalkan tangannya. "Aku pernah melihat fotonya ada di dompet mu, bahkan fotonya terlihat dengan jelas ada di meja kantor mu!" ujar Vanessa, matanya mulai berkaca-kaca mengingat semuanya, rasa sakit itu kembali menggerogoti hatinya.
Artur mengelus punggung anaknya, dia tidak menyangka jika kehidupan pernikahan putrinya ternyata sangat menyakitkan.
Calvin menghela napas panjang, lalu dengan tegas mengambil tangan Vanessa kembali, kali ini dengan lembut namun wanita itu mencoba menariknya kembali. Tapi dia tahan sekuat tenaga.
"Aurel?" ucapnya pelan, lalu menggeleng tegas. "Aku tidak menyukai Aurel. Dia bukan siapa-siapa buatku sekarang."
Vanessa terdiam, terkejut setengah mati. "Tapi... fotonya masih ad?"
"Itu masa lalu Vanessa. Aku hanya lupa membuang fotonya karena terlalu sibuk." potong Calvin cepat, sedikit berbohong tidak apa-apa kan?.
Sejujurnya saat melihat keberadaan Aurel dia merasa senang, tapi jantungnya tidak berdetak kencang seperti dulu. Saat pertama kali melihatnya, dia merasa biasa saja, tidak ada lagi gejolak cinta untuk wanita itu.
Justru hatinya sangat sakit saat melihat surat perceraiannya dengan Vanessa. Anehnya, dia merasa seperti ada yang hilang di hidupnya.
Apa dia sudah mencintai wanita itu?. Istrinya selama beberapa tahun ini?.
Dia kembali menatap mata Vanessa dalam-dalam. "Aku tidak butuh siapapun Vanessa. Aku hanya ingin bersamamu, Aku datang ke sini bukan untuk main-main, tapi untuk meminta kesempatan kedua. Jangan pergi dariku." ucapnya serius.
Vanessa menggeleng, dia kembali menarik tangannya. "Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu?, kita sudah menikah selama empat tahun Calvin, pada kenyataannya, kau terus mendorong ku menjauh, aku bahkan merasa kesepian, hanya aku yang mencintaimu sedangkan kau tidak." menyakitkan sekali saat sadar bahwa dirinya kecintaan sendiri.
Dia kembali mengingat bagaimana pria itu menolaknya dulu. Bahkan sering menyakitinya dengan perkataan kasar yang entah sengaja atau tidak pria itu ucapkan padanya.
Dan lagi, ingatannya kembali berputar saat usia mereka sudah tidak lagi muda. Dia sekarat sendirian di rumah sakit, sementara Calvin hidup bahagia dengan Aurel di rumah yang dia beli.
Dia tidak mau itu terjadi.
Melihat wajah sendu sang anak. Artur menatap Calvin dengan wajah memohon. "Tidak bisakah kau menuruti permintaan Vanessa, Vin?"
Mata Calvin berkaca-kaca, "Kenapa?"
"Kenapa hanya aku yang harus menuruti permintaan kalian?, apa karena aku miskin jadi kalian seenaknya?"
Artur menggeleng, bukan begitu.
Pria itu menatap mertuanya dengan tatapan kecewa. "Ayah lupa bagaimana cara ayah memaksaku untuk menikahi Vanessa, kalian memaksaku, bahkan mengancam akan melakukan apapun asalkan aku mau menikah dengan Vanessa."
Sekarang Artur terdiam. Dia menunduk, merasa bersalah karena telah menghancurkan cita-cita Calvin.
Pria itu menyeka air matanya yang tidak sengaja keluar. Dia kembali memandang Vanessa dan kebetulan wanita itu juga menatapnya. "Jika kau bisa egois dan memaksakan keinginan mu, kenapa aku tidak bisa?" tanyanya pada wanita itu.
"Calvin aku minta maaf, tap..."
"Kau memintaku untuk menikahi mu, dan sekarang kau meminta agar kita bercerai!" Calvin meninggikan suaranya di akhir kalimat.
Vanessa ikut terdiam. Dia merasa sangat bersalah saat ini.
"Aku tidak akan menyetujuinya Vanessa, sampai kapanpun aku tidak akan bercerai denganmu. Kemanapun kau pergi, aku akan mencari mu."
Mata wanita itu membola, Calvin langsung meninggalkan meja Vanessa tanpa menghiraukan panggilan wanita itu.
Matanya memanas seiring dengan langkah kakinya yang perlahan mulai cepat meninggalkan tempat ini. Rasanya dia ingin menangis.
"CALVIN!" teriak Vanessa yang sudah berdiri berniat untuk mengejar pria itu, tapi Artur menahannya.
"Beri dia kesempatan untuk menenangkan diri." ucap ayahnya yang membuat Vanessa diam lalu kembali duduk. Bahkan rasa lapar diperutnya tidak lagi terasa, hatinya tidak tenang setelah kepergian pria itu. Apa dia sejahat itu dengan Calvin?.