"Maya, apa kamu tahu apa kesalahanmu? " tanya seorang pria yang menatap tajam Maya yang tampak hanya memutar bola matanya dengan malas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulfatur Rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 6
Untuk kesekian kalinya Maya kembali mendesah berat karena tiba-tiba saja hujan turun, ia kehujanan dan masih belum bisa pulang ke rumahnya, padahal dirinya sudah kedinginan lantaran baju yang ia pakai sudah basah semua.
Maya merutuki dirinya yang tidak membawa mobil saja saat bekerja, tapi akan sangat bahaya jika ia membawa mobil pada saat bekerja, sampai saat ini ia menjadi karyawan misterius karena tidak ada yang tahu apapun tentang dirinya kecuali Abi dan Mitha.
Maya merogoh hpnya dari dalam tas, ia akan menelfon Abi barangkali Abi bisa menjemputnya.
"Halo? "
"Halo, ada apa May? " tanya Abi di seberang.
"Jemput gue dong, gue kehujanan nih nggak bisa pulang, motor gue juga mati nih keknya perlu di servis, " Maya terlihat memelas.
"Maaf ya, bukan nya gue nggak mauk nolong, tapi gue sendiri lagi di bengkel, motor gue lagi di perbaiki, tiba-tiba aja tadi mati di tengah jalan, gue aja masih belum nyampek apartemen gue"
"Ya ampun Bi, nasib kita kenapa apes banget sih?, gue udah kedinginan" keluhnya.
"Sorry ya, " terdengar suara Abi tampak merasa bersalah.
"Ya deh nggak apa-apa, gue coba pesan Taxi online" ujarnya pasrah lalu menutup panggilannya.
Maya membuka aplikasi go-jek, namun tiba-tiba hpnya mati, maya merutuki dirinya yang lupa men charger hpnya.
"Sial!" umpatnya.
"Kenapa sih nggak nanti aja matinya, gue udah kedinginan nih! " keluhnya.
Tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti di depannya, kaca mobilnya terbuka dan terlihat sang atasan nya.
"Maya? Kamu ngapain disni? " tanyanya dari dalam mobil.
"Lagi mancing" jawab Maya asal.
Terdengar decihan dari atasannya itu.
"Kenapa dengan motormu? " tanya atasan nya itu melirik motor Maya
"Motor saya mati pak, makanya saya nggak bisa pulang." jawab Maya jutek.
"Ayo masuk, saya anter kamu pulang" ajaknya.
Maya menggigit bibirnya, ia tampak ragu antara menerima ajakan bossnya atau tidak, apa sebaiknya ia menunggu hujan reda? Tapi sampai kapan? Bahkan hujan semakin besar.
Dirga yang melihat raut wajah bingung Maya hanya bisa mendesah berat.
"Ayo masuk, klo kamu nggak mauk saya tinggal nih" gertaknya.
Mau tak mau Maya harus menerima bantuan bossnya itu, Maya menatap motornya sekilas, kenapa sih motornya mati di saat waktu yang tidak tepat.
"Ayo masuk, motormu biar orang saya mengurus"
Dengan terpaksa Maya masuk ke dalam atasan nya itu, tidak mungkin ia menunggu hujan reda, meminta bantuan Mitha hpnya juga mati.
Selama perjalanan keduanya sama-sama diam, sesekali Dirga melirik Maya yang mengigil kedinginan, Dirga mengambil kemeja luarnya yang ia sampirkan di kursi mobilnya, ia memberikannya pada Maya.
"Pakai itu biar kamu nggak kedinginan" katanya begitu datar dan tanpa ekspresi.
"Makasih pak"
Maya menerimanya dan menutupi tubuhnya dengan kemeja atasan nya itu. Setengah jam kemudian mobil Dirga berhenti di sebuah rumah mungil minimalis berlantai satu.
Rumah mungil itu rumah Maya, Maya sudah meminta atasannya itu untuk menurunkannya di jalan di ujung rumahnya namun karena masih hujan Dirga menolak keras, ia bersikukuh untuk mengantar Maya sampai rumahnya dan dengan terpaksa Maya menurutinya.
