Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.
Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.
Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?
Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Sesejuk Embun
Denis menatap Mutia yang tengah terlelap. Dia bisa lihat bahwa gadis itu tengah kelelahan. Kulitnya memang tak begitu putih, tapi wajahnya benar-benar bersih, tak ada bekas jerawat di sana. Pipi yang setengah cubby membuat ia makin menggemaskan, dan bibir mungil itu, aah ... Denis bahkan telah membayangkan begitu jauh.
Wajahnya yang ayu meneduhkan siapapun yang memandangnya. Rambut panjangnya menambahkan keanggunan. Berat dan tinggi yang ideal membuat ia tampil begitu sempurna di mata Denis. Benar-benar sosok yang memabukkan.
Dua jam telah berlalu, Mutia masih merajut mimpinya, dan Denis pun masih tetap menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di hadapannya. Denis bahkan sengaja menyuruh Rani kembali ke gudang hendak membangunkan Mutia. Gadis itu benar-benar memporak-porandakan wibawanya.
Mutia perlahan mengerjap, dengan santainya dia bahkan merentangkan kedua tangannya tanpa menyadari kehadiran Denis di sana. Awalnya ia masih menikmati detik-detik bangunnya ia dari mimpi panjang. Sebelum akhirnya jam di dinding mengingatkannya untuk kembali bekerja.
Mutia melonjak saat melihat Denis tengah menatapnya dengan senyum mengembang. Ia ingin marah karena Denis tanpa permisi melihatnya tertidur, tapi ia pun takut karena bagaimanapun ia telah tertidur selama dua jam di saat jam kerja.
"Bapak, sejak kapan ada di sini? Bapak gak ngapa-ngapain saya, kan?" tanya Mutia sembari memeriksa pakaiannya. Untunglah tak ada yang mencurigakan.
"Sejak dua jam lalu, sejak pertama kali kamu terlelap," ucapnya sembari tersenyum lebar. "Emangnya saya ngapain kamu? Kalaupun saya mau, saya gak bakal ngapa-ngapain kamu di sini, ini musholla. Kayak gak ada tempat lain aja," lanjutnya lagi.
"Dua jam? Bapak ngapain nungguin saya selama dua jam? Iih ... Saya ileran, ya? Bapak foto-foto saya, Ya? Aduuuh ....," ucap mutia sibuk dengan tingkahnya sendiri.
"Jagain kamu, biar gak ada iler yang masuk, cewek kok kalau tidur mangap," ucapnya yang diakhiri dengan tawa.
Mutia yang merasa diejek pun mencak-mencak gak karuan.
"Satu lagi, besok siap-siap mendapatkan hukuman karena tidur di jam kerja," ucap Denis lagi seraya meninggalkan Mutia yang masih kesal dengan kelakuannya.
Mutia kembali ke gudang dengan muka ditekuk nyaris sempurna. Rani dan Bagas yang melihat kedatangannya memandang dengan tatapan selidik. Mutia yang merasakan keanehan berusaha acuh dan kembali ke tempatnya. Namun, melihat kedua temannya itu tetap menatapnya membuat ia risih.
"Mbak Rani, Bagas, ngapain sih lihatin kayak gitu? Iya ... iya ... Aku tadi ketiduran, habis gak ada yang bangunin, sih?" ucap Mutia pura-pura ngambek.
"Kita tahu, kok. Tahu juga siapa yang jagain kamu pas lagi ngorok," jelas Rani yang membuat matanya melotot. Kalau saja matanya buka ciptaan Tuhan, mungkin saja sekarang udah copot keluar.
"Mbak Rani lihat? Aku beneran gak tau kok, Mbak. Sumpah," ucap Mutia sembari mengajungkan dua jari.
"Iya, kita percaya," balas Bagas dengan senyum menyindir.
"Iih ... beneran. Pas aku bangun itu makluk tau-tau sudah di situ aja, mana aku ileran lagi," ucap Mutia mulai sebal. Bagas dan Rani pun sontak tertawa mendengar ucapan Mutia yang begitu polos.
"Fix, itu pak bos beneran naksir kamu, Mut," ucap Bagas percaya diri.
"Ogah. Dia itu pantesnya jadi Om aku, bukan pacar."
"Tapi, kan, om-omnya kayak Lee Min Ho, udah cakep, tajir lagi," timpal Rani mencoba memanas-manasi.
"Iih ... Mbak Rani, selalu deh, kan aku udah bilang buat Mbak aja!" ucap Mutia seraya bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah luar.
"Eh mau kemana lagi?" tanya Bagas sebelum Mutia menghilang.
"Ngemil batako!" jawab Mutia singkat yang membuat Rani dan Denis tertawa bersama.
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa