NovelToon NovelToon
Cinta Kembali Saat Rambut Memutih

Cinta Kembali Saat Rambut Memutih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy / Cinta Lansia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: husna_az

Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.

Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Ainun, apa kabar?" tanya seorang wanita yang berada di seberang telepon.

"Maaf, siapa ya?" tanya Ainun balik tanpa menjawab.

"Kamu lupa sama aku? Aku Laila," ujar dengan suara tertahan karena merasa terharu.

"Masya Allah! Apa kabar? Kamu tahu dari mana tentang aku?" tanya Ainun balik dengan mata berkaca-kaca.

Sungguh dia pun sangat merindukan temannya itu. Dirinya tidak menyangka jika pada akhirnya akan bisa berkomunikasi lagi. Ainun jadi berharap lebih untuk bisa bertemu. Dulu dia dan Laila adalah teman baik. Ke mana pun mereka selalu bersama, bahkan saat mereka memiliki kekasih pun sama-sama berteman.

Hanya saja nasib Laila lebih baik karena wanita itu diterima keluarga kekasihnya. Laila juga berasal dari keluarga yang berada, kedua orang tuanya pun lengkap. Berbeda dengan dirinya yang berasal dari keluarga tidak mampu, bahkan kedua orang tuanya juga sudah meninggal. Sanak saudara tidak ada yang mau mengakui dirinya jadi Ainun hanya hidup sebatang kara.

"Tahu dari cucuku."

"Cucu kamu siapa?"

"Dia salah satu teman cucumu di sekolah."

Ainun semakin tidak mengerti. Dia pun kembali bertanya, "Lalu kamu tahu dari mana kalau cucuku satu sekolah dengan cucumu?"

"Dari Malik."

Ainun pun mengangguk, dia mengerti mungkin cucu Laila dan cucu Malik sama-sama sekolah di tempat yang sama dengan Alif. Tanpa tahu jika anak kemarin itu sebenarnya cucunya Laila, sedangkan Malik, jangankan cucu, anak saja dia tidak punya.

"Bagaimana kabar kamu, Laila?"

"Aku baik. Kamu sendiri bagaimana? Sejak kamu memutuskan pergi, kita sudah tidak pernah berkomunikasi lagi. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaanmu. Aku benar-benar khawatir," jawab Laila yang sudah menangis sesenggukan.

Di seberang Ainun juga ikut menangis. Sungguh dia merasa bersalah pada sahabatnya itu, tapi saat itu hanya itulah jalan satu-satunya untuk mempertahankan harga dirinya. Ainun tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan Malik, juga tidak ingin sang kekasih menjadi anak yang durhaka. Biarlah dia yang mengalah meski saat itu hati ini rasanya hancur sekali.

"Maaf sudah membuatmu sedih, tapi aku baik-baik saja. Kalau ada waktu kita akan bertemu, aku akan menceritakan semua apa yang terjadi dalam hidupku."

"Baguslah kalau begitu. Kapan kamu ada waktu, kita nanti buat janji di suatu tempat bagaimana?"

"Aku selalu senggang. Kamu juga tahu, sekarang usiaku sudah tidak muda lagi, jadi aku tidak bekerja, hanya menikmati masa tua."

"Kalau begitu sama. Bagaimana kalau besok kita bertemu. Kamu tinggal di mana? Biar aku yang datang ke rumahmu saja."

"Nanti aku kirimin alamat rumahku, tapi jangan beritahu siapa pun tempat tinggalku, ya!"

"Memangnya siapa yang aku beritahu?"

Ainun terdiam, dia tidak sanggup menyebutkan nama laki-laki itu. Laila masih berhubungan baik dengan Malik, tidak menutup kemungkinan jika temannya itu pasti akan memberitahunya juga. Ainun sengaja menghindari Malik. Dia tidak ingin masa lalu terulang kembali. Apalagi di usianya yang sudah senja.

Laila yang mengerti ucapan Ainun pun berkata, "Kamu jangan khawatir, aku tidak akan memberitahunya."

"Terima kasih, kalau begitu sampai jumpa besok. Aku akan kirim alamat rumahku."

