NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 06. Remeh

Awan memasukkan motornya ke dalam ruang tamu. Mengingat kontrakan ini tidak terlalu besar, jadi motor yang ia miliki harus masuk ruang tamu agar aman di malam hari. Sesekali, Awan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Dalam situasi seperti ini rasanya ingin sekali ia memiliki mobil sehingga tubuhnya tidak terlalu lelah ketika berangkat dan pulang dari kantor.

"Ya Tuhan, jam segini tuh anak masih menangis? Sebenarnya Wulan itu bisa ngurus anak atau tidak sih?"

Awan menggerutu kesal ketika kepulangannya disambut oleh suara tangis sang anak. Ketika sampai di rumah ia ingin bersantai dengan melepas lelah, justru semakin bertambah lelah dengan suara tangis Bagas yang mendengung di telinga.

Tungkai kaki Awan terayun menyusuri ruang tamu. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala kala telapak kakinya merasakan lantai rumah ini sangat berdebu. Tubuh lelaki itu sedikit membungkuk dan ia usap lantai menggunakan telunjuk. Benar saja, debu menempel di telunjuknya, persis seperti lantai yang tidak disapu selama seminggu.

Tiba di ruang tengah, bola matanya kembali terbelalak, melihat betapa berantakannya ruangan ini. Tumpukan cucian kering ada di depan televisi. Biasanya setelah kering, pakaian-pakaian ini dilipat oleh Wulan, kini dibiarkan menumpuk tak terjamah. Sungguh sangat merusak pemandangan.

Iseng, Awan melangkah ke dapur. Tiba di dapur tubuhnya semakin terperanjat melihat kondisi dapur yang sudah seperti kapal pecah. Piring-piring kotor menumpuk di wastafel. Panci, wajan, ceret juga nangkring di atas meja kompor dengan posisi tak beraturan dan yang lebih mencengangkan lagi sampah sisa potongan-potongan sayur dibiarkan begitu saja berserak di lantai.

"Astaga, ini rumah atau kapal pecah? Bisa-bisanya Wulan membiarkan rumah seperti ini!"

Awan berbalik arah, ia bermaksud mencari keberadaan Wulan di kamar untuk melayangkan protes mengapa kondisi rumah bisa seperti ini. Namun, langkah kakinya terhenti ketika ia melintas di depan kamar sang ibu.

"Ya ampun Bu.. Ibu belum mandi?" pekik Awan saat melihat pakaian yang dikenakan oleh sang ibu basah.

Marta yang hanya bisa terbaring di kasur itu menggelengkan kepala. Tubuh yang biasanya bisa digerakkan sebagian, kini mendadak tidak bisa digerakkan semua. Layaknya saraf-saraf di kepalanya tidak bisa membuat instruksi untuk bergerak.

"Belum Wan. Sejak tadi siang, Wulan tidak masuk ke kamar Ibu. Bahkan Ibu belum dimandikan sampai diapers Ibu penuh dan tembus sampai mana-mana."

"Ya ampun, tega-teganya Wulan melakukan itu. Padahal baju Ibu sudah basah seperti ini. Bisa-bisa masuk angin nanti."

"Cepat ganti pakaian Ibu, Wan. Ibu sudah risih sekali!"

Awan hanya bisa melongo mendengar permintaan sang ibu. Ia merasa lebih baik melakukan hal lain daripada berurusan dengan keperluan sang ibu yang seperti ini.

"Tunggu sebentar Bu, biar aku panggil Wulan."

Awan melebarkan langkah kakinya agar bisa segera menjangkau kamar. Dadanya benar-benar terasa bergemuruh melihat polah tingkah Wulan yang sungguh di luar nalar seperti ini. Ketika pulang kantor yang ia inginkan adalah melepas penat dengan beristirahat, namun hari ini melihat kondisi rumah dan ibunya yang tidak terurus justru membuatnya semakin lelah. Lelaki itu ingin segera membuat perhitungan dengan Wulan.

"Astaga Wulan.. Kamu malah enak-enakan tiduran seperti ini? Kamu tidak dengar anakmu menangis? Kamu tidak lihat rumah sudah seperti kapal pecah dan Ibu yang tidak terurus? Seharian ngapain saja kamu?"

Wulan hanya diam mendengar ocehan Awan. Kali ini, wanita itu seakan tidak memiliki energi untuk menimpali ataupun melawan ucapan Awan. Kepalanya terasa berat, badannya demam dan bekas jahitan operasi sesar dua minggu yang lalu terasa begitu nyeri.

