Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Irine sangat bersalah pada Ersa.
"Ersa, maaf ya. Kotak yang seharusnya dikasih ke Yuan malah dibuang ke tempat sampah."
Ersa menggeleng dengan tersenyum.
"Gak papa kali. Lain kali gue kasih kotak itu langsung ke Yuan aja."
"Serius lo gak papa?"
Ersa tersenyum. "Iya, gak papa."
Irine pun lega. Karena Ersa memaafkan dirinya.
"Yaudah, kalau gitu ke kelas dulu ya." Irine mengangguk.
"Makasih ya, Ersa."
"Makasih apa?"
"Udah maafin gue."
"Iya, sama-sama."
Irine pun berbalik menuju kelasnya. Gara-gara Yuan, ia jadi merasa bersalah pada Ersa hingga semalaman ia tidak tidur karena kepikiran.
"Dasar Yuan. Selalu aja bersikap seenaknya."
[[]]
Irine dan kedua temannya sedang berada di kantin.
Ketiganya saling melempar tawa karena sebuah lelucon dari Secil.
"Sekarang gantian gue yang kasih teka-teki sama kalian," ucap Irine dengan semangat.
"Gajah terbang, apa yang kelihatan?"
"Gadingnya?"
Irine menggeleng. "Salah."
"Kupingnya," jawab semangat Secil. Tapi Irine menggeleng.
"Badannya? Kan badannya itu gede. Pasti kelihatan lah," ucap Vinkan dengan penuh percaya diri.
"Kalian berdua masih salah."
"Lah, terus apa jawabannya?"
"Jawabannya itu ...."
"Bohongnya. Mana mungkin gajah bisa terbang," jawab Sastra tiba-tiba membuat semuanya menoleh kearahnya.
"Oh ya, kenapa gue baru kepikiran ya?" tanya Secil pada dirinya sendiri.
"Sastra?"
Sastra tersenyum pada Irine.
"Hay, Rin."
*Jauhin dia
Janji tetap janji*
Irine segera mengalihkan pandangannya dari Sastra. Ia harus menepati janjinya. Karena bagaimanapun, ini janji adalah janji.
"Vinkan, Secil, gue kekelas duluan ya? Gue lupa kalau gue belom ngerjain matematika."
Vinkan dan Secil menatap Irine dengan bingung.
"Gue duluan ya, Sastra." Irine pamit pada Sastra. Sastra pun hanya bisa mengangguk saja.
"Irine kenapa?"
"Sastra, lo tau Irine itu kenapa?"
Sastra menoleh pada Vinkan. Ia menggeleng tidak tahu.
"Gue gak tau."
[[]]
Ersa datang dengan membawa kotak pada Yuan. Yuan mengernyit.
"Lo siapa? Mau ngapain?" Pertanyaan ketus mengawali pembicaraan mereka.
"Gue cuma mau kasih ini. Seharusnya, kotak ini udah buat lo kemarin. Tapi sekarang gue mau kasih ini ke lo," ucap Ersa.
"Dari siapa?"
"Dari Sastra."
"Kenapa dia gak suruh kasih langsung aja ke gue?"
"Dia gak bisa. Dan takut ganggu lo katanya. Kali ini tolong diterima ya." Ersa menyerahkan kotak itu pada Yuan.
Kali ini, Yuan menerimanya.
"Kalau gitu, gue pergi."
Setelah Ersa pergi, Yuan membuka isi kotak dari pemberian Sastra itu.
Terkejut.
Yuan terkejut dengan isi kotak itu. Tangannya terkepal dan rahangnya yang mengeras.
Kotak itu dibanting ke sembarang arah.
"Sialan."
Yuan segera pergi dengan kotak yang isinya sudah berantakan dengan gejolak amarah.
[[]]
Seperti biasa, Yuan pulang bersama dengan Irine.
"Yuan, kayaknya hari ini gue gak bisa pulang bareng sama lo deh."
"Kenapa?"
"Hmm, gue mau keluar sebentar sama temen gue."
"Sastra maksud lo?"
"Iya."
"Yaudah, gue ikut."
"Gak usah. Lo pulang aja. Kalau gue udah selesai, gue janji bakal telpon lo."
Yuan menimang-nimang sebentar.
"Lo janji tapi lo sendiri yang ngelanggar."
Irine langsung mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke udara.
"Kali ini gue beneran janji. Ya?"
Yuan mengangguk. Ia akan sabar, tapi kalau Sastra memang seperti yang ia bayangkan, Yuan tak akan segan-segan menghabisi Sastra.
Cup
Irine mencium pipi Yuan. "Makasih, Yuan. Lo emang sahabat terbaik gue. Dah, lo hati-hati dijalan."
Irine melambaikan tangannya pada Yuan sambil berlari menjauhi dirinya.
"Gue cuma takut, kalau lo bakal ninggalin gue sendiri, Rin."
[[]]
Irine dan Sastra turun dari bisnya ketika sudah sampai di rumah Sastra.
"Ini rumah gue. Maaf kalau terlalu kecil buat lo," Ucap Sastra.
Irine menggeleng. "Gak papa. Gue gak keberatan sama sekali kok."
