NovelToon NovelToon
KASTURIA Kisah Abyad Dari Anhala

KASTURIA Kisah Abyad Dari Anhala

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:59.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mungka

Benua Kasturia yang damai berubah menjadi medan pertempuran tiada henti. Sudah 200 tahun lamanya benua Kasturia terpecah menjadi tiga kekuatan besar. Masing-masing kekuatan saling bertempur. Pengkhianatan, agresi, politik, semuanya adalah hal penting bagi setiap negara untuk tetap bertahan di zaman peperangan ini.

Abyad, pemuda jenius yang tumbuh di pedesaan yang berbatasan langsung dengan negara berkonflik, bertekad untuk membawa perdamaian ke tanah Kasturia. Bersama dua teman setianya, Basril dan Sabina, Abyad terjun ke dalam dunia dengan kebusukan yang abadi, yang dipenuhi intrik yang membingungkan. Apakah perdamaian yang dicita-citakan Abyad akan terwujud? Ikuti terus petualangan Abyad mengarungi pertempuran tiada henti.

NB : Sumber cover dari Google

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mungka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Pasukan Orentas

Matahari sudah berada di puncaknya. Walaupun sudah tengah hari, lembah Bursa tetap terlihat gelap. Angin yang berembus membelai ranting-ranting pohon cemara. Daunnya berbunyi saat angin menyapanya. Suaranya sangat menenangkan, tapi tidak jika sendirian. Suasana aneh yang mencekam membuat tubuh meramang ketakutan.

Udara dingin ini tidak membuat Abyad mengistirahatkan pasukannya. Baginya, dengan adanya angin utara yang berembus, pekerjaan akan menjadi lebih mudah. Tubuh yang terus bergerak secara otomatis akan membuat hangat. Abyad memimpin pasukannya serta tawanan Havelar menuju puncak lembah. Tempat akan dibangunnya pos pertahanan.

"Nah, sedikit lagi." Sabina berkata.

Abyad memang terlihat antusias diawal, tapi sekarang dia terlihat berantakan. Napasnya tersengal.

"T-ternyata i-ini bukan i-ide yang bagus." Abyad berkata setengah-setengah. Napasnya terpotong-potong. Otaknya memang cerdas, tapi tidak staminanya.

Basril menepuk pundak Abyad. "Sudah kubilang, bukan? Ayo, pemalas, sedikit lagi." Basril berjalan mendahului Abyad sambil tertawa. Abyad hanya mendengus kesal.

Mereka harus menempuh jalanan terjal dengan berjalan kaki. Kuda tidak sanggup mendaki bukit yang sangat curam ini. Mau tidak mau, mereka harus meninggalkan kudanya di kaki lembah.

Hampir dua jam lamanya perjalanan mereka menuju puncak. Para tawanan terlihat sangat kesusahan mendaki. Borgol yang mengekang tangan mereka menghambat pergerakan. Angin juga terkadang berembus kencang yang bahkan hampir saja membuat mereka semua terjatuh. Untungnya, hujan tidak turun, jadi jalanan tidak terlalu licin.

Pohon-pohon cemara yang berbaris rapih menyambut pasukan Kesultanan Ammariz yang baru saja datang. Pohon-pohon cemara itu tinggi-tinggi dengan jumlah yang sangat banyak. Dahannya terlihat kokoh dan kuat karena sudah lama tidak disentuh oleh tangan manusia.

Sabina datang menghampiri Abyad yang sudah terduduk di bawah pohon cemara. Wajahnya terlihat pucat, seperti baru saja melihat 200.000 pasukan musuh. Basril tertawa di sebelahnya.

"Kita langsung bekerja?" Sabina bertanya sambil menyodorkan air untuk Abyad.

Abyad dengat gerakan yang sangat cepat mengambil air yang diberikan Sabina.

Glek

Glek

Glek

"Ah, segarnya. Aku seperti hidup kembali!" Abyad berkata penuh drama.

"Dasar payah," kata Basril. "Jadi bagaimana? Kita langsung bekerja?"

"Jangan! Nanti dulu. Biarkan pasukan beristirahat. Kita akan memulai besok pagi. Terlalu terburu-buru kadang juga tidak baik." Abyad mengibas-ngibaskan tangannya.

Sabina dan Basril saling bertatapan. Menurut mereka, dengan menunda pekerjaan, itu sama saja dengan membuang-buang waktu serta persediaan makanan.