Dahi Awan berkerut dalam ketika melihat Wulan tak merespon ucapannya sama sekali. Bahkan wanita itu masih nampak begitu santai, meringkuk sembari memeluk lutut. Hal itulah yang membuat emosi Awan semakin memuncak karena seperti diremehkan oleh sang istri.

Awan mendekat ke arah kasur yang dipakai oleh Wulan. Ia tarik lengan tangan Wulan dengan paksa, hingga membuat sang istri bangkit dari posisinya.

"Kamu budek Lan?" pekik Awan tepat di depan muka Wulan. "Aku ajak bicara tapi kamu malah seperti orang bisu dan budek seperti ini. Kamu dengar tidak?"

Ucapan Awan berhasil menikam jantung Wulan. Membuat seonggok daging bernyawa yang bersemayam di rongga dada itu berdenyut nyeri karena sebuah ucapan yang tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang lelaki yang memiliki gelar sebagai kepala rumah tangga. Ucapan yang sangat kasar dan yang sama sekali tidak mencerminkan sifat seorang suami yang seharusnya bertutur kata yang baik di depan istrinya.

"Mengapa kamu diam, Lan?" teriak Awan semakin emosi dan bercampur gemas. "Kamu mau melawanku?"

Wulan menggelengkan kepala. "Untuk apa aku melawanmu Mas? Aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk melawan."

"Cih, nyatanya tadi pagi kamu melawanku dengan melempar pakaian kotor ibu ke wajahku."

"Itu tadi pagi, kalau sekarang aku sudah tidak memiliki energi untuk melawanmu. Jadi kamu mau bicara apapun, terserah Mas."

"Kalau begitu, ayo kerjakan semuanya. Sapu dan pel lantai. Cucu piring, lipat baju, bersihkan badan ibu dan tenangkan anakmu."

Wulan menatap wajah Awan dengan tatapan sinis. Wanita itu tersenyum sumbang dengan tawa lirih yang keluar dari bibirnya. Dalam keadaan seperti ini pun, suaminya tidak paham jika ia benar-benar memerlukan bantuan.

Wulan meraih tangan Awan dan ia bawa ke kening juga pipinya. Apa yang dilakukan oleh Wulan ini seketika membuat Awan sedikit terhenyak.

"Kamu tidak lihat aku demam seperti ini Mas? Badanku panas dingin, kepala pusing dan bekas jahitan operasi sesarku nyeri."

Awan menghempaskan tangannya. Memang badan istrinya ini terasa panas sekali, namun ada gengsi untuk mengakui.

"Tapi kamu harus mengerjakan semuanya Lan. Itu kan sudah menjadi tanggung jawabmu," kilah Awan.

"Lalu tanggung jawabmu hanya bekerja saja, begitu Mas?"

"Betul, tanggung jawabku bekerja mencari uang sedangkan kamu mengurus semua pekerjaan rumah tangga."

"Kalau begitu, kita tukar posisi Mas. Aku yang bekerja, kamu yang di rumah mengurus semuanya!" tantang Wulan.

Awan terhenyak, tidak menyangka jika Wulan akan memberikan tantangan seperti itu. Jika ditukar posisinya tentu belum tentu ia bisa melakukan semua.

Wulan menatap sinis Awan yang hanya terdiam dan membisu itu. Ia tahu, suaminya ini pasti tidak memiliki jawaban untuk menimpali ucapannya.

"Kok diam kenapa Mas?" tanya Wulan. "Aku juga bisa bekerja di luar mencari nafkah sepertimu. Bagaimana? Apa kamu bersedia bertukar posisi?"

"A-aku..."

"Kamu tidak sanggup kan?" ucap Wulan menegaskan. "Jelas tidak sanggup, karena tidak semua orang mau mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga."

"Aku..."

"Jangan pernah menganggap remeh pekerjaan ibu rumah tangga selama gajimu masih pas-pasan, Mas. Jika kamu menganggap remeh, harusnya kamu bisa membayar orang untuk kamu jadikan pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus semua keperluan ibu, bukan dengan membebankan semua itu di atas pundakku."

Wulan menggeser tubuhnya menjauh dari Awan. Wanita itu meraih tubuh mungil Bagas untuk ia bawa ke dalam dekapan. Tungkai kakinya terayun, meninggalkan Awan yang masih berdiri mematung di kamar.

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!