Zhao Xinyue sadar dirinya bukan villain utama, bukan heroine, melainkan selir berpangkat rendah yang di novel asli mati karena tanpa sengaja melihat rahasia kaisar. Begitu sadar, targetnya cuma satu. "Aku tidak ingin naik pangkat. Aku cuma ingin hidup sampai akhir cerita."
Masalahnya... Semakin dia berusaha tidak mencolok, semakin banyak orang memperhatikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pagi harinya, aku terbangun dengan kondisi fisik seperti baru saja dilindas kereta kuda pembawa upeti.
Leherku kaku, bahuku ngilu, dan pinggangku rasanya nyaris patah. Aku membuka mata perlahan, mengerjap menatap langit-langit kelambu yang mewah.
Sisi ranjang di sebelahku kosong, tapi seprai sutranya berantakan dan masih menyisakan lekukan tubuh yang besar. Suhu hangat dan aroma gaharu campur herbal masih tertinggal samar di udara. Aku segera menoleh ke arah dinding barat. Panel kayu berukir itu sudah tertutup rapat, menyatu sempurna dengan dinding seolah jalur rahasia semalam hanyalah halusinasiku semata.
"Nona! Nona sudah bangun?"
Xiu'er menerobos masuk membawa baskom perunggu berisi air hangat. Saat matanya menangkap penampilanku yang acak-acakan, rambut lepek, kantung mata hitam, dan kasur yang luar biasa berantakan, gadis itu langsung tersentak. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar-binar penuh haru biru.
"Oh, Surga! Nona... Nona pasti sangat kelelahan!" pekik Xiu'er dengan suara setengah berbisik yang dibuat-buat, pipinya merona merah matang. "Hamba melihat jejak sepatu bot di lantai dekat dinding, tapi hamba pura-pura tidak tahu! Yang Mulia pasti sangat buas—ah, maksud hamba, sangat bersemangat! Nona sungguh berkorban banyak demi kemakmuran paviliun kita!"
Aku menatap Xiu'er dengan pandangan mati.
Ya, Xiu'er. Sangat buas. Kaisarmu itu memeluk punggungku dengan kuncian ala pegulat profesional selama delapan jam berturut-turut sampai aliran darah ke kakiku nyaris berhenti.
"Beri aku air panas, Xiu'er. Aku butuh mandi lumpur untuk mengembalikan kewarasanku," gerutuku sambil merangkak turun dari ranjang.
Sambil merendam tubuhku di dalam tong kayu berisi air hangat, otakku kembali menyusun rencana darurat. Ini tidak bisa dibiarkan. Jika Li Jingchen terus-terusan menjadikan kamarku sebagai tempat perlindungan dan menjadikanku guling bernapasnya, usiaku tidak akan panjang.
Di kehidupan modern, jika bosmu sering memanggilmu untuk kerja lembur mendadak di tengah malam, kau punya dua pilihan: resign atau pura-pura sakit parah. Karena resign di sini berarti kepalaku dipenggal, aku harus mengambil opsi kedua. Atau lebih tepatnya: membuat diriku menjadi guling yang cacat produksi.
Apa yang membuat seseorang malas tidur di sebelah orang lain? Bau badan, penampilan menjijikkan, dan... polusi udara.
Siang itu, aku menyelinap ke dapur kecil di belakang paviliun. Aku mengumpulkan sisa-sisa daun mugwort, lidah buaya, tepung beras, dan sedikit lumpur bersih dari pinggir kolam teratai. Kutumbuk semuanya menjadi pasta hijau pekat yang baunya sangat menyengat—perpaduan antara bau jamu basi dan tanah basah.
Selain itu, aku meminta kasim dapur untuk membakarkan lima buah ubi jalar ukuran besar.
"Nona, untuk apa ubi sebanyak itu? Hamba bisa mengambilkan sarang burung walet dari Dapur Kekaisaran untuk Nona," protes Xiu'er saat melihatku menata ubi-ubi gosong itu di atas piring emas.
"Makanan mewah membuat perutku kaget, Xiu'er. Ubi adalah kunci kesehatan rakyat jelata," jawabku asal.
Malam pun tiba. Operasi 'Guling Cacat' resmi dimulai.
Aku duduk bersila di atas ranjang. Wajahku sudah kulapisi dengan masker lumpur hijau buatanku sendiri secara tebal-tebal, menyisakan hanya mata dan bibir. Rambutku kuikat asal-asalan ke atas seperti sarang burung. Di pangkuanku, sepiring ubi bakar manis sudah siap ku eksekusi. Aku mengunyahnya dengan rakus.
Ubi jalar dalam jumlah banyak adalah bom waktu biologi. Malam ini, jika Kaisar berani memelukku, ia harus berhadapan dengan risiko asfiksia (gagal napas) akibat gas beracun dari dalam perutku.
Waktu menunjukkan pertengahan malam ketika suara 'klik' pelan terdengar dari arah dinding barat.
Panel kayu itu bergeser. Li Jingchen melangkah keluar.
Sama seperti semalam, ia mengenakan jubah tidur sutra hitam. Kantung di bawah matanya terlihat sedikit lebih gelap. Tiran ini benar-benar kekurangan tidur.
Begitu kakinya menginjak lantai kamarku, ia berhenti mendadak.
Aku terus mengunyah ubi di mulutku, menatapnya balik dengan wajah hijau berlepotan dan pipi menggembung. Bau jamu basi dari wajahku segera memenuhi ruangan, menantang dominasi aroma gaharu miliknya.
Hening yang luar biasa canggung menyelimuti kami berdua.