Abyad mengeluarkan kertas dari sakunya. "Aku harus memberikan laporan terlebih dahulu untuk Jenderal Akmar Pasha. Aku yakin beliau sudah menunggu."

Abyad bangun dari duduknya, lalu berjalan ke arah kurir pasukan. Orang yang bertugas untuk mengirimkan pesan ke seluruh wilayah kesultanan. Kurir pasukan terkenal dengan larinya yang cepat, ditambah kuda selatan yang ditungganginya sangat kuat.

"Tolong bawa ini dan serahkan ke Jenderal Akmar Pasha. Aku ingin kau tetap di sana menunggu balasan surat dari beliau."

"Siap, Tuan Abyad." Kurir itu berbalik arah dan langsung berlari menuju kudanya yang berada di bawah bukit.

Perjalan menuju kota Qusra tidak memakan waktu lama. Hanya dibutuhkan enam jam berkuda. Itulah sebabnya lembah Busra menjadi titik terpenting sebagai akses bagi dua negara. Bayangkan, negara yang menguasai lembah Bursa akan dengan mudahnya mengirim pasukan menuju daerah-daerah penting. Hal itu sangat membahayakan.

"Hei, Abyad. Sekarang apa yang harus dilakukan? Menunda pekerjaan itu akan membuang waktu kita. Logistik yang kita miliki juga tidak banyak." Basril berkata sambil berjalan menuju Abyad. Tidak terlihat wajah lelah sama sekali dalam dirinya.

"Basril, sahabatku, sebelum memulai proses pembangunan, kita harus melihat kondisi terlebih dahulu. Menentukan lebar pos yang akan kita buat serta tingginya. Jangan lupa dengan pengumpulan material. Semua itu membutuhkan tenaga dan pikiran. Jadi, dari pada kita membuang tenaga karena kelelahan, lebih baik kita beristirahat dulu."

Basril menopang dagunya. "Apa ini termasuk salah satu alasanmu untuk bermalas-malasan lagi?"

"Enak saja! Ini semua agar pekerjaan kita lebih kondusif." Abyad berseru sebal. Matanya yang selalu terlihat malas membulat.

"Aku benci mengakuinya, tapi Abyad benar Basril. Kita harus mempersiapkan rancangan dan bahan-bahan. Semuanya demi pos pertahanan yang kokoh." Sabina berkata. Wajahnya tetap terlihat datar ketika menjelaskan, tapi tetap cantik. Mata seperti zamrudnya nampak bersinar.

Basril menghela napasnya. Wajahnya terlihat sedikit kecewa. Dari gerak-geriknya, Basril sudah sangat bersemangat untuk menjalankan tugas. "Baiklah-baiklah. Jika Sabina sudah berkata seperti itu, aku akan mematuhinya."

Wajah Abyad cerah seketika melihat Basril yang menyetujui idenya. Sebenarnya, Abyad memang berniat untuk bermalas-malasan sebentar sambil menikmati tiupan angin dingin yang menyegarkan.

"Semuanya! Nyalakan api unggun! Kita akan beristirahat sebentar." Abyad memberi komando. Dia juga sudah berlari menuju arah pasukannya. Abyad memang terkenal sangat dekat dengan pasukan yang dipimpinnya. Di saat malam, dia akan sibuk bermain kartu hingga pagi dengan pasukannya. Hal ini terkadang membuat Basril geram.

"Kau mau ke mana, Sabina?" Basril bertanya melihat Sabina yang berjalan ke arah hutan. Sabina masih menggenggam tombak peraknya.

"Aku mau berkeliling sebentar. Tidak usah mencemaskan aku." Sabina menjawab. Dengan cepat, Sabina sudah berlari menembus pohon-pohon cemara.

Sabina terus berlari, matanya awas menatap sekitar. Pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi serta berbaris-baris terlihat menyeramkan. Hari juga mulai gelap. Sesekali, tupai terbang terlihat berterbangan. Sabina terus berlari tanpa memperdulikan sekitar.

Sabina berhenti. Matanya sekarang tertutup. Dia berdiri sambil tetap memegang tombak dengan kewaspadaan tinggi. Wanita itu memusatkan pikirannya untuk mendengar bunyi-bunyian. Suara daun yang dibelai angin, suara kerikil yang bergeretak, suara hewan yang berlarian. Sabina menggenggam tombaknya erat. Dia menarik napas. Bersamaan dengan napas yang dikeluarkannya, Sabina melempar tombak perak sepanjang 3 meternya itu.

Wuuush!

Tombak itu melaju dengan cepat ke arah pohon cemara. Kekuatan lemparan Sabina sangat mengagumkan.

"Argh!"

Tombak itu tertancap ke tubuh seseorang berpakaian hitam. Darah segar mengalir melewati sela-sela tombak.

"B-bagaimana kau tahu?" Orang berpakaian hitam itu berkata. Napasnya sudah tersengal. Keringat dingin bercucuran dari dahinya. Tombak Sabina menembus perutnya.

"Kerajaan Havelar memang tidak pernah menyerah. Setelah mengerahkan 2000 pasukan, sekarang mereka mengerahkan pasukan Orentas." Sabina berkata dingin. Matanya sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.

Pasukan Orentas adalah pasukan khusus Kerajaan Havelar yang berisi dengan mata-mata. Mereka biasanya bertugas untuk melakukan pengintaian, sabotase, propaganda, bahkan pembunuhan. Pasukan Orentas lebih sering bergerak dengan jumlah tiga orang dalam satu kelompok. Mereka ahli dalam berbaur dan berkamuflase. Sudah banyak petinggi-petinggi militer dari Kesultanan Ammariz dan Kekaisaran Gastonia yang terbunuh akibat tindakan Pasukan Orentas.

"Aku sudah menyadari pergerakan kalian sejak menaiki puncak lembah. Ternyata rumor tentang kalian benar. Kalian sangat ahli dalam menyembunyikan hawa keberadaan. Aku cukup kesulitan." Sabina sudah berada di depan orang berpakaian hitam yang tertancap tombaknya. Orang itu sudah hampir kehilangan kesadaran. Sabina dengan dingin mencabut tombaknya.

Dari atas, pisau-pisau berukuran 30 cm berterbangan ke arah Sabina. Sabina refleks meloncat mundur. Dengan indah, Sabina menghindari semua serangan-serangan dari pisau itu. Sabina memasang kuda-kudanya. Dua orang berpakaian hitam muncul begitu saja. Mereka berdua melindungi tubuh teman mereka yang tak bernyawa.

Sabina melompat ke arah mereka. Tombaknya terhunus ke depan. Dua orang itu dengan cepat mengeluarkan bola kecil dari sakunya lalu membantingnya ke tanah. Bom asap.

Sabina terbatuk. Dia segera berhenti. Asap abu-abu mengepul tebal. Pasukan Orentas itu sudah menghilang bersama dengan tubuh temannya.

"Sabina! Kau tidak apa-apa?" Adalah Basril yang berlari bersama beberapa pasukan Kesultanan Ammariz.

"Aku tidak apa-apa, Basril."

"Aku yang khawatir melihat dirimu yang tiba-tiba berlari segera mengumpulkan orang dan mengejarmu. Aku juga mendengar ledakan. Ada apa?" Basril bertanya lagi.

"Pasukan Orentas. Mereka sedang melakukan pengintaian. Aku menyadarinya ketika mendaki menuju puncak lembah. Dan tadi adalah bunyi bom asap. Bunyinya memang keras." Sabina menjelaskan.

"Pasukan Orentas? Mereka di sini? Sialan! Mereka bergerak lebih agresif dari biasanya." Basril nampak emosi.

"Aku berhasil membunuh salah satu dari mereka, tapi setelah itu dua temannya datang dan menghilang begitu saja."

"Kita harus segera kembali ke kemah dan memberitahu Abyad. Kita harus meningkatkan pengawasan juga." Basril berkata. Sabina mengangguk setuju. Mereka berjalan menuju kemah diikuti pasukan Kesultanan Ammariz yang datang bersama Basril.

1
rajes salam lubis
lanjutkan thor
tetap semangat dong
rajes salam lubis
abas pamannya widura
rajes salam lubis
tetap semangat
rajes salam lubis
mantap mantap mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
kirim kopi ah
tetap semangat thor
rajes salam lubis
kereeennn
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
keren
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
ok mantap
rajes salam lubis
mantap abyad,macam detektif
rajes salam lubis
truss semangat
rajes salam lubis
mantap mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!