NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Yang Kejam

Sinar matahari siang perlahan bergeser, memudar menjadi cahaya senja yang keemasan, lalu akhirnya menghilang sepenuhnya digantikan oleh kegelapan malam. Jam dinding di ruangan itu terus berdetak, tik... tok... tik... tok..., suaranya terdengar begitu keras dan menyakitkan di telinga Nadia, seolah menghitung mundur setiap detik harapan yang perlahan sirna.

Nadia masih berbaring di atas ranjang kecil di ruang rawat klinik perusahaan. Ruangan itu terasa begitu sunyi, dingin, dan sangat sepi. Hanya ada dia, ditemani oleh suara mesin monitor detak jantung yang berdetak teratur dan lampu neon yang menyala terang namun tak mampu menghangatkan hatinya yang membeku.

Sudah berjam-jam dia menunggu.

Sejak sadar dari pingsannya tadi siang, satu-satunya kalimat yang terucap dari bibirnya adalah permintaan untuk bertemu Aga. Dia meminta Ana untuk memanggilnya, dia berharap detik itu juga pria itu akan berlari masuk, memeluknya, dan menanyakan keadaannya dengan wajah khawatir.

Tapi nyatanya... tidak ada siapa-siapa.

Hingga sore menjelang malam, pintu ruangan itu tidak pernah terbuka untuk sosok yang dia nanti. Tidak ada Aga. Tidak ada kabar. Seolah-olah keberadaannya di dunia ini telah dihapus begitu saja.

Nadia menunduk, kedua tangannya yang kurus dan dingin meremas kain rok kerjanya dengan kuat hingga jari-jarinya memutih. Rasa kecewa itu menggunung, memenuhi rongga dadanya hingga terasa sesak tak tertahankan. Dia ingin marah, ingin berteriak, tapi suaranya seakan tertahan di tenggorokan.

Jadi... selama ini apa yang aku rasakan cuma satu sisi saja? Apa hanya aku yang merasakan cinta? batinnya menjerit pilu. Apa malam itu... apa semua perhatiannya cuma ilusi? Kenapa saat aku paling butuh dia, dia bahkan tidak datang sekalipun?

Air mata akhirnya tak bisa dibendung lagi. Menetes perlahan, membasahi pipinya yang masih pucat. Rasa sakit karena kecewa bercampur dengan rasa takut yang luar biasa menggerogoti sanubarinya.

Pikirannya kembali melayang pada percakapan dengan dokter beberapa jam yang lalu. Saat ruangan ini masih terang, saat dokter datang dengan berkas hasil pemeriksaan lab di tangannya, dan menyampaikan sebuah fakta yang mengubah seluruh hidupnya, selamanya.

Flashback On

"Dokter... apa yang salah dengan tubuh saya? Beberapa hari ini saya merasa lemas, mual dan kadang saat malam hari saya muntah beberapa kali," tanya Nadia dengan suara lemah, saat dokter selesai memeriksa tekanan darahnya.

Dokter wanita itu tersenyum tipis, lalu duduk di kursi di hadapan Nadia. Wajahnya terlihat lembut namun serius.

"Tidak ada penyakit serius, Bu Nadia. Tidak ada infeksi atau tumor seperti yang Anda khawatirkan," ucap dokter itu pelan.

Nadia menghela napas lega, "Syukurlah... jadi cuma kecapekan biasa ya, Dok?"

Dokter itu menggeleng pelan, lalu menatap tajam ke mata Nadia.

"Bukan cuma kecapekan, Bu. Dari hasil tes darah, menunjukkan bahwa Anda hamil."

Jedar!

Seolah ada petir yang menyambar di kepala Nadia. Dunianya seakan berhenti berputar seketika. Dia menatap dokter itu dengan mata terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Ha-haamil...?" suaranya bergetar hebat, tangannya secara naluriah terangkat dan menempel perlahan di perut bagian bawahnya yang masih rata. "Saya... hamil, Dok?"

"Iya, Bu. Hasil tesnya positif. Lemas, pusing, pingsan, dan hilang nafsu makan itu adalah efek hormon kehamilan. Anda harus banyak istirahat dan menjaga asupan nutrisi karena kondisi janin masih sangat muda dan rentan."

Flashback Off

Nadia terisak pilu, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia hamil. Dia mengandung anak dari Aga.

Anak dari pewaris keluarga Santoso yang katanya akan dijodohkan dengan wanita kaya raya. Dan dia... hanyalah gadis desa, staf bagian keuangan biasa yang tidak punya apa-apa.

"Ya Tuhan...," isaknya lirih, tubuhnya berguncang menahan tangis yang menyakitkan. "Kenapa harus sekarang? Kenapa harus saat semuanya sudah terlambat?"

Dia tahu betul arti kehadiran bayi ini. Ini bukan hanya sekadar nyawa baru, tapi sebuah bom waktu yang bisa meledakkan segalanya. Jika keluarganya Aga tahu, jika dunia tahu... nama Aga akan hancur. Reputasinya akan ternoda. Pertunangannya dengan Jenna Wijaya pasti akan batal, dan skandal besar tak terelakkan.

Tapi di sisi lain, ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya. Perasaan hangat saat menyadari bahwa ada bagian dari Aga yang tumbuh di dalam dirinya. Buah cinta terlarang mereka yang tak diakui dunia.

Nadia melepaskan tangannya dari wajah, menatap langit-langit ruangan yang putih dan membosankan itu. Air matanya terus mengalir membasahi bantal.

Dia menunggu sampai sore, menunggu sampai malam mulai menjelang, berharap keajaiban terjadi. Berharap pintu itu akan terbuka dan Aga akan masuk, memeluknya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, pintu itu tetap tertutup rapat. Kesunyian tetap menjadi temannya satu-satunya.

Nadia tersenyum getir, senyum yang paling menyedihkan. Dia sadar sekarang. Mungkin Aga memang sengaja tidak datang. Mungkin Mario benar... dia memang tidak seharusnya ada di kehidupan Aga.

Dan sekarang, dengan bayi ini di dalam kandungannya... Nadia tahu, perjalanannya tidak akan pernah sama lagi. Dia harus menghadapi semua ini sendirian.

Benar-benar sendirian.

Nadia berusaha mengumpulkan sisa tenaganya.

Dengan tangan gemetar dan kaki yang masih terasa lemas, dia perlahan turun dari ranjang rawat itu. Dia tidak mau terus berbaring di sana, menunggu harapan kosong yang tak kunjung datang.

'Aku harus pulang. Aku harus pergi dari sini,' batinnya memaksakan diri.

Namun, tepat saat kakinya menyentuh lantai dingin ruangan itu, suara klek terdengar jelas. Pintu kamar rawat terbuka.

Jantung Nadia berdegup kencang seketika. Napasnya tertahan di kerongkongan. Matanya terbelalak menatap pintu itu dengan penuh harap.

'Itu dia... Itu pasti Aga,' pikirnya. Meskipun terlambat, meski matahari sudah terbenam, tak apa. Asalkan dia datang, asalkan dia ada di sini... Nadia akan memaafkan segalanya.

Namun... harapan indah itu seketika hancur berkeping-keping saat sosok yang masuk ke dalam ruangan itu terlihat jelas di matanya.

Bukan Aga.

Itu Mario.

Wajah dingin, tatapan tajam, dan aura kaku yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Tidak ada senyum, tidak ada rasa khawatir, hanya ada ketegasan yang dingin dan menyakitkan.

Nadia mundur selangkah, punggungnya terbentur sisi ranjang. Wajahnya yang tadi sempat bersinar karena harapan, kini kembali pucat pasi, bahkan lebih pucat dari sebelumnya.

Mario melangkah masuk, lalu menutup pintu itu perlahan namun pasti, mengunci mereka berdua di dalam ruangan yang sunyi itu. Suasana seketika menjadi mencekam dan sangat berat.

Dia berdiri di hadapan Nadia, menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi yang membuat Nadia merasa sangat kecil dan tidak berharga.

"Kamu kira siapa yang datang?" tanya Mario memecah keheningan, suaranya datar namun menusuk. "Berhenti berharap, Nona Nadia. Pak Aga... tidak akan pernah datang ke sini."

Kalimat itu seperti tamparan keras yang mendarat tepat di pipi Nadia. Bibirnya bergetar, suaranya nyaris tak keluar.