Maya turun dari mobilnya dan membuka pintu pagar rumahnya, agar mobil atasan nya itu di parkir di depan rumah Maya.
Klo boleh jujur Maya ingin sekali mengusir pria itu, namun tidak mungkin ia mengusir bossnya yang sudah membantunya.
Dirga keluar dari mobilnya dan menatap intens rumah Maya, di garasi rumah nya berjejer dua buah mobil, yang di belakang mobilnya di tutupi, namun yang di depan tidak, mobil yang Dirga lihat itu mobil berwarna putih, sama dengan mobilnya hanya beda warna.
Dirga menatap tajam ke arah Maya yang sedang membuka pintu rumahnya, bagaimana bisa sekretaris nya itu memiliki rumah seperti ini dan memiliki dua mobil, ia tidak tahu mobil jenis apakah yang di tutupi, tapi mobil berwarna putih yang bertengger di garasi rumah sekretaris nya ini harganya tidak main-main.
"Silahkan masuk pak, " suruhnya yang hanya di angguki oleh atasan nya itu.
Maya sudah gemetaran dan khawatir melihat tatapan tajam dari atasan nya itu, pasti atasannya itu heran melihat rumahnya dan dua mobil bertengger manis di garasi rumah nya.
"Silahkan duduk pak, saya mauk mandi dulu ke atas" kata Maya lalu berjalan ke atas menuju kamarnya.
Jujur saja Maya sedang merasa takut jika sampai identitasnya terbongkar dan Dirga akan menanyakan hal-hal aneh padanya, tapi Maya memilih untuk membersihkan tubuhnya dulu karena ia tidak ingin besok ia demam dan masuk angin.
Dirga menatap intens isi rumah Maya, tidak ada foto satupun di rumah itu, kecuali fotonya bersama Mitha, Abi dan dua orang perempuan.
Rumah Maya begitu rapi dan bersih, suasana nya juga nyaman, dan warna rumahnya sangat Indah menurutnya, selera sekretarisnya itu memang baik, perpaduan antara putih dan warna hijau muda.
Dirga duduk di sofa ruang tamu rumah Maya, mengusir rasa bosan menunggu sekretaris nya mandi, Dirga memainkan ponselnya.
Sepulut menit kemudian Maya turun memakai sweater berwarna pink dan celana pendek berwarna putih, rambutnya masih terbungkus handuk.
"Bapak mauk minum apa? " tanya Maya yang sudah berada di dapur.
Dirga memasukkan kembali hpnya ke dalam saku celananya dan menatap Maya yang tengah berada di dapur, karena ruang tamu dan dapur Maya tersambung.
"Kopi ada? " tanyanya lalu menghampiri Maya dan duduk di kursi di dapur Maya, memang model dapur Maya terlihat seperti bar, menurutnya agar ia tidak perlu membuat meja makan.
Maya menyodorkan kopi pada Dirga, dan Dirga pun meminumnya. Satu kata untuk kopi buatan Maya, sangat pas menurutnya.
"Bapak nggak mauk pulang? " tanya Maya hati-hati.
Dirga melirik sekretaris nya itu lalu mendengus sebal.
"Kamu ngusir saya? " tanya Dirga menatap dingin wajah Maya.
"Bu.. Bukan gitu pak, klo bapak nggk mauk pulang saya masakin untuk makan malam, tapi klo bapak mauk pulang saya mauk masak mie instan aja untuk saya" sanggahnya terdengar gugup.
"Buatkan makan malam yang pas untuk saya, saya lapar" suruhnya yang di angguki oleh Maya.
"Dan iya, jika sedang di luar kantor panggil saja saya mas, umur saya nggak setua itu lagian saya bukan bapak kamu! " imbuhnya menatap sinis Maya.
