Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Pelampiasan 21+
0o0__0o0
Warning!! Tidak di peruntukan untuk bocil.
Ares sedikit mengernyit dalam tidurnya.
Sentuhan itu… terasa nyata.
Hangat.
Lembut.
Nafasnya berubah perlahan, lebih berat. Alisnya bergerak halus saat bibir Mawar masih menyentuh miliknya—bukan lagi sekadar kecupan, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih penuh perasaan.
"Mmm…" gumam-nya lirih, belum sepenuh-nya sadar.
Tangan Ares yang semula diam di samping tubuhnya perlahan bergerak, refleks. Jemari-nya menemukan pinggang Mawar, menahan-nya tanpa sadar, seolah takut wanita itu menghilang.
Mawar terdiam sesaat. Ia bisa merasakan respon itu. Dan entah kenapa… jantungnya justru berdetak lebih cepat.
Ares perlahan membuka mata. Pandangan-nya masih buram, namun sosok di atasnya begitu jelas.
"Mawar…?" suaranya serak, berat oleh sisa tidur.
Tatapan-nya menajam sedikit demi sedikit saat kesadaran mulai kembali. Ia menyadari posisi mereka—dan apa yang sedang terjadi.
Namun, alih-alih mendorong—
Ares justru menatap wajah istrinya lebih lama.
Ada sesuatu yang berbeda.
Tatapan Mawar… tidak hanya penuh godaan, tapi juga… kegelisahan.
"Ada apa, Sayang ?" tanyanya pelan, tangan-nya naik menyentuh pipi Mawar.
Bukan nafsu yang pertama muncul.
Tapi kekhawatiran.
Mawar terdiam. Untuk sesaat, semua keberanian-nya seperti runtuh hanya karena satu pertanyaan sederhana itu.
Namun bayangan Dresto kembali melintas. Membuat rahangnya mengeras.
Ia mendekat lagi, dahinya hampir menyentuh kening milik Ares.
"Aku mau kamu…" bisiknya lirih, tapi kali ini terdengar lebih rapuh daripada menggoda.
Ares mengerutkan kening. Bukan karena menolak. Tapi karena ia mengerti.
Perlahan, tangan-nya bergeser, memegang bahu Mawar dengan lembut namun tegas.
"Hei…" gumam-nya rendah.
Ia membalik posisi mereka perlahan, kini Mawar yang berada di bawahnya. Namun gerakannya tetap hati-hati, seolah menjaga sesuatu yang berharga.
Tatapan mereka bertemu.
"Aku bukan pelarian," ucap Ares pelan, suaranya dalam namun tenang. "Dan kamu juga tidak perlu lari."
Mawar terpaku.
Untuk pertama kalinya malam itu… ia merasa benar-benar terlihat.
Bukan sebagai wanita penuh rencana.
Bukan sebagai seseorang yang sedang bermain api.
Tapi sebagai dirinya sendiri.
Ares mengusap pipinya lembut, ibu jarinya menyapu sudut mata Mawar yang entah sejak kapan mulai memanas.
"Kalau kamu ingin aku…" lanjutnya pelan, "pastikan itu karena kamu memilih aku. Bukan karena orang lain."
Sunyi.
Namun kali ini bukan sunyi yang menegangkan.
Melainkan… menenangkan.
Ares lalu menunduk, mengecup kening Mawar dengan lembut.
Sangat berbeda dari yang sebelumnya.
Tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Hanya… hangat.
Dan justru itu, yang ang membuat pertahanan Mawar perlahan runtuh.
0o0__0o0
Apartemen Dresto, tengah malam.
Lampu temaram memantulkan bayangan dua tubuh di dinding kaca. Udara terasa berat—di penuhi sesuatu yang tidak benar-benar bisa disebut keinginan… tapi juga tidak bisa di tolak.
Wanita itu sudah berdiri sangat dekat.
Terlalu dekat.
"Dresto…" bisiknya pelan, mencoba menarik perhatian pria yang sejak tadi terlihat jauh, meski tubuhnya ada di sini.
Kali ini—
Dresto tidak mundur.
Tatapan-nya turun, menelusuri wajah wanita itu. Lalu tanpa banyak kata, tangan-nya terangkat… menyentuh dagunya, mengangkat-nya sedikit.
Gerakan-nya tegas.
Namun dingin.
Ia menatap mata wanita itu dalam, seolah mencoba menemukan sesuatu yang lain di sana.
Namun lagi-lagi—
Tidak ada.
Bukan tatapan yang ia cari.
Bukan rasa yang ia inginkan.
Rahangnya mengeras.
Tapi tangan-nya tidak berhenti.
Jemarinya bergeser, menyusuri garis rahang wanita itu… turun perlahan ke lehernya. Sentuhan-nya hangat, namun terasa seperti tidak memiliki jiwa.
Wanita itu memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan itu.
Berharap.
Namun Dresto justru semakin tenggelam dalam pikiran-nya sendiri.
Bayangan lain muncul.
Mawar.
Tatapan dingin itu.
Penolakan itu.
Dan tanpa sadar, cengkraman-nya sedikit menguat.
"Rose…" gumam-nya lirih.
Wanita itu langsung membuka mata.
"Aku bukan—"
Dresto membungkam-nya.
Bukan dengan kata-kata.
Tapi dengan menarik tubuh wanita itu mendekat, mengunci jarak di antara mereka.
Tangan-nya meremas salah satu dada sintalnya. Bibirnya mulai melumat bibir wanita itu.
Sentuhan-nya berubah lebih intens—bukan karena perasaan, tapi karena dorongan yang Dresto paksa keluar.
Pelampiasan.
Semata-mata pelampiasan.
Tangan-nya bergerak tegas, memegang, menahan, seolah mencoba menguasai keadaan… padahal yang sebenar-nya ia coba kendalikan adalah dirinya sendiri.
"Eurghhh..."
Wanita itu mengerang di sela-sela ciuman-nya. Bibirnya tak kalah liar membalas setiap lumatan yang Dresto berikan.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" Guman'nya dalam hati. "Dresto tidak seperti biasanya." Sambung'nya heran. Bertanya-tanya.
Namun hasratnya yang sudah terpancing, wanita itu memilih menelan semua pertanyaan itu. Dan kembali menikmati apa yang saat ini terjadi.
Dresto menarik kuat rambut wanita itu, hingga kepala'nya mendongak paksa ke atas. Tanpa memberi kesempatan, ia langsung menghisap leher jenjangnya.
"Ah, Dresto!
Desahnya lirih, rasa geli, nyeri, dan nikmat bercampur menjadi satu.
Dresto tidak merespon. Ia tetap melakukan kegiatannya.
Namun semakin ia mencoba—
Semakin terasa hampa.
Tidak ada getaran.
Tidak ada kepuasan.
Hanya bayangan Mawar yang semakin jelas di kepalanya.
Dresto terdiam di tengah gerakan-nya.
Napasnya berat.
Lalu tiba-tiba—
Ia melepaskan wanita itu begitu saja. Dan mendorong-nya keras.
BRUK!
Tubuh wanita itu terhuyung dan bokongnya menghantam lantai, Wajahnya memerah, bingung.
"Dresto…?"
Pria itu duduk bersandar di sofa, mengusap wajahnya kasar. Tawa pelan keluar dari bibirnya—kering, tanpa arti.
"Sial…" desisnya.
Ia menatap wanita itu lagi.
Tapi kali ini jelas—
Tidak ada ketertarikan di sana.
"Aku pikir kau cukup berguna… tapi ternyata aku salah," ucapnya dingin.
Wanita itu terdiam, tidak mengerti.
Dresto memalingkan wajah.
"Puaskan milik ku dengan mulutmu."
Satu kalimat.
Tegas.
Tak terbantahkan.
Wanita itu tersenyum tipis, meng-goda. Bahkan ia tidak tersinggung sama sekali. Toh nanti ia akan dapat kartu tanpa limit buat belanja apapun.
Dan tugasnya hanya melakukan semua perintah Dresto tanpa banyak tanya dan bantahan.
"Baiklah, Sayang." Bisik wanita itu.
Ia Bersimpuh di bawah kaki Dresto. Tangan'nya dengan cekatan menarik turun celana beserta boxernya. Hingga benda berurat itu kini berdiri menjulang tinggi, menunggu jatah makan.
Dresto tetap diam. Memejamkan matanya. Membiarkan wanita itu melakukan tugasnya.
"Aku jamin permainan tangan dan mulutku tidak akan mengecewakan aset berharga mu." Ucap wanita itu penuh percaya diri.
Tangan-nya mulai memegang aset Dresto, lalu menjulurkan lidahnya. Menjilat dari pangkal sampai atas, hingga otong-nya mulai basah.
Dan tangan-nya mulai bergerak naik-turun dengan pelan, ritmis. Pasti.
"Masukkan mulutmu."
Titah Dresto dingin. Ia ingin segera mencapai klimaks dan segera kembali ke mansion.
Wanita itu mendongak, menatap Dresto yang masih memejamkan matanya dari bawah. Tangan'nya kini bergerak semakin cepat. Mengocok, naik-turun turun.
"As you wish, Darling."
Wanita itu langsung melahap aset Dresto. Menggerakkan tangan dan mulutnya dengan lihai. Liar. Cepat. Dalam.
Dresto tetap diam, menikmati apa wanita itu lakukan. Namun yang ada dalam bayangan-nya saat ini adalah Mawar. Perempuan yang saat ini masih mendominasi hati dan pikiran-nya.
"Eurghhh, Lebih cepat lagi..."
Wanita itu menuruti tanpa bantahan. Mulutnya terus mengulum, sesekali menyedot kepala jamurnya. Dan tangan-nya terus mengurut, mengocok, lebih cepat.
"Ahh, Ya! Seperti itu."
Dresto mendesah pelan, semakin menikmati blow job wanita itu. Merasa akan segera mencapai klimaks. Ia membantu meng-gerakkan kepala'nya dengan mencengkram kuat rambutnya.
Wanita itu melotot, bahkan mata'nya sampai berair. Mulutnya terasa kebas. Rahang-nya juga terasa sakit.
Namun tidak ada jalan untuk mundur. Meskipun nafas'nya mulai menipis dan tersendat-sendat.
Bukankah untuk mencapai tujuan harus ada harga yang dibayar ?
Dan inilah harga yang harus wanita itu berikan.
"Eurghhh, Rose." Racau Dresto. "Mulutmu sangat nikmat."
Tangan-nya semakin menekan kepala wanita itu ke dalam, terus mempercepat gerakan-nya. Bahkan ujung kepala jamurnya terasa menyentuh kerongkongan wanita itu.
Rasanya ?
Jangan di tanya lagi.
Kalian bisa membayangkan sendiri.
Hingga akhirnya cairan kentalnya berhasil keluar, memenuhi mulut wanita itu.
"Aaahhh.... Rose..."
Dan kali ini, tidak ada yang bisa Dresto pungkiri lagi. Bukan tubuh wanita lain yang ia inginkan.
Tapi satu nama yang terus menghantui-nya.
Mawar.
Wanita yang selama ini selalu mencintai dirinya. Dan kini telah meninggalkan-nya, dengan status yang tidak akan pernah Dresto terima seumur hidupnya.
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