"Kenapa...?" bisiknya lirih, air mata kembali menggenang. "Kenapa dia tidak datang? Apa dia... apa dia tahu aku di sini?"

Mario mendengus pelan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Dia tahu atau tidak tahu... itu tidak penting. Faktanya adalah, dia tidak akan datang," ucap Mario tegas. "Dan kamu harus sadar diri, Nadia. Kamu harus melihat kenyataan yang ada di depan mata kamu."

Mario melangkah maju selangkah, suaranya turun menjadi lebih rendah namun penuh penekanan.

"Tiga hari lagi. Tiga hari dari sekarang, Pak Aga akan melangsungkan acara pertunangan resmi dengan Nona Jenna Wijaya. Acara besar, undangan pejabat, para konglomerat kelas atas, dan media, semua sudah siap. Hidup Pak Aga sudah ditentukan jalannya. Dan jalannya itu... tidak ada kamu di dalamnya."

Brakk!

Seolah dunia di bawah kaki Nadia runtuh seketika. Tubuhnya lemas, dan jika tidak bersandar pada ranjang, mungkin dia sudah jatuh kembali.

Pertunangan....

Jadi itu benar. Jadi semua ancaman itu nyata. Aga benar-benar akan menjadi milik orang lain.

"Jadi... malam itu...." Suaranya pecah, "Malam di hotel itu... apa semuanya bohong? Apa dia cuma main-main sama aku?"

Mario menggeleng, wajahnya terlihat lebih serius dari sebelumnya.

"Perasaan Pak Aga mungkin ada, tapi itu tidak penting. Perasaan bisa dibuang, tapi tanggung jawab dan masa depan tidak. Kamu harus mengerti posisi kamu, Nadia. Kamu cuma staf bagian keuangan biasa. Sedangkan Nona Jenna... dia pasangan yang setara untuk Pak Aga. Mereka bisa saling menguatkan, membangun kerajaan bisnis bersama-sama."

Mario menatap tajam ke mata Nadia, kali ini suaranya penuh dengan peringatan keras.

"Maka dari itu, mulai detik ini juga, kamu harus menjauh. Jangan cari masalah, jangan cari perhatian, dan jangan pernah menghubungi Pak Aga lagi. Lupakan semua yang pernah terjadi. Anggap saja kamu dan Pak Aga tidak pernah saling mengenal."

"Tapi... aku..." Nadia ingin mengatakan sesuatu. Dia ingin berteriak bahwa dia sedang mengandung anak cucu keluarga Santoso. Dia ingin mengatakan bahwa ada nyawa yang tumbuh di dalam perutnya.

Tapi kata-kata itu tertahan mati-matian di tenggorokannya saat melihat tatapan benci dan dingin dari Mario.

Jika dia bilang sekarang... apa yang akan terjadi? Apakah Mario akan menyuruhnya menggugurkan kandungan ini? Atau malah mengusirnya dengan cara yang lebih kejam?

"Jangan sampai kamu menjadi penghalang," lanjut Mario dengan ancaman yang tersirat. "Karena kalau sampai kamu berani merusak masa depan Pak Aga dan nama baik keluarga Santoso... aku janji, kamu tidak akan suka akibatnya. Kamu akan kehilangan segalanya, bahkan nyawamu pun bisa hilang dalam sekejap."

Mario berhenti sejenak, lalu mengucapkan kalimat terakhir yang paling menyakitkan.

"Jadi, mundurlah selagi kamu masih bisa pergi dengan baik-baik. Pak Aga sudah bukan milikmu lagi. Dia milik keluarga Wijaya sekarang."

Mario berbalik badan, tidak peduli lagi dengan gadis yang sudah hancur lebur di belakangnya. Dia membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Nadia sendirian di dalam ruangan yang dingin itu.

Pintu tertutup kembali.

Dan kali ini, pintu hati dan harapan Nadia ikut tertutup rapat, terkunci, dan hilang selamanya.

Nadia meluncur jatuh ke lantai, memeluk lututnya, dan menangis tersedu-sedu. Dia hamil, tapi ayah dari anak itu akan bertunangan dengan wanita lain dalam tiga hari.

Dan dia... harus memendam rahasia besar ini sendirian, di tengah ancaman dan kepahitan dunia.

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!