"Iya, sampai jumpa. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Ainun pun segera meminta nomor Laila pada Alif dan segera mengirim alamat rumahnya. Dia jadi tidak sabar menunggu hari esok. Banyak sekali hal yang ingin dirinya ceritakan pada temannya itu. Dulu mereka selalu berbagi cerita, baik suka maupun duka. Keduanya pun selalu bisa menjaga rahasia masing-masing.

"Siapa, Oma?" tanya Alif.

"Teman Oma waktu masih kuliah dulu."

"Kok dia bisa tahu nomor Alif?"

"Dari teman kamu."

"Teman aku? Siapa?"

"Oma juga nggak tahu, katanya cucunya itu satu sekolah sama kamu. Oma lupa nggak tanya siapa namanya."

"Oh, mungkin lihat nomorku di grup sekolah kali. Ya sudah, aku masuk dulu, Oma."

Ainun begitu senang, dia tersenyum sambil memandangnya nomor Laila. Dia jadi tidak sabar ingin bertemu dengan teman lamanya itu. Hingga tanpa sadar nama Malik pun sedikit terlupakan, setidaknya tidak terpikir lagi untuk sementara waktu.

Sementara itu, di tempat lain Laila merasa bahagia karena akhirnya bisa berkomunikasi dengan Ainun. Dulu dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa mencegah temannya itu untuk pergi. Padahal bisa saja saat itu Laila menyembunyikan temannya itu di tempat yang aman, tapi Ainun menolak dan lebih memilih untuk pergi keluar kota.

Laila tidak memaksa, dia pun membiarkan Ainun pergi dengan catatan temannya itu harus terus memberikan informasi padanya. Namun, ternyata komunikasi mereka juga terputus karena nomor Ainun tiba-tiba saja tidak aktif. Sekarang akhirnya bisa berkomunikasi lagi, tentu Laila sangat senang.

"Bagaimana, Ma?" tanya Harun pada sang istri.

"Dia benar-benar Ainun, Pa," jawab Laila dengan begitu antusias.

"Apa kamu akan merahasiakan ini dari Malik?"

"Menurut Papa, apa aku harus memberitahunya begitu? Papa tidak lihat seberapa usaha Ainun untuk menjauhi Malik."

"Tapi kasihan Malik. Mama juga tahu sendiri kalau Malik sampai saat ini belum pernah menikah. Dia hanya ingin Ainun menjadi istrinya."

"Tapi aku juga tidak setega itu pada Ainun. Dia sudah berusaha untuk menjauhi Malik dan keluarganya. Bagaimana kalau dia juga menghindariku saat tahu aku membantu Malik?"

"Kita berdua benar-benar dalam dilema. Di satu sisi kasihan Malik sampai saat ini dia belum pernah merasakan sebuah kebahagiaan keluarga, tapi kasihan juga Ainun karena keluarga Malik, dia sampai harus meninggalkan kehidupannya dulu."

"Mama juga merasa kasihan pada keduanya. Mama bingung harus melakukan apa."

"Kita lihat nanti saja, apakah Ainun bahagia dengan keluarganya atau tidak. Jika Ainun bahagia dengan keluarganya, kita tidak mungkin ikut campur dan membuatnya sedih lagi, tapi kalau dia benar-benar tidak bahagia sama seperti Malik, mungkin kita harus lebih berusaha untuk membuat mereka bersatu."

"Aku setuju sama Papa. Aku harus mencari tahu kehidupan Ainun setelah pergi meninggalkan kita."

Keduanya sama-sama mengangguk. Mereka tidak bisa terlalu ikut campur dalam urusan Ainun dan Malik, tetapi jika keduanya sama-sama tidak bahagia, sebagai teman tentu mereka akan berusaha membuat keduanya bahagia. Entah itu bersama atau hidup masing-masing.

***

Keesokan paginya Laila benar-benar pergi ke rumah Ainun. Dia pergi ke sana diantar seorang sopir. Tentu hanya sang suami yang tahu kepergiannya mau ke mana. Jangankan Malik, cucunya sendiri pun tidak diberitahu. Harun sangat tahu jika Fajar sangat menyayangi Malik seperti kakeknya sendiri, jadi Fajar tidak akan bisa menyembunyikan rahasia dari pria itu.

