Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARCHEL
Marchel berpikir keras untuk mencari pelayan yang bisa ditumbalkan. Rata- rata pelayan disini sudah berubah dari gemuk menjadi kurus, cantik menjadi kusut dan keriput. Bisa jadi karena banyak kerjaan dan ketakutan setiap hari sama tuan Alvaro. Mereka tertekan menunggu maut yang datang.
"Tuan, pelayan yang mana boleh diambil, semuanya masih anda gilir. Saya takut salah pilih."
"Aku tidak mau tidur dengan pelayan lagi, derajatku turun. Aku king mafia tidak level tidur dengan pelayan."
"Mereka bukan pelayan sungguhan, tidak ada wanita rendahan. Semua dari golongan orang berada dan punya klas. Bedanya karena mereka tawanan, dari dunia hitam." pungkas Marchel merasa heran. Kenapa Alvaro tiba-tiba menolak pelayan.
"Maaf Tuan, jika anda menolak tidur dengan pelayan, Tuan mau tidur dengan siapa. Kita tidak sembarangan memasukan wanita kesini. Resikonya sangat tinggi kalau berhubungan dengan wanita luar, sedangkan nafsu anda besar." sambung Marchel memandang Alvaro.
"Ada Alexa....." jawab Alvaro ragu. Dia tidak yakin kalau Alexa mampu membuat dirinya puas seperti Maria, pelayan simpanannya.
"Tuan, aku akan suruh Maria cepat pulang. Aku yakin hanya Maria yang bisa memuaskan Tuan."
"Boleh juga, tapi kalau Alexa tahu Maria juga pelayan aku jadi malu."
Ternyata Alexa biang keroknya yang membuat Alvaro banyak berubah. Bathin Marchel. Apa saja yang di bicarakan oleh gadis itu. Bikin susah saja.
"Itu gampang diatur Tuan, nanti aku katakan kepada Alexa bahwa Maria pacar Tuan."
"Panggil Maria supaya cepat pulang." titah Alvaro. Dia berdiri siap-siap ke kantor.
"Siap Tuan, ." kata Marchel.
Marchel keluar dari ruang kerja menuju kamarnya. Dia menanggil Margareta lewat intercom. Wanita itu datang dengan kepala tertunduk.
"Bos memanggil saya?"
"Kamu akan aku pulangkan, nanti ada hadiah dari Tuan di dalam koper." kata Marchel dengan wajah datar.
"Apa ini serius bos, saya akan diantar kemana? mengingat keluarga saya sudah terbunuh semuanya."
"Kamu sudah dibelikan rumah di kampung. Nanti aku kasi alamat rumahnya."
"Pukul. 16 30 wita, kami mengantarmu sampai kota pertama, di jalan gajah mada, setelah itu kamu naik ojol. Kami tidak bisa mengantarmu sampai kampung karena semua sibuk."
"Tidak apa-apa bos, lebih leluasa jalan sendiri. Trimakasih bos." kata Margareta sangat senangnya.
Sekarang tinggal menelpon Maria. Wanita ini adalah pelayan kesayangan Alvaro. Dia juga dari dunia hitam, anak gembong mafia, sudah lama ditawan disini sebagai pelayan dan pemuas nafsu Alvaro. Orangnya lumayan cantik, sexy, mungil dan enak diajak ditempst tidur.
Enam bulan sekali Maria akan keluar negeri untuk menghibur diri dengan dibekali black card oleh Alvaro. Dia akan menghamburkan uang Alvaro dengan bebasnya untuk membeli baju branded.
"Pengawal A, dimana posisimu?" telepon Marchel kepada pengawal yang mengawal Maria.
"ION Orchard bos, Maria masih belanja di dalam. Ada apa bos?"
"Ajak pulang, Tuan lagi butuh saluran."
"Pelayan banyak di manssion, Maria bakal marah karena baru datang sudah di suruh pulang."
"Mati atau pulang." ancam Marchel tegas. Sambungan telepon di putus sepihak oleh Marchel.
Tugas terakhir adalah membunuh Nickolas. Marchel akan menyuruh 10 pengawal ke bar yang biasa di satroni oleh gangster Nickolas. Biasanya lima orang pengawal Nickolas sampai pagi berada di Nest Bar menjual narkotika.
Marchel bingung memilih pelayan untuk menjadi umpan Nickolas. Tidak ada yang cantik dan sexy seperti Alexa. Akhirnya Marchel meminta pertimbangan kepada Alvaro untuk diberi izin memakai umpan Alexa.
"Siang bos, aku izin untuk membawa Alexa ke Nest Bar." Marchel menelpon nya. Alvaro yang sedang rapat dengan Vendor tidak mudeng. Dia mengiyakan saja tanpa bertanya lebih lanjut.