Maya tidak menyahut, ia memilih untul membuka kulkas dan melihat-lihat isi kulkasnya, setelah berfikir panjang ia memutuskan untuk bakso meski membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi bakso memang makanan yang cocok saat hujan begini. Maya segera menyiapkan bahan-bahan nya dan mulai memasak.
Dirga memandang Maya yang sedang sanga serius memasak, ia terlihat begitu piawai dalam memasak, itu sebanya ia lebih suka makan masakan Maya ketimbang makanan restoran.
Sudut bibir Dirga tersenyum sekilas melihat cara Maya yang terlihat sudah sangat ahli dalam memasak, akan sangat menyenangkan jika setiap hari ia bisa melihat perempuan di hadapannya itu memasak untuknya setiap hari.
"Kamu tinggal sendirian disini? " tanya Dirga memecah keheningan.
"Iya pak, kadang sih teman saya datang kesini dan nginap disini "
Dirga mengangguk pelan lalu ia teringat akan mobil dan rumah sekretaris nya itu.
"Kamu anak orang kaya? " tebaknya yang membuat Maya berhenti memotong daun seledri.
Maya menghela nafas pelan mencoba untuk bersikap tenang dan kembali melanjutkan memotong daun seledri.
"Nggak pak, ini rumah teman saya kebetulan dia nyuruh saya untuk menempatinya karena orangnya sering keluar kota, dari pada nggak di tempati dan nggak terurus teman saya nyuruh saya tinggal disini, perihal mobil itu, itu mobil juga punya teman saya, saya mana sanggup memberi rumah sebesar ini apalagi mobil Bagus seperti punya bapak" jawabnya terdengar sedikit geli.
Dirga tak lansung percaya dengan ucapan Maya, kelihatan sekali bahwa sekretaris cantik itu tampak bukan orang yang kekurangan, Hpnya saja begitu Bagus, sama seperti hp miliknya.
Namun tak ingin membuat Maya merasa tidak nyaman Dirga pun hanya mengangguk.
"Jangn panggil pak klo lagi berdua dan di luar kantor, lagian saya bukan bapak kamu! "
Maya hanya terkekah pelan melihat raut wajah atasan nya yang terlihat masam.
"Oke, oke mas Dirga" sahutnya lalu kembali memasak.
Dirga tersenyum tipis melihat sekretaris cantiknya itu, Dirga bediri dan menghampiri Maya, ia memeluknya dari belakang yang membuat Maya terkejut san gugup.
"Mas, apa yang mas lakuin, saya lagi masak nih, tolong lepasin" ucapnya berusaha melepaskan pelukan atasannya itu.
"Nggak mauk, saya masih pengen meluk kamu" tolaknya terdengar begitu lembut.
Maya bahkan bisa merasakan deru nafas atasan nya itu dan membuat dirinya merinding.
"Ayo dong mas, lepasin, masakan saya belum kelar nih, " keluhnya.
"Kamu lanjutin aja masaknya, saya cuma meluk kamu"
Maya mendengus kesal dan membiarkan atasan nya itu memeluknya, sesekali atasan nya itu mencium leher Maya yang membuat Maya geli dan tidak nyaman.
"Jangan cium leher saya mas! " kata Maya memperingatkan.
"Saya suka Wangi kamu, Wangi Mawar di tubuhmu"
"Kan saya sudah mandi mas, klo nggak harum kan aneh" kata Maya terdengar ketus.
Dirga hanya terkekeh melihat Maya sudah kesal, menurut Dirga Maya sangat lucu dan cantik.
Karena gemas Dirga mencium leher Maya dan mengigitnya sehingga terlihatlah tanda merah di leher Maya akibat ulahnya.
"Pak! " teriak Maya karena sudah sangat kesal.
Dirga langsung berlari dan duduk di ruang tamu rumah Maya, ia sudah sangat puas melihat sekretaris cantiknya itu beberapa kali mengusap lehernya yang merah akibat ulahnya.
Bakal ada cinta segitiga ni nnti
Niat maya pulg mau kumpul sma kluarga ehh mlah jd bgini😭😭