Irine tersenyum dan dibalas oleh Sastra.
"Yaudah yuk masuk." Irine mengangguk.
"Assalamu'alaikum, Sastra pulang."
Seorang wanita dengan kursi roda keluar dari balik kamar. Irine yakin jika wanita itu adalah ibu dari Sastra.
"Wa'alaikumsalam. Kamu udah pulang? Gimana hari ini kamu disekolah?" Sastra langsung bertekuk lutut untuk menyejajarkan tinggi ibunya.
"Alhamdulillah baik-baik aja, Ma. Mama gimana keadaanya?"
Arini, ibu Sastra, mengusap kepala Sastra begitu tulusnya.
"Mama baik-baik aja. Kamu gak usah kepikiran terus. Pikirin aja sama tugas-tugas kamu disekolah," jawab Arini.
"Oh ya, Ma. Sastra mau kenalin seseorang ke Mama. Ini namanya Irine, Ma. Dia temen aku," ucap Sastra sambil memperkenalkan Irine kepada mamanya.
Irine tersenyum senang dan ikut bertekuk lutut disamping Sastra.
"Halo, Tante. Nama saya Irine."
Arini tersenyum.
"Panggil Mama aja. Biar lebih akrab."
Irine tersenyum. "Iya, Ma."
"Yaudah, Irine tunggu disini dulu ya sebentar. Aku mau buatin minuman dulu buat kalian," ucap Sastra yang dianggukkan oleh Irine.
"Iya."
"Irine, bawa Mama ke taman belakang ya?" pinta Arini pada Irine.
Irine mengangguk dan mendorong kursi roda Arini untuk ke taman belakang.
Irine terpesona dengan taman rumah milik Sastra. Begitu luas dan begitu sejuk ketika pertama kalinya menginjakkan kaki disini.
"Wah, tamannya cantik banget, Ma. Ini Mama yang buat?"
Arini menggeleng. "Bukan, tapi Sastra yang buat."
"Sastra yang buat?"
"Iya, papanya dulu pecinta beraneka aroma bunga. Tapi setelah papanya meninggal, Sastra buat taman ini supaya jadi kenangan buatnya tentang papanya yang udah meninggal."
Oh, ternyata Sastra anak yatim?
"Mama jadi kasihan sama Sastra. Karena gak lama lagi, Sastra benar-benar kesepian."
"Memang Mama mau kemana?"
"Sebentar lagi, giliran Mama yang nyusul papanya Sastra."
"Berarti, Sastra akan jadi anak yatim piatu?"
Arini mengangguk dengan sedih. Ia tak sanggup ketika melihat air mata anaknya yang jatuh dari matanya.
"Mama ngerahasiain kondisi Mama ke Sastra. Supaya dia gak selalu kepikiran sama kondisi Mama. Mama cuma mau ngelihat Sastra sukses. Mama ingin lihat dia bahagia."
Irine tak kuat. Ia bisa merasakan jika itu benar-benar terjadi pada dirinya. Ditinggal oleh orang-orang yang disayangi.
Irine memeluk tubuh Arini dengan erat.
"Irine, meskipun Mama baru ketemu kamu sekali. Boleh Mama minta sama kamu?" Pinta Arini dengan suara serak karena habis nangis.
"Apa, Ma?" Tanya Irine dengan suara parau juga.
"Tolong jaga Sastra. Temani dia selalu supaya dia gak kesepian. Dan sadarkan juga dia kalau dia gak mau melanjutkan hidupnya setelah kehilangan Mama. Pukul aja kalau perlu."
Irine menahan isaknya.
"Iya, Ma. Irine akan jaga Sastra dan gak buat dia kesepian."
"Kalian kenapa?"
Tanya Sastra tiba-tiba membuat Irine maupun Arini mengusap air matanya dengan cepat agar Sastra tidak melihat jika mereka baru saja menangis.
"Irine, lo kenapa nangis?"
"Ah, siapa yang nangis? Gue kelilipan doang kok," Elak Irine.
Sastra mengangguk tanpa curiga. Ia bersimpuh di hadapan Arini. Arini tersenyum dan mengusap kepala Sastra.
"Sastra cariin kemana-mana, taunya ada disini. Mama kan gak boleh kena angin, kalau Mama sakit gimana?"
"Mama gak papa kok. Masa cuma angin aja bisa bikin Mama sakit?"
Sastra tersenyum.
"Tapi nanti aku kepikiran."
"Yaudah, kalau gitu kita masuk aja. Takut kamu masuk angin juga."
Sastra tersenyum kemudian mendorong kursi roda Arini untuk masuk kedalam.
"Irine, ayo masuk. Diluar udaranya dingin. Nanti kamu bisa masuk angin kalau kelamaan," ucap Arini. Irine tersenyum dan mengangguk.
Irine pun berjalan dibelakang keduanya. Irine menatap punggung Sastra yang berada dihadapannya.
Maaf, Yuan. Janji untuk jauhin Sastra gue ingkar. Gue gak bisa jauhin Sastra setelah tahu apa yang akan terjadi sama Sastra nantinya.
To Be Continued
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung