NovelToon NovelToon
Jalur Baru

Jalur Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: David Purnama

Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persimpangan Terakhir

"Nah itu ada tulisannya",

"Benarkan itu?",

"Betul",

⬅️

"LEWAT JALUR BARU",

"Itu ada posnya",

"Perlu ke sana tidak ya?",

Bono berdiskusi dengan Davis. Mobil mereka berhenti di sebuah persimpangan.

Terdapat plang penunjuk jalan dan juga pos jaga alakadarnya.

Tapi tempat itu gelap dan sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

"Terus saja, tidak ada orang yang jaga",

"Bismillah",

Bono menekan pedal gas pelan-pelan memasuki jalan jalur baru.

"Minuman apa itu?",

"Baru lihat",

"Mau?",

"Ini produk baru, minuman energi herbal",

"Tanpa bahan pengawet dan tidak menyebabkan rasa enek",

"Terdiri dari dua macam varian rasa",

"Mau pilih yang original atau yang tidak original?",

"Biar kuat matanya melotot sampai pagi",

"Aku tidak usah, nanti aku malah tidak bisa tidur",

Bagaimana kondisi para penumpang yang duduk di bangku belakang?

Memasuki jalur baru. Jalan sempit yang masih tanah dan gelap tanpa penerangan.

Nali yang sejak masuk ke dalam mobil tidak mempedulikan sekitar. Jika tidak tidur fokusnya hanya tertuju kepada smartphone. Baik itu untuk main game atau melihat potongan video-video yang lucu.

Tiba-tiba hp Nali mati ketika sedang menyaksikan konser musik.

"Hah, kok mati?",

"Perasaan tadi baterainya masih setengah",

Gumam Nali.

Kemudian ia melihat ke luar jendela.

Nali merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya. Suasana yang sekarang begitu creepy di luar sana.

Nali menutup kaca dengan gorden.

Nali memperhatikan penumpang yang lain.

Kristo yang duduk bersebelahan bangku dengannya sudah nyenyak tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka.

Pasangan suami istri yang duduk di paling belakang juga sudah terlelap sambil berpelukan.

Lukas masih terjaga.

Anak kecil itu sepertinya kesulitan memejamkan mata. Ia sedang melamun entah menerawang apa.

Tatapannya melihat ke langit-langit mobil.

Menyimak pewangi yang terus goyang-goyang karena dipasang gantung.

Di bangku depan Bono fokus mengemudi.

Sambil sesekali mulai mengangkat pantatnya dari kursi.

Mungkin sopir itu pegal lantaran duduk dengan posisi yang konsisten seperti itu pikir Nali.

Sedangkan disebelahnya Davis masih bangun dengan pandangan mata yang jauh.

Kepalanya menoleh ke kiri.

Yang dilihatnya bukanlah pantulan wajah bersenyum manisnya atau pemandangan gelap gulita di luar sana.

Tapi masa lalu dalam hidupnya yang baru-baru ini bikin heboh satu kota jika orang-orang mengikuti beritanya.

Sayangnya Nali juga tahu tentang Davis dan problematika panas yang sedang dihadapi.

Makanya mahasiswi jurusan ilmu komunikasi masyarakat itu segan untuk berbicara tentang tema yang bisa atau mudah menyinggung.

"Sekarang jam berapa pak?",

"Hp aku drop",

"Sekarang baru jam delapan lewat mbak",

"Tidur saja dulu",

"Sepi sekali pak jalannya",

"Ya memang begitu mbak",

"Namanya memang jalur baru, tapi masuk ke kawasan hutan",

"Kira-kira masih lama pak sampainya?",

"Masih jauh mbak, di depan sana masih sangat gelap",

"Mbak Nali istirahat saja dulu, nanti kalau sudah sampai aku pasti kasih tahu",

"Terimakasih pak Bono",

Sekarang tinggal Bono sendiri yang benar-benar membuka kedua bola matanya sampai melotot demi menjaga konsentrasi.

Untuk pertama kalinya di sepanjang jalan melewati jalur baru ini ia melihat sesuatu yang menghadang di pinggir jalan.

Di seberang kanan di depan sana tersorot lampu ada seseorang yang sedang berjualan.

"Malam-malam begini?",

"Ini sudah jam sepuluh lewat",

Tentu saja Bono yakin seribu persen sosok itu bukanlah manusia.

Bono tanpa takut membuka penuh kaca pintu di sampingnya.

Bono menyapa dengan senyuman sosok nenek yang duduk di pinggir jalan bersama dagangannya yang tertutup daun pisang.

Bono menganggukkan kepala sembari lewat dengan laju kendaraan yang dipelankan.

Sosok nenek-nenek itu sama sekali tidak merespon.

Melihat ke arah Bono pun juga tidak.

Wajah tuanya kaku tanpa ekspresi.

Begitu melewati sosok misterius yang barusan.

Mobil putih yang sejak dari berangkat tidak pernah rewel tiba-tiba berhenti. Mogok sendiri.

"Kenapa berhenti?",

Tanya Davis yang baru setengah tertidur.

"Kita harus turun dulu",

"Kita?",

"Memangnya kenapa?",

Bono memberikan tatapan serius kepada Davis yang mengisyaratkan tentang adanya sesuatu yang janggal.

"Baiklah, aku temani kamu",

"Mbak Nali bangun mbak",

"Sudah sampai pak?",

"Belum mbak, tapi harus ada yang kita lakukan",

"Ada apa pak?",

"Turun dulu mbak, pelan-pelan",

"Jangan sampai yang lain terbangun",

Nali membaca bahasa wajah Bono dan Davis yang sedang tidak bercanda.

Nali pun mau membantu biarpun ini ada urusannya sama hantu.

Meski belum pernah mengalaminya sendiri. Tapi ia sudah sering mendengar banyak cerita jika pulang melewati jalan alas seperti ini.

Apalagi sekarang sudah hampir tengah malam.

Bono, Davis dan Nali pun turun dari mobil diam-diam.

"Kalian pada mau kemana?",

Rama yang terbangun ikut turun.

Ketiga orang yang turun duluan tidak ada yang memberikan penjelasan kepada Rama.

Tapi Rama sepertinya juga sudah paham.

"Ya sudah aku juga ikut",

Mereka berempat.

Bono, Davis, Nali dan Rama berjalan ke belakang mobil beberapa meter.

Di sana ada sosok nenek-nenek yang sedang berjualan.

"Biar aku saja yang bicara",

Bono berbisik kepada yang lain.

"Permisi Mbah, selamat malam",

"Selamat malam, kalian pada mau kemana?",

"Kenapa lewat sini?",

"Kami mau ke kota Mbah",

"Kebetulan jalur yang baru satu-satunya lewat sini Mbah",

Penampakan sosok nenek itu terlihat normal sama seperti seorang nenek-nenek tua biasa.

Kulit wajahnya sudah berkerut dan ada bintik-bintik yang menghitam.

Tidak ada tampak seperti penampilan jelmaan jin atau sesuatu yang menyeramkan.

"Kenapa kalian berhenti?",

"Kami mau beli jajan Mbah",

"Supaya tidak terlalu mengantuk",

"Kalau begitu pilihlah yang mana yang kalian suka",

Nenek itu membuka dagangannya yang tertutup daun pisang.

Mereka adalah bunga-bunga yang berwarna-warni dengan berbagai rupa-rupa.

"Ambillah satu saja lalu makanlah",

Perintah sosok nenek penjual bunga yang tidak kedinginan di tengah malam yang mulai berkabut.

Nenek itu hanya memakai selendang dan kain berenda yang tipis.

"Ayo kita makan",

Bono mengajak yang lain.

Mereka tanpa ragu melakukannya seperti Bono yang begitu yakin.

Mereka kaget dengan rasanya yang manis menyentuh lidah begitu dikunyah di dalam mulut.

"Terimakasih Mbah",

"Ini uangnya",

"Kami pamit dulu karena mau melanjutkan perjalanan",

"Silahkan",

"Kalian akan selamat sampai tujuan",

Bono, Davis, Nali dan Rama kembali ke mobil yang begitu dinyalakan langsung hidup.

Dari kaca spion nenek-nenek penjual bunga yang bisa dimakan dan enak itu sekarang sudah tidak ada lagi.

Mereka berempat yang baru saja mengalami kejadian yang begitu gaib terguncang tapi tetap harus diam dan tidak boleh bersikap heboh.

Bono tidak berkata-kata seperti biasanya untuk memulai melanjutkan perjalanan yang sudah semakin dekat sampai ke tempat tujuan.

"Ehem... ",

Bono hanya bisa berdehem pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!