Marchel bergegas ke kamar Alexa, gadis cantik itu sedang duduk ternenung di sofa. Dia tidak menoleh ketika Marchel datang.
"Alexa, kau cantik hari ini. Bagaimana kakimu, sudah sembuh?"
"Hemm..kau perlu apa, langsung ke tujuan. Dari kecil aku cantik bukan hari ini saja."
"Jangan ketus-ketus dong say, bagaimana kalau kita ke bar hari ini, maksud ku sekarang."
"Ini baru pukul 11.00 siang, bar belum buka. Kau mau ngapain ke bar, mau jualan narkoba."
Ihh..kenapa dia tahu, pikir Marchel. Tapi dia rencana beli narkoba bukan menjualnya.
"Aku akan memperkenalkan kau bar tempat tongkrongan jual beli narkoba. Disana asyik nongkrongnya."
"Kau sering kesana? kakiku belum sembuh betul, tapi sudah membaik."
"Tidak begitu sering, tapi pernah. Aku yang akan mengantarmu, tenang saja. Kita nongki-nongki mumpung Tuan tidak ada. Diam dulu disini aku akan panggilkan Viji untuk mendandanimu."
"Gak usah dandan deh, juga ketempat begituan." kata Alexa mencegah Marchel untuk mencari Viji. Tapi Marchel tetap keluar.
Tidak berapa lama Marchel datang mengajak seorang wanita. Viji tersenyum ketika melihat Alexa.
"Viji tolong rias Alexa supaya wajahnya berbeda, pakai pakaian yang sexy." perintah Marchel.
"Siap bos." jawab Viji menghampiri Alexa.
"Siang nona, namaku Viji, senang bertemu dengan anda."
"Aku Alexa, bagaimana khabarmu hari ini?" Alexa berdiri menjabat tangan Viji. Tangan itu kurus dan keriput.
"Saya baik-baik saja nona, kita disini cuma menghitung hari, kalau tidak ditembak, dibuang ke kandang buaya." kata Viji pelan.
"Hahaha...kalau sudah tahu akan mati kenapa tidak makan yang banyak, sehatkan badan dan berdoa setiap saat."
"Teori dan praktek beda nona." kata Viji tersenyum. Dia mengajak Alexa ke salon.
Tanah seratus hektar ini berada di atas bukit yang dingin. Manssion Alvaro berdiri kokoh dengan dua lantai. Disini segalanya ada, klinik kesehatan, salon kecantikan, pacuan kuda, kolam buaya, hutan liar, kolam renang, jacuzzi, theater dan tempat menembak. Yang tidak ada adalah rasa nyaman, biarpun uang banyak kalau sudah hidup di jalur keras, serta menghalalkan segala cara, hidup rasanya berada diujung tanduk.
"Kau sudah lama disini?" tanya Alexa setelah mereka sampai di salon.
"Ada dua tahun."
"Selama disini pernah diajak tidur oleh Tuan Alvaro?"
"Hampir semua di cicipi, kita pasrah saja. Itu tugas yang tidak boleh ditolak. Kita-kita paling satu dua diajak, yang paling sering nona Maria. Dia pelayan kesayangan Tuan."
"Ohh...aku senang mendengar kalau Tuan punya pelayan kesayangan berarti aku bebas."
"Jadi nona belum dicicipi?"
"Belum....sudah-sudah...." Alexa baru ngeh kalau Marchel ada di balik sana. Semoga saja dia tidak mendengar pembicaraan mereka. Bathin Alexa.
"Alexa, jadi kau sudah apa belum...." Marchel datang langsung bertanya.
"SUDAH...." jawab Alexa cepat. Marchel menatap mata Alexa yang coklat.
"Aku tidak tahu siapa kau, tapi aku merasa kau lebih dari jurnalis." kata Marchel tiba-tiba mencabut pisau terbangnya dari saku celana dan melempar ke Alexa.
Alexa menjatuhkan badannya dan berguling kesamping, tubuhnya melejit bangun. Tangan kanan Alexa menjepit leher Marchel, sedangkan tangan kirinya sudah membawa pisau terbang Marchel.
"Ampun, aku menyerah. Duagaanku benar, kau calon istriku..." kata Marchel sambil mengaduh ketika Alexa mendorongnya ketembok.
"Tuan Marchel hati-hati bicara, aku tidak ingin kau berada di kolam buaya." kata Alexa tertawa.
'Tuan tidak ada, kita bebas sejenak." kata Marchel memegang lehernya yang sakit.
*****
MARCHEL