Follow IG @samar_jenny1
Zia adalah gadis yang membenci perjodohan, itu menjadi sebuah prinsip yang dijalani. Zia sudah mempunyai kekasih mereka saling mencintai, namun sayang cinta mereka tidak mendapat restu dari orang tua.
Justru tanpa perundingan ia dijodohkan dengan lelaki pilihan sang ayah. Untuk membayar jantung, yang didonorkan seseorang.
Zia bagai menelan pahit di satu sisi ada orang tuanya, di sisi lain ada kekasih yang ia cintai. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjerat cinta segitiga. Di dalam perjodohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Kini hari yang diharapkan tidak pernah ada bagi Ziara datang juga. Ia berharap Hari ini hanya mimpi buruk semata. Semoga Rio bisa membangunkannya dari mimpi ini dan membawanya pergi jauh tanpa seorang pun tau.
Sang Ibu sedang sibuk menghubungi para kerabat terdekat, tidak banyak yang ia undang karna mereka hanya memiliki sedikit kerabat. Sedangkan Ayah, dia hanya berbaring ditempat tidur karena kesehatannya sedang menurun.
Ziara mencoba menghentikan air matanya namun tidak bisa. Keadaanya sangat memilukan ini adalah hari terburuk sepanjang sejarah yang ia lalui. Ia sudah mencoba menghubungi Rio namun cowok itu masih belum bisa dihubungi. Entah dimana dia saat ini menghilang tanpa kabar selama beberapa hari ini.
"Maafkan aku Rio, aku akan selalu mencintaimu, walaupun aku menikah dengan orang lain, tapi cintaku hanya untukmu, karena sejatinya cinta tak harus memiliki, aku cinta kamu Rio."
Ziara turus saja meratapi nasibnya di tepi ranjang. Menatap gaun yang menggantung yang akan ia pakai nanti malam.
Tring!
Hpnya berdering yang ada dibenaknya saat ini adalah Rio sang kekasih. Namun saat mengambil ponselnya ternyata itu adalah Sita teman berapa hari lalu meminta pertolongan darinya agar mengeluarkan dari perjodohan oleh mama tirinya.
["Hallo," ] Ucapnya menahan isakan tangis.
["Zia, akhirnya gue bisa lepas dari perjodohan ini! Aku kabur dari pernikahan, dan kembali ke tanah air lagi."] ucap sita dengan bahagia.
["Terus Orang tuamu gimana?" ]
["Bodo amat sama mereka, mereka bukan menikahkanku tapi lebih tepatnya menjualku untuk kepentingan bisnis mereka. Dan orang yang akan dinikahkan denganku ia marah karena aku lari dari pernikahan bandot tua itu. Zia! Apa lo masih disitu? Hallo...." ]
["Hemm?"] Aku masih disini. Sita datanglah kerumahku sekarang, aku ingin mengatakan sesuatu, cepat datang jangan lama-lama,"
["Ada perlu apa kamu menyuruhku kerumahmu?" ]
Namun Ziara sudah menutupnya. Dia senang sahabatnya berapa saat lalu merengek minta pertolongan sudah terbebas dari pernikahan paksa, tapi bagaimana dengan ia sendiri? Sekarang dialah yang harus menangis. Tidak bisa menolak ataupun kabur seperti halnya Sita. Situasi mereka sangatlah berbeda.
Tak selang beberapa menit ada suara ketukan pintu, Ziara sudah mendugannya itu pasti Sita, ia sudah hafal dengan suara ketukan itu. "Zia, apa gue boleh masuk?" tanya Sita dari balik pintu.
"Masuk aja, enggak dikunci kok," jawab Ziara dari atas ranjang. Dan Sita segera masuk mendekat kearahnya.
"Zia, ada apa ini? Kenapa tante sibuk sekali, saat aku bertanya akan ada pernikahan, memangnya siapa yang mau nikah? Kamu punya saudara yang mau nikah, sampai tante, sesibuk itu menelefon," tanya Sita penuh kebingungan. Ziara mengangkat wajah menatap Sita.
"Gue yang mau nikah, Sit," ucapnya dengan malas. "Ohhh," Sita menganggut-manggut. Mengerjapkan mata ingat ucapan Ziara, "Apa!!" pekiknya hingga membuat Ziara menutup telinga.
"kamu serius?" Ziara mengangguk membenarkan, " Sama Rio?" tanya Sita meyakinkan.
"Bukan, Aku dijodohkan," jawab Ziara memelas. Membuat Sita berdiri dan mengusap wajah putus asa.
"Gimana bisa begitu, orang tua lo baik gitu, mana mungkin mereka mau nikahkan lo sama orang pilihan mereka," Sita masih sulit mencerna.
"karna hutang nyawa Sita, aku harus menikah dengan anak orang yang sudah mendonorkan jantungnya buat Ayah, kebaikannya sangat tidak bisa ditukar dengan apapun, meski dengan harga diriku sekalipun aku akan membalasnya. karna pemberian donor jantung darinya ayah masih hidup hingga sekarang."