Mata elang Li Jingchen memindai penampilanku dari ujung rambut yang mekar hingga piring ubi di pangkuanku. Garis wajahnya yang keras dan lelah itu tampak menegang sesaat.
"Apakah Ruang Belajar Kekaisaran diam-diam terhubung dengan rawa-rawa?" suara baritonnya memecah kesunyian. Ia menyilangkan lengan di depan dada, menatapku dengan sebelah alis terangkat. "Atau siluman katak baru saja memakan selirku?"
Aku menelan ubi di mulutku susah payah. "Hamba sedang melakukan perawatan kulit tradisional, Yang Mulia. Ramuan ini resep rahasia dari kampung halaman hamba, sangat bagus untuk memutihkan wajah."
"Memutihkan wajah," ulang Li Jingchen datar. "Dengan lumpur berbau kotoran kuda?"
"Ini mugwort, Yang Mulia! Bau sehat!" belaku, sengaja mengembuskan napas panjang agar aroma ubi bercampur jamu menguar ke arahnya. "Dan hamba sedang kelaparan, jadi hamba makan ubi bakar. Tapi Yang Mulia harus tahu... ubi bakar membuat perut hamba menghasilkan... uh... 'angin' yang sangat kencang. Jika Yang Mulia tidur di sini, hamba takut 'angin' hamba akan menodai hidung suci Anda."
Katakan kau jijik! Katakan kau muak dan kembali ke ruang kerjamu! Batinku bersorak penuh harap.
Li Jingchen terdiam. Ia menatapku lekat-lekat, rahangnya mengeras. Untuk beberapa detik, aku yakin ia akan mencabut pedangnya dan menebas kepalaku karena penghinaan ini.
Namun, di luar dugaan, pria itu malah menghela napas panjang—sebuah helaan napas dari seseorang yang sudah terlalu lelah untuk marah.
Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah ke arah baskom cucian muka di sudut ruangan, membasahi sebuah handuk kecil, lalu berjalan mendekat ke arah ranjangku.
"Y-Yang Mulia? Apa yang mau Anda lakukan?" aku panik dan beringsut mundur.
"Menyelamatkan kasurku dari siluman katak," desisnya tajam.
Dengan satu gerakan cepat, tangan besarnya mencengkeram tengkukku, sementara tangan satunya menggosokkan handuk basah itu ke separuh wajahku.
"Aduh! Pelan-pelan, Yang Mulia! Kulit hamba bisa lecet!" jeritku meronta.
Tentu saja tenaga tiran yang biasa memenggal kepala orang ini jauh melampaui tenagaku. Dalam tiga kali usapan kasar, separuh masker hijau di wajah kananku terhapus bersih, menyisakan kulit yang memerah karena gesekan.
"Selesai. Sisi ini sudah bisa dipakai," gumam Li Jingchen puas.
Ia membuang handuk kotor itu sembarangan ke lantai, lalu tanpa aba-aba merampas piring ubi dari pangkuanku dan meletakkannya di nakas. Sebelum aku sempat memprotes, ia telah merebahkan tubuh besarnya ke atas kasur dan menarik pinggangku hingga aku jatuh telentang di sebelahnya.
"Tunggu! Yang Mulia, wajah kiri hamba masih hijau!" protesku, berusaha mendorong dadanya.
"Aku tidak peduli. Aku hanya butuh sisi kanan lehermu untuk tidur," gumamnya serak. Ia menenggelamkan wajahnya tepat di perpotongan leher kananku, lengan kekarnya langsung mengunci pinggangku dengan erat.
Napas hangatnya menyapu kulitku, membuat bulu romaku meremang.
"Tapi Yang Mulia, hamba sudah makan ubi! Hamba pasti akan buang angin malam ini!" ancamku putus asa.
Kaisar Li Jingchen, penguasa jutaan nyawa di daratan ini, menghela napas malas di leherku. "Jika kau berani mengeluarkan satu suara saja dari perutmu malam ini, Shen Yu... aku akan menjahit bibir bawahmu ke bibir atasmu."
Tubuhku membeku seketika.
"A... apakah itu kiasan, Yang Mulia?" cicitku ngeri.
"Cobalah, dan kita lihat apakah itu kiasan atau bukan," ancamnya dengan nada mengantuk yang teramat sangat.
Selesai. Dia menang. Strategi siluman rawaku hancur berantakan.
Li Jingchen tertidur pulas dalam hitungan menit, napasnya berat dan teratur. Sementara aku? Aku harus berbaring kaku menatap langit-langit, dengan separuh wajah masih berlapis masker kering yang terasa menarik kulitku.
Dan yang lebih parah... perutku mulai bergemuruh menuntut pelepasan akibat efek lima ubi bakar.
Malam itu, demi menjaga agar bibirku tidak dijahit oleh seorang tiran, aku mati-matian menahan gas di dalam perutku sambil berkeringat dingin menahan kram usus yang luar biasa.
Di kehidupan sebelumnya, aku pernah menahan kencing selama tiga jam saat meeting dengan direktur utama. Tapi percayalah, menahan kentut ubi di pelukan seorang kaisar tiran yang sedang tertidur adalah level penyiksaan neraka tingkat sembilan yang tidak akan pernah kumengerti.
Aku, Shen Yu. Selir Tingkat Enam. Mengorbankan lambung dan ususku demi keamanan negara. Tolong tulis itu di batu nisanku nanti.
karena makan buah simalakama 🤭🤭🤭😭😭😭😭
tapi aku penasaran tor itu "Selir" istri Kaisar juga??? atau apa kurang paham 🤭🤭
berharap Kaisar jijik ealah malah tetap nempel 🥰🥰🥰