"Oma perginya pagi-pagi sekali, Opa. Memang mau ke mana, sih?" tanya Fajar yang baru saja duduk di meja makan dan tidak melihat keberadaan omanya.

"Oma lagi ada pekerjaan. Kenapa kamu tiba-tiba sibuk mikirin oma? Biasanya kamu tidak peduli kalau oma pergi ke mana-mana."

"Biasanya 'kan oma nggak pernah pergi pagi-pagi sekali."

"Kalian sudah sarapan saja, ninggalin aku, nih!" seru seseorang dari belakang.

Dia tidak lain adalah Malik, membuat Harun mendengus. Malik memang selalu seenaknya datang pergi ke rumahnya. Namun, Harun sama sekali tidak masalah, lagian selama ini hanya mereka keluarga Malik satu-satunya. Dia tidak sampai begitu tega menolak kedatangan temannya itu.

"Kamu pagi-pagi begini ngapain ke rumah orang? Numpang sarapan?"

"Itu kamu tahu. Aku memang belum makan, jadi mau sekalian sarapan. Nanti biar aku yang nganterin Fajar ke sekolah," jawab Malik membuat Harun dan Fajar sama-sama menoleh ke arahnya.

"Ngapain Opa anterin aku? Biasanya pergi sendiri. Lagian motorku juga sudah aku ambil, kok!" tolak Fajar.

Dia bukan anak manja, apalagi sampai harus diantar ke sekolah. Tentu saja dirinya akan sangat malu. Nanti kalau pulang juga pasti harus nunggu jemputan atau harus pesan taksi, jadi lebih enak bawa motor sendiri. Mau pulang jam berapa dan kapan pun bisa seenaknya.

"Lebih enak dianterin Opa. Fajar, kamu nggak mau uang saku dari Opa? Mumpung pagi ini Opa lagi baik. Kamu mau berapa pun akan Opa kasih."

"Nggak mau. Aku tahu Opa lagi modus, pasti mau deketin Alif 'kan biar bisa dapetin omanya."

1
Love You Z♥️
aku ngak puas bacanya,,, padahal novelnya baguuussss,,, ngak melulu percintaan anak muda remaja atau dewasa,,, tapi dicerita yang mengisahkan lansia lansia iniiii menunjukkan setia itu mahaaalll
Husna_az: terimakasih atas ulasannya kak🙏
total 1 replies
Love You Z♥️
uploadlaahhh 2 bab sehari thooooorrrr,,,
Love You Z♥️
semangat teruuussss othooooooorrrrrr,,,
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
gaby
Seru thor, sangat jarang ada novel kisah cinta paruh baya, bahkan bila adapun biasanya mereka baru pny anak, bukan cucu yg dah remaja. Btw dr awal bab ga di sebutin brp usia mereka, biar kt bisa berhalu ria
gaby
Seru, kisah cinta pasangan paruh baya👍👍
gaby
Penyakit anak jaman skrg gitu, ga menghargai orangtua. Dulu ketika mereka msh anak2, kita para orang tua yg repot mwngasuhnya. Giliran anak2 dah dewasa & berumahtangga, kita jg yg harus jd babu ngurus cucu. Harusnya menikmati sisa usia dgn pikiran tenang, ini malah di bebani jg babu sitter. Kalo pasutri sama2 kerja, alangkah baiknya sewa pembantu buat ngasuh anak, tp tetep nenek atau kakeknya bantu pantau doang.
Love You Z♥️
sering sering up yaaa thooorrr
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍
Husna_az: insyaallah diusahakan ya kak
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
Nurgusnawati Nunung
semoga berhasil usaha kalian.. Fajar, Alif
Nurgusnawati Nunung
lanjut thor..
Nurgusnawati Nunung
Alif . bisa juga ngerayu oma.
Nurgusnawati Nunung
Fajar anak yang baik. masih memikirkan opa Malik..
Nurgusnawati Nunung
Aduh.. opa Malik suka nge ghibah juga yaa. 🤣
Endang Sulistia
pret...manisnya mulutmu lif..
Endang Sulistia
lanjut thor...
Endang Sulistia
betul tuh lif..👍
Endang Sulistia
cocok Alif Ama fajar jadi saudara
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤣🤣🤣🤣
Nurgusnawati Nunung
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!