"Terus gimana dengan, Rio?" tanya Sita memandang wajah Ziara.
"Entahlah, aku bingung, dia beberapa hari ini, menghilang entah kemana," jawab Ziara.
Hanya Sita yang ada saat ini mengurangi beban dihati Ziara seenggaknya ia bisa mengeluarkan isi hatinya. Sita menemani Ziara berbicara hingga waktu sore hari tiba waktunya Ziara mempersiapkan diri.
"Kamu, tenang aja aku bakalan disini, temani sampai ke tempat pernikahan," ucap Sita. Ia membantu Ziara bersiap-siap sampai wanita itu siap mengenakan gaun pengantin.
Ziara sudah siap dengan kebaya modern sederhana namun nampak anggun saat ia pakai. Sedikit hiasan kepala yang di sanggul keatas. Sungguh membuatnya begitu cantik sehingga membuat Sita dan para perias kagum dengan kecantikannya. Namun sayang tidak ada senyum di wajahnya.
"Kamu siap, Zie?" tanya Sita meyakinkan. Ziara menarik nafas dalam-dalam. Mengumpulkan segala keyakinan untuk melangkah ke kehidupan selanjutnya. Menanggung segala resiko kehidupan yang akan ia lalui dengan orang asing. Ia menghembus napas dan menjawab, "Siap."
"Ziara sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Ibu yang baru masuk ke kamar terbuka itu. Ia mendekat kearah putrinya itu. "Kamu cantik sekali sayang," ucap Ibu membelai pipi gadis itu.
"Ayo kita pergi bu," ajak Ziara. Namun mata ia melihat mata sang Ibu berkaca-kaca saat meliahat wajahnya. "Ibu kenapa?" tanyanya dan ibu menyeka air matanya.
"Ibu nggak papa, Nak hanya terharu melihatmu sudah akan menikah, sebentar lagi kamu sudah mempunyai keluarga sendiri yang harus kamu jaga. Dan kami sudah tidak memiliki hak lagi, kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu," ucap Ibu sedih.
Mereka saling memeluk mumbuat Sita ikut terharu. Ia teringat dengan Ibunya yang sudah meninggal. "Sita boleh ikut peluk, nggak tante? Tanyanya membuat Ibu menoleh dan mengangkat tangan menyambut Sita dalam dekapan. Hingga mereka seperti Ibu memeluk kedua putri.
Tanpa mereka sadari Ayah berada di belakang ikut terharu melihat pemandangan mengamharukan. "Zia," panggilnya, membuat mereka menoleh kearahnya. "Apa kamu sudah siap, sudah waktunya kita berangkat," ucap Ayah.
Ibu dan Sita menatap gadis di hadapan memastikan, kalau ia siap untuk menikah. Ziara kembali menarik napas meyakinkan diri sendiri untuk menikah dengan orang yang tidak ia kenal.
"Ayo kita pergi, aku sudah siap."
Mereka berdua segera berangkat ke gedung pernikahan. Untuk menjalankan prosesi pernikahan. Sita menggenggam erat tangan sahabat yang duduk disampingnya itu.
Setelah beberapa menit perjalanan mereka tiba di halaman gedung megah dan kokoh itu. Saat mereka turun disambut para pelayan. Mereka menunjukan tempat untuk mereka tempati.
Kecuali Ziara mereka membawanya kesebuah ruangan VIP untuk menunggu kedatangan calon suami. Ziara terus saja meremas tangannya untuk menghilangkan kekhawatirannya.
"Zie," Ia mendengar suara seseorang memanggilnya pelan. Ia segera menoleh mencari sumber suara tersebut. Dan melihat Sita sedang menemuinya.
"Ziara tenangkan dirimu, jangan sampai membuat tante dan om, sedih dengan memperlihatkan wajahmu yang sedih, buatlah mereka berpikir kalau kamu baik-baik saja." Sita mendekat merapikan rambut yang sedikit menjuntai.
"Terima kasih ya, Sita kamu menemaniku disini," balas Ziara. Membuat Sita menatap wajahnya dari pantulan cermin. "Hei, aku selalu menemani saat kamu membutuhkan." ucap Sita tertawa kecil.
"Kemana Arini? Dari tadi gue cari nggak ada, sudahku coba hubungi berulang kali tapi hpnya mati," ucap Sita.
"Percuma, aku sudah meneleponnya dari kemarin tapi enggak aktif. Mungin dia sedang diluar kota. Eh, kenapa lama sekali sih, mereka mengurungku disini, apa cowok itu belum datang?" tanya Ziara.
"Lo sudah enggak sabar, ngebet mau nikah ya?" ucap Sita bercanda. Ziara membuka mata lebar mengerucutkan bibir, menatap Sita dari pantulan cermin.
"Aku harap ... lelaki itu sakit dan membatalkan, pernikahan ini," ucap gadis itu.